Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emas Cair dan Jantung Batu
Dupa bangau di sudut ruangan telah terbakar setengahnya. Abu halus berwarna kelabu jatuh perlahan ke dalam wadah kuningan di bawahnya, menandai berlalunya waktu dengan presisi yang sunyi.
Yang Chen duduk sendirian di Ruang VIP "Anggrek". Di hadapannya, di atas meja Rosewood yang mengkilap, terhidang piring porselen berisi Kue Kacang Merah dan teko teh baru yang mengepulkan uap hangat.
Dia tidak membiarkan makanan itu menganggur.
Tangan kirinya memegang sepotong kue. Dia menggigitnya.
Lapisan kulit kue yang renyah pecah, diikuti oleh isian pasta kacang merah yang lembut dan manis. Rasa manis itu meledak di lidahnya, mengirimkan sinyal kebahagiaan ke otaknya yang kekurangan glukosa.
Manis,batin Yang Chen. Terlalu manis untuk selera kaisar, tapi sempurna untuk tubuh yang kelaparan.
Dia mengunyah dengan tenang, matanya menatap asap dupa yang berpilin naik. Dia tidak terlihat cemas. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu vonis nasibnya. Dia terlihat seperti seorang tuan muda yang sedang menikmati waktu minum teh sore di taman pribadinya.
Namun, indra pendengarannya tetap waspada.
Dia bisa mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di koridor luar. Langkah kaki itu berat, cepat, dan tidak berirama. Bukan langkah pelayan yang terlatih. Itu langkah seseorang yang sedang dikuasai kegembiraan—atau kepanikan.
Mereka datang,simpulnya.
Yang Chen menghabiskan potongan kue terakhirnya, menyesap tehnya untuk membersihkan sisa rasa manis di mulutnya, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke meja.
Bam!
Pintu ruangan didorong terbuka dengan kasar, melupakan segala tata krama ketukan pintu yang tadi diperlihatkan.
Tetua Gu berdiri di ambang pintu.
Penampilan pria tua itu telah berubah total. Jubah sarjananya yang tadi rapi kini sedikit kusut. Ada noda hitam—jelaga—di ujung lengan bajunya. Rambut putihnya yang disisir klimis kini ada beberapa helai yang mencuat keluar.
Tapi yang paling mencolok adalah matanya.
Mata tua di balik lensa kristal itu tidak lagi tenang dan penuh perhitungan. Mata itu melebar, pupilnya bergetar, bersinar dengan cahaya fanatik yang menakutkan. Napasnya memburu, seolah dia baru saja lari maraton.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan jubah putih kotor ikut masuk. Pria gemuk itu memegang sebuah botol kaca kecil dengan kedua tangannya, seolah memegang nyawanya sendiri.
Tetua Gu melangkah masuk, lalu membanting pintu di belakangnya hingga tertutup rapat.
"Kau..." Tetua Gu menunjuk Yang Chen dengan jari gemetar. "Kau... Iblis macam apa kau ini?"
Yang Chen tidak bergeming. Dia mengangkat alisnya sedikit di balik tudung hitam.
"Aku asumsikan tesnya berhasil?" tanya Yang Chen datar.
Tetua Gu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menyambar botol kaca dari tangan pria gemuk di sebelahnya, lalu menghentakkannya ke atas meja di depan Yang Chen.
Tak!
Di dalam botol kaca bening itu, terdapat cairan berwarna merah tembaga yang jernih. Cairan itu kental seperti sirup, dan ada partikel-partikel cahaya halus yang berenang di dalamnya. Tidak ada endapan kotor. Tidak ada warna keruh.
Murni. Cantik.
"Lihat ini!" suara Tetua Gu serak karena emosi. "Tiga puluh menit! Hanya butuh tiga puluh menit perebusan! Kami menggunakan cuka beras murahan dan darah ayam jantan dari dapur belakang. Dan hasilnya..."
Tetua Gu menelan ludah, jakunnya naik turun.
"...Kepala Alkemis kami, Master Liu di sini, mengatakan kemurniannya mencapai 65%. Enam puluh lima persen! Cairan tempering standar di pasar hanya punya kemurnian 30-40%!"
Pria gemuk di belakangnya, Master Liu, mengangguk-angguk cepat seperti ayam mematuk beras. Dia menatap Yang Chen dengan pandangan memuja, seolah melihat dewa yang turun ke bumi.
"Tuan..." kata Master Liu dengan suara bergetar. "Reaksi asam cuka itu... jenius! Bagaimana Anda terpikirkan hal itu? Itu menetralkan racun darah ayam dengan sempurna, meninggalkan Yang Qi murni yang menstabilkan Rumput Tulang Besi. Biaya produksinya... demi Langit, biaya produksinya turun hampir 70%!"
Yang Chen melirik botol itu sekilas. Tatapannya dingin dan kritis.
"Hanya 65%?" gumam Yang Chen, nadanya kecewa.
Ruangan itu hening seketika.
Master Liu ternganga. "Hanya? Tuan, 65% itu kualitas Premium! Di kota ini, tidak ada yang bisa membuat di atas 50%!"
"Itu karena kontrol apimu buruk," cemooh Yang Chen tanpa ampun. "Kau menaikkan suhu terlalu cepat di menit ke-sepuluh. Kau membakar sebagian esensi cuka sebelum ia sempat bereaksi penuh. Jika aku yang membuatnya, kemurniannya minimal 90%."
Wajah Master Liu memerah padam. Dia ingin membantah, tapi insting alkemisnya memberitahu bahwa kritik itu mungkin benar. Dia memang sedikit terburu-buru tadi karena didesak Tetua Gu.
Yang Chen mengalihkan pandangannya kembali ke Tetua Gu.
"Sudah cukup basa-basinya," kata Yang Chen. Dia menyandarkan punggungnya. "Kalian sudah melihat barangnya. Kalian sudah menghitung keuntungannya. Sekarang, sebutkan angkanya."
Tetua Gu menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya. Dia adalah pedagang veteran. Dia tidak boleh terlihat terlalu putus asa, atau dia akan dimakan hidup-hidup dalam negosiasi.
Dia menarik kursi dan duduk kembali di hadapan Yang Chen. Dia melepas kacamatanya, mengelapnya perlahan dengan kain sutra untuk mengulur waktu berpikir.
"Resep ini..." mulai Tetua Gu, suaranya kembali terkontrol. "...memang luar biasa. Ini akan mengguncang pasar. Tapi, Tuan Chen, kau harus tahu risiko bisnisnya. Kami harus memproduksinya, mengemasnya, memarketingkannya, dan melindungi resep ini dari pencurian sekte lain. Biayanya besar."
Taktik klasik: Membesar-besarkan kesulitan untuk menekan harga.
"Aku tawarkan 1.000 Keping Emas," kata Tetua Gu tegas. "Tunai. Sekarang juga. Itu cukup untuk membeli sebuah mansion mewah di pusat kota dan hidup nyaman seumur hidup."
1.000 Emas. Bagi orang biasa, itu angka yang fantastis. Master Liu di belakang bahkan menahan napas mendengar angka itu.
Tapi Yang Chen tertawa.
Tawanya pelan, kering, dan penuh penghinaan.
"Seribu emas?" Yang Chen menggelengkan kepalanya. "Tetua Gu, kau menghinaku lagi. Dengan resep ini, kalian bisa memonopoli pasar obat tingkat rendah di seluruh provinsi, bukan hanya kota ini. Keuntungan kalian per bulan bisa mencapai 10.000 emas. Dan kau mau membelinya putus dengan harga 1.000 emas?"
Yang Chen berdiri. Dia merapikan jubahnya.
"Baiklah. Jika Rumah Lelang Naga Emas tidak punya visi, aku akan pergi ke Paviliun Harta Karun di seberang jalan. Aku yakin mereka akan lebih menghargai resep ini."
Yang Chen berbalik, melangkah menuju pintu.
Itu adalah Bluff (Gertakan) pamungkas.
Jantung Tetua Gu hampir berhenti. Paviliun Harta Karun adalah saingan abadi mereka. Jika resep ini jatuh ke tangan musuh... Naga Emas akan hancur dalam setahun.
"Tunggu!" teriak Tetua Gu. Dia melompat berdiri, kursinya terjungkal ke belakang. "Tuan Chen! Jangan impulsif! Duduk! Kita bisa bicara!"
Yang Chen berhenti, tapi tidak berbalik. "Bicaralah."
"Apa maumu?" tanya Tetua Gu, keringat bercucuran di dahinya. "Sebutkan angkanya."
Yang Chen berbalik perlahan. Di bawah bayangan tudungnya, matanya berkilat.
"Aku tidak mau uang tunai di depan," kata Yang Chen. "Aku mau Royalti."
"Royalti?" Tetua Gu mengerutkan kening. Istilah itu jarang digunakan.
"Bagi hasil," jelas Yang Chen. "Aku memberikan hak eksklusif penggunaan resep ini kepada kalian. Sebagai gantinya, aku menginginkan 20% dari Keuntungan Bersih setiap botol yang terjual. Selamanya."
"Dua puluh persen?!" Master Liu berteriak kaget. "Itu perampokan!"
Tetua Gu wajahnya menjadi gelap. "Itu terlalu tinggi, Tuan Chen. Kami yang menanggung semua risiko produksi dan distribusi. Paling tinggi aku bisa berikan 5%."
"Lima belas persen," tawar Yang Chen.
"Delapan persen," balas Tetua Gu.
"Dua belas persen. Dan itu harga mati," kata Yang Chen dingin. "Atau aku keluar dari pintu ini sekarang."
Tetua Gu menatap Yang Chen. Dia menghitung cepat di kepalanya. Biaya produksi turun 70%. Volume penjualan diprediksi naik 300%. Bahkan jika dia memberikan 12% kepada bocah ini, keuntungan Rumah Lelang masih akan naik berlipat-lipat ganda dibandingkan sebelumnya.
Ini adalah kesepakatan yang saling menguntungkan, meskipun menyakitkan bagi egonya.
"Sepuluh persen," kata Tetua Gu akhirnya, nada finalitas dalam suaranya. "Sepuluh persen dari keuntungan bersih. Dan sebagai tanda itikad baik, aku akan memberimu Kartu VIP Hitam yang memberikan diskon 10% untuk semua barang lelang di sini."
Yang Chen diam sejenak. Sepuluh persen. Jika sebulan mereka untung 10.000 emas, dia dapat 1.000 emas pasif tanpa kerja. Itu lebih dari cukup untuk tahap awal.
"Sepakat," kata Yang Chen. "Tapi aku punya dua syarat tambahan."
"Katakan," Tetua Gu menghela napas lega, kembali duduk di kursinya yang miring.
"Pertama, identitasku harus dirahasiakan. Dalam pembukuan, tulis saja 'Mitra X'. Aku tidak mau ada pembunuh bayaran yang datang ke rumahku."
"Wajar. Kami akan menjamin itu," angguk Tetua Gu.
"Kedua..." Yang Chen berjalan kembali ke meja, mencondongkan tubuhnya. "...Aku butuh pembayaran di muka (Down Payment). Tapi bukan uang."
"Lalu apa?"
"Aku butuh bahan," kata Yang Chen. "Aku butuh Inti Monster (Monster Core). Tipe Tanah (Earth). Tingkat 1 Puncak atau Tingkat 2 Awal. Sekarang juga."
Tetua Gu mengangkat alisnya. Inti Monster adalah sumber energi murni yang diambil dari jantung binatang buas. Tipe Tanah biasanya digunakan untuk memperkuat pertahanan atau stabilitas formasi.
"Inti Monster Tingkat 2 Awal..." gumam Tetua Gu. "Harganya sekitar 300 keping emas. Itu mahal."
"Potong dari bagi hasil bulan pertamaku," kata Yang Chen santai.
Tetua Gu berpikir sejenak, lalu mengangguk. Dia menoleh pada Master Liu. "Ambilkan Inti Rock Python (Ular Sanca Batu) yang kita dapatkan minggu lalu dari gudang."
Master Liu ragu sejenak, tapi segera berlari keluar ruangan.
Sambil menunggu, Tetua Gu mengeluarkan sebuah gulungan kertas perjanjian dan kuas tinta. Dia mulai menulis kontrak kerjasama dengan tangan gemetar namun cepat.
Lima menit kemudian, Master Liu kembali membawa sebuah kotak kayu kecil berlapis beludru merah.
Dia meletakkannya di meja.
Yang Chen membukanya.
Di dalamnya, tergeletak sebuah bola kristal seukuran telur ayam. Warnanya cokelat kekuningan, permukaannya tidak rata, mirip batu kali. Namun, ada denyutan energi samar yang memancar darinya. Udara di sekitar bola itu terasa lebih berat, gravitasi seolah lebih kuat di dekatnya.
Inti Rock Python. Binatang buas yang kulitnya sekeras batu granit. Energinya berat, stabil, dan grounding.
Sempurna untuk merekonstruksi Dantian dan membangun fondasi yang tak tergoyahkan.
"Bagus," kata Yang Chen. Dia menutup kotak itu dan langsung memasukkannya ke dalam jubahnya.
"Tanda tangan di sini," Tetua Gu menyodorkan kontrak yang sudah selesai ditulis.
Yang Chen membaca sekilas. Isinya standar. 10% keuntungan bersih. Rahasia terjaga. Dia mengambil kuas, lalu menandatanganinya dengan nama samaran: "Chen".
Lalu, sesuai tradisi dunia ini, dia menggigit ujung jempolnya sedikit hingga keluar setetes darah, dan menekannya di atas nama itu.
Cap Darah.Perjanjian jiwa yang mengikat.
Tetua Gu melakukan hal yang sama.
"Senang berbisnis denganmu, Mitra Chen," kata Tetua Gu, mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar—senyum buaya yang baru saja makan kenyang.
Yang Chen menjabat tangan keriput itu sebentar. Tangannya terasa dingin dan kering.
"Kerja sama ini akan membuat kita berdua kaya, Tetua Gu. Pastikan saja kau tidak mencoba mencurangiku dalam pembukuan," bisik Yang Chen. "Karena aku tahu persis berapa banyak darah ayam yang bisa diperas dari satu ekor ayam."
Tetua Gu tertawa canggung. "Tentu, tentu. Naga Emas selalu jujur."
Yang Chen berbalik dan berjalan keluar ruangan. Kali ini, tidak ada yang menghalanginya. Zhou, si penjaga pintu, membungkuk lebih dalam dari sebelumnya saat dia lewat.
Yang Chen melangkah keluar dari gedung mewah itu kembali ke jalanan yang panas.
Di dadanya, dia merasakan berat kotak kayu berisi Inti Monster itu.
Modal sudah didapat. Mitra bisnis sudah didapat. Bahan utama sudah di tangan.
Malam ini, dia tidak akan hanya mandi air obat. Malam ini, dia akan melakukan operasi bedah spiritual pada dirinya sendiri. Dia akan menanamkan Inti Monster itu ke dalam perutnya yang hancur untuk menggantikan Dantian manusianya.
Itu adalah teknik terlarang: Jantung Buatan Monster (Artificial Monster Core Foundation).
Risiko kematian: 90%. Tapi jika berhasil... dia akan memiliki kapasitas energi sepuluh kali lipat dari manusia biasa.
"Ayo pulang," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Malam ini akan berdarah."