Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 29.
Malam menyelimuti istana dalam kesunyian yang terasa menyesakkan. Angin musim dingin berembus pelan melalui lorong-lorong batu, membawa suara gemerisik dedaunan dari taman belakang. Di kejauhan, lonceng menara berdentang pelan menandakan pergantian malam.
Namun bagi mereka yang berada di balik dinding rahasia paviliun timur, malam itu bukan sekadar pergantian waktu. Malam itu adalah awal kehancuran para pengkhianat.
Evelyn berdiri tegak di balik panel batu tersembunyi. Tubuhnya dibalut gaun hitam sederhana tanpa perhiasan, tetapi sorot matanya jauh lebih tajam daripada berlian mana pun.
Di sampingnya berdiri Alexander, sang Raja yang seluruh kerajaan yakini masih terbaring koma. Tubuh pria itu dibalut jubah gelap, wajahnya nyaris tak terlihat dalam bayangan. Namun aura kekuasaan yang terpancar darinya tak mungkin disembunyikan.
Di belakang mereka, Damien memeriksa senjata kecil di pinggangnya, sementara Bernard berdiri tenang sambil memegang gulungan bukti yang selama berminggu-minggu mereka kumpulkan.
Tak seorang pun berbicara, semua menunggu.
Dan ketika suara langkah kaki akhirnya terdengar dari lorong utama, mata Evelyn menyipit.
Mereka datang.
Pintu ruang kaca terbuka perlahan.
Vanessa melangkah masuk lebih dulu.
Malam itu, ia mengenakan gaun merah tua yang memeluk tubuhnya sempurna. Rambut hitamnya tersanggul rapi, bibirnya dihias senyum percaya diri.
Di belakangnya, Julian muncul dengan langkah santai. Tatapan pria itu licik seperti biasa, Ia menutup pintu dan berjalan mendekati meja bundar di tengah ruangan.
“Semua berjalan sesuai rencana,” gumam Vanessa sambil menuangkan anggur ke dalam dua gelas kristal.
Julian duduk di hadapannya. “Evelyn jauh lebih keras kepala dari perkiraan.”
“Semakin keras kepala seseorang, semakin memuaskan saat mereka dijatuhkan.” Vanessa terkekeh kecil.
Julian menerima gelas anggur. “Besok pagi Dewan Bangsawan akan mencopot kewenangannya sepenuhnya. Setelah itu... William naik sebagai wali kerajaan.”
“Dan Alexander?” Vanessa menyesap anggurnya perlahan.
Julian tertawa pelan. “Orang mati tak mungkin bangun.”
Vanessa tersenyum puas, tatapannya berubah dingin. “Aku ingin melihat wajah Evelyn... saat semua yang ia bangun runtuh.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Lalu... tepuk tangan pelan terdengar dari balik bayangan.
Vanessa membeku.
Julian langsung menoleh tajam.
Panel batu di sisi ruangan bergeser terbuka. Evelyn melangkah keluar lebih dulu dengan Wajah tenang. Namun tatapannya menusuk seperti bilah es.
Di belakangnya Alexander muncul, berdiri tegak dengan pakaian kebesaran Raja.
Wajah Vanessa seketika kehilangan warna, gelas kristal di tangannya jatuh pecah ke lantai.
Julian bahkan mundur selangkah.
“Tidak mungkin...” bisiknya.
Alexander melangkah maju. Setiap langkahnya berat, tegas, dan memancarkan otoritas mutlak. “Terkejut?”
Suara sang raja rendah dan dingin.
Vanessa menatapnya dengan mata membelalak. “Tapi... kau koma—”
“Sayangnya, aku hanya berpura-pura!” Potong Alexander tajam
Julian langsung mengerti, seluruh tubuhnya menegang. “Kalian menjebak kami.”
“Benar.” Evelyn tersenyum tipis, ia mengangkat tangan.
Dalam sekejap, pintu-pintu ruangan terbuka. Pasukan elit kerajaan menyerbu masuk, mengepung seluruh ruang kaca. Damien berdiri paling depan, pistol kecil hasil rancangan Ruang Ajaib terarah lurus pada Julian.
“Permainan selesai.”
Vanessa menoleh cepat ke segala arah, tak ada jalan keluar, wanita itu benar-benar panik.
Evelyn melemparkan setumpuk dokumen ke meja, lembar-lembar itu berhamburan. Surat rahasia, daftar nama bangsawan yang disuap. Catatan transfer emas, bahkan rekaman kristal dari Ruang Ajaib yang menunjukkan percakapan mereka.
Vanessa menatap semua itu dengan napas memburu. “Kau...!”
Evelyn mendekat, langkahnya pelan. Namun setiap langkah terasa menyesakkan. “Kau pikir... aku masih Evelyn yang dulu bisa kau jebak dengan permainan murahan?”
Vanessa menggertakkan gigi.
Julian mendadak meraih belati dari balik jubahnya.
Namun lebih cepat dari itu... Dor!
Damien menembak lengannya, Julian menjerit dan jatuh tersungkur.
Alexander menatap mereka dengan wajah tanpa belas kasihan. “Atas nama kerajaan, kalian ditangkap atas tuduhan makar!”
Tak lama kemudian, William dan Ibu Suri Helena diseret masuk. Wajah William pucat pasi, sementara Helena tetap berusaha menjaga martabatnya meski kedua tangannya diborgol.
Saat melihat Alexander berdiri sehat, wanita tua itu membelalak. “Tidak...”
“Permainanmu berakhir malam ini!” Alexander menatap ibu tirinya dengan dingin.
Helena tertawa getir. “Jangan kira kau sudah menang!”
Alexander mendekat hingga hanya berjarak satu langkah, tatapannya menajam. “Memang tidak, karena aku baru mulai!”
Pagi harinya, seluruh kerajaan gempar. Lonceng darurat dibunyikan, rakyat memenuhi halaman istana. Para bangsawan dipanggil menghadiri sidang terbuka. Dan ketika pintu aula utama terbuka, hening menyelimuti ruangan.
Alexander berjalan masuk.
Sehat.
Tegak.
Hidup.
Gasps terdengar di seluruh aula. Beberapa bangsawan bahkan sampai berdiri karena syok.
William menunduk dengan wajah hancur, Helena menggigit bibirnya sampai berdarah.
Di sisi Alexander berjalan Evelyn, wanita itu terlihat anggun dalam gaun hitam keemasan. Tatapannya tenang, tapi penuh kemenangan.
Mereka melangkah bersama menuju singgasana, setara. Tak ada yang berada di depan atau di belakang. Dan saat Alexander duduk, ia mengulurkan tangan pada ratu-nya. Evelyn menerimanya, ia duduk di singgasana kedua di sampingnya.
Gestur sederhana itu mengguncang seluruh aula. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan, seorang Ratu duduk sejajar dengan Raja.
Alexander menatap seluruh ruangan, suaranya menggema tegas.
“Pengkhianatan telah terungkap.”
Sang Raja mengangkat gulungan bukti. “Hari ini, seluruh topeng akan dirobek.”
Evelyn menoleh pada para terdakwa, tatapannya berhenti pada Vanessa. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyuman penuh kemenangan.
Dan sejak bermusuhan dengan Evelyn di dunia modern, kali ini... Vanessa benar-benar merasa takut. Karena ia tahu, kali ini tak ada jalan keluar.
Aula Agung Kerajaan Velmora dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Langit di luar mendung, seolah alam pun memahami bahwa hari itu bukan hari biasa. Seluruh kursi sidang dipenuhi para bangsawan, petinggi militer, hakim kerajaan, dan perwakilan rakyat dari berbagai wilayah. Tak ada satu pun suara percakapan, semua mata tertuju pada singgasana utama.
Alexander duduk tegak dengan jubah kebesaran hitam berlapis emas. Mahkota kerajaan bertengger kokoh di kepalanya, menegaskan sesuatu yang sempat diragukan banyak orang beberapa minggu terakhir jika Raja mereka masih hidup. Dan kini... ia telah kembali.
Di sampingnya, Evelyn duduk anggun dalam gaun biru tua dengan bordiran perak. Rambut pirangnya tersanggul sederhana, memperlihatkan leher jenjang yang tegak penuh wibawa. Tatapannya tenang, tapi justru ketenangan itulah yang membuat semua orang segan pada wanita itu.
Di hadapan mereka, lima kursi besi telah disiapkan, di sanalah para terdakwa duduk.
Ibu Suri Helena.
Pangeran William.
Vanessa.
Julian.
Dan, Selir Sophia.
Tangan mereka terborgol rantai perak.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Velmora, anggota keluarga kerajaan duduk sebagai terdakwa di hadapan seluruh negeri.
walaupun telat bacanya 🙈
terimakasih thor, semoga sukses dgn karya-karyanya di novel 🙏💪
maaf thor baru bisa baca 🙏
Sukses slalu y thor..