Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang yang mengganggu
Hening menyelimuti kamar, hanya pendar bohlam lampu yang menerangi sisa-sisa kegelisahan di wajah Myra. Manik cokelatnya terpaku pada langit-langit kamar yang berukir rumit, seolah mencari jawaban di sana. Namun, pikirannya justru terseret kembali pada momen-momen ganjil bersama pria itu.
Reaksi Rafan sungguh di luar nalar. Myra tak pernah menyangka percakapan mereka akan berakhir seperti itu.
"Wajar jika kamu bingung. Tapi sekarang, tentukan tujuanmu. Apa yang kamu suka, dan apa yang sangat kamu benci!" Suara Rafan merendah, lembut namun menghujam. Tatapannya begitu dalam, seolah sedang menelanjangi kejujuran Myra.
"Aku akan mendukungmu. Aku akan berbagi tempat tinggal, menyediakan makanan, bahkan apa pun yang kamu butuhkan... aku siap memberikannya. Aku akan selalu ada di sampingmu."
"Ssh..." Myra berdesis pedih sembari memejamkan mata.
Kedua alisnya bertaut rapat. Ia berusaha keras mengusir bayangan wajah penuh senyum pria itu dari benaknya.
"Pria bodoh! Kenapa dia harus mengatakan hal-hal seperti itu?" gerutu Myra. Tanpa sadar, ia menendang-nendang ranjangnya dalam ledakan kekesalan kecil.
"Harusnya dia kecewa, putus asa, dan menyerah mengejarku!" Myra menekuk bibir, matanya mulai berair karena kantuk yang menyerang tiba-tiba. "Hoam... aku lelah sekali."
Dua jam. Tanpa sadar, Myra telah membiarkan pria itu mendominasi waktunya. Rafan dengan keras kepala membawanya berkeliling kota, bahkan memaksanya duduk diam di dalam mobil hanya untuk menatap bulan purnama yang membosankan. Bagi Rafan, bulan itu mungkin indah, tapi bagi Myra, itu hanya satelit dingin yang membuatnya sakit punggung karena terlalu lama duduk tegak.
Tatapan Myra kemudian jatuh pada kotak putih di atas laci. Pemberian si "polisi aneh" itu masih tersimpan rapi. Myra mendengus mengingat betapa pelitnya ia tadi saat Sukma ingin mencicipi kue tersebut. Ia melindunginya seolah itu harta karun.
"Sejak kapan aku jadi sangat menyukai makanan manis?" gumamnya. "Apa aku mulai menjadi gadis biasa yang mudah luluh?"
Pikiran Myra bercabang. Spekulasi Sukma tentang memanfaatkan Rafan kembali terngiang. Rafan seorang polisi, mungkin ia merasa bertanggung jawab karena pernah melihat Myra dalam keadaan "tidak pantas". Atau mungkin, ada obsesi lain yang tersembunyi di balik seragamnya?
"Tidak, itu cari mati! Berurusan dengan polisi hanya akan menambah masalah. Aku bisa terkena stroke jika terus di dekatnya," tegas Myra, mencoba membuang jauh rencana gila itu.
Namun, satu pertanyaan tetap mengusik. "Apa yang membuat pria itu begitu terobsesi padanya?"
"Mungkin dia merasa bersalah karena sudah mengintipku. Iya, pasti itu!" Myra mengangguk mantap, membujuk dirinya sendiri. "Aku hanya perlu meluruskan semuanya. Jika kami bertemu lagi, aku akan menegaskan bahwa dia tidak perlu merasa bertanggung jawab atas apa pun yang dia lihat pada tubuhku."
Myra belum menyadari satu hal, Rafan bukan pria yang mudah dilepaskan. Polisi itu memiliki sifat pemaksa yang dibalut kelembutan palsu. Namun, di balik segala penolakannya, Myra membatin pelan, "Tunggu... apa baru saja aku berharap untuk bertemu dengannya lagi?"
...----------------...
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rafan melangkah keluar dengan uap air yang masih tipis menguar dari kulitnya. Ia hanya mengenakan kaos dalam hitam yang melekat ketat pada otot tubuhnya dan celana longgar.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar di tengah kamar dengan helaan napas berat. "Hari yang panjang... tapi setidaknya malam mingguku berakhir indah," gumamnya sembari menarik selimut biru menutupi tubuh.
Wajah Myra terlintas di benaknya, menerbitkan senyum kecil yang hampir terlihat posesif. "Selamat tidur, Myra..."
Drt... Drt... Drt...
Rafan mengerang kesal saat getaran ponsel di laci mengusik ketenangannya. Ia enggan membuka mata, namun kebisingan itu tak kunjung berhenti.
"Bajingan mana yang menelepon jam segini?" umpatnya ketus.
Dengan tangan kasar, ia meraih ponsel tersebut. Begitu melihat nama di layar, matanya langsung terbuka lebar. "Andre?"
Ia menggeser layar dengan cepat. "Halo?"
"Bapak! Tolong... tolong saya!" Suara di seberang sana terdengar pecah oleh kepanikan.
"Apa yang terjadi?" Rafan duduk tegak, rasa kantuknya menguap seketika.
"Cepat ke sini, Pak! Tolong saya, saya mohon!"
Rafan melirik jam dinding. Tengah malam. "Tenanglah! Di mana kamu sekarang?"
"Mereka akan membunuh saya, Pak! Tolong---"
Tut.
Panggilan terputus.
"Membunuh?" Rafan mengerutkan kening. Tanpa berpikir dua kali, ia menyambar kunci mobil dan jaketnya. Andre dalam bahaya, dan insting polisinya mendadak mengambil alih seluruh kesadaran.
Pukul 00.00
Langkah Rafan yang mengenakan sandal jepit berderap cepat di atas aspal. Napasnya sedikit memburu. Rasa kantuk yang tadi menyiksanya kini kalah oleh adrenalin, meski kepalanya sedikit pening karena dipaksa terjaga.
Ia menatap lokasi yang dikirim Andre,sebuah bangunan megah yang terisolasi.
"Tempat ini terlalu sepi... apa aku benar-benar di lokasi yang tepat?" gumamnya curiga.
Melewati gerbang hitam yang tinggi, Rafan mendapati bangunan bertingkat dengan arsitektur yang terlalu indah untuk sebuah tempat kejadian perkara. Suara air mancur yang gemericik tenang di pekarangan justru membuatnya semakin waspada.
"Kenapa tempat ini begitu tenang? Tidak ada tanda-tanda keributan..."
Rafan meraba pinggangnya, memastikan senjatanya siap, sementara matanya menyapu setiap sudut rumah yang terlihat terlalu mewah untuk menyimpan sebuah ancaman pembunuhan.