NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kunjungan Sang Pemenang

​Dua hari berlalu sejak drama penghadangan ekskavator itu, dan Kedai Kala Senja kini benar-benar telah mati. Tempat ini menyerupai rumah hantu di tengah kepungan hutan beton.

​Listrik sudah diputus sepihak oleh pengelola kawasan atas instruksi "dari atas", memaksaku bertahan di dalam kedai hanya dengan bantuan beberapa batang lilin dan lampu senter baterai saat malam tiba. Aroma kopi yang biasanya memenuhi ruangan dengan kehangatan kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh bau debu konstruksi yang menyengat dan hawa lembap yang menyesakkan dada.

​Sore ini, aku sedang berlutut di lantai kayu yang kotor. Tanganku bergetar pelan setiap kali jemariku menyentuh permukaan buku-buku tua dan album foto peninggalan Nenek. Dengan perasaan hancur, aku mulai merapikannya ke dalam sebuah kardus mie instan.

​Setiap lembar foto ini adalah potongan nyawa kedaiku, dan kini aku dipaksa untuk mengemasnya seolah-olah semua kenangan ini hanyalah sampah yang harus segera disingkirkan sebelum dihancurkan oleh mesin.

​Di tengah keheningan yang mencekam dan suara isak tangisku yang tertahan, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu hak tinggi beradu dengan lantai ubin kerikil di depan kedaiku.

​Tik... tik... tik...

​Ketukan itu berirama tajam, angkuh, dan penuh percaya diri. Suara yang sangat khas milik seseorang yang tidak pernah sekalipun membiarkan sol sepatunya menginjak tanah yang becek.

​Aku tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa yang datang. Detik berikutnya, bau parfum lavender dan musk yang sangat pekat dan mahal langsung menyeruak masuk, menginvasi hidungku dan mengalahkan bau apek di ruangan ini. Itu adalah bau kemewahan. Bau kekuasaan yang bagi penciumanku kini terasa seperti racun mematikan.

​"Kasihan sekali," suara merdu itu mengudara, terdengar sangat kontras dengan suasana kedai yang suram dan gelap ini.

​Aku membeku di posisiku, memunggunginya.

​Clara Beatrice berdiri di tengah ruangan. Dari ekor mataku, aku bisa melihat ia mengenakan midi dress berwarna putih tulang yang tampak sangat kontras dengan dinding bata kedaiku yang kusam dan berdebu. Tangannya yang dibalut sarung tangan renda hitam menyentuh meja bar. Ia menarik jarinya, lalu menatap debu tebal di ujung sarung tangannya dengan raut jijik yang sengaja dibuat-buat.

​"Tempat yang dulunya jadi 'jantung budaya' kebanggaan Arka, sekarang cuma jadi gudang rongsokan yang bau," lanjut Clara, suaranya mengalun seperti melodi kematian.

​Ia mulai berjalan pelan mengelilingiku, langkahnya berputar seolah sedang mengamati seekor serangga kotor yang terperangkap di dalam stoples. "Gimana rasanya, Senja? Masih mau bertahan di atas puing-puing ini?"

​Aku terus melipat penutup kardusku, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh. Aku mengepalkan tanganku di atas pangkuan hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku sendiri. Menahan perih. Aku tidak ingin memberikan perempuan ini kepuasan sedikit pun dengan melihatku marah, apalagi melihatku menangis kalah.

​"Mbak mau apa lagi ke sini?" tanyaku datar. Suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada badai puting beliung yang sedang berkecamuk di dalam dadaku. "Bukannya Mbak sudah dapat apa yang Mbak mau? Arka sudah dipecat dan dibuang, izin operasional gue dicabut paksa. Apa itu belum cukup?"

​Clara berhenti melangkah. Ia tertawa kecil. Suara tawa yang sangat jernih dan elegan, namun sanggup menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

​"Belum. Tentu saja belum," ucapnya ringan. "Gue ke sini cuma mau berbagi kabar gembira sama lo. Kamu tahu nggak Arka sekarang tinggal di mana?"

​Tanganku yang sedang memegang lakban berhenti bergerak. Jantungku berdenyut nyeri. Pertahanan acuh tak acuhku langsung berlubang hanya dengan mendengar nama pria itu.

​"Dia tinggal di sebuah kontrakan sempit di daerah Jakarta Timur. Dekat gudang logistik yang kumuh," Clara mendekat, ia berjongkok sedikit agar wajah cantiknya sejajar denganku. Senyumnya sangat tipis dan berbisa.

​"Pria yang biasanya makan wagyu beef dan tidur di penthouse belasan miliar, pria yang kebersihan kemejanya selalu dijaga... sekarang harus mandi pakai air sumur yang bau besi, Senja. Dia kerja jadi buruh angkut harian. Tangannya yang dulu cuma biasa pegang pulpen emas buat tanda tangan triliunan rupiah, sekarang lecet-lecet dan kapalan karena harus angkat balok kayu dari subuh sampai malam."

​Deg.

​Oksigen di paru-paruku serasa disedot habis. Mataku memanas dengan cepat. Bayangan Arka—pria arogan berpayung hitamku yang selalu bersih—kini harus memikul balok kayu dengan tangan berdarah, menghujam jantungku lebih dalam dari belati mana pun.

​Aku merasa gagal. Aku merasa benar-benar telah menghancurkan hidup pria yang sangat kucintai itu.

​"Hebat ya, kekuatan 'cinta' kamu itu," cibir Clara lagi. Ia berdiri tegak kembali, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang absolut. "Bisa bikin orang sukses dan dihormati sekelas Arka jadi sampah jalanan cuma dalam semalam. Kalau kamu beneran sayang sama dia, kamu harusnya sadar kalau keberadaan kamu itu cuma racun buat dia."

​Kata 'racun' itu menggemakan ketakutanku sendiri. Air mata lolos melewati pipiku.

​"Selama dia masih merasa harus 'melindungi' kamu, dia nggak akan pernah bisa balik ke dunianya yang seharusnya, Senja. Kamu itu penyakit buat masa depannya," desis Clara tajam.

​"Arka milih jalannya sendiri, Mbak. Bukan karena gue," balasku membelanya, meski suaraku bergetar hebat menahan isak tangis.

​"Jangan naif!" bentak Clara. Keanggunannya retak sejenak, digantikan oleh kemarahan yang meluap. "Dia milih jalan itu karena dia gila! Dan tugas gue adalah nyembuhin kegilaan dia. Besok pagi jam sembilan, izin pembongkaran resmi dari gubernur sudah keluar. Tidak ada lagi sengketa ahli waris palsu yang bisa menyelamatkan tempat kumuh ini."

​Clara merogoh tas Hermès-nya. Ia mengeluarkan selembar kertas resmi berlambang garuda dan meletakkannya di atas meja barku Yang berdebu.

​"Baca ini baik-baik," ancam Clara dingin. "Besok pagi, tempat ini akan rata dengan tanah. Dan gue sudah pastikan Arka menonton proses penghancurannya lewat live streaming yang bakal gue kirim langsung ke dia."

​Aku mendongak, menatap Clara dengan ngeri. Dia ingin menghancurkan mental Arka.

​"Gue mau dia lihat pakai mata kepalanya sendiri," bisik Clara kejam, "bahwa setiap bata yang hancur di sini besok, adalah murni kesalahan dia karena sudah berani memilih perempuan murahan seperti kamu."

​Clara memakai kembali kacamata hitamnya, menyembunyikan kilat kemenangan di matanya, bersiap untuk pergi.

​"Saran gue, ambil barang-barang rongsokan lo ini sekarang. Karena besok, jam sembilan lewat satu menit, semuanya cuma bakal jadi tumpukan beton yang nggak berharga. Sama kayak hubungan lo sama dia."

​Langkah sepatu hak tinggi itu perlahan menjauh, mengetuk lantai, lalu menghilang di balik pintu. Meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat, lebih gelap, dan lebih mencekik dari sebelumnya.

​Aku terduduk lemas di lantai kayu. Tanganku meraih surat pembongkaran itu dengan pandangan kabur karena air mata yang mengucur deras. Isak tangisku pecah, menggema memantul di dinding bata yang sebentar lagi akan hancur. Duniaku seolah benar-benar sudah berakhir. Arka menderita, dan aku kehilangan rumahku.

​Namun, di tengah kesunyian yang putus asa itu, layar ponselku yang tergeletak di atas lantai tiba-tiba menyala terang. Ponselku bergetar pelan.

​Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

​Dengan tangan yang masih gemetar dan basah oleh air mata, aku membuka pesan tersebut.

​“Jangan menyerah besok pagi. Siapkan semua kamera ponsel yang kamu punya, minta Nisa dan teman-teman pelanggan setiamu untuk datang sedini mungkin. Kadang, cara menghancurkan raksasa bukan dengan pedang, tapi dengan cahaya yang membuat mereka buta. Arka sedang berjuang mati-matian dari bawah, jangan biarkan perjuangannya hari ini sia-sia.”

​Aku mengerutkan kening. Kutatap layar itu berulang kali. Kalimat terakhirnya memukul dadaku dengan kuat. Arka sedang berjuang mati-matian.

​Arka belum menyerah. Pria itu menahan lecet di tangannya karena ia sedang membangun sesuatu dari bawah sana. Bagaimana mungkin aku menyerah di sini dan membiarkan Clara tertawa di atas penderitaan kami?

​Aku menghapus air mataku dengan kasar menggunakan lengan celemekku. Isak tangisku berhenti. Kutatap surat gubernur di atas meja, lalu menatap foto Nenek di dalam kardus. Harapan itu kembali menyala, tipis namun setajam jarum.

​Aku tidak tahu siapa pengirim misterius pesan ini apakah itu Revan, atau pengacara Arka tapi ada satu hal yang pasti: Jika besok adalah hari terakhir Kedai Kala Senja berdiri di atas bumi ini, maka aku bersumpah, aku tidak akan membiarkannya hancur dalam diam. Aku akan melawan.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!