NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN MALAM PERTAMA SEBAGAI AYAH

BAB 21 — MAKAN MALAM PERTAMA SEBAGAI AYAH

Sore itu, suasana di rumah orang tua Keisha terasa jauh lebih sibuk dan cemas dari biasanya.

Ibunya sudah sibuk di dapur sejak siang hari. Aroma harum masakan ayam kecap dan sup hangat menguar memenuhi seluruh ruangan, seolah ingin menyambut tamu istimewa dengan cara terbaik. Ayahnya duduk di ruang tamu pura-pura membaca koran, padahal halaman yang sama tak pernah ia balik selama lebih dari dua puluh menit. Pikiran pria itu jelas sedang melayang ke tempat lain.

Keisha sendiri mondar-mandir dengan wajah tegang dan tak tenang.

“Aku bilang kan dia enggak perlu datang,” gumamnya kesal sambil melipat serbet makan lalu membukanya lagi karena tidak rapi menurutnya.

Ibunya melirik sekilas dari balik wajan.

“Kamu ngomel terus dari tadi, Sha.”

“Karena dia itu seenaknya sendiri! Semuanya harus menurut kemauannya!”

“Dia kan cuma bilang mau makan malam sama anaknya.”

“Dia bilang, Bu. Bukan minta izin. Ada bedanya tipis tapi menyebalkan.”

Ibunya menahan senyum tipis.

“Duh, keras kepala ketemu keras kepala. Pantesan dulu sering ribut.”

Keisha mendengus kesal dan berjalan menjauh.

 

Di ruang tengah, Leo sedang sibuk memamerkan penampilannya sendiri. Ia memilih baju terbaik menurut versinya: kaos biru bergambar dinosaurus yang warnanya cerah dan celana pendek yang disetrikanya rapi.

“Mama! Lihat Leo! Ganteng nggak?” tanyanya sambil berputar kecil.

“Iya, Sayang. Ganteng banget.”

“Kalau Leo ganteng, Om Arsen bakal kasih hadiah lagi nggak ya?”

Keisha memijat keningnya yang mulai terasa berat.

“Leo sayang...”

“Apa Ma?”

“Jangan menilai orang dari hadiah yang mereka bawa ya. Itu tidak baik.”

Leo mengerutkan kening berpikir sangat serius, lalu bertanya polos,

“Kalau dari mobil-mobilan boleh nggak?”

Mendengar pertanyaan itu, ayah Keisha yang sedari tadi diam akhirnya tertawa keras dan lepas untuk pertama kalinya hari itu.

 

Tepat pukul enam sore, suara mesin mobil terdengar berhenti pelan tepat di depan pagar rumah.

Tubuh Keisha langsung menegang kaku.

Dari dalam rumah, terdengar teriakan girang Leo.

“OM SEREM DATANG!!!”

Anak itu berlari sekencang-kencangnya menuju pintu depan bahkan sebelum Keisha sempat mencegah atau menenangkannya.

Pintu terbuka, dan Arsen masuk dengan penampilan yang sedikit lebih santai namun tetap rapi. Ia membawa satu paper bag besar berwarna cokelat dan satu tangkapan bunga segar yang indah.

Semua orang di ruang tamu terdiam sejenak melihatnya.

Dengan sopan, Arsen menyerahkan bunga itu kepada ibu Keisha.

“Untuk Ibu. Terima kasih sudah menjaga Leo dan merawatnya dengan baik selama ini.”

Ibu Keisha terlihat kaget dan tersipu sedikit, lalu menerimanya dengan senyum malu-malu.

“Ah, terima kasih banyak, Nak. Repot-repot saja.”

Selanjutnya, Arsen menoleh ke arah ayah Keisha dan menyerahkan sebuah kotak kayu berisi teh premium yang sangat mahal.

“Ini untuk Bapak.”

Ayah Keisha menatap kotak mewah itu lama, lalu menatap wajah Arsen tajam.

“Kamu ini... nyogok calan mertua ya?”

Arsen menjawab dengan wajah datar namun nada bercanda,

“Saya sedang investasi jangka panjang, Pak.”

Mendengar jawaban cerdas itu, sudut bibir ayah Keisha akhirnya terangkat sedikit. Hampir tersenyum.

 

Leo sudah memeluk erat kaki besar Arsen sejak tadi.

“Om! Lihat baju Leo! Ganteng kan?!” serunya antusias.

Arsen menunduk menatap anak itu dari atas sampai bawah dengan tatapan penilaian.

“Lumayan.”

“Lumayan lagi! Terus kapan dapetnya hebat banget?!” protes Leo cemberut.

“Itu pujian tertinggi dari Om. Berarti kamu sudah sangat ganteng,” jawab Arsen sambil tersenyum tipis.

Leo langsung tersenyum lebar dan puas sekali.

Arsen lalu membuka paper bag yang ia bawa dan mengeluarkan isinya. Sebuah set Lego besar dan rumit yang pasti harganya tidak murah.

Keisha yang melihatnya langsung memegang keningnya.

“Kamu ini... kamu akan membuat dia manja sekali lho.”

Arsen menatapnya santai tanpa rasa bersalah.

“Aku sedang mengejar ketertinggalan waktu, Keisha. Lima tahun itu lama sekali.”

Kalimat sederhana itu membuat suasana di ruangan itu mendadak hening dan terharu sesaat.

 

Saat makan malam akhirnya dimulai, suasana canggung dan kaku memang masih terasa, namun bercampur dengan kehangatan yang aneh.

Arsen duduk berhadapan tepat di depan Keisha. Leo duduk di kursi tinggi tepat di antara mereka berdua, menjadi penengah alami.

Ibu Keisha sibuk menyendokkan sup dan menyuguhkan lauk dengan ramah.

Ayah Keisha duduk tegak mengamati setiap gerak-gerik Arsen, seolah sedang menilai calon karyawan tingkat tinggi.

Sementara itu, Leo tak henti-hentinya bercerita tanpa jeda.

“Tadi Leo gambar mobil balap, Kek!”

“Terus tadi Leo menang lari lho sama Kakek!”

“Itu karena Kakek sengaja pura-pura kalah biar kamu senang,” potong ayah Keisha tertawa.

“Enggak! Leo emang cepet! Kakek yang lambat!”

Arsen menatap anak itu sambil makan dengan tenang. Sangat jarang orang melihatnya setenang dan sehangat ini di meja makan.

 

Beberapa menit berlalu, Leo terlihat kesulitan sekali memotong daging ayam yang cukup keras dengan pisau kecilnya.

Tanpa sadar, tanpa perlu disuruh atau diperhatikan, tangan besar Arsen bergerak mengambil piring kecil itu.

Dengan gerakan yang sangat luwes dan natural, ia memotong-motong daging itu menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dimakan oleh anak kecil.

Gerakannya begitu terbiasa, seolah tubuhnya sendiri yang tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu perintah otak.

Keisha yang melihat pemandangan itu dari seberang meja diam mematung. Hatinya terasa goyah sedikit.

Ia tak pernah, sama sekali tak pernah membayangkan pria dingin dan kejam itu bisa melakukan hal sehalus dan sesederhana itu.

Leo tersenyum lebar melihat ayamnya sudah terpotong rapi.

“Makasih ya, Om!”

Arsen berhenti sejenak, lalu menjawab pelan,

“Sama-sama, Jagoan.”

 

Di tengah makan malam yang mulai mencair, ayah Keisha akhirnya mengajukan pertanyaan kunci yang selama ini menumpuk di kepalanya.

“Jadi... maumu apa sebenarnya, Nak? Apa yang kamu harapkan dari semua ini?”

Arsen meletakkan sendok dan garpunya perlahan di atas piring. Wajahnya kembali serius.

“Saya ingin menjadi ayah yang baik untuk Leo. Itu tujuan utama saya.”

“Cuma itu?”

Tatapan mata Arsen bergeser pelan, berhenti sebentar di wajah Keisha, lalu kembali ke ayahnya.

“Untuk sekarang... cuma itu.”

Mendengar jawaban samar itu, tubuh Keisha langsung menegang kembali. Ia bisa merasakan tatapan tajam pria itu mengandung makna lain.

 

Setelah makan malam selesai dan piring dibersihkan, Leo langsung menarik-narik tangan besar Arsen dengan antusias.

“Ayo main Lego! Om janji!”

Arsen menatap jam tangannya yang mewah, lalu melepas arloji itu dan meletakkannya di atas meja dengan santai.

“Baiklah. Ayo.”

Ia lalu duduk bersila di lantai keramik yang dingin, tepat di samping Leo.

Pemandangan itu terasa begitu absurd dan aneh sampai Keisha hampir tak percaya dengan mata kepalanya sendiri.

CEO dingin, galak, dan menakutkan itu kini duduk lesehan, sibuk menyusun balok-balok Lego rumah-rumahan, bahkan rela diatur-atur dan dipaksa mengikuti aturan main yang aneh-aneh oleh anak berusia lima tahun.

“Ini garasi mobil, Om!”

“Kenapa kecil banget? Mobil Om kan besar,” komentar Arsen.

“Ya karena mainannya kecil lah, Om bodoh. Buat yang besar nanti jatuh.”

“Jangan curang dong.”

Ayah Keisha yang tadinya membaca koran kini menurunkan korannya untuk melihat pemandangan itu lebih jelas. Ibunya pun diam-diam tersenyum lebar melihat cucunya begitu bahagia.

 

Di dapur, saat mencuci piring dan gelas bekas makan malam, Keisha berdiri sendirian membiarkan air keran mengalir.

Tiba-tiba seseorang masuk tanpa suara.

Arsen.

Pria itu langsung mengambil alih beberapa piring kotor dari tangan Keisha lalu mulai membilasnya dengan sabun.

Keisha melotot kaget.

“Heh! Kamu ngapain sih?! Itu tugasku!”

“Membantu.”

“Kamu tahu caranya cuci piring nggak sih? Jangan sampai pecah!”

“Aku orang pintar, Keisha. Aku bisa belajar apa saja.”

Keisha menatapnya curiga penuh tanda tanya.

“Apa tujuan sebenarnya kamu begini? Mau cari poin plus ya?”

Arsen tetap fokus mencuci piring, suaranya rendah dan tenang.

“Kalau aku jawab jujur apa yang ada di pikiranku sekarang... kamu pasti bakal marah besar.”

“Coba aja ngomong.”

Arsen perlahan menoleh, menatap dalam ke mata wanita itu.

“Aku suka... melihat kamu di rumah begini. Terlihat sangat... pas dan indah.”

Jantung Keisha seketika berdetak tidak berirama, jantungnya seakan loncat satu ketukan. Wajahnya panas merona.

“Kamu gila ya...” desisnya pelan.

“Mungkin.”

 

Suara tawa renyah Leo terdengar keras dari ruang tengah, memecah momen di antara mereka berdua.

Keisha menoleh ke arah sana.

Melihat anaknya tertawa lepas dan bahagia bersama pria yang lima tahun lalu hilang dari hidupnya, lalu datang kembali dan mengubah segalanya...

Ada rasa hangat yang menjalar di dada.

Namun di saat yang sama, ada rasa takut yang mengerikan.

Dan sisa-sisa rasa marah yang belum tuntas.

Semua perasaan itu bercampur menjadi satu menjadi emosi yang rumit.

 

Malam semakin larut, akhirnya Arsen bersiap untuk pulang.

Begitu tahu Omnya mau pergi, Leo langsung memeluk erat kakinya dan menatap memelas.

“Besok Om datang lagi ya? Janji?”

Arsen menunduk menatap wajah polos itu lama sekali.

“Kalau Mama izinkan...”

Mendengar itu, Leo langsung menoleh 180 derajat ke arah Keisha dengan tatapan memohon yang sangat sulit ditolak.

“Mamaaa... boleh kan? Boleh kan?”

Keisha memejamkan mata sebentar, menghela napas panjang menyerah.

“...Lihat nanti ya.”

Jawaban itu sudah cukup bagi Leo. Ia bersorak kegirangan seolah-olah ibunya menjawab 'iya' dengan tegas.

Arsen menahan senyum melihatnya.

Sebelum melangkah keluar pintu, ia mendekat sedikit ke arah Keisha dan berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua saja.

“Keluarga ini... terlihat sangat cocok dan utuh.”

“Kamu bukan bagian dari keluarga ini, Arsen,” tolak Keisha cepat.

Arsen tersenyum tipis, tatapannya tajam namun penuh arti.

“Belum.”

Ia lalu berbalik dan pergi meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan Keisha yang berdiri kaku di ambang pintu dengan jantung berdebar kencang tak karuan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Keisha sadar bahwa ketakutannya kini bukan lagi karena Arsen akan merebut Leo darinya.

Tapi karena ia sangat takut... pria itu mungkin akan berhasil mengambil kembali hatinya yang sudah lama terkunci.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
wiwi: makasih kak😄
total 3 replies
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!