NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Belum selesai sampai di situ, siang harinya Sekar langsung melanjutkan urusan lain yang tak kalah besar—ia membeli properti kontrakan. Bukan satu pintu. Tapi lima sekaligus.

Keputusan besar. Bukan hanya untuk investasi, tapi untuk masa depan Sea. Sesuatu yang benar-benar ia siapkan dengan matang, agar anaknya kelak tidak perlu merasakan ketidakpastian seperti yang pernah ia alami.

Saat akhirnya ia sampai di rumah, tubuhnya lelah, tapi hatinya cukup penuh. Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat seseorang berdiri di depan pagar.

Aji.

Sekar sedikit terkejut. Tapi anehnya… tidak lagi setegang dulu. Tidak lagi dipenuhi amarah atau ketakutan. Kali ini, ia hanya diam. Mengamati. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia seperti melihat Aji yang dulu ia kenal. Bukan yang penuh emosi, bukan yang memaksa, bukan yang menyakitkan. Tapi… seseorang yang datang dengan lebih tenang.

Di tangannya, ada sebuah boneka beruang besar. “Buat Sea,” ucap Aji, sedikit canggung.

Sekar mengangguk pelan. “Sea masih sekolah. Habis itu les… sama ibu.”

Aji mengangguk, seolah sudah menduga. Tidak memaksa. Beberapa detik hening, sebelum akhirnya ia bicara lagi. “Aku… sekarang sudah kerja,” katanya pelan.

Sekar menatapnya.

“Jadi tukang ojek,” lanjut Aji, kali ini dengan senyum tipis yang terasa jujur. “Udah nggak gengsi lagi. Dan semoga Sea nggak malu punya ayah tukang ojek, sementara ibunya sudah kaya raya "

Sekar tidak langsung merespon. Tapi ada sesuatu dalam nada bicara itu yang terasa berbeda. Lebih… rendah hati. "Sea tak akan seperti itu."

“Aku cuma…” Aji menarik napas sejenak, “ingin tetap jadi ayahnya Sea.”

Kalimat itu membuat Sekar terdiam.

Aji lalu mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya, menyerahkannya pada Sekar. “Ini buat Sea,” katanya. “Memang nggak seberapa… dibanding apa yang kamu punya sekarang.”

Sekar menatap amplop itu, belum langsung mengambil.

“Tapi sebagai ayah… aku nggak boleh lepas tanggung jawab,” lanjut Aji. “Aku ingin… dilihat Sea sebagai ayahnya. Yang tetap sama seperti dulu.”

Ada jeda. Dan entah kenapa hati Sekar terasa hangat sekaligus perih. Ia akhirnya menerima amplop itu. “Terima kasih,” ucapnya pelan.

Aji mengangguk. Lalu, dengan hati-hati, ia menambahkan, “Kalau diizinkan… aku mau habisin waktu sama Sea.”

Sekar menatapnya lagi.

“Cuma… makan es krim di tempat favoritnya,” lanjut Aji cepat, seperti takut ditolak.

Sekar terdiam beberapa detik. Di satu sisi, ia masih menyimpan luka. Tidak mungkin hilang begitu saja. Tapi di sisi lain ia tidak ingin Sea kehilangan sosok ayah. “Aku nggak masalah,” jawab Sekar akhirnya. “Nanti aku atur waktunya.”

Wajah Aji sedikit berubah, ada kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan. “Terima kasih,” katanya singkat. Tidak lama setelah itu, ia pamit. Tidak berlama-lama, tidak mencoba masuk, tidak memaksa apa pun. “Saya dua pekan lagi ke sini,” katanya sebelum pergi. “Minggu ini harus ngejar setoran dulu.”

Sekar hanya mengangguk. Ia berdiri di tempatnya sampai Aji benar-benar pergi. Angin sore berhembus pelan, membawa suasana yang… aneh. Tidak sepenuhnya tenang. Tidak juga sepenuhnya kacau. Sekar menatap amplop di tangannya, lalu boneka beruang yang ditinggalkan di kursi teras. Untuk pertama kalinya ia melihat kemungkinan bahwa seseorang bisa berubah.

***

Hari-hari berikutnya berjalan cukup tenang, terlalu tenang, bahkan. Hingga perlahan, Sekar mulai menyadari ada pola yang berubah. Bukan hanya Aji yang kini sesekali datang dengan sikap lebih terkendali, tapi juga ibunya.

Mantan ibu mertuanya itu… kini jauh berbeda. Ia mulai sering berkunjung. Awalnya hanya sekali dua kali dalam seminggu, lalu semakin intens. Selalu dengan alasan yang sama, menjenguk Sea. Membawakan makanan, camilan, kadang pakaian. Sikapnya pun berubah drastis. Tidak ada lagi nada menyindir, tidak ada lagi tatapan merendahkan. Yang ada justru kelembutan yang… terasa asing. “Sea lagi apa, Nak?” tanyanya suatu siang, sambil mengelus rambut cucunya dengan penuh perhatian.

Sea terlihat nyaman. Bahkan mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Sekar hanya mengamati dari jauh. Ia tidak melarang, tapi juga tidak sepenuhnya membuka diri. Ia belajar dari masa lalu bahwa perubahan yang terlalu tiba-tiba… seringkali menyimpan sesuatu di baliknya.

Sementara itu, ibunya Sekar justru tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Suatu sore, setelah mantan besannya pulang, ia duduk di ruang tengah dengan wajah sedikit mengernyit. “Kamu ngerasa nggak?” tanyanya tiba-tiba.

Sekar yang sedang melipat pakaian menoleh. “Apa, Bu?”

“Ibunya Aji itu…” ia berhenti sejenak, seperti mencari kata yang tepat. “Terlalu baik.”

Sekar terdiam, lalu tersenyum tipis. “Mungkin… memang mau berubah, Bu.”

Ibunya langsung menggeleng. “Ibu nggak percaya perubahan yang datangnya mendadak begitu.” Nada suaranya tidak keras, tapi penuh keyakinan. “Dulu waktu kamu susah, waktu kamu disakiti, dia ada di mana?” lanjutnya. “Sekarang tiba-tiba rajin ke sini, bawa ini itu…”

Sekar tidak langsung menjawab. Karena sebenarnya… ia juga merasakan hal yang sama. Bukan tidak menghargai. Tapi ada jarak yang secara alami ia bangun. “Aku cuma nggak mau Sea kehilangan neneknya juga, Bu,” jawab Sekar pelan.

Ibunya menghela napas panjang. “Ibu ngerti itu.” Lalu ia menatap Sekar lebih dalam. “Tapi kamu juga harus hati-hati.”

Sekar mengangguk kecil.

“Ibu cuma nggak mau kamu… masuk ke lingkaran yang sama lagi,” lanjutnya. “Kadang orang datang baik bukan karena berubah… tapi karena butuh sesuatu.”

Kalimat itu menggantung cukup lama di pikiran Sekar. Malam harinya, saat rumah kembali sunyi dan Sea sudah tertidur, Sekar duduk sendiri di ruang tamu. Ia teringat cara mantan ibu mertuanya tersenyum, cara ia memperlakukan Sea dengan hangat, cara ia berbicara padanya dengan lebih lembut dari sebelumnya.

Semua terlihat… tulus.

***

Malam Minggu itu datang dengan suasana yang tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, hangat, tapi juga penuh pertimbangan. Saat Damar mengajak Sekar makan di luar, Sekar sebenarnya langsung ingin menolak. Bukan karena tidak mau, tapi karena hatinya lebih memilih tinggal di rumah, bersama Sea.

“Aku di rumah aja, Mar. Temenin Sea,” jawabnya pelan.

Namun ibunya justru menimpali dari belakang, “Pergilah. Sea sama ibu.”

Sekar menoleh, sedikit ragu. “Tapi, Bu,”

“Ibu bisa jaga,” potongnya tegas. “Kamu juga butuh keluar sebentar.”

Sekar akhirnya terdiam. Ia tahu, ini bukan sekadar soal makan malam. Ibunya seperti ingin memberinya ruang, entah untuk bernapas, atau… untuk mempertimbangkan sesuatu yang selama ini ia hindari.

Dan akhirnya, Sekar pun pergi. Makan malam itu berlangsung… biasa saja.

Tidak ada obrolan berat. Tidak ada pengakuan perasaan seperti sebelumnya. Bahkan tidak ada usaha dari Damar untuk membuka topik yang lebih dalam. Mereka hanya berbicara hal-hal ringan tentang kerjaan Sekar, tentang aktivitas sehari-hari, tentang hal-hal kecil yang aman untuk dibicarakan.

Sesekali ada jeda. Dan di jeda itu, tidak ada yang mencoba mengisinya. Damar tidak lagi seperti dulu yang penuh dorongan, penuh keberanian untuk menyuarakan apa yang ia rasakan. Kali ini, ia lebih tenang. Lebih… menjaga jarak.

Dan Sekar menyadari itu.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!