NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Malam di mansion Arkananta tidak pernah terasa sepi. Di luar, langit Jakarta sedang menumpahkan kemarahannya; hujan turun begitu deras hingga menyamarkan batas antara cakrawala dan kegelapan.

Aeryn berjalan menyusuri lorong lantai dua dengan langkah gontai. Pesan ancaman di ponselnya tadi seolah menyedot seluruh energi yang ia miliki. Ia baru saja menghancurkan Kaelan dan Baskara, namun kemenangan itu terasa hambar—bahkan beracun. Ada sosok lain di luar sana, bayangan yang lebih besar, yang baru saja melenyapkan Herman seolah pria tua itu hanyalah coretan pensil yang perlu dihapus.

Ia berhenti di depan pintu ruang kerja Xavier. Ia butuh jawaban. Ia tidak peduli lagi pada protokol atau larangan pria itu. Aeryn memutar knop pintu, namun terkunci.

"Xavier?" panggil Aeryn sambil mengetuk pintu. "Xavier, aku tahu kau di dalam. Kita perlu bicara soal Pak Herman. Kita perlu bicara soal pesan itu."

Hening. Hanya ada suara deru hujan dari luar.

"Xavier!" Aeryn mengetuk lebih keras.

Pintu tiba-tiba terbuka, namun bukan oleh Xavier. Hugo berdiri di sana dengan wajah yang sangat lelah dan waspada.

"Maaf, Nyonya. Tuan Xavier sedang tidak bisa diganggu. Beliau sedang dalam panggilan konferensi darurat dengan dewan direksi di London dan Singapura. Ada masalah serius dengan merger tambang di luar negeri," ucap Hugo dengan nada formal yang membentengi.

"Pak Herman meninggal, Hugo! Seseorang membunuhnya tepat setelah aku menemuinya!" suara Aeryn meninggi, hampir histeris. "Dan aku menerima ancaman. Seseorang mengawasiku!"

Hugo menatap Aeryn dengan tatapan datar, seolah sudah terbiasa dengan drama kematian. "Tuan Xavier sudah tahu. Beliau sudah memerintahkan tim keamanan tambahan untuk menjaga perimeter mansion. Untuk saat ini, Tuan meminta Nyonya untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Segalanya akan diurus besok pagi."

"Besok pagi?" Aeryn tertawa getir. "Besok pagi mungkin aku sudah menjadi 'lili yang layu' berikutnya, Hugo. Di mana Xavier? Kenapa dia tiba-tiba menutup diri?"

"Ini bisnis internasional, Nyonya. Taruhannya miliaran dolar. Mohon pengertiannya," Hugo membungkuk sedikit, lalu menutup pintu tepat di depan wajah Aeryn.

Aeryn berdiri mematung di koridor yang dingin. Penolakan itu terasa seperti tamparan. Xavier, pria yang selama ini bertindak sebagai perisainya, tiba-tiba menarik perlindungannya tepat saat badai yang sesungguhnya datang. Apakah Xavier benar-benar sibuk dengan bisnis, ataukah dia sedang menghindari pertanyaan yang tidak bisa dia jawab?

Aeryn kembali ke kamarnya, namun dinding-dinding mewah itu seolah merapat, menghimpitnya. Ia merasa tercekik. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku harian ibunya dan sebuah foto polaroid yang diam-diam ia ambil dari laci Xavier tempo hari—foto ibunya yang tersenyum di taman mansion ini.

Ia melangkah menuju balkon. Ia tidak peduli pada angin kencang yang mulai menerbangkan tirai sutranya. Ia melangkah keluar, membiarkan air hujan langsung menghujam kulitnya yang pucat. Dalam hitungan detik, gaun tidurnya yang tipis basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang gemetar.

Aeryn duduk bersimpuh di lantai balkon yang dingin. Ia memeluk buku harian itu di dadanya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari tulisan tangan ibunya.

"Kenapa, Ibu?" bisiknya parau, suaranya tenggelam oleh deru hujan. "Kenapa kau meninggalkanku di dunia yang penuh serigala ini? Kenapa kau membiarkan pria-pria ini memanipulasi hidup kita?"

Pikiran Aeryn melayang pada semua kemenangan yang ia raih seminggu terakhir. Ia telah mengambil kembali gedung Valerine Jewels. Ia telah membuat Kaelan meringkuk di sel. Ia telah mengusir Baskara. Namun, kenyataannya tetap sama: ia tidak tahu siapa dirinya. Ia hanyalah sebuah pion yang dipindahkan dari satu papan catur (Baskara) ke papan catur lain (Xavier).

Ia merasa terjebak dalam pernikahan yang mungkin hanyalah sebuah transaksi. Jika Xavier menyelamatkannya hanya karena merasa bersalah pada Maryam, maka setiap ciuman, setiap sentuhan, dan setiap kata manis di depan publik adalah kebohongan yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Kaelan.

"Aku hanya debu di atas mahkota," isaknya. Air mata bercampur dengan air hujan, mengalir deras di pipinya. "Aku tidak punya siapa-siapa. Aku bahkan tidak mengenal orang tuaku sendiri."

Aeryn menangis tersedu-sedu, bahunya berguncang hebat. Ia merasa begitu kecil di tengah mansion yang luas ini. Rasa takut akan sosok misterius yang membunuh Herman kini kalah oleh rasa sakit karena merasa tidak diinginkan sebagai manusia, melainkan hanya sebagai alat balas dendam.

Tiba-tiba, suara pintu kaca yang bergeser terdengar di balik suara hujan. Aeryn tidak menoleh. Ia terlalu tenggelam dalam duka dan kedinginan yang merasuk hingga ke tulang.

Sepasang langkah kaki mendekat. Langkah yang mantap, namun kali ini tidak terdengar kaku.

"Aeryn."

Suara itu rendah, dalam, dan bergetar karena sesuatu yang tidak biasa. Bukan suara otoriter Xavier sang CEO Arkananta, melainkan suara seorang pria yang sedang melihat dunianya sendiri sedang runtuh.

Aeryn tetap diam, kepalanya tertunduk, rambutnya yang basah menutupi wajahnya. Ia masih memeluk erat buku harian dan foto ibunya.

Xavier berlutut di belakangnya. Ia mengabaikan jas mahalnya yang kini ikut basah kuyup terkena percikan air hujan yang masuk ke balkon. Ia tidak langsung menyentuh Aeryn, seolah takut wanita itu akan hancur jika ia melakukan kesalahan sedikit saja.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau bisa sakit," bisik Xavier. Tangannya terangkat, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya mendarat di bahu Aeryn yang bergetar.

Aeryn tersentak kecil, namun ia tidak menjauh. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap Xavier dengan mata yang merah dan sembab. Wajahnya yang biasanya cantik dan tegar kini terlihat sangat hancur.

"Kenapa kau peduli jika aku sakit?" tanya Aeryn, suaranya serak dan nyaris habis. "Aku hanya asetmu, bukan? Jika perisaiku retak, kau tinggal menggantinya dengan yang baru."

Xavier terdiam. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan luka yang dalam saat melihat kondisi Aeryn. Ia melihat foto Maryam yang didekap Aeryn—foto yang seharusnya tetap terkunci di lacinya.

"Aeryn, masuklah ke dalam. Kita bicara," Xavier mencoba meraih tangan Aeryn untuk membantunya berdiri.

"Tidak!" Aeryn menepis tangan itu. "Katakan padaku, Xavier! Katakan padaku siapa yang membunuh Pak Herman! Katakan padaku apa hubungan keluargamu dengan kematian ibuku! Jangan sembunyi di balik merger atau London atau Singapura!"

Xavier menarik napas panjang, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Ia tidak lagi peduli pada citra atau kekuasaan. Di depan wanita yang sedang hancur ini, topengnya mulai retak.

"Herman adalah saksi yang terlalu banyak bicara, Aeryn. Ada pihak-pihak yang tidak ingin kasus Maryam dibuka kembali karena itu akan melibatkan nama-nama besar di negeri ini, bukan hanya ayahmu," ucap Xavier dengan suara yang sangat pelan.

"Dan kau? Kau di pihak mana?" Aeryn menatapnya tajam. "Apakah kau melindungiku, atau kau sedang mengurungku agar aku tidak menemukan fakta yang sebenarnya?"

Xavier tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru bergerak maju, menarik Aeryn ke dalam pelukannya dengan paksa namun penuh kelembutan. Ia mendekap kepala Aeryn di dadanya, membiarkan air hujan membasahi mereka berdua.

"Aku tidak pernah menandaimu sebagai aset, Aeryn," bisik Xavier di telinga Aeryn. Suaranya terdengar sangat jujur, sebuah kejujuran yang menakutkan bagi pria seperti dia. "Aku menyelamatkanmu karena aku harus. Karena jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

Aeryn mencoba meronta, namun tenaga Xavier terlalu kuat. Akhirnya, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia menangis di dada Xavier, meremas kemeja basah pria itu dengan segala keputusasaan yang ia miliki.

Xavier mengusap rambut Aeryn yang basah, tatapannya jauh menerawang ke arah kegelapan.

Xavier mengangkat tubuh Aeryn yang lemas dan membawanya masuk ke dalam kamar. Saat ia membaringkan Aeryn di tempat tidur dan menyelimutinya, Xavier tanpa sengaja menjatuhkan dompet kulitnya di atas nakas.

Aeryn, yang masih setengah sadar karena kedinginan, melihat dompet itu terbuka. Di dalam salah satu slot transparannya, bukan foto Maryam yang ia temukan. Bukan pula kartu identitas atau foto wanita dewasa.

Di sana, terselip sebuah foto kecil yang sudah sangat lama. Foto seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan pita merah di rambutnya, sedang memegang kuncup bunga lili. Anak itu adalah Aeryn.

Namun yang membuat Aeryn terpaku adalah tulisan kecil di pojok foto itu, dalam tulisan tangan Xavier saat masih remaja: "My Little Queen. 2005."

Xavier menyadari Aeryn melihat foto itu. Ia segera menutup dompetnya, namun sorot matanya yang penuh rahasia kini tak bisa lagi disembunyikan.

Aeryn menatap Xavier dengan pandangan yang kosong namun menuntut. "Foto itu... kau sudah mengenalku jauh sebelum Kaelan datang? Kau sudah mengawasiku sejak aku masih kecil?"

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!