Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 - Baju-baju Baru
Di antara waktunya mengerjakan proyek sistem database kerajaan, Avara mendapat pelayanan khusus dari raja iblis.
Dia akan dibuatkan baju-baju baru, terutama yang sesuai dengan budaya dunia itu dan khususnya budaya dunia iblis. Fulqentius mengirim langsung sepasang teknisi yang merupakan adik-kakak untuk mengukur dan menjahitkan baju baru Avara. Mereka terkenal sebagai penjahit yang biasa dipanggil para bangsawan iblis untuk menjahitkan gaun-gaun bagi para iblis perempuan dalam keluarga mereka.
Saat pertama kali bertemu, Avara kira mereka adalah saudara kembar karena karakteristik keduanya yang serupa, dan terutama nama yang hampir sama. Lyla dan Myla.
Entah kenapa Avara beranggapan bahwa nama itu terlalu manis untuk 'iblis'.
Dan hal ini diperjelas oleh sikap mereka pada Avara.
"Buka bajumu," perintah Lyla, si kakak.
Avara tahu dirinya hanya seorang manusia di tengah kumpulan iblis, tanpa kawan apalagi kekuatan. Namun menjumpai sikap kasar para iblis ternyata masih cukup menyakitkan baginya yang biasa hidup saling menghargai dengan sesama manusia lain.
"Kau dengar, Manusia? Buka bajumu atau kami tidak akan bisa mengukurmu," seloroh Myla.
Si gadis tahu-tahu saja metode pengukuran tubuh dengan melepas baju, tapi mendapati bahwa dirinya diperintah tanpa rasa hormat, membuatnya semakin enggan untuk menurut.
"Silakan mengukurku apa adanya."
Tampaknya sebagai saudara paling tua, Lyla paling mudah tersulut emosinya. Dengan mudah dia murka. "Apa katamu? Kau mencoba mencari gara-gara?"
"Aku tidak mau memperlihatkan tubuhku di depan orang asing," sergah Avara.
"Sialan, kau pikir kami juga mau menjahitkan baju untukmu?" maki Myla.
"Aku mungkin bisa menolak, tapi kalian tidak bisa, kan."
Lyla dan Myla berpandangan, geram.
"Apa maumu, manusia?"
Avara menghela napas. "Sudah kubilang, aku tidak mau melepas baju."
Lyla memegang meteran pengukur dengan dada membusung marah, tidak meninggalkan Myla yang juga mendengus sebal.
"Terserah. Jika nantinya ukuran gaun itu kurang sesuai, itu bukan tanggung jawab kami," putus Lyla akhirnya. Ditariknya kasar tangan Avara agar mendekat, membuatnya terpaksa berdiri meski enggan.
Dengan meteran, Lyla segera mengukur panjang bahu, lebar dada, lebar pinggang, dan seluruh bagian tubuh Avara dengan cepat. Myla mencatat sama cepatnya. Mereka seolah tersinkronisasi dengan sangat baik meski sebetulnya adalah dua individu berbeda. Terlepas dari seberapa kasar perlakuan yang dia terima, Avara sangat terpukau oleh kerja sama mereka.
Saat Lyla mengukur keliling leher Avara, berlangsunglah perundungan itu.
Dengan tambahan tenaga, menggunakan meteran yang sama, Lyla mencoba mencekik Avara. Ditariknya bahan meteran itu sedikit kencang, mengejutkan Avara yang lengah.
"Jangan kau pikir dirimu istimewa, Manusia."
"Pada akhirnya kau akan berakhir sebagai makanan His Majesty," tambah Myla.
Avara tidak kesulitan bernapas. Dia hanya panik karena menyadari bahwa segala sesuatu bisa berubah buruk kapanpun dua iblis wanita itu mau.
"Kalau benar begitu, kenapa tidak sejak awal dia memakanku?"
"Well, kau tahu, babi harus digemukkan lebih dulu agar enak rasanya," sergah Lyla.
Myla tertawa keras.
Avara mau tak mau memikirkan kemungkinan itu.
Memang ada peluang baginya berakhir menjadi santapan iblis manapun di sana, tidak terbatas pada Fulqentius semata. Adalah naif berkeyakinan kalau dirinya senantiasa aman dari serangan apapun yang bisa jadi diterima manusia seperti dirinya. Tidak peduli jika kelak dia akan dimakan atau tidak, perbedaan kekuatan antara dirinya dan para iblis sudah jelas sangat jauh. Avara bisa kehilangan nyawa dengan mudah dan lekas. Gadis itu mungkin hanya beruntung masih hidup hingga saat ini.
Lyla masih enggan melepas cengkeraman di leher Avara.
"Apa kau takut, Manusia? Dengan sedikit kekuatanku, kau bisa mati saat ini juga."
"Kau sudah menakutinya, Kak," sergah Myla, tertawa lagi.
Avara meraih tangan Lyla yang masih menggenggam meteran di lehernya, menuntut perhatian sepenuhnya. Dia bilang, "Coba saja lakukan, dan kita lihat bagaimana reaksi rajamu saat tahu bahwa pegawai baru yang berpeluang memperbaiki apa yang ingin dia perbaiki, mati konyol karena keegoisan kalian sendiri. Kalian mau bertaruh?"
Marah, Lyla justru semakin mempererat jerat pada leher Avara, membuat gadis itu semakin kesulitan bernapas dengan leluasa. Namun Avara justru menyeringai alih-alih takut setengah mati, seolah menantang iblis wanita itu untuk merampungkan apa yang sudah dia sampaikan tadi.
Adalah Myla yang meraih lengan kakaknya, menghentikannya. "Kak, jangan kelewatan."
Perlu beberapa waktu yang terasa panjang hingga Lyla melepas meteran dari leher Avara dan mendengus kesal, mengusir pergi murka dari rongga dadanya. Dengan gerakan kasar, mereka membereskan semua perkakas milik mereka, beranjak untuk meninggalkan kamar Avara yang kemudian akan kembali tenang tanpa permusuhan.
"Aku menantikan baju-baju baru yang cantik dari kalian," seloroh Avara, memberikan salam perpisahan bagi Lyla dan Myla yang mendengus sebal tak henti-henti. Terdengar keras hentakan kaki mereka di sepanjang koridor, dan geraman tertahan yang menyertai.
Sepeninggal mereka, Oriole datang untuk bertanya tentang proses pengukuran yang sudah lalui Avara.
Avara tidak menemukan kepedulian dari sikap ajudan pribadi sang raja iblis itu, jadi dia berkata, "Anda hanya ingin mengecek apakah saya selamat dan masih aman dari kemungkinan disakiti oleh iblis-iblis lain, kan?"
Oriole diam dalam ekspresi 'awas' seperti biasa.
Avara duduk di ujung ranjangnya, bersidekap. "Seperti yang Anda lihat, saya baik-baik saja, masih hidup dan sehat. Karena jika sampai saya disakiti, maka raja iblis sudah melanggar perjanjian kerja saya. Bukan begitu?"
Oriole mencermati mata gelap Avara yang mengingatkannya pada mata tuannya; yang seharusnya menjadi satu-satunya sepasang mata paling kelam di dunia itu. Lalu tatapannya turun ke leher si gadis yang memiliki segaris bekas merah, yang seolah membara di antara kulit cerahnya. Tidak perlu sering menemuinya untuk tahu bahwa bekas merah itu baru terbentuk.
Namun Avara tersenyum. "Tidak sabar ingin segera mengenakan baju-baju baru. Tolong sampaikan pada raja iblis bahwa saya sangat senang atas bantuan dan perhatiannya. Terima kasih."
Oriole masih tidak terbiasa dengan ucapan terima kasih dari seorang manusia, tapi dia lebih tidak nyaman saat dikatakan bahwa rajanya memberi perhatian pada manusia itu.
"Tentu," balasnya pendek.