Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 24 Pencarian Shu Terhadap Pria Misterius|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Shu Hades berdiri mematung di balkon lantai dua. Satu tangannya tenggelam di saku celana jeans-nya, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel dengan erat. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala Jakarta yang mulai memerah, namun fokusnya tidak sedang di sana.
Pikirannya masih tertinggal pada sosok adik perempuannya. Pintu kamar adiknya yang hancur, isak tangisnya yang pecah, dan potongan video buram itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yaitu Andrew.
Shu langsung menggeser ikon hijau. "Bicara," perintahnya tanpa basa-basi.
"Tuan muda Shu, saya punya progres," suara Andrew terdengar sedikit terengah-engah, seperti baru saja berpindah tempat dengan cepat.
"Apa yang kamu dapat?"
"Pacar saya, Siska, kebetulan satu fakultas dengan Nana. Dia sedang di kantin tadi siang saat melihat pria itu lewat dengan tergesa-gesa. Siska sempat bertanya pada teman-teman sekelasnya. Nama yang terdaftar di absen kelas adalah Bara Adipta Reiz."
Shu menyipitkan mata. Ia mengeja nama itu dalam hati. "Bara Adipta Reiz. Nama yang terlalu.... Kamu yakin itu namanya?"
"Itu poinnya, Tuan. Saya curiga itu cuma nama samaran atau nama panggungnya untuk di kampus."
"Alasannya?"
"Siska bilang kelas tadi pagi sempat heboh. Ibu Siti, dosen mereka, tiba-tiba mengumumkan kalau Bara mengundurkan diri dari kampus. Dia cuma masuk sehari, Tuan. Benar-benar cuma sehari lalu hilang entah kemana," jelas Andrew.
"Siska langsung menelepon saya begitu tahu ada kegaduhan soal video skandal Nana, karena dia tahu saya bekerja untuk Tuan muda Shu."
Shu meremas pagar balkon besi itu hingga kuku jarinya memutih. "Satu hari? Dia masuk hanya untuk menemui Nana dan membuat kekacauan, lalu pergi begitu saja?"
"Sepertinya begitu. Tapi ada yang lebih menarik, Tuan. Siska sempat mengambil foto diam-diam dari jendela lantai dua saat pria itu keluar dari gedung fakultas. Ada mobil yang menjemputnya."
"Mobil apa?"
"BMW Seri 7 hitam edisi terbaru. Plat nomornya B 1 SRY."
Shu terdiam sesaat. "SRY?"
"Saya sudah cek secara singkat, Tuan. Plat itu tidak terdaftar di database umum yang bisa diakses orang biasa. Sepertinya itu plat nomor khusus, atau setidaknya terproteksi. Dan saya sempat mengikuti mobil itu."
"Kamu mengikutinya sampai ke mana?"
"Ke arah selatan, Tuan. Masuk ke kawasan perbukitan di pinggiran Jakarta. Jalannya mulai menanjak dan semakin sepi. Saya tidak bisa mengikuti terlalu dekat karena mobil itu dikawal satu motor besar di belakangnya."
Shu menegakkan punggungnya. "Dikawal?"
"Iya. Dan mereka masuk ke kawasan privat. Tuan muda tahu sendiri kawasan di atas sana kan? Rumah-rumah yang tidak kelihatan dari jalan raya karena tertutup pagar beton setinggi empat meter. Kawasan para kolektor, pengusaha lama, atau pejabat yang tidak ingin dicari. Orang-orang menyebutnya kawasan old money."
"Rupanya bukan orang sembarangan," gumam Shu.
"Tepat. Satpam di gerbang utama kawasan itu sangat ketat. Saya terpaksa berhenti di jarak lima ratus meter karena mereka mulai curiga dengan mobil saya."
Shu menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Andrew, dengar. Jangan lakukan pergerakan apa pun lagi malam ini. Kalau dia benar-benar tinggal di sana dan punya pengawalan, dia bukan cuma mahasiswa sembarangan yang bisa kita datangi begitu saja."
"Tapi Tuan, apa kita biarkan saja setelah apa yang dia lakukan pada Nona Nana?"
"Tidak akan," jawab Shu dingin. "Tapi kita butuh strategi. Jangan sampai kita yang terlihat seperti penjahatnya. Segera kirimkan foto mobil dan plat nomor itu ke WhatsApp-ku sekarang."
"Baik, Tuan Shu. Sudah saya kirim."
"Terima kasih. Tetap pantau Siska, tanya dia apa ada hal lain yang penting soal orang bernama Bara ini."
"Siap, Tuan."
Sambungan terputus. Shu segera membuka pesan masuk. Sebuah foto buram namun cukup jelas memperlihatkan pria berjaket kulit coklat itu sedang masuk ke pintu belakang BMW hitam. Gesturnya saat menunduk masuk ke mobil terlihat sangat elegan. Terlalu berwibawa untuk seorang pria berusia awal dua puluhan.
"Bara..." gumam Shu. "Siapa kau sebenarnya?"
...-Ruang Keluarga- ...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Shu turun ke lantai bawah dengan langkah yang berat. Di ruang tengah, ibunya-Anzali Adama sedang duduk diam di sofa. Di depannya ada secangkir teh melati yang uapnya sudah hilang sedari tadi, menandakan minuman itu sudah lama di diamkan. Televisi diruangan itu juga menyala, menampilkan berita sore hari, namun mata Anzali menatap kosong kedepan.
"Ma," panggil Shu pelan.
Anzali tersentak kecil, lalu menoleh. "Oh, Shu. Sudah selesai menelepon?"
Shu duduk di samping ibunya, meraih cangkir teh yang dingin itu lalu menaruhnya kembali ke meja. "Kenapa tidak diminum?"
"Mama tidak selera, Nak. Pikiran Mama cuma ke Nana. Dia masih tidak mau keluar kamar. Tadi Mama coba bawakan roti, dia cuma bilang 'nanti'." Anzali mengusap wajahnya yang lelah.
"Ayahmu juga masih di ruang kerja sejak tadi siang. Katanya ada urusan kantor yang mendesak, tapi Mama tahu dia sebenarnya sedang pusing memikirkan berita tentang Nana."
Shu mengangguk paham. "Ayah sudah tahu soal video itu?"
"Mungkin belum detail, tapi teman-temannya di grup alumni atau kolega bisnis pasti ada yang mulai bertanya. Nama keluarga kita taruhannya, Shu."
"Aku sedang mengurusnya, Ma. Aku sudah tahu siapa pria itu."
Mata Anzali sedikit melebar. "Siapa? Apa dia orang jahat? Apa dia melecehkan Nana?"
"Namanya Bara. Tapi sepertinya itu bukan nama aslinya. Dan soal pelecehan... Nana bilang pria itu justru menolongnya. Tapi aku belum percaya seratus persen," Shu memegang tangan ibunya yang gemetar. "Aku akan mencari tahu motifnya mendekati Nana."
"Shu, tolong jangan pakai kekerasan," pinta Anzali. "Mama takut kalau pria itu orang berpengaruh, posisi perusahaan ayahmu bisa terancam, Nak. Kita tidak tahu siapa orang-orang di belakangnya."
Shu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku tahu batasannya, Ma. Aku hanya ingin melindungi keluarga kita. Terutama Nana."
Shu berdiri, mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja.
"Mau ke mana lagi?" tanya Anzali.
"Keluar sebentar. Ingin mencari udara segar dan memastikan sesuatu."
"Jangan pulang terlalu malam. Ayahmu ingin kita makan malam bersama, dia bilang ada hal penting yang mau dibicarakan."
"Aku usahakan, Ma."
Shu berjalan menuju pintu depan. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai marmer. Di kepalanya, alamat kawasan perbukitan yang disebutkan Andrew sudah terpetakan dengan jelas.
...-Didalam Mobil - Perjalanan Menuju Ke Kawasan Elit-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Lalu lintas Jakarta sore itu sangat padat, namun Shu mengemudi dengan lincah, menyalip di antara barisan kendaraan yang merayap. Pikirannya terus mengolah informasi dari Andrew.
BMW Seri 7. Plat B 1 SRY. Keluar kampus setelah sehari masuk.
Semua fakta itu menunjuk pada satu kesimpulan: Pria bernama Bara itu bukan sekadar mahasiswa kaya bisa. Dia adalah seseorang dengan otoritas tinggi dan memiliki motif tertentu.
"SRY..." Shu menggumam sambil memutar kemudi ke arah jalan menanjak. "Soryu...?"
Matanya menyipit. Nama Soryu Group bukan lah nama asing di telinga pebisnis Jakarta. Mereka adalah raksasa otomotif dan teknologi serta memiliki jaringan bisnis dibidang retail juga yang kini dikelola oleh pewaris mereka saat ini. Jika benar pria itu adalah bagian dari keluarga Soryu, maka urusannya akan menjadi sangat rumit.
Mobilnya mulai memasuki area yang lebih hijau. Pohon-pohon besar di pinggir jalan memberikan bayangan panjang yang gelap. Udara mulai terasa lebih dingin saat dia melewati gerbang selamat datang kawasan hunian elit tersebut.
Shu memelankan laju kendaraannya. Dia melihat pos penjagaan di kejauhan. Benar kata Andrew, satpam di sana berdiri tegak seperti militer, lengkap dengan peralatan komunikasi dan senjata tumpul di pinggang mereka.
Shu menghentikan mobilnya di bahu jalan, sekitar dua ratus meter sebelum pos penjagaan. Dia mematikan lampu depan agar tidak terlalu mencolok.
Dari kejauhan, dia melihat sebuah mobil hitam BMW yang sama dengan yang ada di foto yang dikirimkan oleh Andrew—sedang melintas keluar begitu saja dari gerbang. Mobil itu melaju dengan mulus, diikuti oleh seorang pria bermotor besar yang menjaga jarak tetap di belakangnya.
Shu memperhatikan dengan saksama. Kaca mobil itu sangat gelap, mustahil untuk melihat siapa yang ada di dalam sana.
"Pengawalan seperti itu..." Shu berbisik pada dirinya sendiri. "Itu bukan sekedar protokol untuk orang kaya biasa. Itu seperti protokol untuk aset penting."
Shu meraih ponselnya, lalu melakukan panggilan suara ke Andrew lagi.
"Andrew, segera cari tahu semua daftar pemegang saham Soryu Group. Lihat apa ada nama 'Bara' di sana, atau anak laki-laki dari pemilik utamanya yang baru pulang dari luar negeri."
"Soryu, Tuan? Tuan muda yakin dia dari sana?"
"Hanya firasatku. Tapi plat nomornya terlalu identik. B 1 SRY. Itu seperti sebuah identitas keluarga, bukan sekadar plat nomor cantik biasa."
"Baik, Tuan Shu. Saya akan masuk ke database internal rekanan bisnis saya di bursa efek. Saya kabari secepatnya."
Shu menutup panggilan teleponnya. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap gerbang besar itu dengan pandangan tajam.
"Kalau kamu memang dari keluarga Soryu," desis Shu, "kenapa kamu masuk ke kampus biasa hanya untuk sekedar menemui adikku di tangga darurat, lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa?"
Keheningan malam di perbukitan itu seolah menjawabnya dengan desir angin yang dingin. Shu tahu, mulai besok, hidup tenang keluarganya tidak akan pernah sama lagi.
...-Rumah Adama - Ruang Makan-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Shu sampai di rumah tepat waktu untuk makan malam. Menu makan malam di meja makan sudah ditata rapi, namun suasananya terasa sangat canggung.
Ariessendy Adama, sang ayah, sudah duduk di kepala meja. Wajahnya terlihat sangat lelah, garis-garis di keningnya tampak lebih dalam dari biasanya. Nana juga ada di sana, duduk di sebelah ibunya.
"Duduk, Shu," kata Ariessendy pendek.
Shu menarik kursi di seberang Nana. Dia menatap adiknya, mencoba memberikan senyuman penyemangat, namun Nana hanya menunduk, sembari memainkan sendoknya tanpa minat.
"Papa sudah dengar soal kegaduhan di kampus Nana," Ariessendy memulai pembicaraan setelah mereka semua mulai makan. "Vina Hartanto menelepon Papa tadi sore."
Shu menghentikan gerakannya. "Vina? Untuk apa dia menelepon Papa?"
"Dia meminta maaf," jawab Ariessendy dengan nada yang sulit diartikan. "Dia bilang dia tidak bermaksud menyebarkan video itu, tapi salah satu temannya yang mengambil ponselnya dan mengunggahnya ke grup angkatan."
"Bohong," potong Shu cepat. "Vina yang merencanakan itu semua. Dia iri pada Nana sejak lama."
"Terlepas dari siapa yang salah," lanjut Ariessendy, suaranya naik satu oktaf, "Vina juga memberi tahu satu hal penting. Bahwa pria yang ada di video itu... dia bukan lah orang sembarangan, Shu. Dia adalah alasan kenapa kontrak Hartanto dengan Soryu Group bisa diputus sepihak siang ini."
Nana tersentak. Dia mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan kaget. "Kontrak diputus? Maksud Papa?"
"Rudi Hartanto kehilangan proyek empat puluh dua miliar rupiah karena anaknya mencari masalah dengan pria itu," Ariessendy menatap Nana tajam.
"Nana, siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia membelamu sampai menghancurkan bisnis keluarga Hartanto?"
Nana menggeleng gemetar. "Aku... aku tidak tahu, Pa, sepertinya dia orang yang sama yang menolongku saat di mall waktu itu. Dia cuma bilang namanya Bara, dia juga...." Nana menghentikan ucapannya. "D-dia hanya menolongku saat aku hampir jatuh di koridor."
"Hanya menolong? Orang sehebat itu tidak mungkin cuma mengurusi mahasiswi biasa kalau tidak ada alasan yang kuat," cecar Ariessendy.
"Pa, jangan tekan Nana," Shu menyela. "Pria itu memang misterius. Namanya Bara Adipta Reiz di absennya, tapi plat mobilnya menunjuk ke arah Soryu Group. Dia sudah keluar dari kampus hari ini juga."
Ariessendy terdiam. Dia menyandarkan punggungnya, terlihat terguncang. "Soryu? Jadi benar dia putra mahkota mereka?"
"Sepertinya begitu."
Ruang makan itu menjadi sunyi senyap. Hanya suara denting sendok yang sesekali terdengar.
"Kalau begitu," kata Ariessendy pelan, "kita harus lebih berhati-hati. Kalau dia tertarik pada Nana, itu bisa jadi berkah, atau justru bencana bagi keluarga kita. Bergantung pada bagaimana kita bersikap padanya."
"Papa pikir aku barang dagangan?" tanya Nana dengan suara parau. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Sayang," Anzali mencoba menenangkan.
"Aku cuma mau kuliah dengan tenang. Tapi sekarang semua orang menatapku seperti aku ini perempuan murahan yang menggoda orang kaya!" Nana berdiri dari kursinya, air matanya tumpah.
Nana berlari meninggalkan meja makan, naik ke lantai atas dengan terburu-buru.
Shu menatap ayahnya dengan pandangan dingin. "Papa keterlaluan."
"Aku hanya realistis, Shu!" balas Ariessendy. "Dunia bisnis tidak selembut perasaan adikmu."
Shu berdiri, nafsu makannya hilang total. "Aku akan pastikan pria itu menjauh dari Nana. Soryu atau bukan, tidak ada yang boleh membuat adikku menangis seperti itu."
Shu melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam di ruang makan.
"Shu... Bagaimana aku menjelaskan kepada anak itu, Anzali?"
Anzali menghela napas. "Jika anak itu sampai nekat demi membela adiknya... Aku takut dia akan segera tahu masa lalunya."
...***...
Sementara di dalam kamarnya, Nana duduk di lantai, bersandar pada pintu kamarnya yang sudah diperbaiki oleh tukang tadi sore. Dia memeluk ponselnya, menatap sebuah pesan singkat yang tiba-tiba masuk dari nomor tidak dikenal beberapa menit yang lalu.
0811-XXXX-XXXX: Maaf soal kekacauan di kampus. Aku sudah mengurus mereka yang mengganggumu. Istirahatlah, Nabhila.
Nana gemetar. Dia tahu siapa pengirimnya.
"Siapa kau sebenarnya, Bara?" bisiknya pada kegelapan kamar. "Dan kenapa kau melakukannya padaku?"
Di luar sana, di bawah cahaya lampu jalan kawasan Permata Hijau, sebuah motor Harley-Davidson berhenti di dekat rumah Adama, lalu menderu pergi meninggalkan jejak suara yang dalam di keheningan malam.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉