Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: GOTONG ROYONG VS DOLAR
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik, namun Gang Tebet sudah mendidih. Bukan karena panasnya udara Jakarta, tapi karena berita yang menyebar lebih cepat dari virus WhatsApp grup keluarga: Pabrik kain di Jawa Tengah memutus kontrak!
Biasanya, kabar begini akan membuat warga panik, menangis, atau saling menyalahkan. Tapi pagi ini, suasananya berbeda. Ada ketegangan, ya, tapi di bawahnya mengalir arus keyakinan yang aneh.
Di halaman Masjid Ar-Rahman, ratusan ibu-ibu sudah berkumpul. Mereka tidak membawa spanduk protes atau membakar ban seperti aksi demo pada umumnya. Mereka membawa tupperware berisi nasi uduk, botol-botol air mineral gelas, dan yang paling khas: tikar pandan yang digelar berjejer rapi di atas aspal panas.
Bu Lik Minah, dengan daster batik lusuhnya, berdiri di depan kerumunan, tangannya berkacak pinggang. Wajahnya yang biasanya suka bergosip kini tampak garang seperti panglima perang.
"Heh! Ibu-ibu!" teriak Bu Lik Minah, suaranya melengking khas emak-emak kampung yang punya otoritas alami. "Jangan ada yang nangis! Jangan ada yang lemes! Kata Pak Ustadz Aris, kita lagi diuji sama setan berwujud bule! Kalau kita nangis, berarti kita kalah sama setan! Malu sama nenek moyang!"
"Benar, Bu Lik!" sahut Bu RT sambil membagi-bagikan kopi sachet yang diseduh air panas dari termos besar. "Kita ini orang Indonesia. Dijepit malah makin kuat! Dijatuhan batu malah jadi tangga!"
Suasana itu sangat Indonesia. Di tengah ancaman kebangkrutan, mereka justru mengadakan "arisan darurat". Ada yang menyumbangkan telur, ada yang menyumbangkan beras, ada yang menyumbangkan tenaga untuk menjahit manual jika mesin berhenti. Konsep gotong royong yang sudah mendarah daging tiba-tiba bangkit dengan kekuatan dahsyat.
Tiba-tiba, pintu rumah mewah Aris terbuka. Aris keluar, masih dengan gamus putihnya, tapi kali ini ia tidak sendirian. Ia didampingi oleh para sesepuh kampung, Pak RT, dan tentu saja, Rina yang terlihat pucat namun tetap tegar.
Warga langsung hening. Ribuan mata tertuju pada Aris. Tidak ada sorakan histeris, hanya keheningan penuh harap yang khusyuk.
Aris berjalan menuju mimbar darurat yang dibuat dari tumpukan peti kayu bekas. Ia tidak menggunakan pengeras suara mahal. Ia hanya mengangkat tangan, dan secara ajaib, ribuan orang di situ menahan napas agar bisa mendengar suaranya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudaraku," mulai Aris, suaranya tenang namun menembus dada. "Kalian sudah tahu kabarnya. Pabrik kain milik konglomerat Amerika memutuskan hubungan kita. Mereka pikir dengan satu tanda tangan, kita akan mati kelaparan. Mereka pikir kita akan saling berebut sisa remah-remah."
Aris tersenyum, senyum yang menenangkan
"Tapi mereka lupa siapa kita. Mereka lupa bahwa kita hidup di tanah di mana tetangga mati lapar adalah aib bagi tetangga sebelahnya. Mereka lupa bahwa di negeri ini, satu liter beras dibagi sepuluh orang, semuanya tetap kenyang karena berkahnya
Warga mengangguk serempak. Beberapa ibu mengusap air mata, tapi kali ini air mata semangat.
"Maka, mulai hari ini," seru Aris lantang, "kita ubah strateginya. Kita tidak butuh pabrik besar itu. Kita punya 'pabrik' di setiap ruang tamu rumah kalian! Ibu yang punya mesin jahit, jadikan ruang tamu sebagai lini produksi. Bapak yang punya kemampuan memotong pola, buka bengkel potongan di teras. Kita pecah orderan besar menjadi ribuan orderan kecil yang kita kerjakan bersama!"
"Siap, Pak Ustadz!" teriak para bapak-bapak serempak.
"Dan soal bahan baku?" tanya seorang ibu dari barisan belakang. "Kalau stok kain habis bagaimana?"
Aris tertawa renyah. "Tenang, Bu. Gudang yayasan kita masih punya stok cadangan untuk tiga bulan ke depan. Dan saya sudah menghubungi teman-teman pengusaha tekstil di Solo dan Pekalongan. Mereka bukan sekadar mitra bisnis, mereka adalah saudara seperguruan saya di masa lalu. Truk-truk mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Malam ini juga bahan baku akan tiba!"
Sorak sorai meledak. Tepuk tangan riuh rendah menggema di gang sempit itu. Warga saling berpelukan, saling menyemangati. Energi kolektif itu begitu kuat, seolah membentuk perisai tak kasat mata di sekitar kampung tersebut.
Di sudut kerumunan, Bagus si pengusaha muda sukses mengambil alih komando logistik. "Bapak-bapak muda, ikut saya! Kita siapkan gudang bekas sekolah untuk tempat penampungan bahan baku! Yang punya mobil pikul, kumpulkan di depan masjid!"
"Ayo, Bu! Kita bagi tugas jahit! Yang jago bordir di kiri, yang jago pasang kancing di kanan!" perintah Bu Lik Minah lagi, sibuk mengatur barisan seperti general di medan perang.
Ini adalah pemandangan yang tidak akan pernah dipahami oleh Victoria Sterling. Di matanya, ini adalah kekacauan orang miskin yang putus asa. Tapi sebenarnya, ini adalah mesin raksasa bernama Solidaritas. Mesin yang tidak butuh BBM, hanya butuh kepercayaan dan rasa persaudaraan.
Sementara itu, di sebuah kafe mewah di pusat kota Jakarta, Victoria Sterling sedang menikmati makan siangnya yang mahal. Ia membuka tablet-nya, expecting laporan tentang kepanikan massal di Tebet, tentang warga yang saling bunuh demi sisa pekerjaan.
Tapi yang ia lihat di layar adalah video viral yang baru saja diunggah warganet.
Judul videonya: "Teбет Bangkit: Gotong Royong Lawan Konglomerat Asing".
Isi video itu bukan tangisan. Tapi tawa. Ibu-ibu yang bernyanyi sambil menjahit. Bapak-bapak yang gotong royong menurunkan karung kain dari truk dengan semangat 45. Anak-anak muda yang membantu mengemas produk dengan senyum lebar. Dan di tengah-tengahnya, Aris sedang duduk lesehan di atas tikar, makan nasi bungkus bersama warga, tanpa sekat antara si kaya dan si miskin.
Victoria membanting tabletnya ke meja. Kopi mahalnya tumpah.
"What is this?!" teriaknya frustrasi dalam bahasa Inggris. "Why are they not crying? Why are they laughing? This makes no sense! Money should make them beg!"
Asistennya, seorang pria lokal yang sepertinya mulai ragu dengan bosnya, menjawab pelan. "Maaf, Nona Victoria. Anda mungkin tidak mengerti. Di sini, uang itu penting. Tapi harga diri dan kebersamaan itu jauh lebih mahal. Semakin Anda menekan mereka, semakin mereka bersatu. Ini... ini budaya kami. Anda tidak bisa membelinya."
Victoria mendengus marah. "Budaya kuno! Ketinggalan zaman! Mereka akan kalah saat uang mereka habis! Tunggu saja!"
Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Victoria mulai merasa takut. Ia menyadari bahwa ia sedang berperang melawan sesuatu yang tidak memiliki bentuk fisik, tidak memiliki kantor pusat, dan tidak bisa dibangkrutkan. Ia sedang berperang melawan jiwa sebuah bangsa.
Kembali ke Tebet, sore itu berubah menjadi pesta kerja. Aroma masakan gulai dan ikan asin mengepul dari berbagai rumah, bercampur menjadi satu aroma khas kampung yang mengundang selera. Tidak ada yang merasa lapar meski kerja keras.
Aris duduk di samping Rina, melihat warganya bekerja dengan bahagia.
"Lihat, Rin," bisik Aris. "Ini kekayaan sejati. Victoria punya miliaran dolar di bank, tapi dia miskin teman, miskin saudara, miskin kebahagiaan. Kita mungkin tidak punya uang sebanyak dia, tapi kita punya ribuan keluarga yang siap mati untuk satu sama lain. Siapa yang sebenarnya kaya?"
Rina tersenyum, memegang perutnya yang mulai membesar. "Kita, Kak. Kita yang paling kaya."
Malam turun, lampu-lampu rumah warga menyala terang benderang, seolah menantang kegelapan yang coba dibawa oleh Victoria. Di gang itu, mesin-mesin jahit berdengung menciptakan simfoni perjuangan. Sebuah simfoni khas Indonesia yang tidak akan pernah bisa dibungkam oleh dolar manapun.
Dan Aris? Ia hanya duduk diam, tersenyum misterius. Ia tahu, besok pagi, berita ini akan sampai ke telinga para investor Victoria. Bahwa menyerang rakyat Indonesia yang sedang bergotong royong adalah bunuh diri bisnis. Langkah Victoria telah mentok. Skakmat sudah di depan mata, bukan oleh strategi licik, tapi oleh kekuatan sederhana bernama: Kemanusiaan.
Bersambung...