NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

***

  Keheningan di dalam penthouse itu terasa mencekam, hanya dipecah oleh suara hantaman hujan badai pada kaca jendela setebal sepuluh sentimeter. Di dalam kamar utama, suasananya jauh lebih panas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan pencahayaan kuning remang yang membuat bayangan Aris di dinding tampak raksasa dan mengintimidasi.

  Mayang terbaring di atas ranjang king size yang kini spreinya sudah berantakan. Tubuhnya bermandikan keringat dingin. Setiap beberapa menit, gelombang rasa sakit yang dahsyat menghantam rahimnya, seperti diremas oleh tangan besi yang tak terlihat.

  "Tuan... tolong... panggil dokter sekarang... ini sudah tidak kuat," rintih Mayang. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca menatap Aris yang masih duduk dengan tenang di antara kakinya.

  Aris tidak bergerak. Ia tidak memegang telepon, tidak juga tampak panik. Sebaliknya, ia menopang dagunya, matanya terpaku pada setiap kontraksi yang terlihat dari balik kulit perut Mayang yang menegang.

  "Belum, Mayang. Tubuhmu sedang bekerja. Ini adalah seni yang paling murni," gumam Aris.

  Suaranya terdengar seperti mantra yang memuakkan bagi Mayang. "Rintihlah lagi. Aku ingin mendengar bagaimana tubuhmu merespons kehadiran anakku."

  "Ahhh! Sakit! Aris... Tuan Aris!" Mayang memekik saat kontraksi itu mencapai puncaknya. Ia mencengkeram pinggiran ranjang hingga kuku-kukunya yang dipoles mahal nyaris patah.

  Rasa panas menyengat di area intinya, seolah-olah kulitnya ditarik paksa. Setiap inci syarafnya berteriak meminta bantuan medis, meminta obat bius, meminta apa pun yang bisa menghentikan siksaan ini. Namun, di tengah kegelapan rasa sakit itu, sebuah bayangan melintas di benak Mayang.

  Ia teringat unit apartemen di kawasan elit yang baru saja berpindah nama menjadi miliknya. Ia teringat saldo rekeningnya yang kini berjumlah sembilan digit. Ia teringat adiknya yang kini hidup mewah tanpa perlu memikirkan biaya rumah sakit lagi.

  Satu jam rasa sakit, satu nyawa untuk harta selamanya, batin Mayang di tengah isaknya.

  Ia memaksakan diri untuk menatap Aris. Pria itu tampak begitu puas. Ada kilat kegilaan di matanya—sebuah pemujaan yang tidak sehat terhadap penderitaan dan penciptaan.

  "Apakah... Anda senang, Tuan?" bisik Mayang parau di sela napasnya yang memburu.

  Aris mendekat, mengusap dahi Mayang yang basah dengan sapu tangan sutra. "Sangat senang. Kau luar biasa, Mayang. Tidak ada wanita yang sanggup memberikan tontonan seindah ini bagiku. Kau adalah investasi terbaik yang pernah kubeli."

  Waktu berjalan merangkak. Area bawah Mayang terasa seperti terbakar, perih yang tak terbayangkan saat kepala bayi mulai memberikan tekanan pada jalan lahir. Ia merasa hampir pingsan karena kelelahan, namun Aris segera mengambil botol air mineral mahal dan membasahi bibir Mayang.

  "Jangan berani-berani pingsan sekarang," perintah Aris tegas. "Kau harus melihatnya. Kau harus sadar sepenuhnya saat dia keluar."

  "Saya tidak bisa... tubuh saya sudah lemas, Tuan..."

  Aris menarik dagu Mayang, memaksanya melakukan kontak mata. "Pikirkan tentang kemewahanmu, Mayang. Pikirkan tentang berlian yang kau inginkan bulan depan. Jika kau menyerah sekarang dan aku harus memanggil tim medis untuk operasi Caesar, semua bonusmu akan hangus. Kau hanya akan mendapatkan nilai minimal dari kontrak awal kita."

  Mendengar ancaman itu, adrenalin Mayang seolah dipompa kembali secara paksa.

  Keserakahannya mengalahkan rasa lemasnya. Mata Mayang yang tadi sayu kini melebar, berkilat penuh nafsu akan harta.

  "Baik... saya akan... melakukannya secara normal," desis Mayang.

  "Bagus. Itu gadisku," Aris tersenyum lebar, senyum yang paling mengerikan yang pernah dilihat Mayang. Aris kemudian mengenakan sarung tangan latex bedah yang sudah disiapkannya. Ia bukan dokter, tapi ia telah mempelajari setiap detail proses ini demi memuaskan fetishnya.

  "Sekarang, Mayang! Dorong!" perintah Aris.

  Mayang menarik napas dalam-dalam, wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Ia mengejan dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Suaranya pecah menjadi teriakan yang menyayat hati, bersaing dengan suara guntur di luar sana.

  "Ayo, sebut namaku!" Aris berteriak, suaranya naik satu oktav.

  "ARISSS! TUAN ARISSS!" jerit Mayang.

  Di bawah sana, Aris menyaksikan dengan napas tertahan. Ia melihat bagaimana tubuh Mayang berjuang, bagaimana kulit itu merenggang hingga batas maksimal. Baginya, ini adalah klimaks dari seluruh tahun yang ia habiskan untuk 'merawat' Mayang.

  Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang kencang memecah ketegangan di kamar itu. Aris menangkap bayi itu dengan tangan yang gemetar oleh kegembiraan. Seorang bayi laki-laki, merah dan sehat.

  Mayang terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal, matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa hancur, namun hatinya bersorak. Selesai. Akhirnya selesai.

  Aris tidak segera memberikan bayi itu kepada Mayang. Ia justru memandangi bayi itu seolah-olah sedang menatap sebuah piala berlapis emas. Ia bahkan tidak mempedulikan Mayang yang sedang mengalami pendarahan ringan di bawah sana.

  "Pewarisku," gumam Aris.

  Setelah beberapa saat, Aris akhirnya menekan sebuah tombol di dinding. Pintu kamar terbuka, dan tim medis yang sudah bersiaga di lobi bawah segera masuk dengan peralatan lengkap. Bibi Sumi menyusul di belakang mereka dengan wajah cemas.

  Aris berdiri, melepaskan sarung tangan latex-nya, dan kembali menjadi sosok pengusaha yang dingin seolah kejadian barusan tidak pernah ada.

  "Urus wanita ini," kata Aris pada dokter. "Pastikan dia pulih dengan cepat. Berikan dia perawatan terbaik di rumah sakit pribadi kita."

  Lalu, ia menoleh pada Mayang yang masih terengah-engah. "Tidurlah, Mayang. Pengacaraku akan datang besok pagi membawa surat kepemilikan apartemen dan sisa pembayaranmu. Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat... memuaskan."

  Mayang melihat Aris berjalan pergi membawa bayi itu keluar kamar, tanpa menoleh lagi. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada kata-kata manis. Hanya bisnis.

  Namun, saat Mayang mulai kehilangan kesadaran karena kelelahan, ia tersenyum tipis. Ia merasakan perih yang luar biasa di area intinya, tapi di otaknya, ia sudah menghitung berapa banyak pria kaya lainnya yang bisa ia jerat dengan pengalaman 'profesional' yang baru saja ia lalui.

  Ia bukan lagi Mayang si gadis kampung. Ia adalah seorang penyintas yang telah menemukan kunci kekayaan: pengorbanan tubuh dan ketiadaan nurani.

  ****

  Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!