NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 16

Ansel tidak pernah menyangka jika Jenia akan mengalami hal yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Meminum minuman yang telah diisi racun oleh seseorang, entah siapa yang memberinya, Ansel benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang berniat membuat orang lain celaka itu.

Cwen mengatakan jika mamanya langsung mengalami kejang saat mamanya minum minuman berwarna merah, mamanya meminum minuman itu saat Cwen sedang memijat kaki sang mama yang terlihat sedikit bengkak.

Ansel juga langsung kembali ke apartement untuk mengambil botol yang di maksud Cwen, lalu memberikannya kepada seorang dokter yang memang meminta botol itu di bawakan kepadanya langsung, mereka perlu memeriksa minuman apa yang sebenarnya Jenia minum.

Cwen sempat di tanya oleh seorang dokter, apakah mamanya itu yang membuat minuman itu, Cwen menggeleng karena mamanya memang tidak pernah membuat minuman yang seperti itu apalagi di taruh di sebuah botol sedang. Tapi Cwen melihat mamanya membawa botol sedang itu saat menjemput dirinya sekolah.

“Pak guru, apa mama akan di rawat lama lagi di rumah sakit?” tanya Cwen menatap Ansel dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Ansel tersenyum kecil, lalu membawa Cwen ke atas pangkuannya, “Cwen percaya kan kalau mama akan cepat sembuh dan pulang bersama Cwen?”

Cwen mengangguk, “tapi kenapa sampai sekarang mama belum juga bangun, pak guru?” tanya Cwen.

“Sebentar lagi mama Cwen akan bangun, Cwen sabar dulu ya, mama pasti merasa lapar karena belum makan malam, jadi mau tidak mau mama akan bangun karena perutnya kosong,”

Yang itu sukses membuat Cwen tersenyum, “pak guru benar, mama pasti sebentar lagi akan bangun, mama tadi siang juga hanya makan sedikit,”

Ansel tersenyum kecil, tangannya tidak berhenti mengelus rambut Cwen sampai membuat Cwen mengantuk dan tertidur di atas pangkuan Ansel.

Pelan-pelan, Ansel menidurkan Cwen di atas sofa, lalu menaruh bantal sofa di bawah kepalanya, mengambil selimut di dalam lemari yang sudah di sediakan rumah sakit dan menyelimuti Cwen sampai sebatas leher.

***

“Maaf sudah membuatmu kembali kerepotan,” ucap Jenia menatap Ansel yang duduk di kursi sebelah brangkarnya.

“Berapa kali saya katakan, saya benar-benar tidak merasa di repotkan, jangan terlalu sungkan, kita sudah menjadi tetangga,”

“Apartemen itu milik Pak Ansel, bukan milik saya,”

Ansel menggeleng, “Sekarang menjadi milikmu,”

“Tap-,”

“Sejak kamu dan Cwen menempati apartement itu, apartement itu sudah menjadi milikmu,” potong Ansel cepat.

Jenia diam, tapi matanya menatap Ansel dengan tatapan tidak enak, kenapa ada seseorang yang mau di repotkan sebegitu seringnya oleh Jenia? Apa ini adalah imbalan karena dirinya bisa melewati semua ujian menyakitkan semesta? Kalau iya, Jenia rasa ini cukup, ia tidak meminta hal yang lebih besar lagi, cukup ada seseorang yang selalu baik kepadanya tanpa meminta imbalan apapun.

“Kamu butuh sesuatu?” tanya Ansel melihat Jenia yang hanya diam saja sembari menatap dirinya.

Jenia menggeleng, “terima kasih,” lirih Jenia, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk semua kebaikan yang telah Ansel berikan untuknya.

Tanpa sadar tangan kanan Ansel terangkat dan mengelus lembut kepala Jenia. Ansel benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang di lakukannya.

Jenia mematung. Tatapan matanya tampak sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Ansel kepadanya. Ansel yang baru tersadar setelah satu menit pun langsung menarik kembali tangannya. Suasana yang awalnya biasa saja, mendadak canggung, karena Ansel yang tanpa sadar mengelus dahi Jenia tadi, jantung Ansel langsung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Sampai sepuluh menit berlalu pun, suasana masih sama canggungnya, Jenia yang benar-benar tidak sanggup menghadapi kecanggungan di antara mereka pun langsug menutup matanya, berpura-pura tidur akan lebih baik daripada terus-terusan terjebak dalam kecanggungan itu.

Ansel sedikit menghela napas lega begitu Jenia sudah tertidur, ia benar-benar mati kutu, tubuhnya bahkan terasa sangat kaku karena hal itu.

“Apa yang barusan aku lakukan?” lirih Ansel menatap tangan kanannya yang sepuluh menit yang lalu mengusap-usap dahi Jenia.

“Sepertinya aku memang sudah gila,”

***

“Kamu harus tetap sekolah sayang, mama bisa jaga diri sendir kok di sini, lagi pula ada suster yang pasti jaga mama di sini,”

Jenia masih berusaha keras membujuk Cwen untuk sekolah, karena sang mama tidak mau Cwen harus izin sekolah lagi hanya untuk menjaga dirinya di rumah sakit. Kebetulan Ansel juga tidak bisa lagi untuk mengajukan libur, jadi harus tetap masuk.

“Cwen dengar mama, kan, Cwen sekolah di antar pak guru, lalu setelah itu, pak guru antar Cwen ke sini lagi setelah selesai sekolah. Bagaimana?” tanya Ansel ikut membujuk Cwen agar mau sekolah.

“Dengar, sejak tadi pak guru sudah menawarkan Cwen untuk berangkat sekolah berang Cwen loh, masa Cwen tolak,”

Cwen memajukan bibirnya ke depan, ia tidak tega membiarkan mamanya sendirian di rumah sakit, tapi Cwen juga tidak bisa mengabaikan tawaran pak guru begitu saja. Bagaimana ini? Cwen jadi bingung.

“Siang ini Cwen bisa ke sini lagi untuk jaga mama, oke,”

Akhinya Cwen mengangguk, Jenia tersenyum bangga dan mencium dahi Cwen cukup lama, “pak guru sudah tunggu Cwen loh, cepat keburu Cwen telat sekolah,”

“Mama janji ya, tidak boleh seperti kemarin lagi, pokoknya begitu Cwen pulang sekolah, mama harus seperti ini, tidak boleh seperti kemarin,”

Cwen menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan sang mama, meminta agar sang mama juga menunjukkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji agar mamanya itu tidak melanggarnya, Jenia terkekeh geli melihat sang anak, lalu ia pun menunjukkan jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking putrinya.

“Mama Janji.”

***

Ansel menemani Cwen di dalam apartementnya, Cwen bilang ia masih belum berani berada sendirian di dalam apartement itu.

“Pak guru aku mandi dulu ya, tidak akan lama kok, hanya sepuluh menit,”

Ansel mengangguk, “oke, pak guru tunggu di sini ya,” ucap Ansel menunjuk sofa di ruang tengah.

Cwen mengangguk, lalu langsung berlari ke dalam kamarnya untuk mandi, untungnya, Cwen sudah pintar mandi sendiri tanpa bantuan mamanya, ia juga hafal seragam sekolah yang harus di pakainya, dan untuk buku pelajaran, semuanya ada di sekolah, jadi Cwen tidak perlu menyiapan jadwal pelajaran terlebih dahulu.

“Loh kok cepat?”

Ansel terkejut karena sudah mendapati Cwen yang berlari dari dalam kamar dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi di tubuhnya.

“Cwen sudah bilang sepuluh menit loh pak guru,”

“Rambut Cwen masih basah loh itu, tidak Cwen keringkan dulu?” tanya Ansel yang melihat rambut Cwen masih basah karena tidak di keringkan dulu memaki hairdyer.

“Cwen tidak bisa sendiri, biasanya mama yang selalu mengeringkan rambut Cwen,”

“Ya sudah, kita keringkan di tempat pak guru saja, sambil sarapan ya,”

Cwen mengangguk membuat Ansel gemas dan mengusap lembut kepala Cwen. Ansel sudah seperti seorang papa yang mengurus anaknya yang akan berangkat sekolah, membuat Ansel tersenyum tanpa sadar.

“Pak guru sudah seperti papa loh, Cwen jadi senang sekali.”

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!