Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Layar
Ruangan medis Akademi Arclight terasa jauh lebih tenang dibandingkan dua hari sebelumnya, tetapi suasana itu tidak sepenuhnya membawa ketenangan. Ren bersandar di tempat tidurnya, masih merasakan sisa kelemahan di tubuhnya, meskipun kondisinya sudah jauh lebih baik. Cahaya matahari masuk dari jendela, menyinari ruangan dengan hangat, seolah-olah tidak pernah terjadi pertempuran besar yang hampir menghancurkan seluruh akademi.
Mira duduk di samping tempat tidur dengan tangan terlipat, sesekali melirik Ren seperti memastikan dia tidak tiba-tiba pingsan lagi. Aria masih berada di dekat meja, mencatat sesuatu sambil sesekali memperhatikan kondisi Ren. Lilia berdiri tenang di dekat jendela, sementara Nyra bersandar santai di dinding. Selene, seperti biasa, berdiri sedikit terpisah, diam tetapi tetap memperhatikan semuanya.
“Jadi…,” kata Mira akhirnya memecah keheningan, “kamu mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?”
Ren menghela napas pelan. Ia sudah tahu pertanyaan itu akan datang. “Aku juga tidak sepenuhnya mengerti,” jawabnya jujur. “Kekuatan itu… seperti muncul sendiri. Tapi kali ini aku bisa mengarahkannya.”
Nyra menyeringai kecil. “Bukan cuma ‘mengarahkan’. Kamu hampir mengalahkan Kael.”
Ren menggeleng pelan. “Dia belum serius sepenuhnya.”
Selene langsung menimpali dengan suara tenang, “Benar. Dia menahan sesuatu.” Ia menatap Ren lebih dalam. “Tapi begitu juga kamu.”
Ruangan kembali hening beberapa detik. Kata-kata itu menggantung di udara, membuat semua orang menyadari bahwa apa yang terjadi kemarin belum menunjukkan kekuatan penuh dari kedua sisi.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Gareth masuk bersama pria berambut perak yang sebelumnya ditemui Ren. Aura keduanya langsung mengubah suasana ruangan menjadi lebih serius. Semua orang secara refleks berdiri, kecuali Ren yang masih duduk di tempat tidur.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Gareth singkat.
“Masih hidup,” jawab Ren ringan.
Pria berambut perak itu menatap Ren beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat. “Lebih dari sekadar hidup,” katanya pelan. “Kamu sudah melangkah lebih jauh dari yang kami perkirakan.”
Mira menyilangkan tangan. “Langsung ke intinya saja. Kalian datang pasti bukan cuma buat basa-basi.”
Gareth tidak membantah. Ia melirik ke arah pria berambut perak itu, lalu kembali ke Ren. “Serangan Ordo Umbra kemarin… bukan kebetulan.”
Ren mengangguk. “Mereka datang untukku.”
“Bukan hanya itu,” lanjut pria berambut perak. “Mereka juga menguji sesuatu.”
Ren mengerutkan kening. “Menguji?”
Pria itu berjalan mendekat sedikit. “Kekuatan Valen. Mereka ingin memastikan apakah kamu benar-benar pewarisnya.”
Nyra tertawa kecil. “Kalau itu tujuan mereka, jawabannya sudah jelas.”
Namun ekspresi pria berambut perak itu tetap serius. “Masalahnya… itu baru langkah pertama.”
Ruangan kembali sunyi.
Aria menelan ludah pelan. “Maksudnya… mereka akan datang lagi?”
Gareth menjawab tanpa ragu, “Ya.”
Mira langsung menggeram pelan. “Bagus. Biar sekalian kita selesaikan.”
Lilia menggeleng kecil. “Tidak sesederhana itu.”
Selene menatap Gareth. “Mereka tidak akan menyerang dengan cara yang sama.”
Gareth mengangguk. “Benar. Serangan kemarin hanya pembuka.”
Ren terdiam sejenak, mencerna semua itu. Lalu ia bertanya pelan, “Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku?”
Pria berambut perak itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Ren dengan lebih dalam, lalu berkata, “Jawaban itu… berkaitan dengan ayahmu.”
Nama itu langsung membuat suasana berubah.
“Aldric Valen,” lanjutnya. “Bukan hanya penyihir kuat. Dia adalah pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar.”
Ren mengepalkan tangannya sedikit. “Seperti apa?”
Pria itu menghela napas pelan. “Sebuah kekuatan yang bisa mengubah keseimbangan dunia sihir.”
Nyra tersenyum tipis. “Kedengarannya menyenangkan.”
Lilia meliriknya tajam. “Tidak ada yang menyenangkan dari itu.”
Gareth kemudian berkata dengan nada tegas, “Mulai sekarang, kamu tidak bisa lagi hidup seperti siswa biasa.”
Mira langsung protes, “Dia memang tidak pernah ‘biasa’ dari awal.”
Namun Gareth mengabaikannya. “Kamu akan berada di bawah pengawasan khusus.”
Ren mengangkat alis. “Pengawasan?”
Selene menyilangkan tangan. “Artinya kamu jadi target utama.”
Ren menghela napas panjang. “Sudah terasa sejak kemarin.”
Beberapa detik hening berlalu sebelum Gareth menambahkan, “Dan ada satu hal lagi.”
Semua orang menatapnya.
“Kita akan memulai pelatihan khusus.”
Nyra langsung tersenyum lebar. “Akhirnya.”
Mira juga terlihat antusias. “Ini baru menarik.”
Aria sedikit ragu. “Pelatihan seperti apa?”
Gareth menjawab singkat, “Pelatihan untuk perang.”
Kata-kata itu langsung mengubah suasana ruangan.
Karena sekarang semua orang mengerti.
Apa yang terjadi kemarin…
bukan akhir dari konflik.