CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIJODOHIN?! SAMA COWOK KAKU?!
Suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar jelas memecah keheningan ruangan yang luas dan megah itu. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan cahaya lampu kristal yang bergantung megah di langit-langit, membuat suasana terasa semakin dingin dan kaku.
Di sana, berdiri seorang pria dengan postur tubuh yang tegap bak patung. Giovani. Namanya saja sudah terdengar mahal dan berkelas, apalagi penampilannya. Kemeja putih yang disetrika licin, dimasukkan rapi ke dalam celana bahan hitam yang pas di badan, dasi yang dikencangkan sempurna, dan rambut hitamnya disisir rapi ke belakang tanpa ada satu helai pun yang berantakan.
Wajahnya memang ganteng, tipe cowok idaman banyak cewek. Tatapannya tajam, hidung mancung, dan rahangnya tegas. Tapi... ada satu hal yang bikin orang malas mendekat. Ekspresinya datar banget. Datar kayak papan triplek. Dingin, kaku, dan seolah-olah dunia ini cuma tempat dia menjalankan aturan dan jadwal yang udah dia buat sendiri.
Dan sekarang, di hadapannya, ada seseorang yang jelas-jelas adalah kebalikan dari dirinya sendiri.
"BRUK!!!"
Suara tas ransel besar yang terlempar sembarangan ke atas sofa kulit berwarna cokelat tua itu bikin Giovanni sedikit mengernyitkan dahi. Matanya yang tajam langsung mengamati benda itu. Tas itu kotor, terlihat sering dipakai buat keluyuran, dan entah ada apa di dalamnya yang bikin debu sedikit berterbangan saat mendarat.
Pemilik tas itu, Ayunda, duduk dengan posisi yang paling santai—bahkan bisa dibilang paling "ngaco" menurut pandangan Giovanni. Kakinya yang memakai sepatu boots kulit hitam langsung diangkat dan ditaruh seenaknya di atas meja tamu yang harganya mungkin bisa buat beli satu mobil bagus. Tangannya dilipat di dada, wajahnya cemberut, dan matanya menatap Giovanni dengan tatapan tajam yang nggak kalah galak.
Ayunda cantik, itu fakta. Mata nya besar dan bulat, bibirnya merah alami, dan kulitnya putih bersih. Tapi gaya bicaranya? Jauh banget dari kesan manis yang dipancarkan wajahnya.
"Jadi... beneran nih?" Ayunda membuka suara duluan. Nada bicaranya berat, sedikit serak khas cewek yang sering teriak-teriak, dan santai banget. "Gue dijodohin sama lo? Giovani kan? Si cowok kaku yang katanya anak orang kaya itu?"
Giovani menghela napas pelan. Napas yang terdengar sangat tertahan. Dia menatap kaki Ayunda yang ada di meja mahalnya itu dengan tatapan tidak suka.
"Nona Ayunda," ucap Giovanni dengan suara yang rendah, lambat, dan sangat formal. "Tolong turunkan kaki Anda dari meja itu. Itu tidak sopan, dan juga... tidak estetis."
Ayunda terkekeh sinis. Dia malah mengayun-ayunkan kakinya seenaknya di atas meja itu, seolah menantang.
"Halah, sok rapi banget sih lo. Estetis apaan? Ini gaya gue, paham? Gue ngerasa nyaman begini, kenapa harus peduli sama pandangan mata lo yang sok kritis itu?" Ayunda mendengus kesal. "Gue tanya serius, Gio. Beneran kita bakal nikah dan tinggal serumah gara-gara perjanjian konyol orang tua kita dulu?"
Giovani mengangguk pelan, tetap dengan wajah datarnya. "Benar. Kita akan melangsungkan pernikahan bulan depan, dan setelah itu kita akan tinggal di sini. Ini semua demi menjaga nama baik kedua keluarga kita. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai anak untuk menepati janji orang tua."
"HAH?! BULAN DEPAN?!"
Ayunda langsung melompat bangun dari duduknya seolah tersengat listrik. Matanya melotot besar, menatap Giovanni tak percaya.
"Lo gila ya?! Bulan depan?! Gue baru umur dua puluh tiga tahun Gio! Hidup gue baru mau mulai seru-seruan! Gue masih mau jalan-jalan, gue masih mau hangout sama temen-temen, gue masih mau bebas ngelakuin apa yang gue mau! Masa harus terkurung di rumah sebesar ini sama cowok kaku, dingin, dan bawel kayak lo?! Lo pikir lo siapa?! Robot yang nggak punya perasaan?!"
Ayunda melangkah mendekat, wajahnya mendongak menatap Gio yang jauh lebih tinggi dan besar darinya. Aura "badung"-nya langsung keluar penuh. Dia nggak takut sama tampang seram Gio sama sekali. Justru dia yang malah bikin suasana jadi panas.
"Dengerin ya Tuan Muda Kaku!" Ayunda menunjuk dada Gio dengan jarinya yang kasar. "Gue itu Ayunda! Bukan boneka yang bisa lo atur seenak jidat lo! Gue hidup bebas, gue ngomong apa adanya, gue nggak suka basa-basi, gue paling benci diatur-atur, dan gue paling muak sama orang yang sok bersih, sok rapi, dan sok sempurna kayak lo!"
Ayunda berhenti sejenak, mengambil napas, lalu melanjutkan omelannya yang panjang lebar.
"Lo lihat gaya gue? Jaket kulit, celana sobek, boots. Ini gue! Gue emang cewek yang kelakuannya liar, gue emang suka berantem kalau ada yang ngeganggu, gue emang suka teriak-teriak kalau lagi emosi! Itu semua asli! Bukan akting! Dan lo pikir dengan pernikahan paksa ini, gue bakal berubah jadi cewek manja, lemah lembut, dan sopan santun kayak putri keraton? MIMPIIII! Lo salah orang besar banget!"
Giovani berdiri mematung. Dia mendengarkan semua omelan Ayunda tanpa menyela sedikitpun. Matanya menatap lekat-lekat wajah cantik itu yang sekarang memerah karena emosi. Dia melihat bagaimana bibir itu bergerak cepat melontarkan kata-kata tajam, bagaimana mata itu menatapnya penuh kebencian, dan bagaimana tubuh kecil itu bergetar karena menahan amarah.
Jujur saja, Giovanni agak kaget. Dia pernah dengar kalau anak teman papanya ini agak "liar", tapi dia nggak nyangka se-liar ini. Cewek secantik ini mulutnya bisa sepedas itu.
Setelah puas melontarkan segala unek-uneknya, Ayunda kembali berbicara, kali ini nadanya lebih rendah tapi penuh penekanan.
"Jadi sekarang lo tau kan sama siapa lo bakal nikah? Sama cewek badung, rusuh, dan nggak punya aturan! Kalau lo pikir lo bisa jinakin gue, mending lo buang jauh-jauh harapan lo itu! Gue nggak bakal berubah demi siapa pun, termasuk lo!"
Giovani akhirnya membuka mulutnya. Dia tidak marah, tidak juga teriak. Dia justru menatap Ayunda dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Dan Anda dengar saya baik-baik, Nona Ayunda," balas Giovanni tak kalah tegas. Suaranya tenang, tapi bikin bulu kuduk merinding karena kewibawaannya.
"Di rumah ini, ada aturan yang harus dipatuhi. Tidak ada pengecualian, tidak ada alasan. Jam tidur harus pukul sepuluh malam tepat. Jam makan harus teratur. Rumah harus selalu bersih dan rapi. Pakaian harus sopan. Dan yang paling penting... tolong gunakan bahasa yang sopan saat berbicara dengan saya."
"SOPAN APANYA HAH?!" Ayunda kembali meledak. "Lo itu nyebelin banget tau nggak sih?! Gue bilang sama lo, gue nggak bakal berubah! Gue bakal tetep badung, tetep rusuh, tetep ngaco, dan tetep bikin rumah ini berantakan! Kalau lo nggak suka, ya udahin aja perjodohan sialan ini! Gue juga nggak mau!"
Giovani menghela napas panjang lagi. Kali ini napasnya terdengar lebih berat, seakan kesabarannya sudah diuji sampai ke ubun-ubun. Dia menatap Ayunda lekat-lekat.
"Perjanjian tidak bisa dibatalkan, Nona. Itu sudah tertulis dan disepakati oleh kedua belah pihak. Jadi... mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus belajar hidup bersama di bawah satu atap yang sama."
Ayunda terpaku. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menatap mata Gio yang dingin dan tajam itu. Hatinya panas, rasanya ingin sekali memukul wajah datar itu. Tapi dia sadar, dia nggak bisa melawan keputusan orang tua dan perjanjian yang sudah ada.
Dia kalah.
Tapi... Ayunda bukan tipe cewek yang gampang menyerah begitu saja.
Perlahan, wajah kesal itu berubah. Senyum miring mulai terbentuk di bibirnya. Senyum yang jahil, senyum yang penuh rencana nakal.
"Oke... oke deh," kata Ayunda pelan, tapi nadanya terdengar sangat tidak bersahabat. "Kalau kata lo begitu, ya udah. Gue terima. Gue nikah sama lo."
Giovani mengangkat alisnya sedikit, seolah terkejut karena Ayunda mau menyerah begitu cepat.
"Tapi..." Ayunda maju selangkah lagi, wajahnya mendekat ke wajah Gio, sampai jarinya hanya tinggal beberapa senti saja. "Lo harus siap mental ya, Tuan Kaku."
Matanya berkilat jahat.
"Lo mau hidup teratur? Lo mau rumah rapi? Lo mau semuanya sempurna? Oke, gue kasih. Tapi bukan sempurna yang lo mau, tapi sempurna dalam kekacauan!"
Ayunda tertawa kecil, tawa yang terdengar menyeramkan buat Giovanni.
"Gue janji sama lo, hidup lo yang selama ini mulus kayak jalan tol, bakal gue ubah jadi jalanan berbatu penuh lubang! Gue bakal bikin lo marah, gue bakal bikin lo pusing, gue bakal bikin lo nyesel kenapa mau nerima perjodohan ini! Siap-siap aja ya... rumah mewah impian lo ini, bakal gue ubah jadi medan perang yang sesungguhnya!"
Giovani tetap diam. Dia menatap wajah cantik itu yang kini dipenuhi aura pemberontak. Dia tidak takut, dia hanya merasa... ini bakal jadi perjalanan yang sangat melelahkan.
"Baiklah," jawab Giovanni akhirnya dengan nada datarnya yang khas. Dia sedikit menundukkan wajahnya, menatap mata Ayunda dalam-dalam.
"Saya tunggu aksi Anda, Nona Badung. Dan ingat... di rumah ini, saya yang berkuasa. Jangan harap Anda bisa menang melawan aturan saya."
Ayunda mendengus kesal lalu mundur menjauh. Dia berbalik badan dan berjalan sembarangan menaiki tangga, meninggalkan Giovanni yang masih berdiri mematung di ruang tamu.
"Sombreng banget sih cowok ini..." gerutu Ayunda pelan tapi masih kedengeran. "Tunggu aja ya, gue bakal bikin lo nangis darah!"
Giovani menatap punggung Ayunda yang menghilang di ujung tangga. Dia mengusap pelipisnya yang terasa mulai berdenyut.
Ya Tuhan... apa dosa hamba sampai harus diuji seberat ini? batinnya bertanya. Dapat cewek cantik sih untung, tapi dapatnya yang kelakuannya kayak badai...
Dan di saat itulah, perang dunia antara Si Badung dan Si Kaku resmi dimulai.