Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Liam benar-benar mengunci diri di ruang kerjanya sejak "insiden cemburu" tadi.
Cassie sebenarnya merasa lelah setelah seharian di kampus dan perpustakaan, tapi melihat Liam yang merajuk seperti itu, ada rasa ingin tahu yang lebih besar daripada rasa kantuknya. Ia pun membuatkan secangkir cokelat panas, karena ia tahu Liam sudah terlalu banyak mengonsumsi kafein hari ini.
Dengan langkah ragu, Cassie menaiki tangga spiral dan berdiri di depan pintu ruang kerja Liam. Ia mengetuk pelan.
"Masuk," suara Liam terdengar berat dan datar.
Cassie membuka pintu sedikit. Ia melihat Liam sedang duduk di belakang meja besarnya, kacamata bertengger di hidungnya, dikelilingi oleh layar monitor yang menampilkan grafik dan peta yang tidak Cassie pahami.
"Aku membawakanmu cokelat panas," ucap Cassie sambil melangkah masuk.
Liam tidak menoleh, jarinya masih sibuk mengetik. "Aku tidak ingat pernah memesan cokelat panas."
"Anggap saja ini bonus dari pelayanmu agar majikannya tidak terus-menerus memasang wajah seperti mau menerkam orang," balas Cassie santai sembari meletakkan cangkir itu di sudut meja.
Liam akhirnya berhenti mengetik. Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya, lalu menatap Cassie dengan tatapan lelah.
"Kenapa belum tidur?"
"Mana bisa tidur kalau auramu yang menyeramkan itu memenuhi seisi rumah," Cassie duduk di kursi di depan meja Liam, melanggar batas yang biasanya ia jaga.
"Liam... soal tadi... aku serius, aku tidak bermaksud apa-apa saat menanyakan Jino dan Marco. Mereka sudah seperti kakak bagiku di rumah ini."
Liam mendengus sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.
Cassie menopang dagunya dengan tangan, menatap Liam lurus-lurus.
"Apa kau benar-benar sebenci itu melihatku berinteraksi dengan orang lain? Bahkan dengan teman-temanmu sendiri?"
Liam terdiam. Ia mengambil cangkir cokelat itu, memutar-mutarnya sejenak tanpa meminumnya.
"Aku hanya terbiasa memiliki kendali penuh, Cassie. Dan kau... kau adalah variabel yang tidak bisa kuprediksi. Saat kau bersama Ethan atau bahkan tertawa dengan Jino, aku merasa kendaliku... sedikit goyah."
Kejujuran Liam yang tiba-tiba itu membuat Cassie tertegun. Suasana ruangan yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi sangat intim. Cahaya lampu meja yang kekuningan menciptakan bayangan di wajah tegas Liam.
"Kau tidak perlu mengendalikan segalanya, Liam," bisik Cassie pelan.
Liam menatap Cassie dalam-dalam. Ia meletakkan cangkirnya dan tiba-tiba mengulurkan tangannya, menyentuh ujung rambut Cassie yang terlepas dari ikatannya.
"Kau benar-benar berani bicara begitu padaku?"
Cassie tidak mundur. Jantungnya berdegup kencang saat jemari Liam yang kasar namun hangat menyentuh kulit lehernya.
"Aku sudah bilang, kan? Aku lebih takut pada harga sewa apartemen daripada padamu."
Liam terkekeh rendah, suara yang kali ini tidak mengandung nada ejekan. "Gadis aneh."
Tiba-tiba, Liam menarik tangan Cassie sedikit, membuat gadis itu harus sedikit condong ke arahnya.
"Ingat film tadi di bioskop? Tentang bagian 'aku bisa melakukan lebih baik dari itu'?"
Wajah Cassie langsung memanas. "L-Liam, kau bilang kau sedang sibuk kerja!"
"Pekerjaanku bisa menunggu," gumam Liam, suaranya kini merayap rendah dan menggoda. Ia menatap bibir Cassie sejenak sebelum kembali menatap matanya.
"Tapi pelayanku sepertinya butuh diingatkan siapa majikannya di rumah ini sebelum dia kembali mencuri-curi pandang ke jendela kantor polisi besok pagi."
Cassie menahan napas. Ia merasa dunianya seolah berhenti berputar di dalam ruangan itu.
Namun, tepat saat suasana makin memanas, ponsel Liam di atas meja bergetar hebat. Nama 'Jino' muncul.
Liam mengumpat pelan di bawah napasnya. Ia melepaskan tangan Cassie dan menyambar ponselnya dengan kesal.
"Si bodoh ini benar-benar tidak tahu waktu."
"Halo?! Kalau ini bukan soal penggerebekan atau barang hilang, aku akan mencekikmu besok pagi!" bentak Liam ke telepon.
Cassie segera berdiri, merapikan bajunya dengan wajah yang masih merah padam. Ia merasa sedikit lega tapi juga sedikit... kecewa?
"Aku... aku lanjut mencuci baju dulu!" seru Cassie sambil berlari kecil keluar dari ruangan, meninggalkan Liam yang sedang memaki-maki Jino di telepon namun dengan senyum tipis yang mulai muncul di wajahnya.
***
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Cassie mencoba bersikap normal dengan sibuk menuangkan kopi, tapi wajahnya langsung memanas saat Liam turun dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tampak sangat segar meski semalam harus mengurus urusan darurat dengan Jino.
"Pagi, Cassie. Tidurmu nyenyak? Atau kau masih terbayang-bayang soal semalam?" tanya Liam santai sambil menarik kursi di kepala meja.
Uhuk!
Jino yang sedang mengunyah roti langsung tersedak, sementara Marco hanya menghentikan gerakan memotong dagingnya sejenak, melirik Liam dengan tatapan 'Kau serius melakukannya di depan kami?'.
"Liam! Diamlah!" desis Cassie sambil meletakkan teko kopi dengan suara denting yang agak keras.
"Kenapa? Aku hanya bertanya," Liam menyeringai, ia sengaja meraih tangan Cassie saat gadis itu hendak menjauh, menahannya selama beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Kau terlihat cantik kalau sedang panik begitu."
Jino tertawa lepas, ia mulai paham arah anginnya.
"Wah, kalau bos sudah mulai begini, sepertinya aku harus mulai cari rumah baru sebelum aku jadi obat nyamuk di sini."
Marco hanya mendengus, kembali makan dalam diam, tapi sudut bibirnya tampak sedikit terangkat.
***
Setelah sarapan yang penuh godaan itu, Liam tiba-tiba mengumumkan bahwa hari ini adalah hari libur untuk Cassie.
"Lepaskan celemekmu. Kau tidak boleh menyentuh sapu hari ini. Kita pergi."
Liam membawa Cassie keluar dari wilayah kumuh dan pusat kota yang bising. Ia mengendarai mobilnya menuju sisi lain Verovska yang belum pernah Cassie injaki. Sisi yang penuh dengan arsitektur klasik, jalanan berbatu yang rapi, dan tebing-tebing yang menghadap ke laut lepas.
Mereka berhenti di sebuah pelataran tua dengan mercusuar yang menjulang tinggi. Angin laut yang dingin menerpa wajah Cassie, membuatnya merapatkan mantelnya.
"Wah... aku tidak tahu Verovska punya tempat seindah ini," gumam Cassie takjub, matanya berbinar menatap hamparan air biru di bawah sana.
"Tentu saja kau tidak tahu. Duniamu kan cuma seputar perpustakaan berdebu dan halte bus yang bau," ejek Liam, berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana.
Cassie menoleh dengan tatapan tajam. "Bisa tidak sih, satu jam saja jangan merusak suasana dengan ejekanmu itu?"
"Aku hanya menyatakan fakta," Liam mendekat, sengaja berdiri sangat dekat hingga Cassie bisa merasakan panas tubuhnya.
"Lihat dirimu, menatap laut saja seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat balon. Sangat norak."
"Aku tidak norak! Ini namanya apresiasi!" Cassie memukul lengan Liam kesal, tapi Liam justru tertawa.
Liam kemudian membawa Cassie ke sebuah toko roti kuno yang tersembunyi di gang sempit.
Di sana, Liam memesan kue-kue yang namanya bahkan tidak bisa Cassie ucapkan. Saat Cassie makan dengan lahap hingga ada sedikit krim di sudut bibirnya, Liam tidak memberitahunya. Ia justru membiarkannya selama beberapa saat hanya untuk menertawakan wajah Cassie.
"Kau benar-benar seperti hamster," ejek Liam sambil mengusap sudut bibir Cassie dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut namun matanya menatap intens.
"Makan pelan-pelan. Tidak akan ada yang mencuri kuemu, aku sudah membayar semuanya."
Cassie membeku. Sentuhan itu terasa lebih bergetar daripada ejekannya. "Kau... kau menyebalkan, Liam."
"Aku tahu." balas Liam percaya diri.
Sepanjang hari itu, Liam membawa Cassie ke tempat eksklusif, membelikannya hal-hal kecil yang manis, lalu menutupnya dengan ejekan yang membuat Cassie gemas.
Namun di balik itu semua, Cassie menyadari bahwa Liam sedang mencoba menunjukkan dunianya yang lain, dunia di mana ia bukan sekadar pengusaha ilegal yang dingin, tapi pria yang juga bisa menikmati keindahan.
Saat matahari mulai terbenam, menciptakan warna oranye di langit Verovska, Liam menyandarkan tubuhnya di kap mobil sambil memperhatikan Cassie yang sedang memotret pemandangan.
"Cassie," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Jangan pernah berpikir untuk kembali ke apartemen rongsokan itu lagi. Tetaplah di rumahku. Bukan sebagai pelayan... tapi karena aku ingin kau ada di sana."
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭