NovelToon NovelToon
Salah Meja Jadi Istri CEO

Salah Meja Jadi Istri CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Slice of Life / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Office Romance
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)

​Pagi di kantor agensi yang sekarang sudah menjadi cabang Sebasta Group itu dimulai dengan kekacauan kecil. Aneska, yang biasanya paling semangat kalau sudah membahas revisi desain, tiba-tiba terduduk lemas di kursinya. Wajahnya yang biasa segar dan merona, kini sepucat kertas HVS.

​"Hoek!"

​Aneska menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kencang menuju toilet kantor. Miska yang melihat itu langsung menjatuhkan pulpennya dan menyusul dengan panik.

​Di dalam bilik toilet, Aneska terduduk di lantai setelah memuntahkan seluruh isi perutnya—yang sebenarnya hanya air karena dia belum sempat sarapan. Air matanya mulai mengalir deras, membasahi pipinya yang dingin.

​"Nes! Lo kenapa?! Keracunan seblak semalam?" Miska menggedor pintu bilik.

​Aneska membuka pintu dengan lemas, wajahnya sembab. "Mis... gimana kalau gue hamil?"

​Miska melongo. "Ya wajar lah, Nes! Tiap hari 'lembur' sama si Om Mesum itu, masa nggak jadi-jadi? Harusnya lo seneng!"

​"Nggak! Gue belum siap!" Aneska malah menangis makin kencang. Sisi bar-barnya hilang total, berganti jadi bocah yang ketakutan. "Gue masih mau kerja, gue masih mau mabar sama lo! Kalau ada bayi, nanti Arga makin posesif! Gue bakal dikurung di rumah! Huwaaa!"

​Aneska yang sedang emosional langsung meraih ponselnya dan menekan panggilan cepat ke Arga.

​"Mas Arga... gue mual! Gue hamil ya?! Pokoknya gue nggak mau! Lo jahat banget!" Aneska berteriak sambil sesenggukan lewat telepon.

​Di seberang sana, Arga yang sedang memimpin rapat direksi langsung berdiri tegak hingga kursinya terjatuh ke belakang. Wajah dinginnya mendadak berubah jadi penuh binar kegilaan.

​"Hamil? Kamu mual, Sayang? Oke, oke, jangan nangis. Tunggu di sana, sepuluh menit gue sampai. Linda! Hubungi Rumah Sakit Sebasta Medika! Kosongkan seluruh lantai VVIP, siapkan dokter kandungan terbaik sekarang juga!" teriak Arga ke arah asistennya tanpa mempedulikan wajah melongo para direkturnya.

​Rumah Sakit: Operasi Siaga Satu

​Benar saja, Arga tidak main-main. Aneska dijemput dengan kawalan empat mobil hitam. Begitu sampai di rumah sakit, lantai paling atas benar-benar ditutup. Tidak ada pasien lain, hanya ada barisan perawat yang membungkuk hormat saat Arga menggendong Aneska ala bridal style masuk ke ruang pemeriksaan.

​Arga mondar-mandir di depan tempat tidur periksa dengan senyum yang tidak bisa hilang. "Nes, kalau cowok kita kasih nama Arga Junior. Kalau cewek, terserah lo, tapi harus ada nama Sebasta-nya. Gue bakal beliin pulau buat dia!"

​"Arga! Diem nggak! Gue lagi takut, lo malah mikirin pulau!" omel Aneska sambil mengusap air matanya dengan tisu. "Gue nggak mau punya perut gede dulu! Gue mau pake baju seksi!"

​"Nanti gue beliin baju seksi ukuran bumil yang paling mahal sedunia," sahut Arga santai, ia mencium tangan Aneska berkali-kali. "Makasih ya, Sayang. Gue nggak nyangka 'investasi' setiap malam gue bakal membuahkan hasil secepat ini."

​Dokter spesialis kandungan masuk dengan wajah tegang karena diawasi langsung oleh pemilik rumah sakit yang sedang dalam mode hyper-excited.

​"Silakan, Dok. Periksa istri saya. Pastikan calon pewaris Sebasta sehat sempurna," perintah Arga dengan nada dominan.

​Aneska pasrah saat perutnya diolesi gel dingin. Layar USG menyala. Arga menatap layar itu seolah sedang melihat grafik keuntungan perusahaan paling besar dalam sejarah.

​"Mana, Dok? Mana titiknya? Kok belum kelihatan?" tanya Arga tidak sabar.

​Dokter itu menggerakkan alatnya perlahan, keningnya berkerut. Ia memeriksa rahim Aneska beberapa kali, lalu menghela napas pendek.

​"Maaf, Pak Arga... Nyonya Aneska..."

​"Kenapa? Ada masalah? Gue beli rumah sakit ini sekarang juga kalau lo nggak bisa jelasin!" ancam Arga posesif.

​"Bukan begitu, Pak. Masalahnya... rahim Nyonya Aneska masih sangat bersih. Tidak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali."

​Hening.

​Senyum Arga membeku. Aneska yang tadi menangis, mendadak berhenti sesenggukan. "Maksud Dokter? Gue nggak hamil?"

​"Tidak, Nyonya. Setelah saya periksa lebih lanjut, mual yang Nyonya rasakan itu adalah gejala dispepsia akut atau asam lambung yang naik drastis," jelas Dokter itu dengan hati-hati.

​Aneska mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Alhamdulillah! Gue nggak jadi hamil!"

​Wajah Arga langsung mendung. "Terus kenapa dia bisa mual parah begitu kalau nggak hamil, Dok? Saya sudah berusaha sangat keras setiap malam!"

​Dokter itu berdehem canggung, melirik ke arah Aneska yang wajahnya mulai memerah. "Ehem... sepertinya Nyonya Aneska terlalu kelelahan secara fisik. Tekanan yang terlalu... intens dan kurangnya waktu istirahat setelah kegiatan intim bisa memicu stres pada lambung. Ditambah lagi Nyonya sering telat makan belakangan ini. Jadi ya... ini murni karena Pak Arga terlalu 'bersemangat' dan 'beringas' dalam melakukan hubungan."

​Aneska terdiam sedetik, lalu tawanya meledak. ia memukul bahu Arga sekuat tenaga.

​"HAHAAHA! DENGER TUH! TUH KAN! Gue bilang juga apa! Lo tuh mesumnya nggak manusiawi!" Aneska tertawa sampai mengeluarkan air mata lagi, kali ini air mata syukur. "Lo udah nutup satu lantai, udah mau beli pulau, ternyata cuma gara-gara lo terlalu bringas di kasur sampe lambung gue mau copot! Malu-maluin banget lo, Argani!"

​Arga menutup wajahnya dengan sebelah tangan, telinganya merah padam karena malu di depan dokter dan perawat. "Dok... Anda serius? Bukan karena alatnya rusak?"

​"Alat kami paling canggih, Pak. Nyonya Aneska hanya butuh istirahat total dan... mungkin Bapak harus sedikit 'menahan diri' untuk beberapa hari ke depan," saran Dokter sambil menahan tawa.

​Malam Hari: Hukuman Lambung

​Sesampainya di rumah, Arga hanya diam seribu bahasa. Ia merasa sangat malu sekaligus kecewa karena gagal menjadi calon ayah secepat itu. Sementara Aneska, ia terus-menerus meledek Arga sepanjang jalan.

​"Mas Arga... kok diem? Mana pulunya? Mana Arga Junior-nya?" ledek Aneska sambil tiduran santai di sofa ruang kerja Arga.

​Arga menatap Aneska dengan tatapan tajam yang lapar. "Ketawa aja terus. Lo nggak denger kata Dokter? Gue cuma disuruh menahan diri beberapa hari, bukan selamanya."

​"Nggak bisa! Mulai malam ini gue mau tidur di kamar tamu!" Aneska berdiri, menjulurkan lidahnya. "Hukuman buat suami yang bikin lambung istrinya mau meledak gara-gara ke-bringas-annya!"

​"Nggak boleh!" Arga langsung berdiri, menarik pinggang Aneska hingga gadis itu menabrak dadanya. "Lo tidur di mana, gue tidur di situ. Kalau nggak bisa 'main', setidaknya gue harus peluk lo."

​"Eits, nggak ada peluk-peluk! Nanti lo 'bangun' terus lambung gue kena imbasnya lagi!" Aneska mencoba lari, tapi Arga jauh lebih cepat.

​Arga menggendong Aneska dan membantingnya pelan ke kasur. Ia menindih tubuh Aneska, menatapnya dengan obsesi yang tak pernah padam. "Nes... gue beneran pengen punya anak sama lo."

​Aneska terhenti dari tawanya, melihat kesungguhan di mata Arga. Ia mengelus pipi suaminya lembut. "Sabar, Mas. Gue mau kita pacaran dulu tanpa gangguan popok. Nikmatin dulu masa-masa kita berdua... walau lo harus agak dikurangin bringasnya."

​Arga mengecup bibir Aneska lama. "Oke. Gue bakal coba pelan-pelan malam ini. Cuma satu ronde. Janji."

​"Satu ronde versi lo itu tiga jam, Arga! NGGAK MAU!"

​Malam itu, meskipun tidak ada kabar gembira tentang garis dua, rumah besar Sebasta tetap penuh dengan teriakan protes Aneska dan tawa gemas Arga. Bagi Arga, belum ada bayi pun tidak masalah, karena Aneska-lah satu-satunya "bayi" besar yang paling ingin ia manjakan selamanya.

1
Ayusha
benci. benar benar cinta maksudnya 🤣
Ariska Kamisa: aslinya mah begitu🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ayusha
mantan perjaka kali🤭
Ariska Kamisa: hehehe betul juga 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak jempol nya🙏
total 1 replies
aditya rian
/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
Aditya Rian
seru juga ternyata
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Anes sangat beruntung
Ariska Kamisa: tapi anes nge gas terus yaa🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
didunia nyata apakah ada yang seperti Arga 🤔🤔🤔
Ariska Kamisa: seperti nya 1001 kak🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Allah Arga ... 😱
umie chaby_ba
so sweet
umie chaby_ba
👍👍👍👍
umie chaby_ba
satria oh satria bikin Arga kesurupan
umie chaby_ba
arga nyebut ga !
umie chaby_ba
anes iiih 🤭
umie chaby_ba
astagfirullah...🤣🤣🤣
umie chaby_ba
arga 🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ya Allah Arga udh kebelet banget 🤭
umie chaby_ba
suka suka suka
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gercep Amayyy
umie chaby_ba
gemas banget sih arga🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ada siangan nih.
Ariska Kamisa: saingan kali... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!