Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, menciptakan tirai air yang mengaburkan pemandangan taman mansion Mahendra. Di dalam ruang perpustakaan pribadi yang dipenuhi aroma kayu ek dan buku-buku tua, Adel sedang berlutut di lantai. Namun, ia tidak sedang mengepel. Di hadapannya, berserakan belasan map biru berisi laporan audit tahunan Mahendra Group yang tampak kacau balau.
Tuan Mahendra duduk di kursi kerjanya dengan kepala tertumpu pada kedua tangan. "Bagaimana mungkin tim akuntansi melewatkan selisih sebesar ini? Jika dokumen ini sampai ke tangan pemegang saham besok, kredibilitas perusahaan akan hancur."
Adel menatap ayahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua karena stres. Tanpa suara, ia mulai menyusun kertas-kertas itu. Matanya yang tajam memindai barisan angka dengan kecepatan yang tidak biasa bagi seorang gadis yang dianggap "anak panti asuhan dari desa".
"Ayah..." Adel memanggil pelan, memastikan tidak ada pelayan lain yang mendengar panggilannya. "Boleh aku melihat laporan arus kas bulan Maret?"
Tuan Mahendra mendongak, bingung. "Nak, ini masalah bisnis yang rumit. Kau tidak perlu—"
"Tolong, Yah. Hanya sebentar," sela Adel dengan nada penuh keyakinan.
Saat Tuan Mahendra menyerahkan dokumen itu, Adel segera membandingkannya dengan neraca saldo di meja. Jari-jarinya menunjuk pada sebuah baris transaksi yang terselip di balik biaya operasional. "Di sini. Ada pengulangan entri di akun vendor logistik. Mereka mencatat satu faktur dua kali dengan kode yang hampir mirip. Selisihnya pas, lima miliar rupiah."
Tuan Mahendra tertegun. Ia mengambil dokumen itu, memeriksanya dengan teliti, dan matanya membelalak. "Kau benar... Bagaimana kau bisa melihat ini secepat itu?"
"Di panti asuhan, aku sering membantu pengurus menghitung laporan donasi yang berantakan agar kami bisa makan. Angka tidak pernah berbohong, Yah. Manusia yang sering mencoba menyembunyikannya," jawab Adel tenang.
Tepat saat itu, pintu perpustakaan terbuka tanpa ketukan. Devan Dirgantara melangkah masuk dengan aura dingin yang biasa ia bawa. Ia berhenti sejenak, menatap pemandangan yang tidak biasa di depannya: Adel yang sedang duduk di lantai dikelilingi dokumen penting perusahaan, dan Tuan Mahendra yang menatap gadis itu dengan binar kebanggaan yang tak tertutupi.
"Maaf mengganggu, Tuan Mahendra. Ayah saya meminta saya mengambil draf kontrak yang kita bicarakan tadi siang," ucap Devan. Matanya beralih ke Adel, menyipit penuh selidik.
Tuan Mahendra segera merapikan dokumennya. "Ah, Devan. Masuklah. Terima kasih pada 'keponakan' saya ini, masalah laporan audit baru saja selesai. Dia sangat teliti."
Devan berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Adel yang sedang berdiri merapikan pakaiannya. "Seorang keponakan dari desa yang mengerti audit perusahaan konglomerat? Itu bakat yang sangat langka, bukan?"
Adel merasa udara di sekitarnya mendadak menipis. "Saya hanya kebetulan suka matematika, Tuan Devan."
Tuan Mahendra tertawa canggung. "Ya, begitulah. Adel, bisakah kau membawakan teh untuk Devan ke balkon? Aku harus segera menghubungi tim akuntansiku untuk memperbaiki ini."
---
Balkon ruang perpustakaan terlindungi dari hujan, namun udara dingin tetap merayap masuk. Adel meletakkan cangkir teh di meja kecil. Ia hendak berbalik pergi ketika suara Devan menghentikannya.
"Berhenti di sana, Adelard."
Adel berhenti, namun tidak berbalik. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Berhenti memanggilku Tuan saat tidak ada orang lain," Devan melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai balkon yang basah. "Aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama di sekolah. Seorang pelayan yang memiliki harga diri setinggi langit, seorang gadis miskin yang tidak gemetar saat dihina Clarissa, dan sekarang... seorang jenius angka yang menyelamatkan muka Mahendra Group."
Devan kini berdiri tepat di belakang Adel, cukup dekat hingga Adel bisa merasakan hawa panas dari tubuh pemuda itu.
"Tuan Mahendra bukan tipe orang yang memberikan perhatian berlebih pada 'keponakan jauh' hanya karena belas kasihan. Dia menatapmu seolah kau adalah satu-satunya harapan yang dia miliki," lanjut Devan.
Adel berbalik perlahan, mencoba memasang wajah datar. "Mungkin Tuan Mahendra hanya orang yang sangat baik hati. Tidak semua hal harus menjadi konspirasi, Devan."
"Jangan mencoba membodohiku," Devan menyandarkan satu tangannya di pagar balkon, mengurung Adel di antara tubuhnya dan pagar. Ia menundukkan kepalanya, menatap langsung ke dalam mata Adel yang bergetar namun tetap kokoh. "Cara kau berbicara, cara kau menganalisis masalah, bahkan cara kau memandang Clarissa... itu bukan tatapan seorang pelayan. Itu tatapan seseorang yang merasa posisinya telah dirampas."
Adel menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma *sandalwood* dan hujan dari pakaian Devan. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Benarkah?" Devan mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh helai rambut Adel yang sedikit basah karena sisa hujan. "Clarissa itu dangkal. Dia mudah dibaca. Tapi kau... kau adalah teka-teki yang paling menarik yang pernah kutemui di rumah ini."
Devan merendahkan suaranya, berbisik tepat di telinga Adel dengan nada yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Siapa kau sebenarnya, Adelard? Kau tidak terlihat seperti orang miskin biasa. Orang miskin tidak tahu cara menyembunyikan kecerdasan di balik sepasang mata yang sedingin itu."
Adel membalas tatapan Devan, mencoba mencari celah di balik topeng dingin pemuda itu. "Jika aku mengatakannya, apakah kau akan tetap berada di sisi Clarissa?"
Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang terlihat berbahaya namun memikat. "Aku tidak pernah berada di sisi siapa pun kecuali di sisi pemenang. Dan saat ini, aku bertaruh bahwa pemenangnya bukan gadis yang sedang duduk di kursi roda di dalam sana."
Adel mendorong bahu Devan dengan pelan untuk memberi jarak. "Terima kasih atas tehnya, Devan. Tapi sepertinya kau terlalu banyak menonton film drama."
Adel melangkah pergi, namun saat ia mencapai pintu, ia berhenti sejenak. "Satu hal lagi... jangan meremehkan orang miskin. Terkadang, kami belajar lebih banyak tentang dunia karena kami tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup."
Devan tetap berdiri di balkon, menatap punggung Adel yang menghilang di balik pintu perpustakaan. Ia menyesap tehnya yang sudah mulai dingin.
"Orang miskin biasa tidak akan bicara tentang 'bertahan hidup' dengan tatapan seorang ratu," gumam Devan.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berisi data yang ia minta dari detektif pribadinya pagi tadi. Data tentang sejarah panti asuhan tempat Adel dibesarkan. Devan tahu ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan keluarga Mahendra, dan ia berencana untuk menjadi orang pertama yang memegang kunci rahasia itu.
Bagi Devan, Adel bukan lagi sekadar pelayan yang menarik. Dia adalah ancaman yang indah, sebuah variabel yang bisa menghancurkan atau membangun kembali kerajaan Mahendra. Dan Devan tidak sabar untuk melihat langkah apa yang akan diambil Adel selanjutnya di "neraka mewah" ini.
Sementara itu, dari lantai dua, Clarissa berdiri di balik gorden, matanya memerah menahan amarah. Ia melihat bayangan Devan dan Adel di balkon tadi. Ia memang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi ia bisa melihat kedekatan yang tidak pernah Devan berikan padanya.
"Kau merebut Ayahku... sekarang kau mencoba merebut tunanganku?" bisik Clarissa dengan suara penuh racun. "Aku akan mematikan cahayamu sebelum kau sempat bersinar di sekolah besok, Adel. Tunggu saja."
Malam itu, di bawah atap mansion yang sama, tiga hati sedang berdegup dengan rencana yang berbeda. Namun hanya satu yang benar-benar tahu bagaimana cara mengakhiri permainan ini.