Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 My elite lover
Akhirnya, Saga hanya bisa menjadi penonton setia di pojokan ruangan, sementara tiga wanita dengan rentang usia yang berbeda itu sibuk membolak-balik gantungan berbagai bentuk gaun dengan antusias. Suasana yang tadinya terasa sedikit canggung, kini berubah menjadi antusias dan penuh canda.
"Wah, yang warna biru ini! Cocok banget sama kulit kamu, Ren!" seru Lena bersemangat sambil mengangkat sebuah gaun pesta dengan detail manik-manik yang berkilau memukau.
"Eh, enggak dong! Yang warna merah maroon itu jauh lebih bagus! Bikin kelihatan anggun dan berkelas banget," sahut Marissa tak mau kalah, matanya berbinar ingin memilihkan yang terbaik untuk calon mantunya.
Rena hanya bisa tersenyum pasrah melihat antusiasme kedua wanita cantik di hadapannya itu. Dengan sabar, ia mencoba satu per satu model baju pilihan mereka di dalam ruang fitting room. Setiap kali ia muncul keluar, Marissa dan Lena langsung berdecak kagum, membuat pipi Rena kian merona.
Bahkan Saga yang pura-pura sibuk memainkan ponselnya, diam-diam tak mampu mengalihkan pandangan. Di matanya, Rena terlihat sempurna dengan apa pun yang dikenakannya.
Di sisi lain butik, Al dan El yang mulai merasa bosan akhirnya mulai berlarian mengejar satu sama lain di lorong yang cukup luas itu. Suara tawa renyah mereka bergema di penjuru ruangan.
BRUK!
Tubuh mungil mereka menabrak keras seseorang yang sedang berjalan dengan angkuh sambil memegang beberapa gaun mahal di tangannya.
"Aduh!" seru kedua bocah itu serentak sambil terduduk di lantai karena hempasan keras.
"Heh! Anak siapa ini?! Beraninya lari-larian sembarangan di butik elit begini?!" hardik wanita itu dengan suara melengking dan sangat tidak ramah.
Al dan El yang kaget langsung bangkit dan memberanikan diri. "Maaf, Tante ... kami tidak sengaja," ucap Al dengan wajah polosnya.
"Iya Tante, maafin kami ..." tambah El lembut, ia mencoba membantu mengambilkan gaun yang terjatuh ke lantai.
Namun, bukannya memaafkan atau tersentuh melihat wajah imut mereka, wanita itu malah mengibaskan tangannya dengan sangat kasar.
Plak!
El terhuyung mundur, nyaris jatuh kembali jika Al tidak sigap menahan tubuh adik kembarnya dari belakang.
"Tante kok kasar banget sih sama El! Kami kan sudah minta maaf!" protes Al dengan wajah memerah menahan kesalnya.
"Jangan sentuh-sentuh! Baju ini harganya jutaan, lho! Kalau kotor atau rusak, apa kalian mampu bayar, hah? Dasar anak tak tahu aturan! Orang miskin kayak kalian emang cuma bisa bikin repot orang saja!" bentak wanita yang tak lain adalah Sasa, dengan nada sinis yang menusuk hati.
Sasa terus memarahi mereka tanpa ampun, membuat kedua bocah itu menunduk ketakutan, mata mereka mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis sambil saling merangkul satu sama lain.
Di sisi Rena dan yang lainnya masih sibuk memilih. "Permisi, Nyonya Marissa! Ada tamu yang ingin bertemu, sudah menunggu di ruang tunggu," ucap salah satu staf menghampiri dengan sopan.
"Oh, baiklah, saya akan kesana," jawab Marissa. Ia lalu menoleh ke Rena, "Rena sayang, kamu lanjut saja memilih sampai dapat yang paling suka ya. Tante temui tamu sebentar."
"Baik, Tan!" sahut Rena ceria.
Tak lama berselang, Saga pun pamit sebentar ke kantor setelah mendapat telepon mendadak dari Kevin. Kini tinggallah Rena dan Lena.
Lima menit kemudian, mata Rena akhirnya terpaku pada satu gaun. Sempurna! Potongannya sederhana namun memancarkan aura berkelas dan anggun yang luar biasa, serta sangat pas di tubuhnya. Rena akhirnya memilih gaun selutut berwarna hitam elegan.
"Wah, pilihan terbaik, Ren! Kak Saga pasti langsung klepek-klepek liat kamu pakai ini!" puji Lena takjub.
"Ah, kamu bisa aja ... semoga aja nanti gak malu-maluin Kak Saga ya," ujar Rena sedikit ragu.
"Kamu itu cantik, Ren! Aku yakin semua mata bakal terpaku sama kamu, apalagi nanti gandengan sama Kak Saga! Meskipun dia dingin, tapi aura tampannya gak ada lawan! Rendy mah lewat jauh!" canda Lena.
"Semoga semua berjalan lancar," gumam Rena tersenyum puas.
"Yuk, kita langsung ke ruangan Tante Marissa!" ajak Lena.
"Ayo!" sahut Rena.
"Eh, Ren! Kamu duluan aja ya, gue kebelet nih!" kata Lena mendadak lalu berlari kecil ke arah toilet.
"Oke!"
Baru saja Rena hendak melangkah, salah satu staf butik berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah.
"Nona! Tuan muda kecil ... mereka dimarahi habis-habisan sama salah satu pelanggan di area sana!" lapor staf itu panik.
"Maksud kamu Al dan El?!" tanya Rena memastikan, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Iya, Nona!"
Tanpa menunggu lama, Rena berlari secepat kilat. Kekhawatirannya pada keponakan Saga itu mengalahkan segalanya.
Saat melihat kejadian itu dari kejauhan, wajah Rena berubah pucat lalu memerah menahan amarah. Melihat dua bocah kesayangannya diperlakukan seburuk itu oleh wanita yang sangat ia kenal, membuat emosinya meledak. Tanpa pikir panjang, Rena melangkah tegas menyela kerumunan.
"Stop!" seru Rena dengan suara rendah namun penuh wibawa dan penekanan yang membuat suasana seketika hening.
Rena langsung berdiri kokoh di depan Al dan El, melindungi tubuh kecil mereka dari tatapan tajam Sasa. Ia menatap wanita itu dengan mata yang mengeluarkan aura dingin yang menakutkan.
"Aunty Cantik ..." rengek keduanya sambil memeluk erat kaki Rena, mencari perlindungan.
"Iya sayang, Aunty di sini. Kalian gak apa-apa kan?" tanya Rena lembut sambil mengusap kepala mereka dengan sayang.
Keduanya menggeleng cepat dengan mata masih berkaca-kaca.
"Eh, Sasa! Mereka masih anak-anak. Kenapa harus sekasar ini memperlakukan mereka? Tidak perlu sampai membentak dan menghina sedemikian rupa," tegur Rena pelan tapi sangat menusuk.
Sasa yang merasa otoritasnya diganggu langsung mendongak penuh selidik.
"Oh ... ternyata kamu. Jadi mereka ini anak asuh kamu ya?" ucap Sasa dengan nada mengejek yang sangat kental. Ia menatap Rena dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan pandangan meremehkan. "Gue kira anak siapa, ternyata anak asuh kamu! Kasihan banget sih nasib lo. Gagal nikah, sekarang malah jadi pengasuh anak orang ya? Gaji jadi dokter masih kurang pasti, makanya cari sampingan!" ejeknya sinis.
Rena menghela napas panjang, berusaha sekuat tenaga agar tetap tenang. Ia tak mau membalas dengan emosi yang sama apa lagi di hadapan dua bocah, itu sangat tidak baik untuk anak-anak di bawah umur.
"Dasar pengasuh gak bertanggung jawab! Ngebiarin anak-anak lari-larian sembarangan. Kamu gak tahu ini butik elit! Ini butik milik keluarga Dirgantara! Tempatnya orang-orang berada dan berkelas, bukan buat mainan anak jalanan!" tambah Sasa dengan gaya sombongnya.
Sasa benar-benar tak sadar diri. Ia begitu sibuk merendahkan Rena, menganggap gadis di depannya hanyalah wanita lemah yang menyedihkan.
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa wanita yang sedang ia hina habis-habisan itu adalah calon menantu keluarga Dirgantara. Pemilik sebenarnya dari butik mewah tempat ia berdiri. Dan dua bocah yang ia sebut "miskin" dan "anak jalanan" itu adalah pewaris kekayaan Dirgantara group!
Bersambung ....