Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Mabuk dan Aroma Nasi Goreng
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden ruang tamu yang tipis, menyapa kelopak mata Bagaskara yang terasa seberat timah. Denyut di pelipisnya perlahan mereda, menyisakan rasa pening yang samar sebagai pengingat akan kekacauan semalam. Aroma kayu cendana dari jasnya sendiri kini bercampur dengan wangi yang asing namun menenangkan—aroma sabun cuci yang bersih dan jejak mawar vanila yang lembut.
Namun, yang benar-benar memicu kesadarannya adalah aroma gurih yang menggoda indra penciuman. Wangi bawang putih yang ditumis, sedikit aroma cabai dan terasi bakar, dan wangi nasi yang digoreng kering di atas wajan. Perutnya seketika merespons dengan keroncongan yang cukup nyaring.
Bagaskara bangkit dengan perlahan, mengernyit saat sendi-sendinya terasa kaku karena tidur di sofa yang ukurannya jauh dari kata memadai untuk tubuh tegapnya. Ia melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan, membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar, mencoba meluruhkan sisa-sisa kabut alkohol yang masih menempel di sudut memorinya. Bayangan tentang apa yang terjadi semalam mulai berputar, tangisan Nara yang tertahan, kecupan yang membakar, dan penolakan keras gadis itu.
Ia keluar dari kamar mandi, merapikan kemejanya yang sudah kusut masai, lalu melangkah menuju sumber aroma tersebut.
Di sana, di dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan sempit, ia melihatnya. Nara.
Gadis itu tidak lagi mengenakan kaus ketat atau jeans yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Ia hanya mengenakan dress rumahan selutut berwarna kuning cerah dengan motif bunga kecil.
Rambutnya dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan helaian-helaian halus yang jatuh di tengkuk dan pelipisnya. Sinar matahari pagi dari jendela dapur menyirami siluet tubuhnya yang sintal, memberikan kesan magis yang justru jauh lebih menggoda daripada saat ia berada di bawah lampu sorot klub.
Bagaskara tertegun. Ia bersandar pada bingkai pintu dapur, melipat tangan di dada sambil memandangi punggung Nara yang sibuk mengaduk nasi di atas wajan. Ada ketenangan yang aneh saat melihat pemandangan itu, sesuatu yang tidak pernah ia temukan di rumah megahnya yang dingin.
Saat api kompor dimatikan, Nara berbalik sambil membawa piring. Ia tersentak kecil melihat sosok tinggi yang sudah berdiri di sana, mengawasinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oh, kamu sudah bangun," ucap Nara, segera menguasai diri. Ia mengatur napasnya yang sempat tertahan. "Duduklah. Aku baru saja selesai."
Nara melangkah ke meja makan kayu yang sederhana, meletakkan dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Ia tidak menatap mata Bagaskara secara langsung.
"Maaf, aku hanya bisa menyediakan ini sebagai sarapan. Aku belum sempat pergi ke pasar pagi ini, jadi hanya ada bahan seadanya di kulkas," kata Nara, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap santai.
Bagaskara menarik kursi, duduk berseberangan dengan Nara. Senyum kecil terukir di bibirnya yang biasanya kaku.
"Ini lebih dari cukup, Nara. Terima kasih."
Keheningan melanda ruang makan itu, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring. Bagaskara menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulutnya, dan matanya seketika membulat. Rasa gurih dan bumbu yang meresap sempurna menari di lidahnya.
"Ini... enak sekali," gumam Bagaskara tulus. Ia menatap Nara yang sedang mengunyah dengan perlahan. "Nasi goreng terenak yang pernah aku makan."
Nara mendongak, memberikan senyum kecil yang terkesan sedikit sinis.
"Jangan terlalu banyak memuji, Bagaskara. Lidahmu pasti sudah terbiasa dengan masakan koki bintang lima di rumah megahmu. Masakan rumah sederhana ini tidak ada apa-apanya dibanding menu sarapan calon menantu keluarga Prawijaya."
Bagaskara tertawa kecil, suara baritonnya yang rendah mengisi ruangan.
"Kemewahan tidak selalu berarti rasa, Nara. Terkadang, sesuatu yang dibuat dengan tangan sendiri memiliki jiwa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Aku serius, aku sangat menyukainya."
Nara terdiam, merasa dadanya sedikit menghangat namun ia segera menepis perasaan itu. Ia kembali fokus pada makanannya, hingga tiba-tiba Bagaskara menggerakkan tangannya ke arah wajahnya. Nara refleks berjingkat mundur, matanya membelalak waspada.
"Jangan bergerak," bisik Bagaskara lembut.
Lelaki itu tetap melanjutkan gerakannya. Jarinya yang kasar namun hangat menyentuh bagian bawah bibir Nara, mengambil sebutir nasi yang menempel di sana. Alih-alih membuangnya, Bagaskara justru memasukkan sebutir nasi itu ke dalam mulutnya sendiri sambil menatap dalam ke mata Nara.
Wajah Nara seketika memanas. Ia merasa salah tingkah yang luar biasa.
"Itu aneh, Bagas," gumamnya pelan, mengalihkan pandangan ke piringnya yang sudah kosong.
"Kenapa? Aku hanya tidak ingin membuang masakan enak ini," goda Bagaskara dengan kilat jenaka di matanya yang kini sudah sepenuhnya jernih.
Setelah selesai makan, Nara segera berdiri dan membawa piring kotor ke wastafel. Ia membelakangi Bagaskara, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya saat mulai menyabuni piring.
"Sekarang kamu sudah makan, dan sudah sadar sepenuhnya." Suara Nara terdengar lebih tegas sekarang. "Sebaiknya kamu segera pulang. Sebentar lagi tetangga akan mulai beraktivitas. Aku tidak ingin ada gosip atau orang yang salah paham. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, dan aku ingin tetap seperti itu."
Langkah kaki terdengar mendekat. Nara mengira Bagaskara akan berjalan menuju pintu keluar, namun dugaannya meleset. Suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya. Nara tersentak hebat, piring di tangannya hampir saja merosot. Punggungnya menempel pada dada bidang Bagaskara yang hangat. Aliran listrik yang sama seperti semalam kembali menyengatnya, membuat tubuhnya membeku.
"Bagaskara, lepaskan..." Suara Nara melemah, ia seolah kehilangan kekuatan untuk berontak.
"Sebentar saja, Nara. Biarkan aku merasakannya seperti ini sebentar saja," bisik Bagaskara di telinganya. Napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya. "Kamu boleh saja selalu menolakku, kamu boleh terus mengusirku, tapi ketahuilah satu hal..."
Bagaskara mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di antara pundak dan leher Nara, menghirup aroma tubuh alami gadis itu.
"Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku serius. Aku menginginkanmu, Nara. Aku ingin tubuhmu, dan aku ingin hatimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memilikimu selain aku."
Nara terdiam seribu bahasa. Lidahnya kelu. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak bahwa ini salah, tapi kehangatan pelukan Bagaskara seolah melumpuhkan seluruh logikanya.
Bagaskara kemudian melepaskan pelukannya secara perlahan. Ia memutar tubuh Nara agar menghadapnya, lalu mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut dan lama.
"Aku pergi. Sampai jumpa lagi, Nara."
Bagaskara melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Pintu depan tertutup dengan suara pelan, meninggalkan Nara yang masih berdiri terpaku di depan wastafel dengan tangan yang masih bersabun.
Nara menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan. Ia menyentuh puncak kepalanya, menyadari bahwa pertahanannya yang kokoh mulai retak. Namun, ia segera menggelengkan kepala dengan kuat.
"Dia hanya belum sepenuhnya sadar," bisik Nara pada dirinya sendiri. "Alkohol itu pasti masih ada di kepalanya. Besok, dia akan kembali menjadi pria yang akan menikahi wanita lain."
Nara kembali mencuci piring, namun pikirannya tertinggal pada sentuhan hangat di pinggangnya, menyisakan pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria bernama Bagaskara itu.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊