NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeprism4n Laia

Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.

Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.

Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.

Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Makan Malam Bersama

Rido hanya diam tenang menatap adegan haru di depannya, dia tidak mau mengganggu waktu kedua orang itu, karena dia memang tau embun sangatlah menyayangi bu wina bagaikan ibunya sendiri.

“maaf ya bi, saya tidak bisa menjemput dari rumah sakit, karena saya juga bekerja sekarang di perusahaan tuan muda, jadi gak bisa ada waktu malas malasan” seru embun setelah melepaskan pelukannya dari dekapan bu wina.

Bu wina mengangguk mengerti keadaan embun saat ini, dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya sendiri hanya untuk menjemputnya.

“Baiknya kita antarkan tuan muda masuk” ucap bu wina dengan mengalihkan pandangannya kearah Rido yang sedang menunggu mereka melepaskan rindu sendu.

“Iya bi” sahut embun dengan mengangguk, kemudian dia berbalik dan mendorong Rido masuk kedalam Mansion mereka.

Setelah mereka semua masuk kedalam kamar masing masing, seperti biasa embun langsung membereskan kerapian sang suami, mulai dari mandi sampai dengan memakaikan baju tidur, sedangkan dirinya langsung membersihkan diri setelah dia selesai membersihkan diri sang suami.

Rido dan Embun langsung bergabung di meja makan, karena mereka makan malam bersama, sedangkan embun hendak ingin pergi untuk kebelakang, namun tanganya langsung ditarik oleh Rido dan dia menyuruh embun untuk duduk di kursi sebelahnya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu diperusahaan nak? Apakah ada yang mempersulit kamu disana?” Tanya Tiaras kepada embun.

“Oh,, tidak bu, saya sangat senang bekerja, dan tidak ada yang mempersulit saya di tempat kerja” jawab embun dengan tersenyum, sambil dia melahap potongan ayam krispi di piringnya.

“Emm baguslah kalau begitu, kalau ada yang mempersulitmu disana, langsung bilang sama Rido untuk dia urus, kalau perlu langsung di pecat saja” ucap Tiaras dengan Sirius sambil dia melirik sang anak simata wayangnnya itu.

“uhu uhuk uhuk, tidak usah sampai segitunya kali bu, itu namanya sangat kejam loh” timpal embun dengan dia tersedak makanan di dalam mulutnya.

“Yah harus begitulah sayang, jangan sampai mereka semena mena dengan mantu kesayangan ibu di perusahaan sendiri” tegas Tiaras yang sambil melahap makananya dengan hikmad.

“Mantu kesayanangan apa’an? Mantu kesayangan kontrakan, hheeh” gumam embun di dalam hatinya, sambil dia melirik Rido yang sedang asik menyantap makanannya tanpa dia berkata apa apa sama sekali.

“Kau jangan coba coba berkata mengataiku di dalam hati ya, nanti ku congkel bibirmu yang komat kamit itu, kalau berani langsung saja ngomong” ucap Rido dengan masih menatap lurus keatas piring miliknya, yang membuat mata semua orang menjadi terbelalak kaget karena mendengar perkataan sang tuan muda yang tiba tiba.

Namun embun hanya bisa memonyongkan bibirnya dengan persaan biasa saja, karena dia sudah tau kalau perkataan sang suaminya itu tertuju untuk dirinya, karena memang sang suami sudah sering mengintipnya seperti itu.

“Hadeeehh, kenyang sekali saya jadinya” cerocos embun menanggapi perkataan sang suami yang hanya meliriknya dengan sedikit saja.

“Kamu jangan terlalu dingin sekali kalau bicara, biar nanti anak anakmu tidak mengikuti sifat dingin seperti itu” timpal Tiaras menanggapi perkataan anaknya itu.

Sedangkan Giancarlo baru saja sampai di meja makan, sehingga dia langsung mengelus perutnya yang sedikit buncit itu dengan berkata “oh ternyata sudah ada yang duluan, maaf ya saya terlambat, jadi gak bisa ikutan bersama kalian untuk makan”.

“Sudahlah cepetan duduk dan makan, biar kita nanti cepat istirahat” sahut Tiaras yang menuangkan nasi di piring sang suaminya.

Giancarlo mengedarkan pandangannya keseluruh arah, dia melihat Rido dan Embun yang sedang duduk bersama sambil melahap makanan mereka.

“eh nak embun ada disini? Bagaimana hari pertamamu di perusahaan? Apakah menyenangkan?” Tanya Giancarlo sambil dia meraih gelas yang ada diatas meja makan.

Embun tersenyum sopan ketika dia melihat kearah sang tuan besar itu, kemudian dia berkata “iya saya sangat senang bekerja di perusahaan, sangat nyaman dan tenang, banyak juga saya mendapatkan pengalaman yang baru”.

“eem, baguslah kalau begitu, kedepannya kamu harus banyak belajar lagi, karena bekerja di perusahaan itu tidak gampang, kita dibutuhkan ketelitian dan kecepatan untuk bertindak” sambung Giancarlo lagi.

“Iya Tuan Besar, saya akan berusaha semampuku” jawab embun dengan menganggukan sedikiti kepalanya, sambil dia meraih gelas air minumnya dan langsung meneguk air putih itu.

Setelah mereka selesai untuk acara makan malam, mereka langsung pergi kamar mereka masing masing, sementara embun pergi kedapur untuk membantu para pelayan yang lain mengerjakan tugas menyuci piring yang kotor.

“kamu sebaiknya kembali kemar saja, nanti nyonya besar marah kalau dia melihatmu disini menyuci piring” tegur bu Triska dengan rasa takut.

“ah bi triska ini ada ada saja sih! Memangnnya kenapa kalau nyonya besar datang kemari, inikan tanggungjawa seorang istri di dalam setiap rumah tangga, yaitu menyuci piring kotor setelah selesai di pakai, apakah itu merupakan perbuatan yang melanggar hukum? Tentu bukan kan? Tentu ini adalah tanggungjawab mutlak seorang perempuan, dan ini semua sudah sangat lumrah sekali di dalam setiap rumah tangga” seru embun dengan panjang lebarnya, sambil dia terus menggosok piring dan membilasnya dengan kain sarbet.

Bu triska hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika dia mendengar wejangan yang panjang lebar dari embun solai, kemudian dia turun membantu membilas dan mengatur piring piring tersebut diatas raknya.

“Eh Nak embu?” tiba tiba bu triska berkata kepada embun.

“Heem ia bi, kenapa?” Tanya embun balik.

“emang bekerja di perusahaan itu menyenangkan ya? Kenapa kamu bilang tadi sangat menyenangkan” Tanya bu triska dengan wajah seriusnya.

“Heemm, mana ada pekerjaan yang menyenangkan bi, bekerja di perusahaan itu kita dipenuhi dengan berbagai tekanan dan tanggungjawab yang sangat besar, karena kalau sempat kita salah mengetik angka satu huruf saja, dampaknya akan membuat kerugian besar pada perusahaan” jawab embun dengan santainya.

“iihh,, sangat ngeri ya kalau begitu, saya pikir bekerja di perusahaan itu sngat menyenangkan karena berada di dalam ruangan yang berAC dan hanya duduk duduk saja setiap harinya” ucap bu Triska dengan polosnya.

“hahah, bu Triska ini ada ada sajalah, mana ada seperti itu bu, yang ada disana kita malah mondar mandir untuk terus mengantarkan berbagai berkas kepada atasan untuk ditandan tangani” timpal embun yang mengelap tangannya menggunakan handul dapur.

Sementara di tempat berbeda, Rido mencari keberadaan sang istri sehingga dia keluar kamarnya dengan wajahnya yang terlihat di tekuk, dengan tiba tiba dia berpapasan dengan bu wina.

“bibi lihat embun nggak?” Tanya Rido singkat kepada bu wina.

“emm, sepertinya nak embun berada di dapur tuan muda” jawab bu wina dengan polosnya.

“untuk apa dia di dapur?” Tanya Rido lagi yang penuh rasa penasaran.

“emm, kalau tidak salah dia membantu para pelayan yang lain untuk membersihakan piring piring kotor” sahut bu wina dengan santainya.

Tanpa berkata kata lagi, Rido langsung menjalankan kursi rodanya kearah dapur, sehingga dia sampai disana ketika embun sedang mengelap tangannya dengan menggunakan handuk dapur.

“memangnnya tidak ada lagi pelayan di rumah ini ya? Sampai sampai istri saya mencuci piring sendiri!” teriak Rido dengan nada suaranya yang tidak terlalu besar, namun masih memberikan tekanan yang begitu mengerikan di pendengaran para pelayan yang berada ditempat itu.

Embun langsung menghampirinya, dan kemudian dia memegang pegangan kursi roda sang suaminya itu, kemudian dia berkata dengan tenangnya kepada sang suami “Suamiku tersayang, dengarkan ya, mencuci piring memanglah niatku, bukan karena tidak ada pelayan dirumah ini, tapi ini murni atas kemauanku sendiri, jadi tuan muda jangan salah sangka dan menjadi marah marah yang tidak karuan, okey” sambil dia mengedipkan satu matanya kepada sang suami, yang membuat sang suami menjadi tidak bisa berbuat apa apa lagi, ketika dia mendapatkan godaan dari sang istri kecilnya itu.

1
Nida Rania
suka karakter embun
Tiary91 gaho
Waahh.. ceritanya mantap jiwa
Tiary91 gaho
Mantap Aku Suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!