NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Pagi itu berakhir tanpa kejadian besar, semuanya berjalan seperti yang seharusnya tanpa gangguan yang berarti. Percakapan ringan mengisi meja makan, sesekali diselingi tawa kecil dari Lysandra dan komentar singkat dari Darius yang terdengar santai. Kael tetap seperti biasanya, diam dan tidak banyak terlibat, seolah kehadirannya hanya sebagai pelengkap yang tidak perlu diperhatikan.

Namun bagi Seraphina, tidak ada satu pun dari itu yang terasa biasa. Ia duduk di antara mereka, tetapi perasaannya seperti berdiri di luar, mengamati tanpa benar-benar menjadi bagian dari suasana. Setiap kata yang diucapkan, setiap gerakan kecil yang terjadi, semuanya terasa memiliki arti yang berbeda sekarang.

Setelah mereka meninggalkan ruang makan, Seraphina tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor, langkahnya tenang tetapi pikirannya bekerja tanpa henti. Ingatan tentang interaksi tadi kembali diputar, dipilah satu per satu dengan sudut pandang yang tidak lagi sama.

Ia sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Namun mengetahui akhir bukan berarti memahami bagaimana semuanya berjalan hingga sampai ke titik itu. Justru di situlah letak bahaya yang sebenarnya, karena kesalahan kecil di awal bisa menentukan segalanya.

Seraphina berhenti di dekat jendela besar yang menghadap ke taman. Cahaya matahari pagi menerangi dedaunan dengan lembut, menciptakan pemandangan yang damai dan menenangkan.

Damai yang terasa menipu.

Ia menarik napas dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan. Pikirannya mulai tersusun lebih rapi, tidak lagi hanya dipenuhi emosi, tetapi juga perhitungan yang lebih jelas.

“Aku harus mulai dari hal kecil,” gumamnya pelan.

Jika ia ingin mengubah segalanya, maka ia harus memahami mereka lebih dalam. Bukan sebagai ibu yang hanya melihat dari sisi kasih sayang, melainkan sebagai seseorang yang benar-benar memperhatikan tanpa bias.

Ia harus mengamati.

Menghitung.

Menilai.

Seraphina memejamkan mata sejenak, mengingat kembali rutinitas lama yang selama ini ia jalani tanpa banyak pertanyaan. Hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa kini terasa seperti petunjuk yang pernah ia abaikan.

Hari ini, ia akan mengubah sedikit saja.

Cukup untuk melihat bagaimana mereka bereaksi.

Ia membuka mata kembali, tatapannya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan yang mengganggu, hanya keinginan untuk memahami dengan lebih jelas.

Siang hari datang dengan tenang, cahaya matahari berubah lebih terang saat memasuki ruang keluarga tempat Seraphina duduk. Sebuah buku terbuka di tangannya, tetapi matanya tidak benar-benar mengikuti baris demi baris tulisan di sana.

Ia menunggu.

Tidak lama kemudian, langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah koridor. Irama langkah itu sudah sangat ia kenal, begitu khas hingga ia tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa yang datang.

“Ibu.”

Suara Lysandra terdengar lembut.

Seraphina mengangkat pandangannya, menatap putrinya yang masuk dengan senyum cerah seperti biasa. Ekspresi itu tampak alami, tidak ada yang terlihat salah di permukaan.

“Iya?” jawabnya.

Lysandra duduk di sampingnya, sedikit menyandarkan tubuhnya dengan santai. Gerakan itu terlihat akrab, seperti kebiasaan yang sudah berlangsung lama tanpa perubahan.

“Aku mau keluar sore ini,” katanya. “Ada acara kecil dengan teman-teman.”

Seraphina mengangguk pelan, mengingat bahwa dalam ingatan lamanya, hal seperti ini memang sering terjadi. Biasanya ia akan langsung menyetujui tanpa banyak pertanyaan, menganggap semuanya tidak perlu dipermasalahkan.

Namun hari ini berbeda.

“Kamu akan pergi ke mana?” tanya Seraphina.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Lysandra berhenti sejenak. Tidak lama, hanya sesaat, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh seseorang yang sedang memperhatikan.

Ekspresinya tetap tersenyum.

Namun ada sesuatu yang bergerak cepat di matanya.

“Ke kafe di pusat kota,” jawabnya. “Tempat yang biasa.”

Seraphina tidak langsung merespons. Ia menatap Lysandra beberapa detik lebih lama dari yang biasanya ia lakukan.

“Dengan siapa?” tanyanya lagi.

Nada suaranya tetap lembut, tidak mengandung tekanan, tetapi berbeda dari kebiasaan sebelumnya.

Lysandra tersenyum kecil. “Teman-teman lama. Ibu juga kenal beberapa dari mereka.”

Jawaban itu terdengar rapi, terlalu rapi untuk sebuah pertanyaan sederhana. Tidak ada detail yang benar-benar spesifik, tetapi cukup untuk terdengar meyakinkan.

Seraphina mencatat itu dalam diam.

Cara Lysandra tidak langsung menjawab.

Cara ia memilih kata dengan hati-hati.

Seolah ia sudah terbiasa menyesuaikan jawaban sesuai situasi.

“Kalau begitu, pulang jangan terlalu malam,” ucap Seraphina akhirnya.

Ia tidak melarang, tetapi juga tidak memberi kebebasan sepenuhnya seperti dulu. Batas kecil itu sengaja ia letakkan, cukup untuk melihat apakah akan ada reaksi.

Lysandra mengangguk, namun kali ini senyumnya sedikit berbeda. Masih manis, masih terlihat hangat, tetapi ada garis tipis di matanya yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Baik,” jawabnya.

Ia berdiri, merapikan gaunnya, lalu berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia melirik sekilas ke arah Seraphina.

Cepat.

Tajam.

Seperti mencoba membaca sesuatu.

Seraphina menangkap itu dengan jelas. Ia tidak bergerak, hanya membiarkan ekspresinya tetap tenang seperti sebelumnya.

Dalam hati, ia mulai memahami sesuatu.

Lysandra sensitif terhadap perubahan.

Sekecil apa pun.

Ia terbiasa mendapatkan respons tertentu, dan ketika itu berubah, ia langsung menyadarinya.

Seraphina menutup bukunya perlahan, jari-jarinya menekan sampul dengan ringan. Satu hal sudah jelas, Lysandra bukan sekadar gadis manja yang bergantung pada orang lain.

Ia terbiasa mengendalikan situasi dengan cara halus.

Dan ia tidak suka jika sesuatu keluar dari jalurnya.

Sore menjelang dengan perlahan, cahaya matahari mulai condong ke arah barat saat Seraphina berjalan menuju ruang kerja kecil di lantai atas. Tempat itu jarang ia gunakan sebelumnya, lebih sering dibiarkan kosong tanpa banyak aktivitas.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, lalu mendorongnya perlahan dan masuk.

Ruangan itu sederhana, dengan meja kerja yang rapi, rak buku yang tersusun teratur, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Suasana di dalamnya tenang, jauh dari gangguan.

Seraphina duduk di kursi, jemarinya menyentuh permukaan meja yang terasa dingin. Ia mengamati ruangan itu sejenak, seolah menyesuaikan diri dengan tempat yang akan sering ia gunakan mulai sekarang.

Beberapa saat kemudian, pintu diketuk.

“Masuk,” ucapnya.

Kael masuk tanpa banyak suara, langkahnya ringan tetapi pasti. Ia berdiri di depan meja, menatap Seraphina dengan ekspresi yang sama seperti biasanya.

“Ibu memanggilku?” tanyanya.

Seraphina mengangguk. “Duduk.”

Kael menarik kursi di seberang meja dan duduk dengan postur tegak. Ia tidak terlihat santai, tetapi juga tidak menunjukkan ketegangan yang berlebihan.

Seraphina memperhatikannya dengan tenang. Dalam ingatannya, ia jarang berbicara dengan Kael seperti ini, biasanya hanya percakapan singkat tanpa kedalaman.

Hari ini, ia mengubah itu.

“Aku ingin tahu tentang rencanamu ke depan,” kata Seraphina.

Kael sedikit mengernyit, bukan karena tidak mengerti, melainkan karena pertanyaan itu tidak biasa datang darinya.

“Rencana?” ulangnya.

Seraphina mengangguk. “Tentang masa depanmu.”

Kael terdiam beberapa detik, matanya tetap tenang tetapi jelas sedang memikirkan sesuatu. Ia tidak menjawab dengan tergesa, seolah mempertimbangkan seberapa banyak yang perlu ia katakan.

“Aku sudah punya rencana,” jawabnya akhirnya.

Singkat.

Terukur.

Seraphina tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan jeda itu ada, memberi ruang bagi Kael untuk melanjutkan jika ia mau.

“Aku hanya perlu waktu,” tambah Kael.

Jawaban yang umum, tetapi nada suaranya menunjukkan keyakinan. Tidak ada keraguan di sana, seolah semuanya sudah ia hitung dengan matang.

Seraphina menyandarkan tubuhnya sedikit, tetap menatapnya tanpa mengalihkan perhatian.

“Pastikan semua langkahmu jelas,” katanya pelan. “Kesalahan kecil bisa berdampak besar.”

Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk mengubah suasana sedikit. Kael menatapnya lebih lama, matanya menyipit tipis seperti sedang mencoba memahami sesuatu.

Ia mengamati.

Menilai.

Mencari perbedaan.

“Baik,” jawabnya.

Namun kali ini, nada suaranya berbeda. Lebih waspada, lebih berhati-hati dari sebelumnya.

Seraphina menangkap perubahan itu dengan jelas. Kael tidak banyak bicara, tetapi ia memperhatikan detail dengan cara yang tajam.

Percakapan itu tidak berlangsung lama. Kael berdiri setelah beberapa saat, lalu berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh.

Tatapannya singkat.

Namun cukup tajam untuk meninggalkan kesan.

Seraphina menatap pintu yang telah tertutup kembali. Pikirannya bergerak cepat, menyusun kesimpulan dari interaksi singkat itu.

Kael bukan hanya dingin.

Ia analitis.

Dan itu membuatnya berbahaya.

Malam datang perlahan, rumah kembali tenang setelah aktivitas seharian berakhir. Seraphina duduk sendiri di ruang kerjanya, sebuah buku catatan terbuka di depannya.

Pena berada di tangannya, tetapi ia belum langsung menulis.

Ia mengingat kembali hari itu secara menyeluruh, setiap percakapan dan setiap ekspresi yang ia lihat. Semua hal kecil yang dulu ia abaikan kini terasa seperti potongan yang mulai membentuk gambaran utuh.

Lysandra yang langsung menangkap perubahan kecil.

Kael yang memperhatikan detail tanpa melewatkan apa pun.

Semua itu bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.

Mereka memang sudah seperti itu sejak awal.

Hanya saja, ia yang tidak pernah benar-benar melihatnya.

Seraphina menunduk, ujung pena akhirnya menyentuh kertas. Ia mulai menulis dengan perlahan, rapi, seolah setiap kata memiliki bobot yang penting.

Catatan pertama tentang Lysandra.

Tentang cara ia bereaksi terhadap perubahan.

Tentang kebiasaannya mengontrol situasi tanpa terlihat memaksa.

Kemudian Kael.

Tentang cara ia mengamati dengan diam.

Tentang ketenangan yang menyembunyikan perhitungan yang tajam.

Setiap kata yang ia tulis bukan sekadar catatan biasa. Semua itu adalah peta, sesuatu yang akan membantunya memahami mereka lebih dalam.

Karena kali ini, ia tidak akan bergerak tanpa arah.

Seraphina berhenti sejenak, menatap tulisan itu dengan mata yang tidak lagi ragu. Tidak ada kebingungan di sana, tidak ada emosi yang mengganggu penilaiannya.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia tahu bagaimana harus melangkah.

Dan ia tahu siapa yang harus ia hadapi.

Ujung pena itu kembali bergerak, menambahkan satu kalimat di bagian bawah halaman.

Tulisan itu sederhana.

Namun jelas.

Untuk menghancurkan mereka, aku harus mengenal mereka lebih baik dari sebelumnya.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!