NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

[34] Passwordnya: Sayang

"Ada balapan lagi kan malam ini?"

Bumi memberi anggukan akan pertanyaan Liam. Tapi matanya melirik Alden yang berjalan ke meja yang Langit tempati seorang diri.

"Woi Alden mau ke mana?" teriak Liam yang baru menyadari kepergian Alden.

"Ya tempat doi lah." Hugo menunjuk meja Langit dengan dagunya. Dia menaikk turunan dua alisnya. "Biasa, gas dulu."

Bumi menatap jenggah. Kakinya melangkah untuk menyusul ke meja yang sama, tapi Liam keburu menariknya. "Bum lo ngapain?"

"Duduk jugalah. Perut gue udah lapar."

"Ck Bum. Orang lagi pdkt gak usah diganggu."

"Gak ada meja kosong," kilahnya kembali melangkah.

"Ada noh." Hugo menunjuk bagian kanan mereka. Berbeda dengan keberadaan Langit dan Alden yang di bagian kiri.

"Ayo Bro. Udah, gak usah diganggu mereka."

Bumi berdecak. Ia menatap keduanya yang duduk berhadapan. Hugo menarik nampan milik Bumi dan duduk di meja kosong yang dia maksud.

"Bareng meja Alden aja. Di sana kena angin." Bumi mengambil lagi nampannya dan bergabung bersama keduanya. Jika Alden duduk di depan Langit, Bumi mengambil tempat di samping istrinya. Keduanya menoleh.

Hugo dan Liam mau tidak mau juga bergabung. Dan duduk di kanan kiri Alden. Dua alis Alden naik menatap ketiganya.

Hugo dan Liam mengedikkan bahu, sedang Bumi bersikap bodo amat dan mengambil es jeruk Langit dan meneguknya.

"BUMI PUNYA GUE IH!"

"Lo teguk habis itu mah bukan minta namanya!" kesalnya.

"Nih. Punya gue aja." Alden menyerahkan es jeruknya pada Langit. Belum jadi diterima, Bumi mengambil alih dan meneguknya habis.

"Woah segar banget," ucapnya tak berdosa. Alden menatap datar sedang Langit sontak memukuli lengan cowok itu.

"Sakit kali Munah."

"Ish lo ya. Kalau haus beli bukan ngambil punya orang."

"Males jalan."

Langit mengembuskan nafas kesal. Ia hendak berdiri buat membeli lagi. Tapi Alden menahannya. "Gue aja yang beliin."

"Ciee Alden perhatian banget sama Langit." Hugo dan Liam kompak menggoda. Bumi berdecak.

"Gue aja. Lo duduk," titahnya pada Langit dan berjalan pergi. Langit menatap punggung Bumi yang menjauh. Ia baru duduk kemudian dan kembali menikmati makan siangnya.

"Lo sama Bumi jadi wakilkan Xigroues balapan?" Hugo menoleh pada Liam yang diberi anggukan.

Langit mendengarkan percakapan mereka. Bumi mau balapan? Kedua sudut bibirnya tertarik. Bisa nih ikutan lihat.

"Nih." Rasa dingin terasa saat Bumi menempelkan gelas es jeruk ke pipinya. Langit menoleh dengan senyum lebar.

"Gue ikutan ya!"

"Ikutan apa?" Bumi duduk dengan heran. Ketiganya juga menatapnya dengan sebelah alis naik.

"Lo sama Liam kan balapan."

"Gak!" tolak Bumi cepat. Matanya melotot.

"Bolehlah. Kalau mau ikut ayo!" Berbalik dengan Liam yang malah senang Langit ikut.

"Liam bolehin," ujarnya senang.

"Gue gak."

"Emang lo siapanya Langit?" ledek Hugo. Bumi menahan kesal, mau jujur tapi tidak

Mungkin.

"Lo tuh harus dapat dukungan gue biar menang," Langit menatap Bumi seraya memberikan isyarat.

"Lo mau kena omel Papa kalau ketahuan?"

"Papa?" Beo Alden dengan sebelah alis naik.

Langit seketika menginjak kaki cowok itu.

Bumi meringis. "Maksud gue papa si Langit. Dia kan sering kena marah."

"Lo kenal Papa Langit?" tanya Liam penasaran.

"Kenal. Pas Bumi anter gue pulang malam dari ulang tahun Alden itu loh. Papa nungguin depan rumah. Gue langsung kena marah pulang kemaleman. Mana ngomelnya di depan Bumi." jawab Langit cepat.

Liam membulatkan bibirnya paham. Sedang Alden melirik Bumi yang memberi anggukan.

"Iya. Dari situ gue tahu," Bumi menatap mereka, meyakinkan.

***

"Gak!"

"Iyaa."

"Gak!! "

"Iyaaaa."

"Gak Langit. Gak ada ikutan."

"Gue ikut. Lihat lo balapan."

Bumi berkacak pinggang dan melotot pada Langit yang ngotot. Cewek itu tidak mau kalah, dia juga berkacak pinggang. Saat ini keduanya berada di taman belakang sekolah. Tentu saja setelah Bumi mengajak via chat.

"Lo di rumah aja udah."

"Ih gak mau. Gue kan mau semangatin ayang balapan."

"Eh apa tadi?" Bumi mengerjap. Dia tidak salah dengar kan. Bibirnya melengkungkan senyuman manis. "Ayang ya tadi?"

"Idih engga ya. Gue gak ada nyebut ayang." Langit merotasikan matanya seraya menurunkan tangannya dengan salah

Tingkah.

"Ulang coba. Kok agak enak ya dengarnya."

"Gue gak nyebut."

"Tadi ada nyebut ayang gitu."

"Mana ada."

"Ada. Sebut lagi bisa yuk!"

"Apaan sih gak ada. Salah dengar kali." Langit buru-buru memutar badannya dan hendak pergi.

"Gue izinin pergi lihat gue balapan."

Langit sontak memutar kembali badannya dengan senyuman lebar. Matanya menatap Bumi penuh binar. "Beneran?"

"Iya. Pakai Syarat tapi." Bumi menyeringai.

Langit menyipit. "Lo ada maunya ya."

"Panggil gue ayang lagi. Gue izinin." Mata Bumi berkedip. Pipi Langit memerah. "Eh engga. Hari ini full manggil ayang aja."

"BUMIII!" teriaknya kesal.

Bumi tertawa.

"Mau ikutan gak?"

"Lo jangan gitu ah."

"Jadi gak mau pergi?" Bumi melipat tangannya. Sebelah alisnya naik. Dia puas melihat pipi yang mengembung itu.

"Lo mah gitu," rengek Langit. "Tahu ah. Gak diizinin gue bakal pergi." Langit ikut melipat tangannya.

"Gue pernah baca nih ya. Kalau gak salah hadist

Bunyinya gini, Rasulullah SAW mengatakan bahwa hak suami atas istrinya adalah seorang istri tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suami. Apabila ia melakukannya maka ia dilaknat oleh malaikat rahmat dan malaikat ghodob sampai ia bertaubat," (HR. Abu Daud)."

Ekspresi Langit berganti panik. "Bum lo jangan bawa hadis kenapa ih?"

"Gue cuman baca aja kok."

Langit memberengut. "Lo mah kalau bawa

Hadis gini gue gak bisa apa-apa."

Bumi menyeringai. "Jadi mau nekad pergi tanpa izin gue?"

"Ya udah ya udah."

"Apanya yang ya udah?"

"Ikutin Syarat lo."

Bumi mengulum senyum. "Syarat yang mana?" tanyanya jahil.

"Tuh kan. Itu yang panggil sayang."

"Coba praktekkkan."

Langit memejamkan matanya menahan sabar dengan sikap Bumi. dia tahu Bumi menjahilinya. Matanya lalu terbuka. "Sayang?" panggilnya dengan senyum dipaksakan.

"Senyumnya yang manis dong."

"Tuh kan. Banyak maunya."

"Gak ikhlas banget senyum lo. Gak bisa. Kalau gak manis gak gue bolehin ikut."

"Lo menang banyak ya Paman," sendirinya. Bumi terbahak.

"Ayo sayang ulang."

Bumi memanggilnya seperti itu membuat ada getaran aneh yang kembali dia rasakan. Langit menahan senyum lalu menutup mata sekilas. "Sayang?" panggilnya dengan senyuman terbaik.

Manis

Bumi ikut tersenyum manis. "Iya sayang?"

Blush!

"BUMIII!"

"Apa sayang?"

Wajah Langit memerah. Dia menginjak kaki cowok itu keras lalu berlari dengan cepat pergi dari sana. Harusnya Bumi kesakitan setelah diinjak, tapi dia tertawa melihat tingkah istrinya.

Kenapa Langit semenggemaskan ini?

Bahkan ketika dia berjalan kembali ke kelas, setelah ditinggalkan seorang diri. Bumi senyum-senyum sendiri berjalan sepanjang lorong hingga kelas.

Panggilan sayang pertama kali dari Langit sangat membekas dan bikin candu.

"Bum, lo gak gila kan dari tadi senyum sendiri?" Hugo menatap khawatir teman sebangkunya. Punggung tangannya mendarat di dahi Bumi.

Bumi yang tersadar berekreasi datar dan menepis tangan Hugo. "Siapa yang senyum-senyum."

"Lah tadi sejak masuk kelas. Lagi ingat pacar ya lo."

Bumi tersenyum. "Iya ingat pacar. Pacar gue manis banget."

"Kita jadi penasaran, pacar lo siapa Bum." Liam memutar badan ke meja keduanya.

Alden juga ikutan. Kebetulan guru belum masuk.

"Singkatnya dia cantik dan lucu." Bumi menjelaskan dengan senyum terbit. Dia berbicara seperti itu seraya membayangkan Langit. Saat seperti sekarang, Bumi memang terlihat seperti orang kasmaran.

"Orang bucin emang beda." Liam

Menggoda Bumi yang beda dari biasanya. "Kayaknya cinta banget ama si pacar."

"Mentang-mentang cakep ya gak dikenalin." Mereka tertawa.

"Assalamu'alaikum."

Langit yang baru memasuki pintu kelas bagian depan mengucapkan salam. Beberapa pasang mata sontak mengarah pada cewek itu. Termasuk ke empat anggota Xigroues.

Bumi menatap Langit yang kebetulan juga menatapnya. Bibirnya melengkungkan senyuman kecil saat pipi Langit memerah. Cewek itu merotasikan bola matanya ke arah lain dan bergegas duduk.

Bumi tertawa dalam hati. Netranya tidak lepas memperhatikan Langit yang sudah duduk dan menggerakkan jarinya di atas meja.

Lucu

***

Langit sangat senang. Setelah meminta Bumi mampir ke rumah minta izin mama papa agar dia bisa tidur dirumah cowok itu, kedua

Orang tuanya mengizinkan.

Aah senangnya. Dia tidak perlu kabur lagi tengah malam.

Setelah pulang les. Langit langsung pulang ke rumah Bumi. Karena Bumi masih kerja, dia terpaksa sendiri dulu di rumah. Sejujurnya dia lupa akan berada sendiri di rumah sampai jam 11 malam.

saja. Langit menyesal kenapa tadi di ke Kafe

Setelah memasuki magrib, dia tidak berani keluar kamar Bumi. Langit mengunci rapat pintu rumah rapat dan duduk di kamar sampai Bumi pulang. Bukan apa-apa. Rumahnya ramai, mendadak sepi membuatnya merasa aneh dan lagian kalau sendiri dia jadi serem kalau tiba-tiba ada hantu gimana?

Hii

Atau parahnya ada penculik dan maling. Dia takut. Langit berdiam di kamar dan tidak berani keluar. Mengisi kekosongan dengan main HP atau menonton.

Karena gabut dia juga spam chat Bumi yang tentu saja tidak dibalas. Cowok itu sibuk kerja

Bumi Luknut

[Paman?]

[Lo lagi ngapain?]

[Oh ya lagi kerja hehe]

[Jumlah meja di Kafe ada berapa ya Bum?]

[Lampunya banyak gak?]

[Makanan paling enak apa?]

[Minuman paling sering dibeli rasa apa Bum?]

[Pak Ego lagi ngapain ya Bum?]

[Ih lo mana sih]

[Gue sendirian di rumah]

[Serem]

[Tahu gitu mending ikut lo ke Kafe]

[Bumi, gak ada penculik kan di sini?]

[Lo cepetan pulang kenapa?]

[BUMIII!!]

[Gue di kamar lo]

[Gak berani keluar]

[Laper:(]

[Harusnya gue ajak Gea kali ya nginep. Biar ada teman]

[Eh tapi ntar dibilang papa gue keluar tengah malam]

[Paman?]

[Paman Bumii?]

[Ayang?]

Ting!

Notifikasi masuk

[Iya sayang?]

Langit menatap kesal. Giliran dipanggil ayang baru dibalas.

[Maaf, lagi rame banget. Gue masih lama pulangnya. Di rumah aman kok. Makan sana. Di dapur ada makanan]

[Gue gak berani keluar kamar:(]

[Takut ada hantu]

[Gak ada hantu]

[Serem ih Bum]

[Langit. Lo bisa masuk angin kalau gak makan]

[Gue nungguin lo aja]

[Ini masih pukul delapan. Gue balik jam sebelas]

[Gue main HP aja di kamar]

[Makan dulu]

[Nanti deh]

[Gue usahain pulang cepat]

[BENERAN?!]

[Kangen?]

[Dih enggak yaa]

[Hahaha]

[ketawa lagi-. -]

[Tunggu ya sayang]

[Jangan lama ya?]

[Iya Sayaaaang]

Langit tersenyum. Dia lalu menaruh ponselnya tidak mau menganggu Bumi yang sedang kerja. Perhatiannya beralih pada komputer Bumi dan memilih menonton drakor di sana. Membunuh waktu sampai Bumi pulang.

Pukul sepuluh malam, Langit selesai tiga episode Drakor bertepatan dengan suara motor yang terdengar. Dia sontak berlari ke jendela dan menengok ke bawah. Senyum Langit melengkung lebar melihat laki-laki berjaket hitam dengan helmnya baru turun dari motor.

"PAMAAN!!" teriaknya.

Bumi membuka helmnya dan mendongak.

Langit melambai senang. Cewek itu tidak berhijab, rambutnya dibiarkan tergerai.

"Buruan!!"

Bumi menarik kedua sudut bibirnya.

Langit sudah seperti anak kecil yang nungguin ayahnya pulang.

Dia balas melambai dan buru-buru masuk ke rumah. Untungnya Bumi bisa izin pulang satu jam lebih awal. Kafe tidak lagi ramai pukul setengah sepuluh. Karena itu dia dapat izin.

Membuka pintu rumah bersamaan dengan langkah kaki yang berlari turun dari tangga. Langit. Dengan piyamanya tersenyum lebar berlari ke arah Bumi.

Bumi merentangkan tangannya. Bukan dapat pelukan malah dapat pukulan.

"Lo lama banget pulangnya. Gue takut sendirian."

"Gue minta dipeluk bukan dipukul loh ini," decaknya mengusap tangannya yang menjadi bekas pukulan Langit.

Langit cengcesan.

"Peluk dong Ayang." Bumi merentangkan kembali tangannya. Matanya mengerling menggoda. Wajah Langit memerah.

"Apaan sih."

Bumi terkekeh. "Suami pulang tuh disambut. Dipeluk dong."

"Ih gak mau."

"Dasar." Bumi mengacak gemas puncak kepala Langit.

"Bumi berantakan tahu!"

Bukannya berhenti, Bumi kian gencar. Langit yang kesal mengambil tangan cowok itu dan mengigitnya.

"Aww sakit Munah!"

Bumi menyipit. Ia mengusap bekas gigitan Langit yang meninggalkan jejak. "Gigi lo drakula kali ya."

"Memang sakit?"

"Ya sakit lah sayaang."

"Bumi jangan panggil sayang kenapa sih? Suka banget manggil gue gitu," omelnya dengan wajah memerah.

"Cie ayang salting." Ia mencolek dagu Langit. Cewek itu melotot.

"BUMIIII!!"

"Hm, Sayang?"

Blush!

"Lo mah ngeselin! Tahu ah gue mau makan aja," Rajuk Langit memutar badan.

Bumi terkekeh. Dia buru-buru mengambil tangan Langit dan menggenggamnya.

Membawa cewek itu ke meja makan.

"Gue temenin makan."

Langit menatap tangan mereka yang bertautan. Tidak ditampil ada rasa nyaman begitu tangan dingin Bumi mengenggamnya.

Terasa sejuk dan hangat.

"Lo gak mau bersih-bersih dulu?"

"Nanti aja. Istri bocil gue belum makan."

Bumi lalu menarik kursi untuk Langit duduk.

"Duduk dulu. Gue panaskan makanannya."

Langit menurut dan lekas duduk. Dia menatap Bumi yang melepaskan jaket dan menaruhnya di wajahnya. Langit berdecak karena pandangannya jadi gelap.

Netranya menatap punggung lebar itu kagum. Terkadang langit merasa sering beruntung mendapatkan Bumi.

"Gue mau bikin teh hangat. Lo mau juga?"

"Enggak. Lo aja. Mau gue yang bikin?"

"Lo duduk aja. Cukup pandangin gue dari sana."

"Idih."

Bumi terkekeh. Setelah selesai cowok itu bergabung ke meja makan dan duduk bersebelahan dengan Langit.

"Lo gak makan?" Hanya ada satu piring untuknya. Itu pun sudah diambilkan nasi dan lauk oleh Bumi. Lengkap juga dengan segelas air putih.

"Lihat wajah lo udah bikin kenyang."

"Dih apaan sih."

Bumi terkekeh. Dia menumpu dagu memperhatikan Langit yang kini menikmati makan malamnya.

"Makan yang banyak. Kalau nambah

Netranya menatap punggung lebar itu kagum. Terkadang langit merasa sering beruntung mendapatkan Bumi.

"Gue mau bikin teh hangat. Lo mau juga?"

"Enggak. Lo aja. Mau gue yang bikin?"

"Lo duduk aja. Cukup pandangin gue dari sana."

"Idih."

Bumi terkekeh. Setelah selesai cowok itu bergabung ke meja makan dan duduk bersebelahan dengan Langit.

"Lo gak makan?" Hanya ada satu piring untuknya. Itu pun sudah diambilkan nasi dan lauk oleh Bumi. Lengkap juga dengan segelas air putih.

"Lihat wajah lo udah bikin kenyang."

"Dih apaan sih."

Bumi terkekeh. Dia menumpu dagu memperhatikan Langit yang kini menikmati makan malamnya.

"Makan yang banyak. Kalau nambah

Bilang."

"Iya."

"Lo gak lupa perjanjian tadi siang kan?"

Dua alis Langit naik. Dia menelan nasinya dan menoleh dengan dua alis tertaut. "Janji yang mana?"

"Seharian full ini panggil gue apa biar gue kasih izin ikut?" Alis Bumi naik turun.

Menggoda.

Pipi Langit memerah kala ingat. "Ish lo mah gitu."

"Kok gak ada panggilan ayang sih?"

pintanya manja.

"Bum, gue lagi makan ih," ucapnya mengalihkan. Merasa malu jika kembali memanggil Bumi dengan panggilan berbeda.

Bumi menahan tawanya. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Langit yang terasa lembut kala disentuh. Tatapannya tidak lepas menatap lekat kecantikan Langit dari samping.

Bumi hanya laki-laki normal yang

Memiliki nafsu. Dia juga bisa tergoda hanya karena melihat Langit seperti ini. Tanpa hijab.

Sejak tadi Langit mencengkram kuat sendoknya karena ulah Bumi. Hal kecil itu masih belum membuatnya terbiasa. Beberapa lama seperti itu benar-benar membuatnya canggung. Apalagi Bumi terus menatapnya tanpa mengalihkan tatap.

"Sumpah deh Bum. Jangan lihatin gue terus kenapa sih?" protesnya.

"Kenapa hm? Salah tingkah?"

"Ih enggak ya. Mending lo bersih-bersih sebelum balapan daripada lihatin gue."

Bumi menarik kembali tangannya. "Nanti. Gue masih betah lihatin lo." Dia menyesap teh hangatnya sedikit.

"Emang susah ya jadi orang cantik." Langit mengibaskan rambutnya menghilangkan kegugupan.

"Hm. Lo itu cantik. Apalagi gak berhijab gini," ucap Bumi serak.

"Lo ... gak tergoda kan sama gue?"

"Gue masih normal Langit."

"Gak ada niatan khilaf kan?" Langit menarik kursinya sedikit menjauh dengan khawatir. Ia menatap Bumi seutuhnya.

Dua alis Bumi naik. "Kalau khilaf?" tanyanya memancing.

"Gue masih mau sekolah loh."

"Terus?"

"Yaa itu."

"Itu apa?"

Langit menggaruk tengkuknya. "Bumiii...

"Hm?" Bumi mencondongkan wajahnya.

Tangannya naik mengusap lembut pipi Langit yang memerah. Ada reaksi aneh saat pipi yang lembut itu dia sentuh.

Langit sendiri menelan saliva dan menatap gugup tatapan Bumi. Tangannya meremas ujung bajunya.

"Bum?"

"Hm?" Hembusan nafas Bumi menerpa

Kulit wajahnya.

"Lo gak mau khilafkan?"

Dua alis Bumi naik. Ia menahan senyum.

"Lo pikir gue mau khilaf?"

Langit memberi anggukan.

"Gue gak akan khilaf sampai udah waktunya."

Langit menghela nafas lega. Apalagi begitu Bumi memundurkan wajahnya dan tersenyum. Tangan cowok itu beralih mengacak puncak rambutnya.

"Habisin gih makanannya. Gue bersih-bersih dulu," ucap Bumi kemudian beranjak.

"I-iya."

[NB: Buat teman-teman yang sudah baca cerita ini

Aku mau menginfokan perubahan nama tokoh utama cewek menjadi Qanita Bianka Ze.

Sedang untuk tokoh utama cowok tetap Mahendra Ghabumi Adelard]

1
Sitilestari Ikhsan
kpn up ni lama
Akira Kun: kalau sudah update, berarti besok GK akan update lagi tunggu besok selanjut baru update, karena kurang peminat ya,
total 1 replies
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!