Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Sentuhan yang Asing
Ruangan rumah sakit itu masih terasa dingin, namun bukan hanya karena suhu. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh Evelyn Edison—atau kini, Laura Roberts—tentang dunia ini. Segalanya terasa terlalu nyata, terlalu rapuh, dan… terlalu hidup.
Ia duduk setengah bersandar di ranjang, menatap selang infus yang masih menempel di tangannya. Tubuh ini lemah, mudah lelah, dan anehnya… sensitif. Setiap sentuhan terasa lebih jelas, setiap emosi terasa lebih berat.
Berbeda sekali dengan dunia sihir yang dingin dan terkontrol.
Di sampingnya, Martin Gilbert masih berada di tempatnya. Wajahnya tetap sama—tenang, dingin, sulit ditebak. Namun ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Sebelum Laura sempat memahami apa itu—
Pintu kamar terbuka.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tergesa, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang tidak dibuat-buat.
Nyonya Quenza.
“Laura!” suaranya langsung memenuhi ruangan, hangat dan penuh perhatian. “Ya ampun, kamu sudah sadar!”
Wanita itu mendekat dengan cepat, matanya memeriksa Laura dari ujung kepala hingga kaki seolah memastikan tidak ada yang terluka.
“Kamu tidak apa-apa, kan?” tanyanya lembut. “Dokter bilang kamu terlalu kelelahan. Kamu ini, ya… selalu memaksakan diri.”
Laura sedikit terdiam.
Nada suara itu—
Hangat.
Terlalu hangat.
Sesuatu yang asing baginya.
Namun tubuh ini… seolah sudah terbiasa.
“Maaf…” ucap Laura pelan, masih mencoba menyesuaikan diri. “Aku… membuat semua orang khawatir.”
Nyonya Quenza langsung menggeleng. “Bukan itu yang penting. Yang penting kamu baik-baik saja.”
Ia menggenggam tangan Laura dengan lembut.
“Menantu mommy jangan kecapean ya,” lanjutnya dengan senyum yang tulus.
Kata itu—
menantu.
Laura terdiam.
Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan peran ini. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.
Namun sebelum ia sempat merespons lebih jauh—
Sesuatu yang lain terjadi.
Perlahan.
Tanpa peringatan.
Sebuah sentuhan.
Lembut.
Hangat.
Martin Gilbert mengangkat tangannya dan mengusap rambut Laura dengan pelan.
Gerakan itu sederhana.
Namun bagi Laura—
Itu seperti dunia yang tiba-tiba berhenti.
Ia membeku.
Benar-benar membeku.
Karena itu bukan sekadar sentuhan.
Itu… kelembutan.
Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Di dunia sihir, tidak ada hal seperti ini. Tidak ada sentuhan tanpa tujuan, tidak ada perhatian tanpa alasan. Semua dingin. Semua terukur. Semua… jauh.
Namun sekarang—
Sentuhan itu nyata.
Dan terasa.
Laura tidak bergerak.
Matanya sedikit melebar, namun ia tidak menolak.
Ia hanya… diam.
Merasakan.
Sesuatu yang perlahan mengalir di dalam dirinya.
Aneh.
Namun… tidak buruk.
Martin tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya tetap datar, seolah tindakan itu bukan sesuatu yang istimewa.
Namun justru itu yang membuat Laura semakin bingung.
“Kenapa diam saja?” tanya Nyonya Quenza sambil tersenyum kecil. “Biasanya kamu cerewet sekali kalau sama Martin.”
Laura menoleh sedikit. “Aku… hanya lelah.”
“Wajar,” jawab wanita itu lembut. “Tapi kamu harus lebih menjaga diri. Martin juga pasti khawatir.”
Laura melirik ke arah Martin.
Pria itu tidak langsung menatapnya.
Namun tangannya… masih berada di rambutnya.
Seolah belum ingin menariknya kembali.
“Aku tidak apa-apa,” kata Martin singkat, meski nadanya tetap dingin.
Nyonya Quenza tersenyum kecil. “Kamu itu, kalau khawatir tidak pernah mau mengaku.”
Martin tidak menjawab.
Namun Laura bisa merasakannya.
Ada sesuatu yang tidak ia tunjukkan.
Dan itu… berbeda dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Ia menunduk sedikit.
Hatinya terasa aneh.
Berat… tapi hangat.
“Aku akan lebih hati-hati,” ucap Laura pelan.
“Bagus,” kata Nyonya Quenza sambil mengangguk puas. “Kamu ini sudah jadi bagian dari keluarga kami. Jangan anggap diri sendiri sendirian.”
Kalimat itu membuat Laura kembali terdiam.
Bagian dari keluarga.
Konsep itu terasa asing. Namun sekaligus… menenangkan.Di dunia sebelumnya, ia selalu sendiri.Selalu berdiri tanpa siapa pun di sisinya.
Namun di sini—Ada seseorang yang memanggilnya menantu.Ada seseorang yang… menyentuhnya dengan lembut.Laura menarik napas pelan.Matanya kembali tertuju pada tangannya sendiri.
Tidak ada sihir.Tidak ada kekuatan.Namun—Ada sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Perasaan. Nyata.Dan tidak bisa diabaikan.
Martin akhirnya menarik tangannya perlahan.
Namun sebelum benar-benar menjauh - Ia berkata pelan, hampir seperti gumaman,
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Laura menoleh.
Menatapnya.
Kali ini, lebih lama.
“Aku…” ia berhenti sejenak, “tidak terbiasa.”
Martin mengangkat alis sedikit. “Dengan apa?”
Laura tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya berkata jujur—
“Dengan… dipedulikan.”
Sunyi.
Nyonya Quenza menatapnya dengan lembut, sementara Martin terlihat sedikit terdiam.
Kalimat itu terlalu jujur.
Dan mungkin… terlalu asing untuk didengar.
Martin menatap Laura.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di matanya.
Bukan lagi sekadar dingin.
Melainkan… memahami.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “biasakan.”
Laura tidak menjawab.
Namun kali ini—
Ia tidak menolak.
Karena di dalam dirinya, sesuatu mulai berubah.
Dunia ini memang asing.
Penuh hal yang tidak ia mengerti.
Namun untuk pertama kalinya—
Ia tidak merasa sendirian.
Dan mungkin…
Itulah alasan sebenarnya mengapa ia memilih menjadi manusia.
Bukan hanya untuk mengetahui.
Tapi untuk… merasakan.