NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. Kunjungan Eyang Utari

Baru saja Nala hendak melepas kemeja kerjanya yang terasa mencekik setelah simulasi wawancara, bel pintu Unit 402 berbunyi dengan irama yang sangat bersemangat.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, seolah-olah sang tamu sedang menabuh genderang perang.

Saga mengintip melalui lubang kamera pintu dan seketika tubuhnya membeku. Wajahnya yang biasanya pucat kini berubah menjadi seputih tembok apartemennya.

"Siapa, Mas? Paket belanjaan aku ya?" tanya Nala polos sambil menghampiri.

"Lebih parah dari paket," bisik Saga dengan suara bergetar. "Eyang Utari. Dan dia membawa... pasukan."

Sebelum Saga sempat menyusun rencana pelarian ke balkon, pintu sudah didorong dari luar. Masuklah seorang wanita lansia dengan kebaya encim yang sangat elegan, kacamata berbingkai emas, dan aura otoritas yang bisa membuat seorang jenderal pun menciut. Di belakangnya, dua orang asisten tampak keberatan membawa tumpukan kotak seserahan, keranjang buah raksasa, hingga satu set sprei sutra.

"Saga! Cucu kesayangan Eyang yang paling kaku kayak penggaris!" seru Eyang Utari tanpa basa-basi. Matanya langsung tertuju pada Nala yang masih mematung dengan kemeja putih dan rok span.

"Dan ini... Nala? Ya ampun, aslinya jauh lebih manis daripada di foto grup keluarga!" Eyang Utari langsung memeluk Nala dengan wangi melati yang sangat menenangkan namun dominan.

Nala melirik Saga dengan tatapan 'Tolong saya!', tapi Saga hanya bisa berdiri kaku.

"Eyang... kenapa nggak kasih kabar kalau mau ke Jakarta?"

"Kalau kasih kabar, kamu pasti cari alasan lagi buat menghindar!" Eyang Utari duduk di sofa dengan anggun, matanya memindai seluruh ruangan.

"Eyang ke sini karena terlalu bahagia. Akhirnya, setelah bertahun-tahun Eyang pikir kamu akan menikah dengan maket-maket bangunanmu itu, muncul juga gadis pemberani yang mau mengurus kamu."

Eyang memberi isyarat pada asistennya untuk meletakkan semua barang di atas meja makan marmer Saga yang suci.

"Ini semua bentuk rasa syukur Eyang. Ada kain batik tulis untuk kalian pakai lamaran, ada jamu khusus supaya Saga nggak loyo pas kerja, dan ini..." Eyang mengangkat sebuah kotak kecil berwarna beludru merah.

"Perhiasan turun-temurun untuk calon pengantin wanita."

Nala hampir saja pingsan. "E-Eyang... ini terlalu banyak. Nala nggak enak..."

"Nggak enak itu kalau jamunya nggak diminum, Sayang," potong Eyang Utari sambil meraih tangan Nala dan menyelipkan sebuah gelang emas kuno yang tampak sangat berat dan mahal. "Eyang sudah dengar dari Sofia. Katanya kalian sudah... ehem, 'satu atap' duluan sebelum sah. Eyang ini orang lama, tapi Eyang modern. Yang penting kalian bertanggung jawab dan cepat-cepat diresmikan bulan depan."

Saga memejamkan mata, menahan malu yang sudah mencapai ubun-ubun. "Eyang, itu cuma salah paham soal menginap kemarin..."

"Sudah, jangan membela diri! Wajahmu yang merah itu sudah menjelaskan semuanya," Eyang terkekeh, lalu menatap selotip hitam yang masih menempel di lantai.

"Lho, ini apa? Kenapa ada selotip hitam di lantai rumah bagus begini? Saga, kamu sedang menandai area bangunan yang retak?"

Nala dengan sigap menyahut sebelum Saga sempat bicara. "Oh, itu... itu alat bantu latihan jalan buat Nala, Eyang! Biar kalau pakai high heels jalannya tetap lurus dan anggun di pelaminan nanti!"

Eyang Utari manggut-manggut penuh kekaguman. "Wah, kreatif sekali! Memang calon istri Saga ini luar biasa."

Selama dua jam berikutnya, Unit 402 berubah menjadi ruang pameran kado. Eyang Utari dengan semangat membongkar satu per satu hadiahnya, termasuk satu set sprei berwarna merah menyala yang ia paksa pasang di tempat tidur Saga saat itu juga.

"Sprei merah ini simbol kebahagiaan. Biar kamar ini nggak kelihatan kayak kantor konsultan terus!" ujar Eyang sambil mengomando asistennya naik ke lantai atas.

Saga hanya bisa berdiri di sudut ruangan dengan tangan mengepal. "Eyang, jangan ke atas... atas berantakan..."

"Nggak apa-apa! Biar Eyang lihat sejauh mana calon cucu menantu Eyang ini bisa merapikan kekacauanmu!"

Nala terpaksa ikut naik ke atas, membantu memasang sprei merah itu di bawah tatapan tajam Saga yang seolah ingin menelan Nala hidup-hidup. Saat Eyang sedang asyik menata bantal, Saga menarik tangan Nala ke sudut kamar.

"Nala, gelang itu harus kamu kembalikan nanti," bisik Saga dengan nada mendesak. "Itu pusaka keluarga. Kalau kamu pakai, artinya kamu benar-benar terikat."

"Gimana mau balikin sekarang, Mas? Eyang lagi liatin terus!" balas Nala dengan bisikan yang sama kencangnya.

"Lagian, sprei merah ini... kok jadi kerasa kayak kamar pengantin beneran ya? Horor banget!"

"Ini bencana, Nala. Benar-benar bencana," desah Saga.

Tiba-tiba Eyang Utari berbalik. "Saga, Nala, kemari. Eyang mau kalian foto berdua di depan sprei baru ini. Buat laporan ke keluarga besar kalau hadiah Eyang sudah terpasang!"

Saga dan Nala tidak punya pilihan lain.

Mereka duduk bersisian di tepi tempat tidur dengan sprei merah mencolok tersebut. Eyang Utari memegang ponselnya, bersiap mengambil gambar.

"Ayo, rangkul calon istrinya, Saga! Jangan kayak patung selamat datang!" perintah Eyang.

Saga perlahan melingkarkan tangannya di bahu Nala. Nala bisa merasakan detak jantung Saga yang tidak beraturan, atau mungkin itu detak jantungnya sendiri.

Saat lampu flash ponsel Eyang menyala, Nala tidak sengaja menoleh ke arah Saga, dan pada saat yang sama, Saga juga menoleh.

Hasil fotonya bukan lagi sekadar akting. Ada tatapan yang sangat aneh tertangkap di sana—tatapan dua orang yang terjebak, tapi entah kenapa, mulai merasa nyaman dalam jebakan tersebut.

"Cantik sekali!" Eyang Utari tersenyum puas.

"Satu bulan lagi, Unit 402 bukan lagi cuma tempat tinggal Saga yang dingin, tapi rumah untuk kalian berdua."

Setelah Eyang Utari pulang dengan membawa "laporan foto" yang pastinya akan viral lagi, Nala dan Saga duduk terdiam di ruang tamu yang kini dipenuhi tumpukan kado mewah.

"Mas..." panggil Nala pelan.

"Jangan ngomong apa-apa, Nala," sahut Saga, suaranya terdengar sangat lelah namun tidak lagi ketus.

"Saya mau tidur. Dan tolong... jangan pindahkan satu pun kotak hadiah itu. Saya lelah berdebat dengan takdir hari ini."

Nala melihat Saga berjalan naik ke atas, ke arah kamarnya yang kini ber-sprei merah menyala. Nala melihat gelang emas di pergelangan tangannya.

Tiba-tiba, rencana "mencari kerja dan membatalkan pernikahan" terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!