NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-18

Malam harinya...

Hujan turun cukup deras membasahi kota, seolah ikut meratapi suasana hati Nara yang sedang kelabu. Wanita itu duduk di sofa ruang tamunya, memeluk lutut sambil menatap kosong ke layar televisi yang tak bersuara.

Pikirannya kembali ke kejadian siang tadi. Arkan dan Sarah yang terlihat begitu serasi, begitu bahagia.

"Sudah... sudah cukup Nara. Jangan berharap lagi," bisiknya pelan. "Besok aku akan minta pindah divisi, atau... mungkin mengundurkan diri. Lebih baik aku hilang dari pandangan mereka daripada sakit hati terus begini."

Tepat saat ia hendak berdiri untuk mengambil minum...

Brak! Brak! Brak!

Suara ketukan pintu yang sangat keras dan panik terdengar dari luar, bersahutan dengan suara hujan.

Nara terkejut. "Siapa malam-malam begini?"

Dengan hati-hati ia mengintip dari lubang intip, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di luar, berdiri sosok Arkan. Pria itu basah kuyup! Jasnya sudah dilepas, kemejanya basah menempel di badan, rambutnya meneteskan air, dan wajahnya terlihat panik setengah mati.

Nara buru-buru membuka pintu.

"Ya ampun Bapak ini kenapa?! Hujan-hujanan begini! Masuk cepat!" seru Nara refleks, otomatis sikap pedulinya muncul.

Arkan masuk tanpa dipinta dua kali. Ia tidak peduli basah membasahi lantai ruangan Nara. Matanya hanya fokus menatap wanita itu.

"Kenapa Bapak kesini? Bapak kan harusnya sama Sarah di restoran atau di mana gitu..." ucap Nara mencoba kembali bersikap dingin dan menjaga jarak, berjalan mundur saat Arkan maju mendekat.

"Gak peduli Sarah! Gak peduli apa kata orang!" potong Arkan cepat, suaranya berat dan bergetar. Ia menahan bahu Nara agar tidak lari kemana-mana.

"Aku kesini karena aku gak tahan, Nar! Aku gak tahan liat kamu berubah jadi orang asing! Aku gak tahan kamu dingin-dingin gini sama aku!"

Nara menunduk, berusaha melepaskan tangan Arkan. "Itu kan memang seharusnya begitu, Pak. Saya bawahan, Bapak bos. Harusnya profesional."

"PROFESIONAL APANYA?!" teriak Arkan, tapi tidak marah, melainkan terdengar sangat frustrasi dan terluka. "Kamu pikir aku selama ini baik sama kamu, belain kamu, cemburu sama Dimas, itu karena profesional?! Kamu buta apa gimana sih, Nar?!"

Arkan menarik napas panjang, menatap tajam ke dalam mata Nara.

"AKU CINTA SAMA KAMU! DENGER ITU?! AKU CINTA BUKAN KARENA KAMU SEKRETARIS KU, TAPI KARENA KAMU ITU NARA! WANITA YANG AKU CINTA!"

Suara itu bergema keras di ruangan kecil itu. Nara terpaku, matanya terbelalak, air matanya tiba-tiba meluncur deras.

"Jangan bohong... jangan bercanda Pak..." isak Nara lemah, menggoyangkan kepala. "Ada Sarah... dia cantik, dia muda, dia pantas buat Bapak. Aku ini apa? Wanita tua, bekas, gak pantas..."

Cup!

Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, Arkan langsung menarik pinggang Nara dan menciumnya dengan sangat dalam, sangat lembut, namun penuh penekanan.

Ciuman itu bukan ciuman nafsu, tapi ciuman yang mengatakan segalanya. Ciuman yang membuktikan bahwa di hati pria ini, hanya ada nama Nara.

Beberapa detik kemudian Arkan melepaskannya perlahan, lalu menempelkan dahinya ke dahi Nara. Napas mereka memburu bersamaan.

"Jangan pernah bandingkan kamu sama orang lain," bisik Arkan parau, air matanya bahkan ikut jatuh. "Di mata aku, kamu itu paling sempurna. Sarah itu masa lalu, Nar. Masa lalu! Kamu itu masa depanku."

"Aku sayang kamu, Nara Amanda. Sangat sayang. Jadi tolong... jangan jauhi aku lagi. Aku mati rasanya kalau kamu gak ngomel sama aku lagi."

Nara menangis tersedu-sedu, semua tembok pertahanannya runtuh seketika. Ia memukul pelan dada Arkan yang basah.

"Brengsek... kenapa sih susah banget dimengertiin... kenapa baru bilang sekarang..." ratapnya, lalu langsung memeluk tubuh pria itu erat-erat, menumpahkan semua rindu dan ketakutannya di sana.

Arkan membalas pelukan itu dengan sangat kuat, seolah tidak mau melepaskan Nara selamanya.

"Mulai sekarang... gak ada Bos dan Sekretaris. Cuma ada aku dan kamu," bisik Arkan di telinga Nara.

________

Pagi itu suasana hati Nara benar-benar berbeda. Ada senyum tipis yang tak bisa hilang dari wajahnya, dan langkahnya terasa lebih ringan.

Ini Ia da Arkan resmi berpacaran..

Mereka sepakat. Hubungan ini tetap menjadi rahasia besar. Nara yang masih merasa minder dan takut omongan miring karyawan lain, meminta Arkan untuk tidak mengumbar kemesraan di depan umum.

"Janji ya Pak... eh maksudnya Sayang. Di kantor tetep Bos dan Sekretaris. Gak boleh cemburu buta seenaknya, gak boleh pegang-pegang sembarangan," pesan Nara saat di dalam lift pagi itu.

Arkan mendengus malas tapi tetap menurut. "Iya iya... tapi hak pegang tangan pas lagi sendirian tetep ada ya."

"Siap!"

Dan benar saja, seharian itu mereka berjalan seimbang. Di depan orang lain, Nara tetap setia menjadi sekretaris yang rapi, tegas, dan profesional. Arkan pun tetap menjadi Bos yang dingin dan berwibawa.

Namun... siapa yang bisa menahan hati yang sedang jatuh cinta?

Saat tidak ada orang atau saat pintu ruangan tertutup, sikap Arkan berubah 180 derajat jadi manja banget.

Ceklek...

Pintu ruangan tertutup rapat. Arkan langsung berdiri dari kursi besarnya dan menarik Nara ke dalam pelukan.

"Hhh... akhirnya bisa peluk juga. Kangen banget tau gak sih cuma pisah beberapa jam doang," rengek Arkan sambil menggesekkan wajahnya ke leher Nara layaknya anak kucing.

Nara tertawa kecil sambil membelai rambut hitam pria itu. "Iya sayang... sabar dong. Kan lagi jam kerja. Nanti ketahuan gimana?"

"Gak bakal ketahuan kok. Aku kunci pintunya," bisik Arkan lalu mencuri kecupan cepat di pipi Nara. "Ini kopinya enak banget sayang. Makasih ya."

"Sama-sama, Bosku sayang."

Momen-momen kecil seperti itu yang membuat hari-hari mereka penuh warna. Tatapan mata yang saling melempar kode cinta, senyum terselip saat berpapasan, atau pesan singkat mesra yang dikirim saat duduk bersebelahan tapi tak bisa bicara.

tapi meski begitu penggangu tetap ada..

Masalah muncul lagi saat jam makan siang.

Arkan dan Nara sedang duduk berdua di rooftop kantor yang agak sepi, menikmati makan siang dengan tenang. Arkan sedang sibuk mengupas buah untuk Nara, perlakuan manis yang tak pernah ia lakukan pada siapa pun sebelumnya.

Tiba-tiba...

"Eh? Kok kalian berdua disini?"

Suara itu membuat mereka berdua tersentak. Sarah muncul dengan wajah sok ceria, diikuti oleh beberapa teman sosialitanya.

Mata Sarah langsung menyipit melihat potongan buah di piring Nara dan cara Arkan menatap wanita itu dengan sangat lembut. Ada rasa tidak enak yang mulai muncul di dadanya.

"Loh Sarah..." Arkan langsung mengubah wajahnya kembali menjadi datar dan dingin. "Ada apa?"

"Gak ada apa-apa kok. Cuma lagi cari tempat makan yang enak aja," jawab Sarah sinis. Ia lalu berjalan mendekat dan sengaja menyenggol bahu Nara pelan.

"Tante Nara nih ya... untung rajin banget nemenin Bos makan siang. Sampai dikupasin buah segala. Emang pekerjaan sekretaris itu sampai segitunya ya melayani?" ucapnya keras agar teman-temannya mendengar.

Nara langsung menunduk sedikit, rasa minder itu kembali muncul. Ia ingin menarik tangannya, tapi Arkan lebih cepat memegang tangan Nara di bawah meja, mengenggamnya erat memberi kekuatan.

"Bukan soal pekerjaan, Sarah," potong Arkan dingin, suaranya mulai terdengar tidak suka. "Nara melakukan itu karena dia mau. Dan aku melakukan itu karena aku ingin."

Arkan menatap tajam ke arah Sarah. "Dan tolong jangan panggil Tante seenaknya. Dia lebih tua dari kamu, dan kamu harus menghormati dia sebagai senior."

Wajah Sarah memerah menahan malu dan marah. Tak disangka Arkan akan membela Nara sekeras itu di depan orang lain.

"Oh... jadi sekarang pembelaan banget ya? Padahal dulu kan aku yang selalu kamu layani kayak gini," cecar Sarah tak terima.

"Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang, dan tolong ini kantor ku, bukan tempat seenak kamu datangi, lain kali kalau tidak ada yang penting jangan kesini lagi,"jawab Arkan tegas. Ia lalu berdiri, mengambil tangan Nara. "Kita pindah tempat saja, disini berisik dan udaranya kurang segar."

Arkan menggandeng tangan Nara pergi meninggalkan Sarah yang terpaku menahan amarah di tempatnya.

Sepanjang jalan, Nara masih terlihat sedikit sedih. "Kenapa sih dia selalu gitu ke aku, Kan? Aku takut nanti dia bikin fitnah atau apa..."

Arkan berhenti, menatap wajah Nara dalam-dalam.

"Biarkan saja dia mau ngomong apa. Yang penting kamu tahu, dan aku tahu, siapa yang ada di hati aku sekarang," ucap Arkan lembut. "Dan mulai sekarang... aku gak akan biarin siapapun nyakitin atau merendahkan kamu lagi. Ngerti?"

Nara mengangguk pelan, hatinya kembali hangat.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!