Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Harum Melati di Tengah Malam
Bulan menggantung tinggi di atas langit Jakarta yang biasanya bising, namun malam ini kota itu seolah ikut mengheningkan cipta bagi ketenangan di mansion megah milik Arlan.
Di dalam kamar utama yang luasnya hampir menyamai rumah tipe sederhana, keheningan itu justru terasa mencekam bagi seorang Arlan.
Pria itu baru saja memejamkan mata selama tiga puluh menit setelah seharian bergelut dengan laporan keuangan perusahaan, namun instingnya sebagai "suami siaga" jauh lebih tajam daripada insting bisnisnya.
Ia merasakan sebuah pergerakan gelisah di sampingnya.
Kinara, wanita yang kini menjadi pusat gravitasi dunianya, sedang berjuang dengan posisi tidurnya.
Berulang kali Kinara membolak-balikkan tubuh, membetulkan posisi bantal hamil yang menyangga perut buncitnya, namun desahan napasnya terdengar semakin berat dan frustrasi.
"Kin? Kamu haus? Atau kakimu kram lagi?" bisik Arlan dengan suara serak khas orang bangun tidur, namun tangannya secara otomatis langsung mendarat di pinggang istrinya, memberikan usapan lembut yang menenangkan.
Kinara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendudukkan diri di tepi ranjang yang sangat luas itu, membelakangi Arlan. Bahunya yang kecil tampak sedikit bergetar di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.
"Sayang, ada yang sakit? Katakan padaku, apa perutmu kencang?" Arlan langsung terduduk tegak. Rasa kantuknya yang luar biasa menguap seketika, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi yang hampir menyerupai kepanikan.
Kinara menoleh perlahan.
Di bawah cahaya redup itu, Arlan bisa melihat mata istrinya yang berkaca-kaca. Jantung Arlan seolah merosot ke perut.
Baginya, melihat Kinara menangis adalah alarm bahaya paling menakutkan, jauh lebih menakutkan daripada ancaman kebangkrutan sekalipun.
"Arlan... aku... aku tiba-tiba ingin sesuatu. Tapi ini sangat bodoh," ucap Kinara lirih, suaranya bergetar karena menahan tangis yang entah mengapa begitu mudah pecah di masa kehamilan ini.
Arlan bernapas lega, meski hanya sesaat.
"Katakan saja. Apa pun itu. Kamu ingin mangga muda dari kebun kita di Bogor? Atau martabak di pinggir jalan yang dulu pernah kita beli? Katakan saja, aku akan bangunkan seluruh koki di bawah jika perlu."
Kinara menggeleng pelan, jemarinya memilin ujung selimut sutra dengan gelisah.
"Aku tidak ingin makanan, Arlan. Aku tidak lapar. Tapi perasaanku sangat tidak enak sejak tadi."
Arlan mengernyitkan dahi, ia mendekat dan menarik Kinara ke dalam pelukannya.
"Lalu? Kamu ingin apa? Perhiasan? Atau kamu ingin aku membelikan pulau agar kita bisa tenang di sana? Katakan saja, Kinara."
"Aku... aku merindukan Yogyakarta. Aku tiba-tiba ingin mencium aroma bunga melati segar yang baru saja dipetik dari pohonnya... tapi aku ingin melati yang tumbuh di teras rumah Nenek. Melati yang setiap pagi disiram air sumur dingin dan aromanya bercampur dengan tanah basah. Hanya melati itu yang aku inginkan sekarang, Arlan," isak Kinara akhirnya pecah.
Arlan tertegun. Ia menatap jam dinding digital di atas nakas yang menunjukkan pukul 02.15 pagi.
Yogyakarta berjarak ratusan kilometer. Meminta melati spesifik dari halaman rumah seorang nenek di pelosok desa di jam seperti ini bukan sekadar mencari bunga di pasar kembang Cikini. Ini adalah sebuah misi yang bagi orang normal terdengar mustahil.
"Sekarang, Kin? Di jam dua pagi ini?" tanya Arlan pelan, mencoba memastikan ia tidak sedang bermimpi.
Kinara mengangguk, menyembunyikan wajahnya di dada Arlan.
"Aku tahu ini gila. Aku tahu ini egois. Lupakan saja, Arlan. Tidurlah lagi. Mungkin ini hanya hormonku yang sedang kacau karena bayi ini sedang rewel."
Mendengar kata "egois" keluar dari mulut Kinara, Arlan merasa harga dirinya tersentil.
Ia teringat betapa dulu ia pernah bersikap benar-benar egois dengan mengurung wanita ini dalam kesedihan. Sekarang, saat Kinara meminta sesuatu yang sederhana—meskipun logistiknya rumit—ia tidak akan membiarkan kata "tidak" keluar dari mulutnya.
"Jangan pernah sebut keinginanmu itu gila," ucap Arlan tegas. Ia menghapus air mata di pipi Kinara dengan ibu jarinya, lalu mencium kening istrinya dengan sangat lama.
"Tunggu di sini. Jangan beranjak. Aku akan urus semuanya."
Arlan bangkit dari ranjang, hanya mengenakan celana kain panjang dan kaus oblong. Ia berjalan menuju balkon kamar sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Baskoro! Bangun sekarang juga!" suara Arlan terdengar sangat dingin dan mutlak, mode CEO-nya telah aktif sepenuhnya.
"Siapkan helikopter pribadi di helipad gedung pusat dalam sepuluh menit. Hubungi pilot, katakan ada misi darurat ke Yogyakarta. Aku ingin orang-orang kita di sana segera menuju rumah Nenek Kinara di desa. Petik semua melati yang baru mekar, pastikan masih ada embunnya, masukkan ke kotak pendingin, dan bawa kembali ke Jakarta sebelum matahari terbit! Jika helikopter itu terlambat satu menit saja, pastikan pilotnya tidak perlu masuk kerja lagi besok!"
Kinara yang mendengarkan percakapan itu dari kejauhan hanya bisa ternganga.
"Arlan! Kamu gila?! Mengirim helikopter hanya untuk seikat bunga?!"
Arlan kembali masuk ke kamar, wajahnya tampak sangat tenang seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan.
Ia kembali naik ke atas ranjang, menarik Kinara ke dalam pelukannya, dan menyelimuti mereka berdua.
"Untukmu dan si kecil, tidak ada kata gila di kamusku, Kin," bisik Arlan lembut.
"Dulu aku mengirim orang untuk mengawasimu agar kamu tidak lari. Sekarang, aku mengirim mereka untuk menjemput kebahagiaanmu. Anggap saja ini penebusan dosaku."
Dua jam berikutnya adalah waktu yang sangat intim bagi mereka.
Arlan tidak membiarkan Kinara merasa kesepian menunggu bunga itu. Ia tetap terjaga, membiarkan kepala Kinara bersandar di dada bidangnya.
Tangannya tak henti-henti mengelus perut buncit istrinya yang sesekali memberikan tendangan-tendangan kecil.
"Dia tahu Ayahnya sedang sibuk," goda Arlan saat merasakan gerakan di telapak tangannya.
"Dia tahu ayahnya sedang menjadi pahlawan yang agak berlebihan," sahut Kinara dengan senyum yang akhirnya kembali merekah.
Arlan terkekeh.
"Biarkan saja. Aku ingin dia tahu bahwa di dunia ini, ibunya adalah wanita paling berkuasa. Jika ibunya ingin melati dari Yogyakarta, maka langit pun akan aku pindahkan jika perlu."
Arlan kemudian mulai membacakan sebuah buku cerita yang ia beli kemarin—buku tentang seekor singa yang belajar untuk bersikap lembut karena mencintai seekor rusa.
Suara Arlan yang berat dan berwibawa memenuhi kamar, menciptakan suasana yang begitu damai hingga Kinara hampir terlelap.
Hingga akhirnya, suara deru mesin helikopter terdengar lamat-lamat membelah keheningan fajar Jakarta.
Tak lama kemudian, ponsel Arlan bergetar. Sebuah pesan dari Baskoro: “Pak, paket sudah di lobi.”
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar dengan sangat sopan.
Arlan bangkit dengan cepat, seolah ia sedang menerima kiriman emas batangan. Ia mengambil sebuah kotak putih kecil yang masih terasa dingin karena uap es.
"Pesananmu sudah sampai, Nyonya Arlan," ucap Arlan dengan binar mata yang penuh kemenangan.
Begitu kotak itu dibuka di hadapan Kinara, aroma harum melati yang sangat khas—aroma melati desa yang segar, manis, dan sedikit bersahaja—langsung menyeruak memenuhi kamar yang dingin ber-AC itu.
Kinara menghirup aroma itu dalam-dalam, memejamkan matanya, dan seketika itu juga, raut lelah dan gelisah di wajahnya hilang sepenuhnya.
"Harum sekali... Arlan, ini benar-benar melati dari halaman Nenek," bisik Kinara, membelai kelopak putih yang masih segar itu dengan ujung jarinya.
"Terima kasih... terima kasih banyak."
Arlan memperhatikan Kinara dengan tatapan yang sangat dalam.
Ada rasa kepuasan yang lebih besar daripada saat ia memenangkan tender bernilai triliunan rupiah. Pria yang dulu hanya tahu cara memerintah dengan rasa takut, kini menemukan tujuan hidupnya hanya dari melihat istrinya tersenyum karena seikat bunga.
"Jangan berterima kasih, Kin," Arlan menarik Kinara kembali ke pelukannya, menciumi aroma melati yang kini bercampur dengan aroma rambut istrinya.
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu masih mau memberikan kesempatan padaku untuk melakukan hal-hal konyol seperti ini."
Kinara menyandarkan kepalanya di bahu Arlan, merasa begitu aman dan dicintai.
"Dulu aku mengira kamu adalah badai yang akan menghancurkan hidupku, Arlan."
Arlan terdiam sejenak, tangannya mempererat pelukan seolah takut Kinara akan menghilang.
"Dan sekarang?" tanya Arlan lirih.
"Sekarang... kamu adalah payungku. Kamu adalah rumah yang tidak pernah aku bayangkan akan memilikinya setelah semua luka itu," jawab Kinara tulus.
Arlan memejamkan mata, merasakan detak jantung Kinara yang tenang bersinggungan dengan jantungnya sendiri.
Matahari mulai muncul di ufuk timur, memberikan warna jingga keemasan pada kamar mereka.
Di tengah harum melati yang memenuhi ruangan, Arlan membisikkan janji baru pada perut Kinara.
"Dengar itu, Nak? Ayahmu ini dulu adalah orang jahat, tapi Ibumu adalah malaikat yang menyelamatkanku. Jadi, setelah kamu lahir nanti, kita berdua harus bekerja sama untuk menjaganya, mengerti?"
Tendangan kecil dari dalam rahim Kinara seolah menjadi jawaban atas janji itu.
Pagi itu, dalam kehangatan yang tak terlukiskan, mereka berdua akhirnya tertidur lelap—sebuah keluarga yang kini tidak lagi dibayangi oleh penyesalan, melainkan dijalin oleh kasih sayang yang bahkan mampu melintasi kota hanya demi seikat bunga melati.
catatan :
heiiiii gaysssss sorrryy aku baru updateenya udah malam bangattt😭😫 aku sibuk bangat tadi...maafin yh🥹..btwwww ini aku udah upded di saat baca nanti kamu jgn lupa komen yah xixixi💐💙
lvyouuu pullll😻🤍🤍🤍