NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Mata Air yang Tidak Disebut

Mata air itu berada di balik rimbun pohon tua, tersembunyi seperti sesuatu yang sengaja dilupakan.

Arya memimpin mereka menyusuri jalur sempit di sisi timur balai tua, melewati semak berduri dan akar pohon yang menonjol di atas tanah. Langit sudah berubah warna, dari terang sore menjadi pucat keemasan yang sebentar lagi akan ditelan senja. Wira berjalan di tengah rombongan dengan langkah hati-hati, sementara papan kayu tulisan ibunya masih ia jaga di balik kain. Liontin kecil berisi wajah ayahnya terasa menempel di dada seperti bara yang tak padam. Dua benda itu kini bukan sekadar peninggalan, melainkan penunjuk arah yang terus menuntunnya ke tempat-tempat yang tak pernah ia bayangkan.

Ki Rangga berjalan tepat di belakang Arya. Jaya sesekali menoleh ke belakang, memastikan mereka tidak diikuti. Raden Seta membawa sisa naskah dengan tangan yang kini mulai lelah, sedangkan Panca tampak sudah pasrah pada takdir buruk yang terus mengiringi mereka.

“Aku hanya ingin tahu satu hal,” gumam Panca sambil menunduk menyingkirkan ranting. “Kenapa semua tempat rahasia di cerita ini selalu punya jalur sempit yang membuat orang susah bernapas?”

Jaya menjawab datar, “Karena yang diburu memang tidak boleh santai.”

Panca mendecak. “Aku sudah tidak santai sejak beberapa bab lalu.”

Wira hampir saja tersenyum, tetapi perhatiannya segera tertuju pada Arya. Pria itu bergerak tanpa ragu, seperti sudah berkali-kali melewati jalur ini. Namun ada sesuatu pada cara dia menatap hutan yang membuat Wira curiga. Bukan curiga karena Arya tampak berbohong secara terang-terangan, melainkan karena ia seperti menyimpan bagian penting yang belum ingin dibuka.

Mereka akhirnya tiba di sebuah cekungan kecil yang dikelilingi batu-batu bundar. Di tengah cekungan itu tumbuh pohon besar yang akarnya menjulur ke tanah seperti jari-jari tua. Di bawah pohon, ada genangan air jernih yang terus memancar pelan dari celah batu. Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan. Tempat itu memang berbeda. Tidak ramai, tidak juga gelap. Namun justru karena terlalu tenang, Wira merasa ada sesuatu yang dijaga di sana.

Arya berhenti dan menoleh. “Ini tempatnya.”

Wira melangkah maju perlahan. “Ini mata air yang tidak disebut?”

Arya mengangguk. “Dulu orang-orang lama menyebutnya dengan nama lain. Tapi nama itu sengaja dihapus dari catatan.”

Panca langsung mengerutkan dahi. “Tentu saja dihapus. Aku mulai curiga sebagian besar hidup kita juga cuma hasil hapusan.”

Raden Seta berjongkok di dekat batu yang membatasi mata air. Di sana ada ukiran kecil yang nyaris tertutup lumut. Ia membersihkannya dengan telapak tangan dan menatapnya cukup lama sebelum berkata, “Ini tanda penghubung.”

Ki Rangga mengamati sekeliling. “Ada jalur bawah?”

Arya mengangguk sekali. “Ada ruang di balik mata air. Tapi tidak bisa dibuka sembarang.”

Wira menoleh cepat. “Bukan pakai kunci?”

“Bukan,” jawab Arya. “Harus ada nama.”

Semua langsung diam.

Panca mengangkat alis. “Nama siapa lagi?”

Arya menatap Wira lama. “Nama yang dihapus dari tempat ini.”

Wira langsung mengerti maksudnya, meski belum sepenuhnya. Ia menunduk pada papan kayu tulisan ibunya yang dibawanya. Seolah jawaban ada di sana. Namun saat ia membuka lipatan kain dan membaca kembali kalimat terakhir, yang tampak justru petunjuk tentang arah, bukan nama.

Ki Rangga berdiri di samping Wira. “Coba lihat tulisannya.”

Wira membuka papan kayu itu dan menelusuri bagian belakang yang sempat ditunjukkan sebelumnya. Di sana hanya ada gambar rumah, garis putus-putus, dan titik silang. Tidak ada nama. Ia menatap Arya. “Nama apa yang dimaksud?”

Arya menghela napas pelan. “Nama keluarga yang dihapus itu.”

Raden Seta menatap papan kayu itu dengan cermat. “Tapi di sini tidak tertulis.”

“Karena yang dimaksud bukan sekadar nama yang terukir,” kata Arya. “Melainkan nama yang diucapkan oleh orang yang masih mengingatnya.”

Wira mematung. “Maksudmu aku harus mengucapkannya?”

Arya mengangguk. “Kalau kau memang darah yang dimaksud oleh semua petunjuk itu, maka kemungkinan besar kau yang berhak menyebutnya.”

Panca memutar mata. “Tentu saja. Selalu anak itu yang harus mengucapkan sesuatu demi membuka pintu.”

Jaya menatap mata air itu. “Kalau salah, apa yang terjadi?”

Arya menatap balik. “Biasanya tidak ada yang salah jika nama itu memang benar. Tapi jika yang berbicara bukan pewarisnya, pintu bisa menolak.”

Ki Rangga menoleh pada Wira. “Kau ingat nama yang tertulis di dinding aula bawah tanah?”

Wira terdiam. Ia masih ingat nama keluarganya yang diukir di dinding ruang terdalam. Ia juga masih ingat betapa ibunya pernah meninggalkan pesan seperti menunggu dirinya datang. Dalam dadanya, perasaan itu kembali bergerak, campuran harap dan takut.

“Ya,” jawabnya pelan. “Tapi aku tidak tahu apakah harus mengucapkannya di sini.”

Raden Seta membuka naskah ibu Wira sekali lagi dan menemukan halaman dengan goresan yang hampir tak terbaca. Ia menyipit, lalu mengangkat kepala.

“Ada bagian ini.”

Wira mendekat. Tulisan itu pendek.

“Jika sampai ke mata air, sebutlah nama yang hilang. Air akan membuka jalan bagi yang berhak.”

Panca menghela napas keras. “Nah, lebih jelas. Walau tetap terasa seperti jebakan.”

Ki Rangga memandang Wira. “Coba.”

Wira menatap mata air itu. Permukaannya jernih, tetapi ada getaran halus yang tidak biasa. Ia merasa seperti sedang melihat sesuatu yang menyimpan ingatan jauh lebih tua daripada dirinya. Tangannya sedikit gemetar ketika ia menarik napas.

“Apa nama yang harus kusebut?” tanyanya.

Arya menjawab pelan, “Nama keluarga yang dihapus.”

Wira menelan ludah. Dalam pikirannya ia mengulang nama itu berkali-kali, mencoba menyesuaikan lidahnya dengan sesuatu yang selama ini hanya berupa tulisan. Ia menatap ke air, lalu dengan suara rendah dan berat, mengucapkan nama itu.

“Pradipta.”

Begitu kata itu keluar, udara di sekitar mata air berubah.

Permukaan air bergetar, lalu timbul lingkaran-lingkaran kecil dari tengah. Batu-batu di sekeliling cekungan mengeluarkan bunyi halus seperti sesuatu yang bergerak di bawah tanah. Panca spontan mundur setengah langkah. Jaya mengangkat tangan, siap jika ada sesuatu yang tak diinginkan muncul.

Namun tidak ada ledakan, tidak ada runtuh, hanya bunyi berat dari batu di sisi mata air yang perlahan bergeser.

Arah tepi cekungan terbuka sedikit, menyingkap tangga batu sempit yang turun ke bawah tanah.

Wira menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi benar,” bisiknya.

Ki Rangga mengangguk pelan. “Terbuka.”

Arya menatap Wira dengan sorot tajam. “Sekarang kita masuk.”

Panca langsung mendecak. “Tentu saja masih ada bawah tanah lagi.”

Jaya meliriknya. “Kau sudah hafal keluhanmu sendiri.”

Panca menunjuk ke tangga. “Karena itu benar.”

Mereka turun satu per satu. Lorong di bawah mata air jauh lebih dingin, tapi juga lebih rapi. Dindingnya batu halus, lantainya rata, dan ada alur air tipis yang mengalir di sisi kanan. Suasana di sana tidak seperti ruang sembunyi kasar yang mereka temui sebelumnya. Ini lebih mirip tempat yang sengaja dijaga dan dibersihkan.

Wira berjalan paling depan setelah Arya. Cahaya dari atas semakin lama makin redup, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang kecil berbentuk oval. Di tengah ruangan terdapat sebuah batu datar yang di atasnya diletakkan mangkuk perunggu kecil. Di dinding sekelilingnya ada beberapa ukiran nama, namun sebagian sudah rusak. Satu nama masih tampak jelas.

Danar.

Wira langsung berhenti.

Arya berdiri di samping batu itu. “Inilah tempat terakhir yang digunakan untuk memindahkan orang.”

Raden Seta memandang ukiran dinding. “Jadi Danar pernah dibawa ke sini.”

“Ya,” jawab Arya. “Bahkan lebih dari itu. Dia pernah berdiri tepat di tempat kau sekarang.”

Wira menatap lantai batu di bawah kakinya, lalu perlahan ke mangkuk perunggu di tengah ruangan. Di bawah cahaya redup, permukaannya tampak seperti bekas dipakai berkali-kali. Ada kerak tipis, noda lama, dan di tepiannya ukiran kecil yang bentuknya sama seperti pada cincin.

“Untuk apa mangkuk itu?” tanya Wira.

Arya menunduk. “Untuk pengakuan.”

Panca langsung mengerutkan dahi. “Pengakuan apa?”

“Pengakuan nama,” kata Arya. “Dan juga penolakan.”

Ruangan itu kembali sunyi. Wira menatap mangkuk perunggu itu lalu ke nama Danar di dinding. Semuanya terasa semakin dekat dan semakin berat. Ia kini tidak hanya mencari ayahnya, tetapi juga mencari alasan kenapa nama ayahnya tetap muncul di semua jalur rahasia ini.

Ki Rangga mendekat. “Kalau tempat ini untuk memindahkan orang, berarti ada saksi lagi.”

Arya mengangguk. “Ada. Dan dia masih hidup.”

Wira langsung menoleh. “Laras?”

Arya terdiam sesaat sebelum menjawab, “Bukan.”

Itu membuat semua orang menegang.

Jaya menyipit. “Masih ada saksi lain?”

Arya mengangguk. “Ada satu orang yang memegang pengucapan terakhir. Orang itu lah yang tahu ke mana Danar dibawa setelah meninggalkan tempat ini.”

Raden Seta memucat. “Siapa?”

Arya menatap Wira. “Namanya Watu.”

Wira mengerutkan dahi. “Siapa dia?”

“Pencatat lama,” jawab Arya. “Seseorang yang dulu duduk paling dekat dengan pintu nama.”

Panca mendecak. “Tentu saja masih ada orang keempat.”

Arya tidak menanggapi. Ia justru mendekat ke dinding dan menekan salah satu ukiran nama yang sedikit menonjol. Terdengar bunyi pelan dari bawah lantai. Lalu salah satu batu di dasar ruangan bergeser.

Di bawahnya ada kotak batu kecil.

Ki Rangga segera maju. “Buka.”

Arya mengangguk, lalu mengangkat kotak itu. Di dalamnya terdapat sehelai kain tua yang dilipat sangat rapi. Saat kain dibuka, terlihat sebuah gelang logam tipis dan selembar kulit kayu bertulisan tangan.

Raden Seta membacanya cepat.

“Bila anak Danar tiba, berikan gelang ini pada Watu. Ia masih menunggu di rumah yang tak pernah disebut.”

Wira membeku.

“Rumah yang tak pernah disebut?” ulangnya pelan.

Arya mengangguk. “Itulah tempat berikutnya.”

Panca mendesah panjang. “Aku benar-benar mulai muak dengan rumah-rumah yang tidak disebut.”

Jaya menatap Wira. “Masih sanggup?”

Wira menatap gelang logam di tangan Arya. Ia tidak menjawab cepat. Di dalam dirinya, terlalu banyak hal bergerak bersamaan. Ayahnya, Danar, nama Pradipta, saksi bernama Watu, dan rumah yang tidak pernah disebut. Semua itu seperti bagian dari satu tubuh rahasia yang selama ini dicabut jauh dari hidupnya.

Namun ia mengangguk.

“Masih.”

Ki Rangga menatapnya dengan bangga yang samar. “Kalau begitu kita lanjut.”

Arya menyimpan kembali kulit kayu itu dan mengarahkan tubuh ke sisi ruang. “Keluar lewat jalur belakang. Dari sana kita bisa sampai ke rumah itu sebelum malam jatuh.”

Wira melirik mata air di atas mereka, lalu ke ukiran nama Danar di dinding. Tempat ini bukan lagi sekadar ruang. Ini saksi yang menunggu terlalu lama. Dan sekarang, satu langkah berikutnya kembali terbuka.

Mereka mulai bergerak menuju jalur keluar.

Di belakang mereka, mata air yang tidak disebut kembali tenang, seolah baru saja menyerahkan satu lagi bagian dari masa lalu keluarga Wira. Dan Wira tahu, perjalanan mereka belum selesai. Baru saja rahasia baru mendapat suara, dan nama lama yang hilang mulai menemukan jalan pulang.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!