NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Inikah Rasanya?

​"Sakit. Begitu sakit hingga aku lupa bagaimana caranya bernapas. Orang bilang waktu akan menyembuhkan patah hati, tapi bagaimana aku bisa menunggu waktu berlalu jika setiap detik tanpamu terasa seperti kiamat kecil yang berulang? Inikah rasanya cinta pertama? Mengapa tidak ada yang memberitahuku bahwa jatuh cinta berarti menyerahkan pisau kepada seseorang dan membiarkannya menikam dadamu kapan pun ia mau?" (Buku Harian Keyla, Halaman 60)

​Dunia di sekelilingku terasa seperti berputar dalam kecepatan yang membuatku mual. Tangisku tak kunjung mereda meski Siska telah membimbingku menjauh dari lorong tempat eksekusi perasaanku tadi. Kakiku terseret lemas di atas lantai keramik, tubuhku sepenuhnya bertumpu pada rangkulan Siska.

​Kami melangkah masuk ke dalam ruang UKS yang kebetulan sedang kosong. Aroma khas obat-obatan merah, minyak kayu putih, dan karbol lantai langsung menyengat hidungku, mengingatkanku pada hari di mana aku merawat Rendi yang sedang demam di ruangan ini. Ingatan itu datang seperti kilat, menyambar sisa-sisa kewarasanku dan membuat tangisku kembali pecah sejadi-jadinya.

​Siska mendudukkanku di tepi ranjang berseprai putih, lalu mengambilkan segelas air mineral dari dispenser di sudut ruangan.

​"Minum dulu, Key. Tolong, jangan siksa dirimu begini," bujuk Siska dengan nada yang mengalun begitu lembut, memancarkan empati yang seolah tak terbatas. Ia menyodorkan gelas plastik itu ke bibirku.

​Tanganku bergetar hebat saat memegang gelas itu. Airnya tumpah sedikit mengenai dagu dan seragamku. Aku hanya sanggup meneguknya sekali, lalu kembali tersedak oleh isak tangisku sendiri. Dadaku terasa sangat sesak, seolah ada bongkahan batu raksasa yang menindih paru-paruku. Aku meremas dada kiriku, memukulnya pelan, berharap rasa sakit fisik itu bisa mengalihkan rasa ngilu yang meremukkan batinku.

​"Sakit, Sis... sakit banget," rancauku di sela napas yang tersengal. "Apa salahku? Aku cuma mau dia nggak kelaparan... Aku cuma mau dia ngerasa dihargai..."

​Siska menarik kepalaku, menyandarkannya ke perutnya, dan membelai rambutku dengan ritme yang menenangkan. "Kamu nggak salah, Keyla sayang. Yang salah adalah dia. Dia yang hatinya terlalu gelap untuk bisa melihat cahaya ketulusanmu. Orang yang sudah terbiasa hidup dalam kebencian, akan selalu menganggap kebaikan sebagai ancaman."

​Suara pintu UKS yang didorong dengan sangat kasar dan terburu-buru menghentikan ucapan Siska.

​Lidya dan Bella menerobos masuk dengan wajah yang dipenuhi oleh campuran kepanikan dan amarah yang meledak-ledak. Mereka rupanya mencari kami ke seluruh penjuru sekolah setelah bel masuk berbunyi dan melihat bangkuku serta Siska kosong.

​"Keyla!" pekik Bella histeris. Ia langsung berlari menghampiriku dan menjatuhkan lututnya di lantai, memeluk pinggangku dengan erat. Mata Bella ikut berkaca-kaca melihat keadaanku yang begitu kacau. Wajahku memerah, mataku bengkak parah, dan seragamku berantakan. "Ya ampun, Key... lo diapain sama cowok brengsek itu?! Siska, Rendi ngapain dia?!"

​Lidya berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan. Dada Lidya naik turun, wajahnya merah padam karena murka. Matanya yang tajam menyorot penuh kemarahan.

​"Gue udah firasat nggak enak dari tadi pagi!" geram Lidya dengan suara tertahan. "Lo ketemu dia kan, Key? Dia ngomong apa sama lo sampai lo hancur begini?! Jawab gue, Sis! Biar gue samperin tuh cowok ke kelas sekarang juga, gue seret dia ke ruang BK!"

​"Jangan, Lidya!" jeritku parau, langsung melepaskan pelukan Bella dan menatap Lidya dengan mata memohon. "Tolong... jangan."

​"Jangan apa, Key?!" Lidya membalas teriakanku frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Lo itu sahabat gue! Gue nggak bisa diem aja ngeliat sahabat gue nangis histeris kayak orang gila gara-gara cowok gembel yang nggak tau diri! Kemarin dia nolak makanan dari Siska dengan kasar, sekarang dia nyakitin lo?! Ini udah kelewatan!"

​"Biarin aja dia, Lid," suara Siska menengahi, sangat tenang dan terukur, sangat kontras dengan emosi Lidya yang meledak-ledak. Siska menatap Lidya dengan senyum tipis yang penuh kebijaksanaan palsu. "Rendi baru aja nunjukin sifat aslinya. Dia ngehina niat baik Keyla. Dia bilang Keyla cuma anak orang kaya yang lagi nyari drama. Laki-laki seperti itu nggak pantas dapat perhatian dari kemarahanmu, Lid. Kalau kamu labrak dia, dia malah ngerasa penting."

​Bella terkesiap. "Dia bilang gitu ke Keyla?! Wah, bener-bener sakit jiwa tuh orang!"

​"Dia ngerasa direndahkan karena aku ngasih uang itu diam-diam..." isakku mencoba menjelaskan, meski aku sendiri sudah tak punya tenaga untuk membela Rendi. Pembelaanku selalu menjadi bumerang. "Aku yang salah..."

​"Udah, Key! Stop nyalahin diri lo sendiri!" Lidya membentak pelan, tapi segera melunakkan suaranya saat melihat tubuhku semakin bergetar. Lidya mendekat, duduk di sisi ranjang yang lain dan menggenggam tanganku erat. "Dengerin gue, Key. Cewek ngasih perhatian itu bukan penghinaan. Itu namanya peduli. Kalau dia ngerasa dihina, itu karena egonya terlalu tinggi. Cowok miskin emang sering gitu, insecure-nya nutupin logika mereka."

​Aku hanya bisa menunduk, membiarkan air mata terus mengalir tanpa suara. Setiap argumen mereka benar secara logika umum, tapi logika umum tidak berlaku di dunia Rendi.

​Di balik kacamata tebalnya, mata Siska menyapu kami bertiga. Saat tak ada satu pun dari kami yang menatapnya, sudut bibir Siska tertarik membentuk sebuah senyuman tipis yang mengerikan. Senyuman penuh kemenangan. Senyuman seorang sutradara yang puas melihat aktor-aktornya bermain sesuai naskah penderitaan yang ia tulis. Siska menikmati pemandangan ini. Ia sangat menikmati kehancuranku, karena dengan begini, aku tak lagi memiliki sesuatu yang membuatku terlihat lebih hebat darinya di hadapan dunia.

​Namun dengan sangat cepat, senyum itu lenyap. Siska kembali memasang raut wajah sedih. "Kamu mau pulang sekarang, Key? Aku bisa izinin ke wali kelas kalau kamu sakit. Muka kamu pucat banget."

​Aku menggeleng pelan. "Nggak, Sis. Aku nggak mau pulang. Kalau aku pulang, Papa sama Mama pasti nanya macam-macam. Aku tunggu sampai jam pulang sekolah aja."

​"Tapi lo yakin bisa ikut pelajaran dengan kondisi begini?" tanya Bella khawatir. Ia mengambil beberapa lembar tisu dan menghapus sisa air mata di pipiku dengan lembut. "Mata lo bengkak banget, Key. Mirip habis digigit tawon."

​"Aku cuci muka dulu," ucapku pelan, memaksakan diri untuk berdiri. Kakiku masih terasa seperti jeli, tapi aku menguatkan tekadku.

​Rendi memintaku untuk menyingkir dari hidupnya. Ia memintaku untuk menyimpan perasaanku jauh-jauh. Maka, lari dari kenyataan dan pulang ke rumah hanya akan membuatku terlihat lemah dan semakin menyedihkan di matanya. Aku harus kembali ke kelas. Aku harus menunjukkan padanya bahwa aku menerima penolakannya, dan bahwa aku akan mematuhi batasannya mulai hari ini.

​Setelah membasuh wajahku di wastafel UKS dengan air dingin berkali-kali, mataku memang masih terlihat sembab, tapi setidaknya aku terlihat sedikit lebih manusiawi.

​Lidya, Bella, dan Siska mengawalku kembali ke kelas XII-IPA 1 layaknya pengawal kerajaan. Saat kami berjalan masuk, jam pelajaran keempat sedang berlangsung. Guru PKN yang sedang menjelaskan materi di depan kelas menatap kami dengan kening berkerut.

​"Kalian dari mana saja? Jam pelajaran sudah berjalan dua puluh menit," tegur beliau.

​Siska, sang penyelamat dengan reputasi sempurna, langsung menjawab dengan nada sangat sopan. "Maaf, Bu. Keyla tadi tiba-tiba pingsan di lorong, jadi kami membawanya ke UKS dan menunggunya sampai sadar. Saya tidak sempat meminta izin karena panik."

​Guru itu menghela napas, menatap wajahku yang memang pucat pasi dan bermata sembab. Alasan Siska sangat masuk akal. "Ya sudah. Kalau masih pusing, Keyla jangan memaksakan diri. Silakan duduk kembali."

​"Terima kasih, Bu," jawab kami serempak.

​Aku berjalan menyusuri lorong antar meja. Langkahku terasa seberat timah. Aku menundukkan kepalaku, memfokuskan pandanganku ke ujung sepatuku sendiri.

​Aku tidak berani menoleh ke sudut belakang. Aku tidak berani melirik ke arah meja barisan ketiga dari kanan itu.

​Aku menarik kursiku perlahan dan duduk. Tepat di depannya.

​Udara di sekitarku mendadak terasa membeku. Suasana kaku dan canggung yang luar biasa pekat menyelimuti radius beberapa meter di sekitar meja kami berdua. Lidya dan Bella yang duduk tak jauh dariku sesekali mencuri pandang ke arah belakang dengan tatapan membunuh yang tertahan. Siska dengan tenang membuka buku catatannya.

​Sementara aku? Aku duduk tegak layaknya patung. Aku mematung dengan posisi sedemikian rupa agar punggungku tidak bersandar terlalu ke belakang, takut jika tanpa sengaja menyentuh mejanya.

​Telingaku menangkap suara gesekan pelan dari arah belakangku. Suara Rendi yang sedang membalik halaman buku tulisnya. Terdengar juga helaan napasnya yang berat dan teratur.

​Berada begitu dekat dengan orang yang baru saja meremukkan hatimu adalah siksaan mental yang tiada tara. Setiap tarikan napasnya mengingatkanku pada kata-katanya yang tajam: Kamu pikir kemiskinan saya adalah arena bermain untuk kisah romansa remajamu yang picisan?!

​Air mataku kembali mengancam akan jatuh. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga kurasakan rasa amis darah di ujung lidahku. Aku membelalakkan mataku, menatap lurus ke papan tulis yang berisi tulisan tentang pasal-pasal konstitusi negara, meski mataku tak mampu membaca satu kata pun. Pikiranku kosong, hatiku berteriak dalam kebisuan yang merobek dada.

​"Kau ada tepat di belakang punggungku, namun rasanya kau berada di galaksi lain yang tak terjangkau. Aku duduk di sini, mendengarkan detak jantungku sendiri yang terluka, sementara kau duduk di sana, sibuk menata kembali tembok esmu yang sempat kucoba retakkan. Inikah akhir dari perjuangan sepihaku?" (Buku Harian Keyla, Halaman 62)

​Tiga jam berlalu dengan sangat lambat, terasa seperti merangkak melewati pecahan beling.

​Selama itu pula, aku mempertahankan posisi dudukku. Tidak menoleh ke belakang, tidak meminjam barang, dan tidak bersuara.

​Dan selama itu pula, Rendi tidak mempedulikan eksistensiku. Ia bertingkah seolah insiden di lorong tadi pagi tidak pernah terjadi. Ia menganggapku kembali menjadi udara kosong yang tak perlu digubris.

​Sikap dinginnya yang konsisten itu... sungguh sebuah pembunuhan karakter yang pelan namun pasti. Aku merasa semua yang kulakukan selama berminggu-minggu ini hanyalah sebuah komedi tragis yang kutertawakan sendirian. Setiap pagi yang kuawali dengan membeli susu dan roti, setiap doa yang kupanjatkan saat melihatnya tertidur, setiap debaran jantung saat matanya menatapku... semuanya hanyalah ilusi bodoh dari seorang gadis yang terlalu banyak membaca novel.

​Rendi tidak pernah menginginkan satu pun dari hal itu.

​Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandai akhir dari hari paling menyiksa dalam hidupku.

​Begitu guru keluar kelas, Lidya langsung menggebrak mejanya pelan dan berdiri. "Ayo, Key. Pulang. Muak gue berlama-lama di ruangan yang udaranya kotor ini," sindir Lidya dengan suara yang sengaja dikeraskan, matanya melotot ke arah punggung Rendi.

​Rendi tidak merespons sindiran itu. Laki-laki itu sedang membereskan bukunya dengan gerakan lambat dan lelah.

​Aku buru-buru mengambil tasku dan berdiri, menghalangi pandangan Lidya agar tidak terus memancing keributan. "Ayo, Lid, Bel, Sis. Kita pulang," ucapku cepat.

​Aku melangkah keluar dari kelas tanpa memutar kepalaku satu derajat pun ke belakang. Jika ia ingin aku pergi dari hidupnya, maka inilah wujud ketaatanku. Aku tak akan lagi mencuri pandang. Aku tak akan lagi repot-repot menyapanya. Aku akan kembali menjadi Keyla yang tak ia kenal.

​Sesampainya kami di depan gerbang sekolah, langit Jakarta masih mendung sisa hujan kemarin. Angin bertiup cukup kencang.

​Sopirku belum menjemput. Lidya dan Bella masih menemani di sampingku, sementara Siska memegangi ponselnya.

​Tiba-tiba, suara klakson mobil yang sangat kukenal berbunyi dua kali dari arah jalan raya depan gerbang.

​Sebuah sedan Eropa berwarna perak mengkilap berhenti tepat di dekat trotoar tempat kami berdiri. Kaca jendela pengemudi turun perlahan, menampakkan wajah Indra. Ia mengenakan kemeja seragam yang rapi, lengan bajunya digulung rapi hingga sebatas siku. Wajahnya berseri, senyum lesung pipinya langsung mengembang saat melihatku.

​"Keyla! Udah mau pulang?" sapa Indra dengan nada suaranya yang selalu hangat dan mengayomi.

​Bella langsung menyikut perutku. "Tuh, pangeran lo yang asli udah datang ngejemput. Ini baru nyata, Key. Bukan bayangan kayak si gembel itu."

​Aku tersenyum sangat tipis, memaksakan kesopanan. "Hai, Ndra. Iya nih, lagi nunggu Pak Anton."

​Indra mematikan mesin mobilnya. Bukannya berlalu, ia malah membuka pintu dan turun dari mobil, berjalan menghampiri kami di trotoar. Postur tubuhnya yang atletis membuat beberapa siswi yang lewat berbisik kagum.

​Saat ia berdiri di depanku, senyum cerahnya tiba-tiba memudar. Matanya yang tajam mengamati wajahku dengan saksama. Insting perlindungannya langsung bekerja seketika.

​"Key... kamu kenapa?" tanya Indra pelan. Ia melangkah sedikit lebih dekat, melanggar jarak personal namun entah mengapa kehadirannya tidak terasa mengintimidasi. "Mata kamu bengkak parah. Wajah kamu juga pucat. Kamu sakit? Atau... ada yang nyakitin kamu?"

​Di kalimat terakhir, suara Indra sedikit mengeras, rahangnya ikut menegang. Tatapannya menyapu Lidya, Bella, dan Siska, seolah menuntut penjelasan.

​"Panjang ceritanya, Ndra," Lidya memutar bola matanya malas, namun nadanya menyiratkan kelegaan karena ada laki-laki kuat yang bisa diandalkan. "Intinya temen gue ini habis dibikin nangis darah sama cowok brengsek yang nggak tau diuntung."

​Indra menatapku terkejut. "Siapa? Kasih tau aku, Key. Biar aku yang urus dia."

​Aku menggeleng lemah. Kepalaku terasa sangat pening. "Nggak apa-apa, Ndra. Tolong, jangan dibahas. Aku cuma capek dan mau istirahat."

​Siska melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Indra dengan lembut. "Indra," panggil Siska dengan nada keibuan. "Keyla lagi hancur banget hari ini. Hatinya baru aja dipatahkan sama kata-kata kasar orang itu. Dia butuh tempat bersandar, tapi dia terlalu malu buat ngaku. Kamu bawa mobil, kan? Tolong antarkan Keyla pulang ya. Kalau dia nunggu jemputan di sini, kasihan kena debu jalanan, matanya bisa makin bengkak."

​Indra langsung mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Pasti. Aku nggak akan biarin dia nunggu di sini dengan kondisi kayak gini."

​"T-tapi Sis, Pak Anton bentar lagi nyampe..." aku mencoba memprotes lemah.

​"Biar gue telepon Pak Anton sekarang, gue bilang lo udah dianterin temen pakai mobil dengan aman," potong Bella gesit, langsung mengeluarkan ponselnya. "Lo nurut aja deh, Key. Lo butuh kenyamanan sekarang."

​Aku tak bisa melawan lagi. Tenagaku sudah habis terkuras oleh tangisan dan rasa sakit sedari pagi.

​Indra membukakan pintu penumpang bagian depan untukku. Sebuah gestur yang sangat menghargai perempuan. "Ayo masuk, Key. Di dalem AC-nya udah dingin, kamu bisa tiduran di jok," ucap Indra lembut.

​Aku menoleh ke arah sahabat-sahabatku. Lidya dan Bella tersenyum menyemangati, sementara Siska menatapku dengan sorot mata penuh kepuasan yang tersembunyi. Aku menunduk, melangkah masuk ke dalam mobil mewah Indra, duduk di kursi berlapis kulit yang sangat nyaman dan wangi.

​Indra menutup pintuku perlahan, lalu berlari memutar dan masuk ke kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin, membunyikan klakson pelan ke arah teman-temanku sebagai tanda pamit, lalu mobil melaju meninggalkan area sekolah.

​Di dalam mobil, suasana sangat hening. Indra sengaja mematikan musik di radio. Ia hanya mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin untukku.

​Aku menatap ke luar jendela, melihat jalanan sore Jakarta yang mulai macet. Bayangan wajah Rendi yang menatapku dengan amarah di lorong tadi pagi kembali berputar di kepalaku layaknya kaset rusak, meremas jantungku tanpa ampun. Air mata sialan ini kembali menggenang di pelupuk mataku.

​Tiba-tiba, sebuah kotak tisu disodorkan ke pangkuanku.

​Aku menoleh. Indra sedang menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menyodorkan sekotak tisu padaku. Ia menatap jalanan ke depan, namun wajahnya menyiratkan pengertian yang sangat dalam.

​"Menangis aja, Key. Nggak usah ditahan," ucap Indra dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Di mobil ini kacanya gelap dari luar. Nggak ada yang bisa lihat kamu. Nggak ada yang bakal ngehakimi kamu. Menangislah sampai dadamu terasa lega."

​Kata-kata Indra adalah kunci yang membuka bendungan pertahananku yang terakhir. Tangisku kembali pecah, isakanku bergema di dalam ruang kabin mobil mewah yang kedap suara itu.

​Indra tidak banyak bertanya. Ia tidak menceramahiku seperti Siska, ia tidak mengumpat dan memaki seperti Lidya. Ia membiarkanku melepaskan segala kepedihanku dalam diam, menemaniku dengan kehangatan kehadirannya yang tak menuntut penjelasan.

​Di tengah isakanku, pikiranku melayang. Betapa berbedanya perlakuan kedua laki-laki ini.

​Rendi... sosok gunung es yang mati-matian kucoba cairkan. Laki-laki yang kuberi uang diam-diam agar adiknya bisa makan, namun membalas ketulusanku dengan membuang suratku ke tempat sampah dan menghinaku di lorong sekolah. Laki-laki yang mengusirku dari dunianya karena tak sanggup menanggung egonya sendiri.

​Lalu Indra... matahari yang selalu berusaha merengkuhku. Laki-laki yang menawariku perlindungan, memberikan perhatian tanpa harus kuminta, dan menyuruhku menangis dengan aman tanpa takut dihakimi.

​Secara logika, secara nalar manusia normal, pilihan yang benar sudah terpampang nyata di depan mata. Memilih Rendi adalah tindakan bunuh diri secara emosional. Memilih Indra adalah jalan menuju kedamaian dan kebahagiaan.

​Namun, mengapa saat Indra berada di sampingku dan memberikanku kehangatan yang luar biasa ini, dadaku justru terasa hampa? Mengapa di dalam lubuk hatiku yang terdalam, bayangan wajah lelah Rendi yang menelan roti keringnya masih menjadi pemandangan yang paling ingin kulihat dan kupeluk?

​"Inikah rasanya patah hati karena cinta pertama? Ketika logikamu menjerit menyuruhmu berlari menuju surga, namun kakimu yang telanjang justru memaksa melangkah masuk kembali ke dalam neraka yang membakar kulitmu? Indra adalah obat untuk lukaku, tapi anehnya... aku lebih memilih mati berdarah asalkan pisau yang menyayatku adalah milikmu, Rendi." (Buku Harian Keyla, Halaman 65)

​Sisa perjalanan pulang kulalui dengan isakan yang perlahan mereda. Aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela mobil yang dingin. Mataku menatap langit Jakarta yang mendung.

​Besok pagi, aku tidak akan lagi berangkat lebih awal. Besok pagi, meja Rendi akan kosong. Tidak ada lagi susu cokelat. Tidak ada lagi roti gandum. Tidak ada lagi tatapan curiga yang ia lemparkan ke sekeliling kelas.

​Rutinitas bisuku telah berakhir dengan sebuah klimaks yang menghancurkan.

​Jika ini adalah jalan yang ia pilih, maka biarlah begini adanya. Aku belum mengenal cinta yang ia maksud, namun aku tahu pasti satu hal: rasa sakit yang kurasakan hari ini adalah bukti bahwa perasaanku padanya bukanlah sebuah kisah drama picisan.

​Sayangnya, takdir tak pernah peduli pada sedalam apa perasaan kita. Kadang, ia hanya ingin menertawakan kita dari atas sana.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!