Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna
Aluna sampai tergugu saat mendengar jawaban Davion tersebut. Belum lagi tatapan pria itu membuatnya tak berkutik. Tatapan yang membuat Aluna seketika tak berdaya. Sama seperti tatapan mama Sarah saat memintanya untuk patuh.
Hati Aluna yang sempat menghangat kini kembali merasakan nyeri.
Padahal saat Aluna bicara dengan mommy Ivana wanita itu sangat tulus dan bahkan menatapnya dengan lembut.
Bahkan Daddy Aston juga berulang kali mengatakan pada Aluna untuk menganggapnya sebagai Ayah sendiri, tapi Davion justru bersikap sedingin ini.
Satu kalimat itu membuat Aluna sadar bahwa pernikahan ini tak sepenuhnya diinginkan oleh Davion, atau bahkan pria itu pun menganggap dirinya sebagai seseorang yang tak diinginkan.
Tatapan Davion membuat Aluna merasa semakin hina, benarkah ia tak pantas mendapatkan kebahagiaan di dunia ini? Apakah Aluna benar-benar tak pantas hidup dengan layak?
Sementara Davion makin tersenyum sinis saat melihat Aluna yang hanya diam saja. Pernikahan ini jelas bukanlah sesuatu yang Davion inginkan. Satu kesalahannya di masa lalu membuat Davion tak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya untuk menikahi wanita tersebut.
Baginya kini pernikahan hanyalah pernikahan tanpa makna apapun.
"Tuan, Nona, jika bicaranya sudah selesai silahkan menyusul ke meja makan. Semua keluarga sudah menunggu," ucap seorang pelayan yang datang memecah keheningan.
Karena setelah bicara tajam Davion tak lagi mengucapkan sepatah katapun, sementara Aluna tak kuasa untuk bicara lagi. Kata-kata Davion yang memintanya untuk patuh membuat Aluna seketika terdiam seribu bahasa.
Davion kemudian bangkit lebih dulu dan Aluna pun mengikuti. Berjalan dengan anggun di belakang tubuh pria tersebut.
'Ya Tuhan,' batin Aluna yang sungguh tak kuasa untuk melakukan apapun.
Begitu sampai di ruang makan, suasana kembali terasa hangat dan penuh percakapan. Semua anggota keluarga sudah duduk rapi di meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan. Keluarga Myles benar-benar melakukan yang terbaik untuk pertemuan malam ini.
Langkah Aluna dan Davion kini sejajar.
Aluna kembali memasang senyum tipisnya, senyum yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Senyum yang tidak pernah menunjukkan apa pun selain kesempurnaan.
“Sayang, duduklah di samping Mommy,” panggil Ivana Harold dengan suara lembut yang penuh kehangatan.
Aluna sedikit terkejut saat mendengarnya, namun ia segera mengangguk patuh. “Iya, Mom,” jawabnya pelan, lalu berjalan menuju kursi yang telah disiapkan.
Sejak awal Ivana memang tak bisa menyembunyikan rasa sukanya pada Aluna. Dalam pandangannya, gadis itu begitu anggun, tutur katanya halus, sikapnya sopan, dan yang paling penting ia sangat penurut. Sosok yang menurut Ivana paling sempurna untuk mendampingi sang anak, Davion.
Ivana tersenyum lembut saat Aluna duduk di sampingnya. “Kamu terlihat sangat cantik malam ini,” ucapnya tulus, bahkan tangannya menyentuh punggung tangan Aluna dengan hangat.
Aluna tertegun dengan perlakuan ini, bahkan rasanya mama Sarah tak pernah sedalam ini memperlakukannya.
“Terima kasih, Mom,” jawab Aluna pelan, matanya selalu nampak teduh.
Untuk sesaat hatinya yang tadi terasa dingin kembali mendapatkan sedikit kehangatan karena perlakuan mommy Ivana. Meski Aluna tahu ini hanya kebahagiaan semu saja. Aluna merasa dia tak mungkin disayang jika belum berusaha keras. Baginya kasih sayang tak ada yang gratis.
Sepanjang makan malam, Ivana beberapa kali memperhatikan Aluna dengan penuh perhatian. Ia memastikan piring Aluna terisi, bahkan sesekali mengambilkan makanan untuknya.
“Kamu harus makan yang cukup, Sayang. Tubuhmu terlalu kurus,” ujar Ivana dengan nada khawatir yang tulus. Berat ideal Aluna memang selalu dijaga oleh mama Sarah.
Aluna hanya bisa mengangguk kecil. “Iya, Mom.”
Sikap itu membuat Ivana semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah.
“Aluna benar-benar gadis yang sempurna,” gumamnya pelan pada suaminya, Aston, yang hanya tersenyum menyetujui.
Mama Sarah yang mendengar itu terkekeh kecil. “Kami juga berpikir begitu, Ivana. Aluna memang selalu menjadi kebanggaan kami.”
Aluna menunduk sedikit, menyembunyikan perasaan yang entah kenapa terasa aneh saat mendengar kalimat itu. Aluna tidak tahu apakah harus merasa bahagia atau justru semakin nelangsa.
“Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka,” lanjut Ivana dengan nada penuh antusias. “Rasanya ingin segera melihat mereka berdiri di altar.”
Mama Sarah tersenyum, lalu menggeleng kecil. “Sabar, Ivana. Semua harus dipersiapkan dengan matang, kita tidak bisa terburu-buru.”
“Sebulan,” sahut Papa Pieter, “Dalam satu bulan ke depan, semuanya harus selesai. Pernikahan ini akan menjadi acara terbesar tahun ini.”
Ivana mengangguk cepat, jelas setuju. “Tentu saja. Kita harus membuatnya sempurna."
Sepanjang makan malam berlangsung, Aluna hanya diam dan sesekali mengangguk atau menjawab seperlunya. Ia memainkan perannya dengan sangat baik sebagai putri yang anggun, sebagai calon menantu yang sempurna.
Namun di seberang meja Davion terus menatapnya dingin. Seumur hidup Davion ia tak pernah bertemu wanita sebodoh Aluna yang hanya bisa patuh. dalam hatinya ia yakin betul bahwa wanita itu adalah wanita yang munafik.
Apa yang Aluna tunjukkan sekarang hanyalah topeng belaka, entah seperti apa sifat aslinya.
Aluna merasakannya, setiap kali ia melihat Davion tatapan itu selalu menusuknya dengan tajam.
Dan setiap kali itu pula hatinya terasa semakin kecil.
Makan malam akhirnya selesai.
Percakapan perlahan mereda, digantikan oleh suasana formal saat keluarga Harold bersiap untuk pamit.
“Terima kasih atas jamuannya,” ucap Aston dengan sopan.
“Justru kami yang berterima kasih,” balas Pieter.
Ivana menghampiri Aluna dan menggenggam tangannya dengan lembut. “Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Kita akan segera bertemu lagi.”
Aluna mengangguk pelan. “Iya, Mom.”
Senyum itu masih ada di bibirnya, namun tak disadari oleh semua orang bahwa sebenarnya sorot mata Aluna meredup. Pernikahan telah benar-benar disepakati dan Aluna masih belum bisa menebak apa yang akan ada dalam pernikahannya nanti.
Aluna hanya ingin diterima, tapi apakah Davion bersedia?
Para orang tua segera menyingkir, terus memberi kesempatan pada Davion dan Aluna untuk bicara berdua. Namun bukannya merasa beruntung, Davion justru menghela nafasnya dengan kasar saat dihadapanya hanya ada Aluna. Sikap penurut Aluna sedikitpun tidak membuatkan kagum, justru benci kenapa gadis ini lugu sekali.
"Dav," panggil Aluna lirih, dia tak tahu apa yang harus diucapkan sekarang. Tapi jika tak bicara tatapan Davion seperti bisa membunuhnya.
"Jangan jadi manusia munafik Aluna, kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini," ucap Davion.
Aluna menelan ludahnya dengan kasar. "Aku memang tidak menginginkan pernikahan ini, Dav. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku," jawab Aluna jujur, dia merasa tak ada yang harus ditutupi dari Davion.
"Tapi Dav, kamu bisa menolaknya andai kamu keberatan. Katakan pada mereka bahwa kamu tidak ingin menikahi aku," timpal Aluna lagi, bicara dengan kedua tangan yang mengepal menahan gugup. Bahkan setelah mengucapkan kalimat itu, Aluna kembali menelan ludahnya dengan kasar.
Meskipun selalu patuh namun Aluna adalah wanita yang berpendidikan dan memiliki wawasan luas, dia gugup juga takut, tapi bukan berarti hanya diam saja. Dengan keanggunannya Aluna juga bisa melindungi dirinya sendiri. Karena dia dididik untuk menjadi nona muda keluarga Myles.
Namun bagi Davion ucapan Aluna sangat bertolak belakang dengan sikap yang dia tunjukkan sekarang, kata-katanya mengandung penolakan namun diucapkan dengan begitu lembut.
Davion sampai tak habis pikir.
"Dengar aku baik-baik," ucap Davion setelahnya. "Kita akan tetap menikah, tapi jangan berharap apapun. Ada saatnya nanti kita akan berpisah."
Aluna langsung menganggukkan kepalanya mendengar kalimat tersebut. Gerakan kecil yang entah kenapa membuat Davion makin benci saat melihatnya.
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna