Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah sasaran
Udara sejuk membelai indra, dedaunan hijau menyegarkan mata, dan ranting kokoh menjadi pijakan bagi burung-burung yang berkicau. Namun, fokus Myra teralihkan.
"Kupu-kupu tadi ke mana?" gumamnya pelan.
Di tengah tanah lapang yang membentang luas, gadis kecil itu melangkah kebingungan. Manik cokelatnya bergerak liar ke segala penjuru, mengejar jejak sayap warna-warni yang baru saja menghilang di balik kerimbunan.
Srak!
"Hah---" Myra tersentak.
Ia terjingkat, rasa panik seketika terukir jelas di wajahnya. Matanya tertuju pada semak-semak yang bergoyang secara tidak alami. "Apa ada hewan buas?" pikir Myra sembari mengerutkan alis.
Walau ketakutan mulai merayap, rasa penasaran justru mendorongnya maju. Ia teringat ucapan Yosep bahwa tidak ada hewan liar di sini. Myra menunduk, memungut ranting panjang dari tanah untuk membelah tanaman rimbun di depannya.
"Paling hanya kelinci," batin Myra mencoba menenangkan diri. Ia menyibakkan dedaunan. "Kelinci... apa itu kamu? Kelin---"
Sat! Suara desing senapan kecil membelah udara.
"Aw!"
Myra terhuyung jatuh. Lengan kanannya dihantam sesuatu dengan telak. Rasa sakit menjalar seperti sengatan listrik bertegangan tinggi, membuat seluruh tubuhnya lumpuh seketika.
"Aw!!" Myra mengerang hebat. Tanpa bisa dibendung, air mata mulai membanjiri pipinya. "Sakit sekali---apa itu tadi?"
"Nona!"
Seorang pria berlari panik dari balik semak. Ia adalah pemilik senapan yang baru saja melepaskan tembakan. Ia mengira gerakan di balik semak adalah anggota lain yang menjadi sasaran latihan, bukan seorang anak kecil yang tersesat di zona berbahaya.
Pandangan Myra mulai kabur. Sosok tinggi yang mendekat itu tampak seperti bayangan hitam yang bergoyang. Dengan wajah penuh penyesalan, pria itu membuang senjatanya dan bergegas membopong tubuh kecil Myra ke dalam dekapan.
"Kenapa... kamu menembakku?" bisik Myra lirih, nyaris tak terdengar.
"Maaf, Nona. Saya tidak tahu Anda bermain di sekitar sini," sahut pria itu gemetar.
"Aku kan tidak ikut main tembak-tembakan..." Myra tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Matanya perlahan terpejam.
Bekas tembakan di lengannya mulai membiru pekat. Wajah Myra pucat pasi, kulitnya terasa dingin seperti es. Menyadari racun Belladona mulai bekerja, pengawal itu segera berlari sekuat tenaga mencari bantuan.
"Bertahanlah, Nona! Kita hampir sampai!" teriaknya sembari mengguncang pelan tubuh Myra yang mulai terkulai. Ia semakin cemas saat merasakan detak jantung gadis itu berdegup sangat kencang, reaksi khas dari racun yang menyerang saraf. "Nona, tolong jangan tidur dulu! Saya mohon, bertahanlah!"
"Sakit," rintih Myra dalam hati.
Hanya rasa nyeri itu yang memenuhi benaknya. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Rasa sakit itu merambat ke dada, membuatnya sesak seolah udara menolak masuk ke dalam paru-parunya. Myra berusaha membuka mulut, berjuang melawan kantuk mematikan yang mulai menyerbu. Ia menatap langit yang kini tampak mendung dan kelam.
"Kenapa... sakit sekali..." rengeknya sebelum tenaganya benar-benar habis. Ia menyembunyikan wajahnya di dada pengawal yang terus berlari kencang itu.
"Tolong! Nona tertembak!" pekik pengawal itu saat melihat rekan-rekannya di kejauhan.
"Aku... harus menekan jamnya," batin Myra samar. Tangan kirinya berusaha meraih arloji digital pemberian Gelda. "Kata Gelda, kalau butuh sesuatu, tekan tombolnya. Aku... aku ingin menghilangkan rasa sakit ini."
"Hei, berhenti! Nona tertembak!" seru salah satu anggota tim yang mendengar teriakan itu.
Dalam sekejap, area itu menjadi ricuh. Anggota organisasi mulai berdatangan, mengerumuni gadis kecil yang kini tak berdaya.
"Bagaimana bisa Nona ada di sini? Di mana Gelda?!" bentak salah satu dari mereka. Tanpa ragu, ia menarik anak panah kecil yang masih tertancap di lengan Myra. "Cepat, panggil dokter!"
"Siapkan bantal dan kursi panjang! Siapkan mobil, kita harus membawa Nona kembali ke markas sekarang!"
Myra masih bisa mendengar sayup-sayup keributan di sekitarnya. Suara-suara itu terdengar seperti kicauan burung di tengah badai, bergemuruh dan menambah rasa takut di hatinya. Ia hanya bisa mengerutkan alis, pasrah pada rasa sakit yang menghancurkan pertahanannya.
"Cepat baringkan Nona---"
"Ada apa ini?!" sebuah suara bariton memecah kerumunan.
Drap! Drap! Drap!
Semua mata menoleh ke arah sumber suara. Yosep berlari kencang dengan wajah yang mengeras, diikuti dua pengawal wanita di belakangnya. Ia menerobos gerombolan, menatap Myra yang tergeletak mengenaskan.
"Padahal tadi dia masih tertawa kepadaku," batin Yosep sembari mengertakkan gigi.
"Myra!" Yosep berlutut di sampingnya, suaranya bergetar karena panik yang luar biasa. "Myra, bangun! Bangunlah!"
Ia menepuk pelan pipi Myra, mencoba memanggil kesadaran gadis itu. "Apa yang terjadi?!" Yosep menoleh, menatap geram pada pria yang berdiri di sampingnya.
"Nona masuk ke area latihan. Saya pikir dia sasaran... dan saya menembaknya," jawab pria itu dengan kepala tertunduk.
"Bodoh! Pakai matamu untuk memastikan!" bentak Yosep murka. "Peluru ini beracun, dan Myra tidak meminum penawarnya! Dia bisa mati karena kesakitan!"
"Tenang, Tuan Muda. Kendalikan emosi Anda---jangan menunjukkan kelemahan di depan bawahan," bisik Gelda sembari memegang pundak Yosep dengan tegas. "Fisik gadis ini mungkin tampak lemah, tapi dia tidak akan menyerah semudah itu."
Yosep menggertakkan gigi, mencoba meredam gejolak di dadanya.
"Yosep?" batin Myra di tengah kegelapannya. "Apa itu suara Yosep?"
Perlahan, Myra membuka matanya yang terasa berat. Secara samar, ia melihat bayangan Yosep yang sedang mengulurkan tangan ke arahnya.
"Myra! Bertahanlah, dokter akan segera sampai."
"Dokter? Baguslah... dia pasti bisa membebaskanku dari rasa sakit ini."