Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DROP
Sinar matahari baru saja mengintip dari balik tirai sutra kamar Lyra, gadis cantik itu masih menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebalnya, sama sekali tidak terusik oleh sinar matahari yang masuk ke celah-celah tirai kamar nya.
Nyonya Arin, yang semalam tertidur di samping putrinya, perlahan membuka mata, dia menoleh ke arah Lyra, berniat memberikan kecupan pagi seperti biasanya.
Namun, saat tangannya menyentuh pipi Lyra, Nyonya Arin tersentak.
"Ya Tuhan... Panas sekali," gumam Nyonya Arin, raut wajahnya seketika berubah pucat.
Nyonya Arin menyentuh dahi Lyra yang tertutup rambut hitamnya, suhu tubuh gadis itu sangat tinggi, bahkan terasa membakar kulit.
Lyra tampak meringkuk di balik selimut tebalnya, tubuhnya menggigil hebat meskipun pendingin ruangan sudah dimatikan.
"Lyra? Sayang? Bangun, Nak," panggil Nyonya Arin lembut, suaranya mulai bergetar karena panik.
Lyra tidak menyahut, hanya erangan kecil yang keluar dari bibirnya yang pucat.
Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek.
"Thomas! Thomas, kemari!" teriak Nyonya Arin kencang.
Tak butuh waktu lama, Tuan Thomas masuk ke kamar dengan wajah cemas, bahkan dia belum sempat memakai jas kerjanya dengan rapi.
"Ada apa, Arin? Kenapa berteriak?" tanya Tuan Thomas sambil mendekat ke arah ranjang.
"Lyra demam lagi, Thomas. Lihat, dia menggigil hebat, suhu tubuhnya sangat tinggi," jawab Nyonya Arin sambil mencoba memijat lembut tangan Lyra yang kaku.
Tuan Thomas meletakkan punggung tangannya di leher Lyra, dia mendesah berat, merasakan suhu Putri nya yang sangat tinggi.
Mata tajam nya memancarkan kekhawatiran yang sangat mendalam, kejadian seperti ini selalu terjadi sejak Lyra masih bayi, setiap kali energinya mulai bergejolak, tubuh manusianya seolah menolak dan bereaksi dengan demam tinggi.
"Berapa suhunya?" tanya Tuan Thomas sambil mengambil termometer digital di laci meja rias.
"40 derajat, Thomas! Kita harus panggil dokter!" seru Nyonya Arin, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Dokter tidak akan menemukan apa-apa, Arin. Kau tahu itu, sudah puluhan dokter spesialis terbaik di negara ini yang memeriksa Lyra sejak kecil, dan hasilnya selalu sama. Dia sehat secara medis," ucap Tuan Thomas sambil mencoba tetap tenang, meski tangannya sendiri sedikit gemetar.
"Tapi aku tidak tega melihatnya begini! Dia seperti sedang menahan beban yang sangat berat di dalam tubuhnya," ucap Nyonya Arin, terisak, sambil memeluk tubuh Lyra yang terus bergetar.
Lyra perlahan membuka matanya yang sayu. Mata hitam pekat yang biasanya tajam itu kini tampak berkaca-kaca karena rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan.
"Mom... dingin..." bisik Lyra lirih, suaranya hampir hilang.
"Iya Sayang, Mommy di sini, Mommy peluk ya," jawab Nyonya Arin, menyelimuti Lyra dengan lebih rapat dan terus mengusap punggung putrinya.
Tuan Thomas berjalan ke arah dapur kecil di pojok kamar, mengambil gelas, dan menyeduh kan susu untuk putri nya dengan susu yang berisi penawar khusus.
"Lyra, minum ini dulu sedikit demi sedikit, Sayang, ini akan membuatmu lebih baik," ucap Tuan Thomas sambil membantu Lyra duduk perlahan.
Dengan sisa tenaganya, Lyra meminum cairan itu, stiap tegukannya terasa seperti air es yang mendinginkan api yang membara di dalam dadanya. Perlahan, getaran di tubuhnya mulai berkurang, namun suhu tubuhnya masih tetap tinggi.
"Hari ini jangan sekolah dulu, Daddy akan menelepon sekolah dan mengatakan kau sakit," tegas Tuan Thomas.
Lyra hanya mengangguk lemah, kepalanya terasa sangat berat, dia tidak tahu mengapa setiap kali dia bertemu orang asing dengan aura kuat seperti pria kemarin, tubuhnya selalu bereaksi seperti ini.
"Thomas, apa ini karena... pria itu?" bisik Nyonya Arin saat Lyra sudah memejamkan mata lagi.
"Mungkin. Kehadiran Xavier Valerius memicu sesuatu di dalam diri Lyra yang seharusnya tetap terkunci, kita harus benar-benar menjaganya sekarang, Arin," jawab Tuan Thomas menatap ke luar jendela, rahangnya mengeras.
Di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, Kenzo, Kenzie, dan Oliver berdiri dengan wajah cemas.
Mereka bertiga tidak berani masuk karena tahu kalau Lyra sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan hanya Mommy dan Daddy mereka yang bisa menanganinya.
"Princess sakit lagi ya?" tanya Oliver pelan pada Kenzo.
"Iya. Sepertinya parah kali ini," jawab Kenzo pendek, tangannya mengepal.
"Kalau sampai pria kemarin yang jadi penyebabnya, aku sendiri yang akan mematahkan lehernya," lanjut Kenzo, bergumam rendah.
Drap
Drap
Drap
Suara langkah kaki yang terburu-buru dan berat terdengar menggema.
Tuan Bastian, dengan tongkat kepala singa emasnya, berjalan paling depan dengan wajah merah padam karena khawatir sekaligus marah.
Di belakangnya, Tuan Jerome dan Tuan Steven mengikuti dengan raut wajah yang tak kalah tegang.
"Bagaimana bisa dia demam lagi? Bukankah kemarin dia baik-baik saja saat pulang sekolah?!" tanya Tuan Bastian, suaranya menggelegar, membuat para pelayan yang berpapasan langsung menunduk dalam.
"Tenang, Pa. Kita lihat dulu kondisinya, Arin dan Thomas sudah di dalam," ucap Tuan Jerome mencoba menenangkan, meskipun tangannya sendiri sibuk menghubungi seseorang di ponselnya.
Ceklekk
Begitu pintu kamar terbuka, Tuan Bastian langsung menghampiri ranjang Lyra, disana dia melihat cucu kesayangannya itu terbaring pucat dengan handuk kecil di dahinya.
"Cucuku... Lyra Sayang," bisik Tuan Bastian, suaranya yang tadi keras mendadak melembut dan serak.
Tuan Bastian membelai tangan Lyra yang terasa seperti bara api.
"Pa, jangan terlalu dekat dulu, biarkan Lyra bernapas," tegur Tuan Steven pelan sambil menyentuh bahu ayahnya.
"Diam kamu, Steven! Bagaimana aku bisa tenang melihatnya menggigil seperti ini?!" semprot Tuan Bastian.
"Mana Arkan? Kenapa dia belum sampai?!" tanya Tuan Bastian, menoleh ke arah Tuan Jerome.
"Sabar, Pa. Aku sudah menghubungi nya, saat ini Arkan sedang dalam perjalanan dari rumah sakit, dia bilang dia akan langsung ke sini tanpa ganti baju," jawab Jerome, sama khawatir nya melihat kondisi keponakan kesayangan nya itu.
Semua pria-pria berbahaya itu terlihat mengepalkan tangannya kuat, melihat permata mereka menggigil kedinginan dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.
"Bertahan lah princess," batin semua orang, menatap Lyra, sendu.
Tak lama kemudian, seorang pria muda dengan jas dokter putih yang masih melekat di tubuhnya masuk dengan tergesa-gesa.
Pria itu dalah Arkan Wijaya, anak kedua Tuan Jerome, kakak dari Oliver.
Arkan adalah satu-satunya cucu Wijaya yang memilih jalur medis, sebuah keputusan yang dia ambil sejak kecil karena tidak tega melihat Lyra yang sering tiba-tiba demam.
"Minggir semua, biarkan aku periksa," ucap Arkan tegas namun tetap sopan.
Semua orang lansung mundur, bahkan Tuan Bastian pun mundur memberi jalan untuk cucunya yang satu ini.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,