NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proposal Perang Dunia Ketiga

Aira tidak pernah membayangkan bahwa proposal setebal empat puluh tiga halaman yang ia susun selama tiga minggu itu akan berakhir sebagai tatakan gelas kopi.

"Lo serius?"

Suara itu keluar dari mulutnya dengan nada yang lebih tinggi dari yang ia rencanakan. Tapi siapa yang bisa tetap tenang ketika kerja kerasnya diperlakukan seperti kertas bekas pembungkus gorengan?

Di hadapannya, Arga—Ketua OSIS SMA Negeri 17 yang konon katanya jenius, berprestasi, dan punya masa depan secerah lampu stadion—sedang menuangkan kopi instan ke dalam gelas kertas. Uap mengepul. Beberapa tetes cairan cokelat gelap menciprat dan mendarat persis di halaman depan proposal Aira, tepat di atas judul yang ia tulis dengan susah payah menggunakan font custom buatannya sendiri: NEON REBEL: Musik untuk Semua, Semua untuk Musik.

"Serius apa?" tanya Arga, tanpa mengalihkan pandangan dari kopinya. Tangannya bergerak hati-hati, mengaduk gula dengan sendok plastik kecil. Dua belas kali putaran searah jarum jam. Selalu dua belas. Aira tahu karena ini pertemuan keempat mereka, dan setiap kali Arga membuat kopi, jumlah putarannya selalu sama.

"Kertas gue. Lu jadiin tatakan."

Arga melirik sekilas ke mejanya, seolah baru menyadari keberadaan proposal itu di bawah gelas kopinya. "Ah. Maaf."

Tapi ia tidak memindahkan gelasnya. Tangannya malah meraih secarik kertas lain dari tumpukan di sudut meja. Sebuah proposal juga, tapi milik orang lain. Klub Paduan Suara, kalau dilihat dari sampulnya yang rapi dengan logo sekolah di tengahnya.

"Minggu depan adalah batas akhir pengumpulan proposal acara pensi," kata Arga, suaranya datar. Tidak ada emosi. Seperti robot yang sedang membacakan manual instruksi. "Sejauh ini, sudah ada dua belas klub yang mendaftar. Semuanya sudah sesuai format dan prosedur. Kecuali punya lo."

Aira merasakan urat di pelipisnya mulai berdenyut. "Gue udah bolak-balik revisi tiga kali, Arga. Tiga kali. Apa lagi yang kurang?"

Kali ini Arga benar-benar menatapnya. Mata di balik kacamata itu dingin dan tenang. Bukan tatapan sinis—Aira sudah terbiasa dengan tatapan sinis dari guru-guru dan murid-murid "baik-baik"—tapi semacam ketenangan analitis yang entah kenapa justru lebih menyebalkan.

"Kurang sesuai," kata Arga. "Pasal 4, Ayat 2: Setiap acara yang diselenggarakan di lingkungan sekolah harus mencerminkan nilai-nilai ketertiban dan edukasi. Musik kalian... apa tadi namanya?"

"Neon Rebel."

"Itu. Musik kalian berbanding lurus dengan dilanggarnya kedua nilai tersebut."

Aira mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Jaket denimnya yang penuh emblem band bergesekan dengan kaos hitam di dalamnya. Ia bisa merasakan panas mulai menjalar dari dada ke leher.

"Maksud lo, musik gue nggak mendidik?"

Arga menghela napas pendek. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map tebal. Jari-jarinya membuka map itu dengan gerakan presisi, seperti seorang dokter bedah yang sedang mempersiapkan alat-alatnya.

"Saya sudah menganalisis proposal Anda secara menyeluruh, Saudari Aira," katanya. Panggilan formal. Saudari. Seperti sedang sidang skripsi. "Pertama: volume suara. Dalam proposal, Anda menyebutkan kebutuhan sound system dengan kekuatan minimal 5000 watt. Untuk aula sekolah berkapasitas 800 orang, 2000 watt sudah lebih dari cukup. Kecuali Anda berencana membuat penonton mengalami gangguan pendengaran permanen."

"Kedua." Arga membalik halaman. "Lirik lagu. Anda mencantumkan tiga lagu dalam daftar. Salah satunya berjudul Hancurkan Dinding. Apakah Anda sadar bahwa metafora 'menghancurkan dinding' dapat diinterpretasikan sebagai ajakan vandalisme terhadap fasilitas sekolah?"

"Itu metafora tentang kebebasan berekspresi! Astaga, Arga."

"Metafora adalah interpretasi subjektif. Panitia tidak bisa mengambil risiko subjektivitas."

Aira mulai berpikir bahwa berdebat dengan Arga rasanya seperti memukul bantal busa. Melelahkan, tidak ada perlawanan, tapi juga tidak ada hasil.

"Ketiga." Arga berdeham. "Mengenai proposal fisik Anda. Font yang digunakan tidak standar. Margin tidak simetris. Dan..." ia berhenti, mengangkat salah satu halaman dengan ujung jarinya, "...ada noda tinta? Atau ini saus sambal?"

"Itu darah," kata Aira datar.

Arga menatapnya.

"Hidung Dimas berdarah waktu latihan. Dia terlalu semangat main drum. Darahnya netes di halaman itu pas gue lagi baca ulang."

Ekspresi Arga berubah sedikit. Kalau Aira tidak salah lihat, itu adalah ekspresi ngeri yang ditahan-tahan.

"Saudari Aira," katanya, suaranya lebih pelan. "Apakah Anda mengerti sekarang? Ini bukan tentang saya tidak menyukai musik Anda. Ini tentang standar. Prosedur. Aturan. Sekolah ini punya sistem, dan tugas saya adalah memastikan sistem itu berjalan."

Aira ingin membantah. Ingin bilang bahwa musik bukan tentang margin dan font. Bahwa Neon Rebel adalah suara anak-anak yang selama ini cuma dianggap pengacau. Bahwa di balik distorsi gitar dan gebukan drum, ada lirik-lirik yang ia tulis sendiri di buku notes lusuhnya setiap malam—tentang kesepian, tentang mimpi yang diremehkan, tentang sekolah yang lebih peduli pada seragam rapi daripada isi kepala muridnya.

Tapi ia tidak sempat mengatakannya.

Pintu ruang OSIS terbuka, dan suara langkah kaki berdecit di lantai. Kepala Sekolah Pak Edwin masuk dengan postur tegapnya, diikuti oleh seorang perempuan yang tidak Aira kenali.

Perempuan itu mungkin berumur tiga puluhan. Rambut pendek model pixie, kacamata hitam tebal, blazer abu-abu yang dipadukan dengan sneakers putih. Stylish, tapi santai. Ada sesuatu dalam caranya memandang yang membuat Aira langsung merasa sedang diamati oleh sepasang mata yang tajam.

"Arga! Kebetulan sekali, saya sedang mencari Anda," kata Pak Edwin. Suaranya ramah tapi berwibawa. "Ini Bu Rina, dari Movemint Clothing. Beliau adalah calon sponsor utama untuk acara pensi tahun ini. Bu Rina ingin melihat-lihat proses persiapan kita."

Arga langsung berdiri tegak. Dalam sekejap, posturnya berubah dari Ketua OSIS yang dingin menjadi duta sekolah profesional penuh senyum.

"Bu Rina, selamat siang. Suatu kehormatan. Silakan duduk, saya akan jelaskan progres persiapan kami."

Bu Rina tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada Aira yang masih berdiri dengan tangan terkepal dan ekspresi tidak terima.

"Wah, sepertinya saya datang di saat yang kurang tepat?" tanya Bu Rina. Ada senyum tipis di sudut bibirnya.

"Tidak, tidak sama sekali," jawab Arga cepat. "Kami hanya sedang... berdiskusi."

"Diskusi yang cukup panas, sepertinya." Bu Rina melirik proposal yang masih menjadi tatakan kopi, lalu ke sampulnya yang bernoda. Matanya melebar sedikit. "Ini... Neon Rebel? Saya pernah dengar nama ini. Band anak-anak SMA yang suka main di kafe dekat Stasiun Pasar Minggu, ya?"

Aira terkejut. "Ibu tahu?"

"Saya sering ke kafe itu. Kopinya enak. Dan musik kalian..." Bu Rina berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. "...menarik. Sangat... energik."

Arga menegang. Aira bisa melihat otot rahangnya bekerja keras menahan sesuatu. Mungkin panik.

"Bu Rina," sela Arga, "seperti yang sudah saya sampaikan ke Pak Edwin, kami sedang menyeleksi penampilan-penampilan yang sesuai dengan visi acara pensi tahun ini. Ada banyak pilihan bagus. Klub Paduan Suara misalnya, sudah menyiapkan medley lagu-lagu daerah yang sangat mendidik—"

"Medley lagu daerah?" potong Bu Rina. "Wah, itu bagus. Tapi bukankah pensi juga harus merepresentasikan suara anak muda yang sebenarnya?"

Keheningan pendek melayang di ruangan itu.

Aira menatap Bu Rina dengan perasaan aneh. Selama ini, satu-satunya orang dewasa yang mendukung Neon Rebel hanyalah Bang Rudi, pemilik studio latihan yang suka ngutang sewa. Guru-guru di sekolah menganggap mereka pengacau. OSIS menganggap mereka pelanggar aturan. Dan sekarang ada seorang calon sponsor, seorang profesional dengan blazer mahal, yang tahu band mereka dan menyebutnya "menarik"?

"Ini menarik," kata Bu Rina tiba-tiba, matanya bolak-balik menatap Arga dan Aira. "Saya sudah mendengar banyak tentang OSIS SMA Negeri 17. Katanya, organisasi paling disiplin se-kecamatan. Ketua OSIS-nya itu, maaf ya Mas Arga, terkenal sangat kaku dan perfeksionis."

Arga tersenyum kaku. "Itu... pujian, Bu?"

"Dan kalau saya tidak salah," lanjut Bu Rina, kini menatap Aira, "kamu adalah kebalikannya. Saya bisa lihat dari... hm, jaketmu. Dan cara berdiri kamu."

Aira menunduk. Jaket denim kesayangannya, yang di bagian belakangnya ia lukis sendiri dengan cat akrilik: gambar burung phoenix yang sedang terbakar tapi tetap terbang.

"Begini," Bu Rina bertepuk tangan ringan. "Saya terus terang saja. Brand saya, Movemint, sedang mencari brand ambassador untuk kampanye terbaru kami. Temanya 'Opposite Attract'. Kami ingin menunjukkan bahwa dua orang yang sangat berbeda bisa saling melengkapi. Menciptakan chemistry yang unik."

Pak Edwin mengangguk-angguk. Arga masih diam membeku. Aira mulai merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi, dan ia tidak yakin apakah itu hal yang baik.

"Dan kebetulan sekali," Bu Rina melangkah maju, berdiri di antara Arga dan Aira, "saya baru saja menyaksikan interaksi yang sangat... autentik antara kalian berdua. Serius. Saya sudah berkeliling ke banyak sekolah, dan belum pernah melihat Ketua OSIS dan ketua band ribut seperti ini. Tapi justru di situlah menariknya."

Aira menatap Arga. Arga balas menatapnya. Untuk pertama kalinya dalam pertemuan-pertemuan mereka, ada emosi yang sama di mata mereka berdua: ngeri.

"Jadi," Bu Rina melanjutkan, matanya berbinar seperti kucing yang baru menemukan mainan baru, "saya punya penawaran. Dana pensi akan saya biayai penuh. Seratus persen. Termasuk sound system terbaik, dekorasi panggung, lighting, semuanya. Bahkan kami bisa bikin merchandise khusus untuk acara ini."

Pak Edwin hampir tersedak udara. "Seratus persen, Bu Rina? Itu... luar biasa."

"Tapi ada syaratnya," kata Bu Rina.

Tentu saja, batin Aira. Selalu ada syaratnya.

"Syaratnya," Bu Rina berhenti sejenak untuk memberi efek dramatis, "Saudara Arga dan Saudari Aira harus menjadi duta kampanye kami. Kalian berdua akan menjadi wajah dari acara pensi ini. Sekaligus wajah dari Movemint untuk satu semester ke depan."

Keheningan menggantung seperti bom yang siap meledak.

Arga yang pertama bersuara. "Bu, maaf. Saya pikir ini bukan ide yang—"

"Dan," potong Bu Rina, mengangkat satu jari telunjuknya, "kalian harus berpura-pura pacaran selama tiga bulan."

Aira mengedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Mungkin ia salah dengar.

"Maaf, Bu," katanya, suaranya serak. "Berpura-pura... apa?"

"Pacaran." Bu Rina mengulanginya dengan enteng, seperti menyebutkan harga sayur di pasar. "Kampanye kami bertema 'Opposite Attract'. Kami butuh dua remaja dengan kepribadian bertolak belakang yang bisa menunjukkan bahwa perbedaan itu bukan penghalang. Kalau bisa malah jadi daya tarik. Dan kalian berdua..." ia menatap Arga dan Aira bergantian, "...sempurna."

Kali ini Arga benar-benar kehilangan ketenangannya. Wajahnya yang biasanya pucat dan datar mulai memerah, dimulai dari leher, menjalar ke pipi, hingga ke telinga.

"Bu Rina, saya rasa saya belum bisa—"

"Tentu saja kalian bisa," kata Bu Rina ceria. "Saya sudah lihat sendiri chemistry-nya."

"Chemistry apa?" suara Aira melengking. "Kami baru saja hampir berantem!"

"Justru itu." Bu Rina tersenyum lebar. "Cinta dan benci itu bedanya tipis. Apalagi di usia kalian. Ini akan jadi kampanye yang sangat relatable."

Pak Edwin, yang sejak tadi hanya menonton dengan mulut setengah terbuka, akhirnya bersuara. "Bu Rina, usulan Anda sangat menarik dan dermawan. Tapi untuk meminta murid kami berpura-pura pacaran... bukankah itu sedikit... tidak mendidik?"

"Pak Edwin, dengan segala hormat," kata Bu Rina, nada suaranya berubah sedikit lebih serius, "anak-anak ini sudah hampir dewasa. Mereka akan segera kuliah dan menghadapi dunia nyata. Apa yang kami tawarkan adalah pengalaman profesional. Kontrak, komitmen, tanggung jawab. Ini justru sangat mendidik."

Kepala sekolah itu mengusap dagunya. Aira bisa melihat bibit-bibit keraguan mulai tumbuh di wajahnya, perlahan-lahan digantikan oleh bibit-bibit pertimbangan.

"Berapa dana yang Anda tawarkan, Bu Rina?"

Bu Rina menyebutkan sebuah angka.

Rahang Pak Edwin hampir copot. Arga, untuk pertama kalinya sepanjang yang Aira kenal, kehilangan kata-kata. Bahkan Aira sendiri harus berpegangan pada meja untuk menstabilkan dirinya.

Angka itu... gila. Besar sekali. Cukup untuk membiayai bukan hanya satu, tapi mungkin tiga acara pensi sekaligus. Cukup untuk beli sound system yang pantas buat Neon Rebel. Cukup untuk membuat panggung dengan layar LED seperti yang selalu Aira impikan saat menonton video konser band-band favoritnya di YouTube.

"Jadi," kata Bu Rina, "bagaimana?"

Aira menatap Arga. Arga menatap Aira.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Negeri 17, si badung dan si kaku benar-benar berada di pihak yang sama: sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.

"Gue..." Aira membuka mulut, menutupnya lagi. "Ini..."

"Kita butuh waktu untuk berpikir, Bu," kata Arga akhirnya, suaranya sedikit serak.

"Tentu saja. Saya beri waktu tiga hari." Bu Rina merogoh tasnya dan mengeluarkan dua kartu nama. Satu diserahkan ke Arga, satu lagi ke Aira. "Hubungi saya kalau sudah siap. Atau mau tanya-tanya dulu juga boleh."

Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh.

"Ah, satu lagi, Nak Aira."

Aira mengangkat kepalanya.

"Proposalmu yang dijadikan tatakan kopi itu..." Bu Rina tersenyum. "Kalau butuh bantuan revisi font dan margin, saya bisa rekomendasikan desainer grafis. Tapi isinya? Isinya oke. Terutama bagian tentang 'panggung bukan cuma tempat tampil, tapi tempat didengar'. Itu tagline yang kuat."

Dan dengan itu, Bu Rina melenggang keluar, diikuti Pak Edwin yang masih kelihatan agak linglung.

Aira dan Arga ditinggalkan sendirian di ruang OSIS yang mendadak terasa terlalu kecil.

Detik-detik berlalu.

Aira adalah yang pertama memecah keheningan.

"Gue benci banget hidup gue sekarang."

Arga, yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal, hanya bisa mengangguk pelan.

"Sama."

1
Wisnu Mahendra
ooiii...ni cerita ngalor ngidul ya? mereka kan dinikahkan karena dijodohkan? gimana sih? kok jadi sepupuan...dan baru kenalan dengan ortu masing2...pantesan yg like dan komen jutaan...ceritanya asal2an
Wisnu Mahendra
nggak ngerti ceritanya, diawal bilang sudah nikah sudah tidur bareng, trus bilang pacaran, skrg baru kenalan sama ortunya yunda...ini gimana ceritanya?
Wisnu Mahendra
kok pacaran? bukannya udah nikah?
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!