Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Terlarang dan Sinyal yang Hilang
Kekacauan di stasiun kereta gantung Alpen seharusnya menjadi akhir dari pengejaran maut hari itu. Namun, alam memiliki cara tersendiri untuk menguji nyali mereka yang berani menantang takdir. Mobil taktis yang dikemudikan Marco terpaksa berhenti mendadak di tepi sebuah lembah yang tertutup kabut tebal berwarna hijau lumut. Di depan mereka, pepohonan raksasa dengan dahan yang saling melilit seperti jemari raksasa berdiri kokoh, menciptakan gerbang alami menuju wilayah yang dikenal penduduk lokal sebagai Il Bosco Silenzioso—Hutan Tanpa Suara.
"Tuan, mesinnya mati total," lapor Marco dengan nada heran. Ia mencoba memutar kunci kontak berkali-kali, namun kendaraan lapis baja itu tetap membisu.
Aiden Volkov memeriksa ponsel satelit di tangannya. Layar digital itu berkedip liar sebelum akhirnya padam sepenuhnya. "Bukan mesinnya yang rusak, Marco. Sesuatu di lembah ini memancarkan anomali elektromagnetik yang sangat kuat. Semua teknologi modern kita tidak berguna di sini."
Ziva, yang masih memeluk ulekan batunya, turun dari mobil dengan wajah waspada. "Bang Don, gue punya firasat nggak enak. Ini hutannya kayak lagi ngelihatin kita. Kayak ada mata di balik pohon-pohon itu."
Aiden turun dan segera menarik Ziva ke dekatnya. "Jangan jauh-jauh dariku. Kita harus berjalan kaki menembus hutan ini jika ingin sampai ke titik penjemputan analog di sisi lain lembah."
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam hutan, suasana berubah drastis. Suara deru helikopter musuh di kejauhan mendadak hilang, seolah teredam oleh dinding udara yang padat. Di dalam sini, bahkan suara langkah kaki mereka di atas dedaunan kering terdengar sangat pelan, nyaris seperti bisikan.
"Sinyal beneran hilang total, Bang," ucap Ziva sambil menatap layar ponselnya yang hitam. "Gue berasa balik ke zaman batu. Kalau kita nyasar di sini, gimana cara manggil bantuan? Pakai asap? Gue nggak bawa korek!"
"Kita gunakan insting, Ziva. Hutan ini mungkin bisa mematikan alat elektronik, tapi ia tidak bisa mengubah arah mata angin," Aiden menatap lumut yang tumbuh di sisi pepohonan. "Ikuti aku."
Mereka berjalan selama berjam-jam. Pepohonan di sana tampak identik, menciptakan labirin hijau yang membingungkan. Kabut semakin tebal, membuat jarak pandang hanya tersisa tiga meter. Ketegangan meningkat saat mereka mulai mendengar suara-suara aneh—bukan suara binatang, melainkan suara denting logam yang saling beradu di kejauhan.
"Mereka mengejar kita ke dalam sini?" bisik Marco sambil memeriksa pistol manualnya—satu-satunya senjata yang masih berfungsi karena tidak menggunakan sistem pengamanan elektronik.
"Tidak," Aiden berhenti. "Musuh kita di sini bukan lagi The Crimson Fang. Ada kelompok lain yang menghuni hutan terlarang ini."
Dari balik kabut, muncul sekelompok pria dengan pakaian yang sangat aneh. Mereka mengenakan jubah abu-abu yang terbuat dari serat tanaman dan topeng kayu yang menyerupai wajah serigala. Mereka tidak membawa senapan, melainkan busur panah besar dan tombak dengan ujung batu obsidian yang tajam.
"Siapa mereka, Bang? Cosplayer hutan?" Ziva berbisik ketakutan.
"Mereka adalah I Custodi di Pietra—Para Penjaga Batu. Kelompok kuno yang mengisolasi diri dari dunia luar. Bagi mereka, teknologi adalah racun, dan siapa pun yang membawa 'logam bicara' ke sini dianggap sebagai ancaman," jelas Aiden.
Pemimpin kelompok itu maju, mengacungkan tombaknya ke arah dada Aiden. Ia mengucapkan kata-kata dalam dialek Italia kuno yang sulit dimengerti.
"Dia bilang kita telah mengotori tanah suci mereka dengan kehadiran kita," Aiden mencoba bernegosiasi. "Aku adalah Aiden Volkov. Kami hanya menumpang lewat untuk menyelamatkan diri dari pembunuh yang mengejar kami."
Namun, para penjaga itu tidak peduli pada nama besar sang Raja Mafia. Mereka menganggap hilangnya sinyal dan matinya mesin mobil sebagai tanda bahwa hutan sedang marah. Situasi memanas saat salah satu pengawal Aiden secara tidak sengaja menginjak simbol suci yang terukir di tanah.
WUSSS!
Sebuah anak panah melesat, menancap tepat di depan kaki Ziva. Pertempuran pecah seketika. Karena pistol mereka sering macet akibat kelembapan dan anomali hutan, mereka terpaksa bertarung dengan tangan kosong dan senjata seadanya.
Aiden bergerak dengan kelincahan seorang predator. Ia merebut sebuah tombak dari tangan lawan, memutarnya, dan menjatuhkan tiga orang sekaligus dengan gerakan akrobatik. Marco menggunakan pisau komandonya untuk menangkis serangan jarak dekat.
Ziva, yang terdesak ke arah sebuah pohon besar, melihat seorang penjaga bersiap melepaskan anak panah ke arah punggung Aiden.
"BANG DON! AWAS!"
Ziva tidak punya pilihan. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan satu-satunya "senjata" yang tidak terpengaruh oleh anomali magnetik: ulekan batu legendarisnya. Dengan sekuat tenaga, ia melempar ulekan itu ke arah si pemanah.
DUKK!
Ulekan itu menghantam dahi si penjaga hingga ia terjungkal ke belakang. Ulekan itu memantul di tanah salju dan kembali diambil oleh Ziva dengan sigap. "Makan tuh batu Cirebon! Jangan berani-berani lu nembak Bang Don!"
Aiden melihat aksi Ziva dan tersenyum tipis di tengah kepungan musuh. "Kerja bagus, Ziva! Tetap di belakangku!"
Di tengah pertempuran, tiba-tiba terdengar suara dengungan tinggi yang memilukan telinga. Para penjaga hutan itu mendadak berhenti dan bersujud ke arah sebuah batu altar besar di tengah hutan. Di atas batu itu, sebuah bongkahan kristal alami memancarkan cahaya biru yang menyilaukan.
Aiden menyadari sesuatu. Kristal itulah sumber anomalinya. Saat kristal itu berdenyut, ponsel di saku Aiden mendadak menyala kembali selama beberapa detik.
"Sinyal! Bang, ada sinyal!" teriak Ziva melihat ponselnya bergetar.
Aiden segera memanfaatkan momen itu. Ia menekan tombol darurat di jam tangannya yang kini aktif kembali. Sinyal itu hanya bertahan sepuluh detik, namun cukup untuk mengirimkan koordinat GPS mereka ke satelit cadangan Volkov Corp.
"Sinyal hilang lagi," ucap Aiden saat cahaya kristal itu meredup.
Pemimpin para penjaga mendekati Aiden. Kali ini, ia tidak mengangkat tombaknya. Ia melihat ulekan batu di tangan Ziva dengan tatapan kagum. Ia menyentuh permukaan batu ulekan itu dan bergumam, "Pietra Antica... Pietra Sacra."
"Dia bilang... batu milikmu adalah batu kuno yang suci, Ziva," Aiden menerjemahkan dengan nada heran. "Dia pikir kau adalah bagian dari mereka karena kau membawa senjata dari batu bumi, bukan logam buatan manusia."
Berkat ulekan batu Ziva, para penjaga hutan itu akhirnya mengizinkan mereka lewat. Bahkan, mereka dipandu menyusuri jalan setapak rahasia yang tidak terdeteksi oleh pemindai panas helikopter musuh.
Malam itu, mereka terpaksa bermalam di dalam gua suci milik para penjaga. Di sana, tidak ada lampu listrik, hanya ada api unggun yang berderak. Aiden duduk di samping Ziva, menyelimutinya dengan kain tenun kasar pemberian penduduk hutan.
"Bang... gue nggak nyangka ulekan emak gue bisa jadi paspor di hutan ini," gumam Ziva sambil mengelus permukaan batu ulekannya. "Kayaknya emak gue emang udah ngeramal kalau gue bakal ketemu mafia posesif dan nyasar di hutan Italia."
Aiden merangkul bahu Ziva, menariknya lebih dekat ke dadanya. "Dunia ini luas, Ziva. Dan terkadang, hal yang paling sederhana adalah yang paling kuat. Teknologi bisa gagal, sinyal bisa hilang, tapi insting dan sesuatu yang berasal dari hati—seperti keinginanmu melindungiku tadi—tidak akan pernah padam."
Ziva menatap wajah Aiden yang terkena pantulan api unggun. Garis-garis tegas di wajah pria itu tampak lebih lembut malam ini. "Bang Don, kalau nanti kita balik ke Milan, lu masih mau jadi mafia yang galak? Apa mau jadi penjaga hutan aja pakai topeng kayu?"
Aiden tertawa pelan, tawa yang sangat jarang ia keluarkan. "Aku akan tetap menjadi Aiden Volkov. Tapi mungkin... aku akan lebih sering mendengarkan insting 'asisten semprul'-ku ini."
Pagi harinya, saat mereka sampai di pinggiran hutan, sinyal di semua perangkat mereka mendadak kembali penuh. Suara bising dari radio komunikasi Marco pecah, menampilkan suara tim penyelamat yang sudah berada di radius satu kilometer.
"Tuan! Helikopter penjemput sudah mendarat di koordinat yang Anda kirimkan semalam!" lapor Marco dengan lega.
Aiden berdiri di tepi hutan, menatap kembali ke arah pepohonan raksasa yang kini tertutup kabut putih. Ia merasa hutan terlarang itu telah mengajarkannya satu hal: bahwa kekuasaan sebesar apa pun bisa lumpuh dalam sekejap, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang berdiri di sampingmu saat kegelapan datang.
Ziva melambaikan tangan ke arah para penjaga hutan yang berdiri di kejauhan. "Dah, Bang Serigala! Makasih tumpangannya! Kapan-kapan mampir ke Jakarta, gue masakin seblak pake batu suci ini!"
Aiden menggelengkan kepala, lalu menggendong Ziva masuk ke dalam helikopter yang sudah menunggu. Saat helikopter itu terbang menjauh, Ziva melihat dari jendela. Hutan terlarang itu seolah menghilang ditelan kabut, kembali menjadi misteri yang tak terjamah.
"Bang Don," panggil Ziva.
"Hmm?"
"Lain kali kalau mau kabur dari pembunuh bayaran, jangan lewat hutan yang sinyalnya hilang ya? Gue nggak bisa pesan makanan online kalau laper."
Aiden mencium kening Ziva dengan lembut. "Janji. Mulai sekarang, kita akan pastikan sinyal cinta kita tidak akan pernah hilang, Ziva."
Ziva tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu sang Raja Mafia. Perjalanan di hutan terlarang telah berakhir, namun bagi mereka berdua, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai kembali di kota Milan yang penuh dengan intrik dan bahaya—namun kali ini, dengan kekuatan "batu suci" dan hati yang saling terikat.