Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak sendirian
"Sebenarnya, kau pergi ke mana selama ini, Tamara? Bahkan dengan seluruh kekuatan dan koneksi keluarga Anderson, aku tetap tidak bisa menemukan jejakmu," tanya Dion penasaran, matanya menatap dalam mencari jawaban.
Tamara menghela napas panjang, seolah mengeluarkan semua beban berat yang selama ini ia pendam sendirian selama belasan tahun.
"Seluruh keluargaku meninggal dalam kecelakaan yang misterius... banyak yang bilang itu bukan kecelakaan biasa, melainkan sudah direncanakan dengan licik. Aku selamat karena saat itu aku sedang berada di rumah nenekku, tidak ikut bersama mereka." cerita Tamara pelan, suaranya mulai bergetar menahan pedih.
"Tapi tak lama setelah pemakaman, orang kepercayaan Ayahku justru mengkhianati kami. Dia dengan tega mengambil alih seluruh harta dan aset keluarga kami. Nenekku tak kuasa menahan sakit hati dan kekecewaan, hingga akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal hanya seminggu setelah orang tuaku meninggal."
Air mata mulai menetes membasahi pipi Tamara.
"Karena tak memiliki siapa-siapa lagi, aku yang saat itu baru berusia lima tahun dikirim ke panti asuhan yang sangat terpencil dan tertutup. Aku tak tahu jalan pulang, tak tahu siapa yang bisa dimintai tolong, hingga aku benar-benar hilang dari peta. Di sana aku hidup susah, bekerja keras, dan belajar untuk menjadi kuat sendirian agar bisa bertahan hidup."
Tamara mendongak, menatap Dion dengan tatapan yang bercampur rasa bersalah yang mendalam.
"Hingga usiaku menginjak sembilan belas tahun, takdir mempertemukanku kembali dengan Bi Susi. Dialah yang menceritakan semua ketidakadilan ini. Dan dialah yang membantuku masuk ke rumahmu, agar aku bisa mendekati Giyandra dan membalas dendam pada keluarganya."
Tamara menggenggam tangan Dion erat-erat, matanya memohon pengertian.
"Maafkan aku, Kak Dion... Jujur, awalnya aku juga sengaja mendekatimu dan memanfaatkanmu demi tujuanku itu. Aku bahkan... aku yang meracuni makanan Giyandra perlahan-lahan. Aku jahat..."
Dion tidak marah. Justru ia membalas genggaman itu dengan lembut, lalu mengusap puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku sama sekali tidak keberatan telah kau manfaatkan, Sayang. Justru aku bersyukur kau datang. Bahkan jika itu berarti aku harus dimanfaatkanmu seribu kali lagi, aku akan tetap menerimanya. Dan soal Giyandra... biarkan saja. Dia mendapatkan apa yang memang pantas dia dapatkan."
Dion menarik tubuh Tamara agar semakin dekat, menatap manik mata wanita cantik itu dalam.
"Mulai sekarang, kau tidak sendirian lagi. Aku akan selalu ada di sampingmu. Kita akan mengembalikan semua hak keluargamu, dan kita akan menghukum orang-orang yang berkhianat itu bersama-sama."
"Kak Dion..." Tamara tak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia memeluk tubuh Dion dengan hati-hati agar tidak menyakiti lukanya, menangis tersedu-sedu di dada bidang pria itu. Sudah belasan tahun ia hidup dengan rasa sakit, dendam, dan kesepian, baru kali ini ia merasakan kehangatan dan rasa aman yang sesungguhnya.
Dion membiarkan gadis itu menangis melepaskan semua beban di hatinya, sambil terus mengelus punggungnya perlahan.
"Maafkan aku, sayang..." bisik Dion parau, matanya juga ikut berkaca-kaca. "Andai aku menemukanmu lebih awal... pasti kau tidak perlu menanggung penderitaan seberat ini sendirian. Mulai sekarang, biarkan aku yang melindungimu dan menjadi pelindungmu selamanya."
Di pelukan Dion, untuk pertama kalinya Tamara merasa damai. Dendamnya masih ada, tapi kini ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan. Ia memiliki sekutu terkuat, dan juga cinta masa lalu yang kini kembali utuh.
Bersambung...