NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Keheningan menyelimuti ruang kerja Everest yang luas, hanya menyisakan suara isak tangis tertahan dari Catherina yang duduk di sofa panjang. Bahunya yang rapuh berguncang, seolah seluruh beban dunia yang ia pikul selama setahun terakhir tumpah saat itu juga.

"Aku tidak kemari untuk menghancurkan keluarga kecilmu, Everest," ucap Catherina dengan suara serak, matanya yang sembab menatap lurus ke arah jemarinya yang saling bertaut. "Aku juga tidak memohon untuk kembali padamu. Demi Tuhan, aku kemari tulus hanya ingin meminta maaf. Aku tidak mau kau mendengar berita sampah tentangku dari mulut keluarga Adrian sebelum aku sendiri yang menjelaskannya padamu."

Catherina menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Maafkan aku, Everest... Aku mengaku pada Adrian semalam kalau Liam, putraku, adalah anakmu. Aku melakukannya karena aku putus asa. Adrian meragukan putranya sendiri sejak hari pertama dia lahir."

Catherina tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Aku tahu itu konyol. Kita sudah lama sekali tidak bersama, dan secara medis tidak mungkin aku hamil anakmu. Aku mengaku begitu hanya agar dia melepaskanku. Aku juga bingung kenapa Liam sangat mirip denganmu. Mungkin ini kesalahanku, karena saat mengandungnya, aku terlalu banyak merindukan sosokmu... aku terlalu sering memikirkanmu."

Catherina melirik ke arah pintu dengan cemas, seolah-olah istri Everest bisa muncul kapan saja dan menjatuhkan hukuman padanya. "Maafkan aku... Aku harap istrimu tidak ada di sini dan menjambakku karena pengakuan gila ini."

Everest hanya terdiam, berdiri mematung sambil terus menggendong Liam yang terlelap di pelukannya. Di dalam hatinya, sebuah badai berkecamuk. Akulah yang bersalah, Cathe, bisiknya dalam hati. Akulah yang menanamkan benih itu di malam terakhir kita, tanpa kau sadari.

Catherina kembali menatap Liam yang berada di dekapan Everest. "Coba kau perhatikan Liam, Everest. Saat dia terlelap seperti itu, bentuk matanya persis matamu. Aku menghafal setiap inci wajahmu di luar kepalaku, Everest. Dan kau akan melihat keajaiban itu lagi saat dia membuka mata nanti. Itu persis matamu."

Everest, dengan bakat aktingnya yang sempurna, memasang wajah sangsi. "Bagaimana mungkin dia mirip denganku?" tanyanya dengan nada dingin yang dibuat-buat. "Apa kau masih mencintaiku, Cathe? Sampai kau membayangkan wajahku pada anak pria lain?"

Deg.

Catherina mematung. Pertanyaan itu menghunjam tepat di ulu hatinya. "Aku... aku selalu berusaha melupakanmu selama ini, Everest. Aku tahu itu sulit, sangat sulit. Tapi melihatmu sudah bahagia dengan Serline dan istrimu, aku akan bersemangat untuk melupakan semuanya. Maafkan aku sekali lagi."

Catherina menunduk, mencoba menyembunyikan luka yang kembali menganga. "Adrian akan menceraikanku, dan aku merasa cukup tenang. Setidaknya aku dan Liam tidak perlu lagi berada di rumah neraka itu."

Everest menatap Catherina dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, namun ada kilat protektif di baliknya. "Tinggallah di apartemenku sampai sidang perceraianmu selesai. Di sana kau aman. Aku akan menyiapkan nanny untuk Liam," ucapnya, nadanya kembali sedingin saat malam makan malam di restoran.

"Tidak, Everest. Aku tidak ingin membuat istrimu khawatir dan salah paham. Aku tidak mau merusak rumah tanggamu," tolak Catherina cepat.

Everest tersenyum sinis, sebuah drama sempurna sedang ia mainkan. "Istriku sangat pengertian. Dia percaya padaku sepenuhnya dan tidak pernah meragukanku. Dia tidak akan keberatan."

Catherina menelan ludah yang terasa pahit. Istri yang sempurna, batinnya. "Terima kasih, Everest. Maaf merepotkanmu. Tapi aku sudah kembali ke rumah lamaku semalam."

"Rumah lama yang penuh hantu itu?" Everest menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tidak takut lagi? Bagaimana jika ada petir? Rumah lamamu tidak memiliki peredam suara seperti apartemenku. Kau akan ketakutan setengah mati sendirian di sana dengan Liam."

Catherina terdiam. Ketakutannya pada petir adalah rahasia umum bagi Everest. Dulu, setiap kali ada badai, Catherina akan bersembunyi di bawah ketiak Everest sampai fajar tiba.

"Anggap ini bantuan dari teman lama," tambah Everest datar.

"Teman lama?" bisik Catherina, merasa sebutan itu sangat asing namun juga menyelamatkan.

Akhirnya, karena memikirkan keamanan Liam dan rasa takutnya yang luar biasa pada petir, Catherina mengangguk pelan. "Baiklah. Terima kasih, Everest. Apa... apa sandi apartemennya?"

Everest menatap mata Catherina dalam-dalam, sebuah tatapan yang sanggup meluluhkan pertahanan wanita itu. "Masih tanggal jadian kita," jawabnya singkat dan dingin.

Deg.

Jantung Catherina seolah berhenti berdetak. Tanggal jadian mereka? Mengapa Everest masih menggunakan tanggal itu sebagai sandi tempat tinggalnya? Apakah itu hanya karena dia malas menggantinya?

Sebelum Catherina sempat bertanya lebih jauh, Everest sudah berbalik untuk memberikan instruksi pada Ben dan Noah. Catherina hanya bisa menatap punggung lebar pria itu, menyadari bahwa ia baru saja masuk kembali ke dalam orbit seorang Everest Cavanaught—pria yang ia pikir sudah melupakannya, namun ternyata masih menyimpan potongan masa lalu mereka sebagai kunci rumahnya.

Liam menggeliat pelan di dalam dekapan hangat Everest. Bayi mungil itu mulai membuka matanya yang jernih, mengeluarkan suara lenguhan kecil yang memecah ketegangan di ruangan itu.

"Halo, Sayang... Kau terbangun?" bisik Everest, suaranya melembut secara drastis saat menatap wajah bayi itu.

Catherina, yang masih merasa canggung, segera mendekat. "Dia belum bisa melihat dengan jelas, Everest. Dia baru satu bulan. Liam hanya bisa merespons sentuhan kita dan sedikit suara."

Tanpa sadar, saat Catherina hendak mengambil Liam, Everest tidak menjauh. Sebaliknya, lengan kokoh pria itu justru melingkar di pinggang Catherina, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Everest perlahan meletakkan Liam di pangkuan Catherina, namun ia tetap tidak melepaskan pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Catherina, menghirup aroma vanila yang masih sama seperti dulu.

"Jika kita tidak egois... apa kita sekarang sudah bahagia dengan keluarga kecil kita sendiri, Cathe?"

Deg.

Suara parau itu. Nada rendah yang penuh kerinduan sekaligus penyesalan itu adalah suara yang selalu menghantui mimpi-mimpi Catherina selama sepuluh bulan terakhir.

"Maafkan aku, Everest. Aku yang salah," bisik Catherina, tubuhnya bergetar hebat. "Tapi... kau tidak boleh seperti ini sekarang. Kau sudah punya Serline, anak perempuan yang cantik, dan istri yang pengertian. Jangan ingat masa lalu lagi."

Everest terdiam sejenak, lalu secara tiba-tiba, ia memutar wajah Catherina dan mencium pelipisnya dengan penuh penekanan.

"Aku membencimu, Cathe," ucapnya dengan nada hancur, napasnya terasa panas di kulit Catherina. "Aku benar-benar membencimu karena kau membiarkan pria lain menyentuhmu."

"Ya... aku mengizinkanmu untuk membenciku, Everest. Aku pantas mendapatkannya," jawab Catherina lirih.

Entah siapa yang memulai, namun di tengah badai emosi itu, bibir mereka bertemu. Catherina yang tadinya ingin menolak, justru tenggelam dalam ciuman panas yang menuntut—ciuman yang seolah ingin menghapus jejak pria lain dari ingatan Catherina.

"Apa dia menciummu seperti ini, Cathe?" tanya Everest di sela ciumannya, suaranya kini dipenuhi amarah yang meledak-ledak.

Tiba-tiba, tangan Everest yang tadinya di pinggang bergerak liar. Dengan kasar namun penuh gairah, ia memasukkan jemarinya di balik dress porselen milik Catherina. Catherina tersentak, tangannya refleks memeluk erat Liam yang masih berada di pangkuannya.

"Apa Adrian tahu di mana titik sensitifmu? Apa Adrian melakukan hal seperti ini padamu?!" Everest bertanya dengan nada menuduh, jarinya menerobos masuk, menyentuh bagian terdalam milik Catherina dengan dominasi yang menghancurkan.

"Sakit... Everest, berhenti. Itu sakit!" rintih Catherina, matanya berkaca-kaca.

Everest menghentikan gerakannya sejenak, namun matanya menatap tajam ke arah Catherina. "Kenapa kau merasa sakit hanya dengan jariku? Apa dia begitu kasar padamu, Cathe? Apa si brengsek itu menyakitimu selama ini?!"

Catherina menggeleng lemah, dadanya sesak oleh rasa malu dan kenikmatan yang terlarang. "Jangan seperti ini, Everest... Aku tidak mau istrimu tahu. Kau sudah punya keluarga... hargailah Serline dan ibunya."

Everest tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat gelap di telinga Catherina. Ia tidak melepaskan tangannya, justru semakin menekannya seolah ingin menandai kembali wilayah yang dulu adalah miliknya. Ia tidak peduli pada "istri" atau siapa pun yang dibayangkan Catherina, karena baginya, hanya ada satu wanita yang berhak berada di bawah kendalinya—dan wanita itu sedang di pelukannya sekarang.

🌷🌷🌷

Happy reading dear😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!