Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: LONCENG EMAS NAGA DAN TAWA ORANG GILA
## **
Suasana di pelataran desa mendadak mendingin. Debu-debu jalanan yang tadi berterbangan seolah membeku di udara. Rangga berdiri tegak, namun seluruh ototnya tampak lentur bagai helai sutra yang siap melecut.
“Sekarang…”
Rangga melangkah maju. Sorot matanya yang tadi jenaka kini berkilat, menyimpan tenaga dalam yang mulai menderu di balik aliran darahnya.
“…aku yang mulai.”
**Wuttt!!!**
Tubuhnya lenyap dari tempatnya berdiri! Bukan sekadar cepat, namun seolah-olah ia membelah dimensi udara.
Seperti bayangan yang ditelan cahaya.
Seperti angin yang tak bertuan.
Tak terlihat oleh mata telanjang manusia biasa!
“Hah?!”
Harimau Hitam terkejut bukan main. Jantungnya mencelos, ia kehilangan jejak lawan hanya dalam satu kedipan mata.
Matanya membesar, urat-urat di lehernya menegang karena panik.
Belum sempat ia bereaksi—
**Sret!**
Rangga sudah berdiri tepat di hadapannya.
Sangat dekat.
Terlalu dekat hingga Harimau Hitam bisa merasakan hembusan napas tenang pemuda itu.
Hampir—
Wajah mereka bersentuhan.
“Kurang ajar!!”
Harimau Hitam tersentak mundur dua langkah dengan gerakan kacau, nyaris terjungkal karena kaget yang luar biasa.
Rangga malah terkekeh, suara tawanya terdengar ringan seolah ia sedang berada di kedai kopi, bukan di tengah medan laga.
Ia perlahan membuka caping bambunya, menampakkan wajah tampannya yang kini terlihat sedikit bermandikan peluh tipis.
“Hari masih pagi…”
Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan caping itu, sebuah gerakan yang sangat meremehkan bagi seorang lawan sekaliber Harimau Hitam.
“…kok aku tiba-tiba gerah ya?”
Ia menatap langit sekilas, memerhatikan gumpalan awan yang berarak tenang.
“Apa hari ini mau hujan…”
Lalu matanya kembali ke Harimau Hitam, kali ini dengan tatapan yang menusuk tepat ke ulu hati lawan.
“…atau ada orang yang akan menangis minta ampun?”
“BANGSAT!!!”
Harimau Hitam menggeram, wajahnya memerah padam karena merasa dipermainkan. Napasnya memburu, mengeluarkan suara seperti binatang buas yang terluka.
“Kau menghinaku, anak muda!!”
Di belakang—
Para gadis Padepokan Bambu Kuning berbisik-bisik, mengamati jalannya pertarungan dengan perasaan campur aduk antara cemas dan kagum.
“Sit… aku baru sadar…”
bisik seorang gadis bergaun merah jambu dengan mata yang tak lepas dari sosok Rangga.
“…pemuda tidak waras itu tampan.”
“Iya, ya…” sahut gadis berbaju hijau daun di sebelahnya, sambil merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin.
“Kau kalau urusan pemuda tampan, selalu paling jeli ya, Rindu.”
Rindu terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar halus karena antusias.
“Kemboja… apa matamu buta dan tidak melihat ketampanan pemuda itu?”
“Sudahlah!” sela gadis berbaju merah hati yang tampak lebih dewasa. Ia menatap rekan-rekannya dengan tajam, mencoba menjaga wibawa padepokan.
“Jangan urusin pemuda gila itu! Bisa-bisa kalian tertular gilanya!”
“Ah, Kak Puding…” goda Rindu dengan seringai jahil.
“Kalau urusan pemuda, kau memang selalu dingin.”
Ia menyeringai, melirik Kak Puding yang sebenarnya pun tak bisa memalingkan mata dari Rangga.
“Jangan-jangan kau kena ilmu Tuntung Belalau ya?”
“Rindu!” bentak gadis itu kesal, wajahnya ikut memerah karena godaan adik seperguruannya.
Sementara itu—
Di tengah gelanggang, Rangga masih mengipas-ngipas wajahnya dengan santai.
Gerakannya sangat tenang, seolah tidak ada ribuan nyawa yang sedang bertaruh di sekelilingnya.
“Heaaa!!!”
Harimau Hitam melesat! Gerakannya membelah debu tanah!
Pedangnya berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.
“MATI KAU!!!”
**WUSSS!!!**
Sebuah tebasan lurus ke arah leher!
Cepat, bertenaga, dan mematikan. Pedang itu bersiul memecah udara, menuntut darah segera tumpah.
Namun—
Rangga tidak bergerak sedikit pun.
Tetap berdiri dengan kaki yang menapak kokoh di bumi.
Seolah tidak peduli dengan maut yang hanya berjarak beberapa inci dari lehernya.
**Trang!!!**
Bunyi logam menghantam sesuatu yang sangat keras bergema di seluruh desa.
“Hah?!”
Harimau Hitam terkejut setengah mati! Matanya nyaris melompat dari rongganya.
Pedangnya—
Terhenti!
Tepat di leher Rangga!
Namun—
Tidak ada setetes darah pun. Tidak ada luka.
Seolah membentur dinding baja atau sesuatu yang tak terlihat namun luar biasa padat!
Tangannya bergetar hebat, rasa kebas merambat dari telapak tangan hingga ke bahunya.
“Apa ini?!”
Rangga menghela napas santai, seolah baru saja terbangun dari tidur siang yang singkat.
“Ah…”
Ia menatap Harimau Hitam dengan pandangan malas.
“Baru mulai saja sudah capek ya?”
“JANGAN BERMAIN-MAIN!!!”
geram Harimau Hitam, ia menghentakkan pedangnya kembali namun hasilnya tetap sama.
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa sangat dingin dan berwibawa.
“Aku tidak main-main…”
Ia menatap tajam, membuat Harimau Hitam merasa seperti mangsa di depan sang naga.
“…aku hanya belum serius.”
Angin di sekitar Rangga mendadak berputar pelan, menerbangkan kerikil-kerikil kecil.
Aura keemasan samar mulai menyelimuti tubuhnya, memancarkan hawa murni yang sangat suci dan berat.
“Lonceng Emas Naga…”
gumamnya lirih, namun suaranya menggema di batin setiap orang yang mendengarnya.
“Tingkat delapan belas.”
Para gadis dari Padepokan Bambu Kuning seketika terdiam. Mereka merasakan tekanan udara yang mendadak meningkat.
“Ilmu apa itu…?”
“Seperti ada perisai yang menyelubungi seluruh tubuhnya…”
Harimau Hitam menggertakkan gigi hingga berderit. Ketakutan mulai merayap di celah-celah hatinya yang angkuh.
“Ilmu kebal?!”
Ia meludah ke samping, mencoba mengusir rasa gentar.
“Menarik!”
Ia mundur satu langkah, mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya ke arah mata pedang.
Lalu—
“LIHAT INI!!!”
Ia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang gila!
**Wuttt! Wuttt! Wuttt!**
Serangan bertubi-tubi datang dari delapan penjuru mata angin!
Seperti badai hitam yang ingin mencabik-cabik mangsanya!
Namun—
**Trang! Trang! Trang!**
Semua serangan itu terpental dengan sendirinya!
Setiap kali pedang menyentuh tubuh Rangga, terdengar denting lonceng gaib yang sangat nyaring.
Tak satu pun serangan menembus pertahanan emas itu!
Rangga bahkan—
Masih sempat menguap lebar, menutupi mulutnya dengan tangan kiri.
“Sudah selesai?”
“BANGSAT!!!”
Harimau Hitam makin murka! Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di hadapan anak buah dan penduduk desa.
“Kau pikir aku tidak bisa menembusnya?!”
Ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan pengerahan tenaga penuh!
Tanah di bawah kakinya retak dan amblas sedalam dua inci!
“JURUS HARIMAU MENGAMUK!!!”
Aura hitam pekat yang berbau busuk keluar dari tubuhnya, menandakan ia menggunakan ilmu hitam terlarang.
Ia melesat lebih cepat, meninggalkan jejak hitam di udara!
**WUSSS!!!**
Namun—
Rangga melangkah dengan cara yang sangat aneh.
Kakinya seperti tidak berpijak pada hukum alam.
Satu langkah—
Dua langkah—
Gerakannya tak teratur, terhuyung-huyung namun tetap anggun.
Seperti orang mabuk yang sedang menari di atas awan.
“Apa itu?!”
“Langkahnya aneh sekali, seperti sedang melayang!”
“Langkah Naga Sembilan Langit…”
gumam Rangga santai, suaranya terdengar seperti bisikan di telinga Harimau Hitam.
Tubuhnya berputar dengan keluwesan yang mustahil.
Menghindar ke kiri dan ke kanan—
Tanpa pola yang bisa dibaca.
Tanpa arah yang jelas bagi lawan.
Namun—
Tak satu pun serangan golok maupun pedang Harimau Hitam mengenai ujung bajunya!
“Diam kau!!!”
Harimau Hitam menyerang membabi buta, ia sudah kehilangan akal sehatnya karena frustrasi.
Namun—
Rangga tiba-tiba sudah berdiri tegak di sampingnya, seolah ia selalu ada di sana.
“Di sini.”
“Hah?!”
Belum sempat Harimau Hitam memutar badannya—
Plak!
Sebuah tamparan ringan mendarat di pipinya!
“AAK!”
Harimau Hitam terhuyung, kepalanya pening seketika karena meski tamparannya pelan, tenaga dalam di baliknya sangatlah padat.
Para gadis di kejauhan ternganga lebar.
“Dia… menampar pimpinan perampok itu?!”
“Kurang ajar!!!”
Harimau Hitam menyerang lagi dengan tebasan horizontal yang luas!
Namun—
**Sret!**
Rangga sudah berpindah ke belakangnya secepat kilat.
“Kau lambat…”
Dug!
Sebuah sikatan sikut yang presisi menghantam punggung Harimau Hitam!
“ARGH!!!”
Harimau Hitam tersandung ke depan, napasnya sesak.
Namun belum sempat ia jatuh menyentuh tanah—
Rangga sudah menghilang lagi dari pandangannya!
“Di mana kau?!”
“Di sini.”
**Plak!**
Tamparan di pipi satunya lagi!
“AAAA!!!”
Pimpinan perampok itu kini terlihat seperti badut yang sedang dipermainkan.
Para perampok yang tadinya beringas mulai gemetar ketakutan.
“Pemimpin kita… dipermainkan seperti anak kecil…”
“Ini tidak mungkin… siapa pemuda gila ini?!”
Rangga tertawa kecil, ia benar-benar menikmati setiap detik "latihan" ini.
“Kenapa? Sudah pusing?”
“KURANG AJAR!!!”
Harimau Hitam benar-benar mengamuk! Ia membuang pedangnya dan mengandalkan pukulan tenaga dalam hitamnya!
Ia mengayunkan tangannya dengan tenaga penuh ke arah tanah!
**DUARRR!!!**
Tanah retak dan meledak!
Debu pekat berterbangan menutupi pandangan mata!
Namun—
Saat debu mulai menipis, Rangga berdiri dengan tenang di atas pecahan tanah yang paling tajam.
Tetap santai.
Masih mengibas-ngibas caping bambunya seolah debu itu tidak ada.
“Kalau marah terus…”
Ia menatap Harimau Hitam yang kini berlumuran keringat dan debu.
“…cepat tua, tahu?”
“DIAM!!!”
Harimau Hitam melesat untuk serangan terakhirnya, mengumpulkan seluruh sisa hidupnya dalam satu hantaman!
Namun kali ini—
Rangga berhenti bermain-main.
Tatapannya berubah dalam sekejap.
Lebih tajam, lebih dingin, dan penuh dengan aura penghakiman.
“Sudah cukup…”
Ia membuka kuda-kuda rendah. Kedua tangannya membentuk formasi cakar naga.
“Tadi hanya pemanasan.”
Angin di sekitar desa mendadak menderu kencang, memutar debu menjadi pusaran kecil.
Aura keemasan di tubuh Rangga kini membesar dan memadat hingga menyilaukan mata.
Para gadis menahan napas, mereka tahu sesuatu yang besar akan terjadi.
“Dia… benar-benar serius sekarang…”
Rangga melangkah dengan berat, setiap langkahnya membuat tanah bergetar pelan.
Satu langkah—
“Langkah pertama…”
Dua langkah—
“Langkah kedua…”
Tubuhnya mulai berkelebat, menciptakan bayangan-bayangan emas yang tertinggal di udara!
“Langkah Naga Sembilan Langit…”
**Sret!!!**
Ia menghilang sepenuhnya dari penglihatan!
Harimau Hitam panik, ia berputar-putar seperti orang buta di tengah badai.
“Di mana?! Keluar kau, pengecut!!!”
Tiba-tiba—
Rangga muncul tepat di depan hidungnya!
“Di sini.”
“AAAH!!!”
Harimau Hitam secara refleks mengayunkan tinjunya!
Namun—
Rangga menghindar hanya dengan menggeser kepala setengah jengkal! Sangat tipis!
Lalu—
Tangan kanannya bergerak secepat patukan ular naga! Tangannya mencakar dada lawan!
“Cakar Naga Membelah Batu!!!”
DUARRR!!!
Suara hantaman itu terdengar seperti ledakan meriam di tengah sunyinya pagi!
“AAAAKHHHH!!!”
Tubuh besar Harimau Hitam terlempar bagaikan peluru!
Menghantam tanah dengan keras, terseret hingga sepuluh depa!
Berguling-guling tak keruan!
Debu mengepul tinggi menyelimuti tubuhnya yang hancur.
Sunyi senyap.
Semua penduduk desa dan perampok terdiam, tak berani mengeluarkan suara napas sekalipun.
Rangga berdiri tegak kembali, merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
Ia menatap ke arah gundukan debu itu dengan santai.
“Masih mau lanjut?”
Harimau Hitam berusaha bangkit, jarinya mencengkeram tanah dengan lemah.
Namun—
Kakinya gemetar hebat, ia tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
Matanya yang tadi penuh kebencian, kini hanya menyisakan ketakutan yang sangat mendalam.
“Kau… kau siapa sebenarnya…” suaranya pecah, parau dan penuh darah.
Rangga mengangkat capingnya, mengenakannya kembali ke kepala hingga bayangan menutupi matanya.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman ksatria pengembara.
“Hanya orang lewat…”
Ia menoleh ke arah barisan gadis-gadis cantik dari Padepokan Bambu Kuning yang masih terpaku.
“Dan kebetulan…”
Ia mengelus perutnya yang mulai berbunyi pelan.
“…lapar.”
Para gadis itu terdiam sejenak, mencerna ucapan konyol pemuda sakti itu—
Lalu—
Tawa kecil pecah di antara mereka, mencairkan ketegangan yang tadi membekukan suasana.
Rindu berbisik dengan mata yang berbinar terang.
“Dia… benar-benar gila, tapi hatiku rasanya mau copot…”
Kemboja mengangguk setuju, pipinya memerah.
“Tapi… dia sangat keren saat serius tadi.”
Rangga menghela napas panjang, merasa urusannya di sini sudah hampir selesai.
“Sudah selesai.”
Ia berbalik, melangkah dengan gaya santainya kembali.
“Kalau masih ada yang mau cari mati…”
Ia berhenti sejenak tanpa menoleh, aura dingin kembali terpancar meski hanya sesaat.
“…silakan datang lagi.”
**Bersambung… 🔥**