NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pasar tradisional pagi itu sudah riuh rendah dengan suara tawar-menawar dan aroma bumbu dapur yang khas.

Prita berjalan sambil menggandeng erat lengan Abraham, matanya berbinar menatap deretan dagangan yang tertata di atas meja-meja kayu sederhana. Ini adalah dunia yang benar-benar baru baginya.

"Hati-hati, jalannya agak licin di sebelah sini," bisik Abraham sambil menarik lembut pinggang Prita agar tidak tersenggol keranjang sayur seorang ibu yang melintas.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah gerobak kecil yang mengepulkan asap wangi.

Bau adonan manis yang terpanggang mentega menyeruak hebat.

"Mas, itu apa? Wangi banget!" tunjuk Prita pada kue berwarna kuning keemasan yang baru saja diangkat dari cetakan.

"Itu kue pukis, Sayang. Mau? Kita beli yang cokelat sama keju ya," jawab Abraham.

Ia segera memesan satu kotak hangat. Prita langsung mencicipi satu, matanya membulat saat tekstur lembut dan manisnya lumer di mulut.

"Enak banget, Mas! Jauh lebih enak dari yang di mal."

Setelah mengantongi pukis, mereka bergeser ke sudut pasar yang menjual kuliner berat.

Di sana, seorang nenek tua sedang membungkus makanan dengan daun pisang yang aromanya sangat menggoda—perpaduan antara kelapa parut dan sambal goreng.

"Bu, dua porsi ya. Makan di sini saja," ujar Abraham pada penjual itu.

Kemudian ia menoleh ke arah Prita yang tampak bingung melihat butiran-butiran berwarna kuning cerah di dalam bakul.

"Kita sarapan ini ya. Nasi jagung," kata Abraham santai.

Prita mengerutkan kening, menatap bulir-bulir kuning itu dengan heran.

"Nasi jagung?" ulangnya dengan nada tidak yakin.

"Iya, Sayang. Nasi jagung," ucap Abraham sambil tersenyum meyakinkan.

"Ini khas di sini. Pakai urap-urap sayur, ikan asin, sama sambal korek. Kamu harus coba dulu sebelum protes."

Prita duduk di bangku kayu panjang yang sempit. Saat pesanan datang, tampilannya sungguh menggoda selera.

Tak lupa, Abraham mengambilkan seplastik besar kerupuk putih kaleng yang renyah sebagai pelengkap.

"Caranya gini, kerupuknya dihancurkan sedikit ke atas nasinya biar ada tekstur crunchy," instruksi Abraham sambil mempraktekkannya.

Prita menyuap sesendok kecil dengan ragu. Namun, begitu rasa gurih dari parutan kelapa bertemu dengan manisnya jagung dan pedasnya sambal, pertahanannya runtuh.

"Mas, ini luar biasa! Kok aku baru tahu ada makanan seenak ini?" seru Prita semangat, mengabaikan sedikit keringat yang mulai muncul di dahi karena sambal yang menendang.

Abraham tertawa renyah, merasa menang. "Makanya, jangan cuma makan di kafe terus. Di pasar begini justru banyak 'harta karun' kuliner yang tersembunyi."

Di tengah keriuhan pasar, Prita merasa hidupnya jauh lebih berwarna.

Ia tidak lagi peduli dengan kemewahan yang ia tinggalkan di Jakarta.

Baginya, nasi jagung dan kerupuk di pasar tradisional ini terasa jauh lebih mewah karena dinikmati bersama laki-laki yang ia cintai.

Setelah puas menikmati nasi jagung, Abraham mengajak Prita bergeser ke area toko kelontong yang berderet di bagian depan pasar.

Meskipun mereka tinggal di mess, Abraham ingin memastikan istrinya tetap merasa nyaman dan tidak kekurangan apa pun.

"Kita belanja stok dulu ya, supaya kalau kamu lapar tengah malam atau pengen ngemil, sudah ada isinya di meja," ujar Abraham sambil mengambil sebuah keranjang plastik.

Prita mengikuti dari belakang, memperhatikan bagaimana suaminya begitu cekatan memilih barang.

Abraham mulai mengambil beberapa kebutuhan pokok atau sembako—beras, telur, dan beberapa bumbu dapur instan agar Prita tidak kesulitan jika ingin mencoba memasak hal sederhana.

Langkah Abraham terhenti di depan rak minuman.

Ia meraih dua kotak besar susu coklat kesukaan Prita dan memasukkannya ke keranjang.

"Mas ingat ya aku suka susu coklat?" tanya Prita dengan mata berbinar.

"Tentu saja ingat. Nutrisi buat Tuan Putri harus tetap terjaga, kan?" goda Abraham sambil mencolek hidung Prita.

Tak hanya itu, Abraham juga membebaskan Prita memilih makanan ringan.

Prita dengan semangat mengambil beberapa bungkus biskuit, keripik pedas, dan coklat batangan.

Baginya, momen belanja seperti ini terasa sangat berbeda.

Jika biasanya ia tinggal menggesek kartu kredit di supermarket mewah tanpa melihat harga, kini ia belajar menghargai setiap barang yang dipilihkan suaminya dengan penuh perhitungan dan kasih sayang.

"Sudah cukup semua? Ada lagi yang kurang?" tanya Abraham sambil memastikan keranjang mereka sudah penuh dengan segala kebutuhan.

"Sudah lebih dari cukup, Mas. Terima kasih ya," jawab Prita tulus.

Saat berjalan menuju motor dengan tangan kiri menjinjing tas belanjaan yang cukup berat, Abraham tetap menggandeng tangan Prita dengan tangan kanannya.

Mereka berjalan meninggalkan keramaian pasar menuju mess, memulai hari baru mereka sebagai pasangan suami istri dengan cara yang paling sederhana namun terasa sangat sempurna.

Suasana di depan mess pagi itu sudah mulai ramai dengan beberapa rekan kerja Abraham yang sedang bersantai sejenak sebelum memulai sif atau sekadar menikmati kopi pagi.

Begitu motor Abraham memasuki halaman dan Prita turun dengan menjinjing kantong plastik berisi susu coklat serta camilan, perhatian semua orang langsung tertuju pada mereka.

Deddy, sang supervisor yang sedang duduk di kursi panjang sambil menghisap rokoknya, langsung menyunggingkan senyum jahil.

Ia melirik ke arah tumpukan belanjaan yang dibawa pasangan itu.

"Wah, wah. Lihat siapa yang baru pulang dari pasar!" seru Deddy dengan suara lantang yang membuat rekan-rekan lainnya menoleh.

"Pengantin baru nih!" goda Deddy lagi sambil terkekeh.

"Pagi-pagi sudah mesra banget belanja bareng. Gimana Bram? Pasar tradisional rasa hotel bintang lima ya kalau jalannya berdua?"

Rekan-rekan yang lain, seperti Tono dan Iwan, ikut menimpali dengan siulan menggoda.

"Pantas saja tadi dicariin buat koordinasi unit

nggak ada, ternyata lagi jadi ajudan Ibu Negara belanja nasi jagung!" sahut Iwan sambil tertawa renyah.

Prita merasakan pipinya memanas. Ia menunduk malu namun tetap tersenyum tipis, merasa hangat dengan sambutan yang begitu blak-blakan namun terasa akrab.

Ini sangat berbeda dengan lingkungan pergaulannya di Jakarta yang penuh basa-basi formal.

Abraham hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya.

Ia merangkul bahu Prita dengan protektif sambil mengangkat kantong belanjaannya.

"Sirik saja kamu, Ded," balas Abraham santai.

"Namanya juga punya istri, ya harus dimanja. Jangan cuma tahu mesin melulu, sekali-kali tahu harga cabe juga dong."

"Waduh, juragan teknisi kita sudah mulai bijak sekarang!"

Deddy berdiri dan menepuk bahu Abraham. "Tapi serius, Bram, senang lihat kalian. Mbak Prita, jangan sungkan ya di sini. Kalau Abraham macam-macam atau telat kasih jatah susu coklat, lapor saya saja!"

Gelak tawa pecah di halaman mess. Prita akhirnya ikut tertawa kecil.

Di tengah kesederhanaan bangunan mess ini, ia merasa diterima bukan karena status sosialnya, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar para pekerja lapangan itu.

Setelah tawa rekan-rekan mereka mereda, Abraham mengantar Prita masuk ke dalam kamar mess mereka yang mungil.

Prita mulai mengeluarkan pakaian dari koper dan menatanya di lemari kayu sederhana, menyatukannya dengan seragam kerja milik Abraham.

Sambil melipat baju, Prita teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang menyiapkan peralatan teknisnya.

"Mas, uang mas kawin kemarin, itu benar-benar untuk aku?" tanya Prita pelan.

Mengingat mahar sederhana senilai lima ratus ribu rupiah yang diberikan Abraham saat mereka menikah secara mendadak di hadapan penghulu.

Abraham menghentikan aktivitasnya, lalu mendekat dan menggenggam tangan Prita.

"Iya, Sayang. Itu sepenuhnya milikmu. Gunakanlah untuk apa pun yang kamu butuhkan," jawabnya tulus.

Kemudian ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang masih rapi, lalu meletakkannya di telapak tangan Prita.

"Dan ini nafkah dariku untuk kebutuhanmu sehari-hari," ucap Abraham lembut. Jumlahnya sama, lima ratus ribu rupiah.

Bagi Prita yang dulu terbiasa dengan jutaan rupiah sekali belanja, uang itu mungkin terlihat kecil, tapi ia tahu bagi seorang teknisi lapangan, itu adalah hasil keringat yang luar biasa berharga.

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu. Deddy muncul dengan wajah serius.

"Bram! Maaf mengganggu, tapi ada masalah darurat di unit Donomulyo. Teknisi di sana kewalahan, kamu harus meluncur sekarang buat bantu cek," seru Deddy.

Abraham menghela napas, lalu menatap Prita dengan tatapan menyesal.

"Mas harus berangkat sekarang, Sayang. Donomulyo itu lokasinya cukup jauh, di daerah selatan. Mas mungkin pulang malam."

Ia mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kamu tetap di kamar saja ya kalau tidak ada keperluan penting. Istirahatlah, jangan capek-capek."

Mendengar suaminya akan pergi lama ke lokasi yang asing baginya, Prita merasakan sedikit kecemasan.

Tanpa sadar, ia maju selangkah dan memeluk erat tubuh suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Abraham yang dibalut seragam teknisi.

"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan lupa makan siang," bisik Prita dalam pelukannya.

Abraham membalas pelukan itu tak kalah erat, mengecup kening istrinya lama sebelum akhirnya beranjak pergi.

Prita berdiri di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang mulai menjauh, menyadari bahwa kini hidupnya telah berubah sepenuhnya—dari putri seorang pengusaha menjadi istri seorang pejuang lapangan.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!