Bagaimana jika kita di jodohkan dan ternyata kita sudah menyukai laki-laki itu dari pandangan pertama? tentu rasanya seperti semesta memberikan restu pada kita.
Clara seorang gadis cantik, manja, periang dan humble akan di jodohkan dengan seorang laki-laki bernama bastian, laki-laki yang arogan dan sombong, meski dia sangat tampan, Clara sudah menyukai Bastian dari awal dia melihatnya, namun sikap bastian justru sebaliknya pada Clara, Clara di anggap orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Cinta Clara?apakah Bastian akan mencintai Clara ?
yuk terus baca karyaku ya.....
jika ada kesalahan dalam penulisan tolong beri kritik dan sarannya
jangan lupa dukung karyaku dengan memberikan, like,comment,dan vote ya
terima kasih
Happy reading
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
sayang kalian semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 13 kedatangan Aldy
"Duduk! ngapain kamu masih berdiri disana!" ucap Bastian dengan lantang .
"Jadi ini maksud kamu menyuruhku kekantor! hanya untuk memarken wanita itu ada di ruanganmu?" ucapku Kesal.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, ini ruanganku aku bebas membawa siapa saja kesini!" ucapnya membuat hatiku semakin teriris.
"Bebas kamu bilang? apa hidupmu hanya untuk kebebasan, dan kebebasan! tanpa bisa memikirkan perasaan orang lain?" teriakku sambil berjalan menghampirinya, dia mulai menatapku tajam kedua bola matanya membulat seperti akan keluar dari kelopaknya.
"Yah, aku hanya akan melakukan apapun yang aku inginkan! tanpa pernah perduli pada orang lain, kenapa? apa itu jadi masalah untukmu?" teriak Bastian, penuh emosi.
"Itu akan jadi masalah untukku, karena sekarang kita sudah menikah, aku adalah istrimu, setidaknya hargai aku, apa yang akan orang katakan ketika kamu membawa wanita lain ke ruang kerjamu ! dan itu adalah kekasihmu!" Akupun membalas teriakan Bastian, aku tak perduli dengan kondisi kantor saat itu, tapi sepertinya semua karyawan bisa mendengar pertengkaran kami.
Dia kemudian berjalan, mengambil beberapa lembar kertas yang ada di laci meja kerjanya,
"Ini kamu baca" Bastian melempar kertas itu di hadapanku.
"Perjanjian Pernikahan?" Bacaku dengan bersuara
"Bukankah, kemarin kita sudah membicarakan tentang ini?" ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Ku mulai membaca poin poin yang ada di surat perjanjian itu, salah satunya adalah, aku tidak boleh melarang dia untuk tetap berhubungan dengan Ayunda kekasihnya selama ini.
"Oke, jika memang itu maumu, lakukan saja apa yang kamu inginkan, tapi ingat, jangan kamu bawa wanita itu ke apartmen ataupun kantor! silahkan kamu bersenang-senang di luar!" ucapku sambil membuang surat perjanjian itu dan membalikan tubuhku menuju pintu keluar, baru saja aku akan membuka pintu Aldy sudah lebih dulu membuka pintu, dia menatapku heran, karena aku menangis saat itu, dia sempat bertanya padaku "Kenapa Ra?" tapi aku tak menghiraukannya, aku segera berlari menuju pintu loby, untuk mendapatkan taxi.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa menangis, hatiku sakit ketika aku mengingat kembali wajah wanita itu, aku selalu berharap, Bastian bisa bersikap baik padaku, sedikit saj!
"brakkk" aku melempar tas dan menjatuhkan tubuhku di kasur , aku terus menangis meluapkan kesakitanku, sampai tak sadar akupun tertidur karena lelah.
*********
Jam menunjukan pukul tujuh malam saat aku sedikit tersadar dari tidurku, ku buka mataku sedikit demi sedikit, berusaha melihat jam yang berbayang, aku langsung terperanjat saat dengan jelas jarum pendek jam berada di angka tujuh, cukup lama juga aku tertidur, pantas saja kepalaku sedikit sakit.
Dengan perlahan aku keluar kamar, kulihat kondisi ruangan masih sama tidak ada perubahan, itu berarti Bastian belum pulang.
kenapa aku masih memikirkan dia, akan pulang secepat ini ! gumamku dalam hati,
Aku merasakan perutku berbunyi, bagaimana tidak seharian aku membiarkan perutku tak terisi, bahkan bekal yang kubawa tadi pagi sudah habis di makan Anya dan Ega.
Ku buka kulkas sepertinya tidak ada makanna yang bisa ku olah.
Apa aku pesan online saja ya ! fikirku, ku kembali ke kamar untuk mengambil dompet yang berada di tas, ku lihat uangku hanya sisa 2 lembar pecahan sepuluh ribu,
Mana cukup dengan uang segini gumamku
Ahhh, benar-benar hari ini sungguh sial, sambil berfikir ku jatuhkan tubuhku di sofa dan langsung menyalakan tv, tak lama terdengar bel apartmen berbunyi.
"Ting...Tong..."
Si**apa yang datang? tanya ku dalam hati, akupun segera membukakan pintu, aku sedikit terkejut saat Aldy sudah berdiri di luar pintu dengan membawa papper bag yang entah apa isinya.
"Hai..." sapanya
"Ha-i" jawabku ragu, aku bingung Bastian tidak ada di rumah, lalu buat apa dia kesini.
"Ba-bastian tidak ada!" ucapku gugup, aku bahkan belum menyuruhnya masuk.
"Maaf gue cuman mau ketemu lo, bukan bastian!" ucapnya, aku terdiam sesaat menatap wajah Aldy yang tersenyum kearahku.
"Oh..ya-ud-ahh ma-ssu-k" ucapku gugup, Aldypun langsung masuk, dan langsung duduk di sofa ruang tv, sedang aku masih saja berdiri di samping pintu.
"Kamu ngapain masih berdiri disana?" tanya Aldy saat melihat aku masih saja terpaku di samping pintu.
"Ohh- i-ni, a-aku mau tutup pintu! " jawabku kaku, akupun langsung menutup pintu dan menghampiri aldy.
"Kok gugup?biasa aja kali" ucapnya santai.
mana bisa aku gak gugup, Bastian tidak ada di rumah, bagaimana kalau ada yang melihat aldy masuk ? fikirku
"Gak kok, gak gugup biasa aja" jawabku
"sudah makan?" tanyanya sambil membuka papper bag yang ternyata berisi makanan cepat saji
kebetulan sekali, aku memang sangat lapar, tapi...
"Nih gue pesan dua porsi" ucapnya sambil memberikan sebuah sandwitch , tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya.
"Hmm iya thanks " jawabku,
"Lo cu-man beli dua porsi?" tanyaku,
"Iya, kenapa?kurang ya?" tanya Aldy, membuatku refleks mengelak.
"Ohh eng-gak, bu-bukan, takutnya Bastian pulang, terus mau juga" jawabku , Aldy hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makannya
"Masih mikirin Bastian?" tanyanya
"Ehhh-i-tu, Bastiankan suami gue, jadi wajar gue mikirin dia" jawabku, sepertinya aku terlihat bodoh saat ini.
"Bastian bahkan tak akan pulang malam ini" ucapnya, dan itu membuat aku kecewa, meski bastian itu kasar, nyebelin tapi aku selalu mengharapkan dia pulang.
"Apa dia bilang begitu sama lo?" tanyaku pa Aldy, ia menghentikan suapannya, dan menatapku kali ini tanpa senyum, tapi seperti ada rasa iba padaku
"Apa lo cinta sama bastian?" tanyanya,
"Hmmm, eh bentar, kayanya gue seret, gue ambil minum dulu ya!" aku berusaha mengalihkan pertanyaan Aldy, dan langsung berdiri mengambil minum di dapur, tapi sepertinya Aldy sadar jika aku tak ingin menjawab.
"Lo mau minum apa?" teriakku pada Aldy yang masih duduk di sofa
"Apa aja, yang ada! " jawabnya
"Air putih adanya!" ucapku sambil sedikit tertawa
"Lo nawarin mau minum pa, tapi adanya air putih!" ucap Aldy,
"Kan basa basi!" jawabku sambil memberikan segelas air putih pada Aldy
"Ehh Ra, ngomong-ngomong, lo keberatan gue kesini?" tanyanya
"Gak kok, lagian sebelum gue nikah sama bastian bukannya lo udah lebih sering kesini" jawabku, berusaha mrncairkan susanan
"Bastian gak cemburukan?" seperti dia sedang meledeeku
"Ha-ha-ha menurut lo? geger dunia kalau dia cemburu sama gue" balasku, dia hanya tertawa mendengar jawabanku.
Jam menunjukan pukul delapan malam, sudah hampir satu jam aldy menemaniku, makanna yang di bawa Aldypun sudah habis tak tersisa,
Bastia beneran gak pulang sepertinya gumamku sambil sesekali menengok kearah pintu
"Telpon aja sih" ucap Aldy, saat melihatku terus menatap pintu.
"telpon siapa?" tanyaku berlagak tak tahu
"Bastian, siapa lagi, masa iya telpon Om Wiguna" ledeknya, aku tersenyum malu
"Gak usah deh, lagian bukannya dia gak pulang malam ini!" ucapku kecewa
"Bentar ya!" Aldy langsung mengambil ponselnya dari tas kecil yang dia bawa,
"Nih pake hp gue aja, biar langsung di angkat" uvap Aldy, sambil menyodorkan ponselnya kearahku
"Gak ah, gak...nanti dia ke geeran lagi, udah biarin aja" tolakku,
"yaudah kalau gitu," ucaonya,
"*Hallo!" suara Aldy menghubungi seseorang
"Lo dimana?" tanyanya
"Gue di rumah lo, balik udah malem!" ucao Aldy*,
"siaoa?" tanyaku berbisik, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
"Ohhh yaudah jangan salahin gue, kalau ada yang berpindah hati" ucap Aldy aambil menutup ponselnya
"ihhh Aldy, ngapain nelpon dia sih" rengekku, dan tanpa sengaja memegang lengan Aldy,
"cuman mau tau aja, dia bakal pulang atau gak " jawabnya, sambil kembali menaruh ponsel di meja
peran utama nya bego banget