NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. DI BALIK PELUKAN

Dinginnya Laut Baltik di luar gereja Saint Nicholas seolah ikut menyelinap masuk ke dalam tulang-tulang Alana saat ia melangkah menembus terowongan sempit di belakang altar. Suara tangisan Wira yang memilukan perlahan memudar, tertutup oleh dentuman pintu besi yang dikunci Alexei dari dalam. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu senter kecil di tangan Alexei, Alana merasa seolah-olah ia baru saja melintasi batas antara dunianya yang lama dan dunia yang sepenuhnya baru, dunia di mana hanya ada dia dan pria yang kini merangkul bahunya dengan posesif.

​"Jangan menoleh, Alana," bisik Alexei, suaranya parau karena menahan sakit di bahunya yang terus mengeluarkan darah. "Langkah itu sudah kau ambil. Jika kau kembali sekarang, Wira hanya akan menjadikanmu alat untuk menutupi hutangnya kembali. Di depan sana, hanya ada kebebasan yang kujanjikan."

​Alana mengangguk pelan, air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak garam yang perih di pipinya. Ia membiarkan Alexei menuntunnya keluar dari ujung terowongan yang bermuara di sebuah gudang kayu tua di pinggiran dermaga tersembunyi. Sebuah SUV hitam dengan mesin yang sudah menyala telah menunggu mereka.

​"Tuan Alexei! Anda terluka parah!" seru seorang pengawal yang segera keluar dari mobil.

​"Diam dan kendarai mobil ini ke safe house di Inari," perintah Alexei dingin. Ia mendorong Alana masuk ke kursi belakang, lalu menyusul dengan sisa tenaganya yang hampir habis.

​Perjalanan menuju perbatasan Finlandia itu dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Alana menatap keluar jendela, melihat hamparan salju yang diterangi lampu jalanan yang jarang. Di sampingnya, Alexei memejamkan mata, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak rapuh di bawah cahaya remang dasbor mobil. Alana melihat kain balutan di bahu Alexei sudah sepenuhnya merah. Pria ini telah mengorbankan nyawanya atau begitulah yang Alana yakini, demi melindunginya dari kejaran "monster" bernama Wira.

​Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah vila kayu yang sangat tersembunyi di tengah hutan pinus Inari. Bangunan itu tampak mewah namun sangat terisolasi, dikelilingi oleh pagar tinggi dan sistem keamanan yang canggih.

​"Bawa kotak medis ke kamar utama," perintah Alexei pada pengawalnya saat mereka masuk ke dalam rumah yang hangat oleh perapian otomatis.

​Alana segera mengambil alih. Ia menuntun Alexei ke tempat tidur besar berselimut bulu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Alana mulai membuka kancing kemeja Alexei yang sudah kaku karena darah kering.

​"Biar aku saja yang melakukannya, Alexei. Kau sudah cukup banyak berkorban hari ini," ucap Alana lembut.

​Saat kain kemeja itu tersingkap, Alana menahan napas. Luka tembak di bahu Alexei terlihat mengerikan, kulit di sekitarnya membiru dan membengkak. Dengan penuh dedikasi, Alana mulai membersihkan luka itu menggunakan alkohol dan antiseptik. Setiap kali Alexei meringis kecil, Alana merasakan denyut nyeri di hatinya sendiri. Ia merasa berhutang nyawa. Ia merasa bahwa Alexei adalah satu-satunya orang di dunia ini yang jujur padanya, satu-satunya orang yang tidak memperlakukannya sebagai "aset" atau "barang dagangan".

​"Kenapa kau melakukannya, Alexei?" tanya Alana tanpa sadar saat ia mulai menjahit luka kecil di pinggiran bahu Alexei dengan peralatan bedah darurat. "Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk seseorang yang bahkan kau beli dengan kontrak?"

​Alexei membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar sebelum beralih ke mata Alana. Tangannya yang dingin meraih jemari Alana, menghentikan aktivitas gadis itu sejenak.

​"Karena kau bukan sekadar kontrak, Alana," bisik Alexei, suaranya terdengar tulus namun mengandung daya pikat yang berbahaya. "Sepuluh tahun lalu, saat aku melihat fotomu yang dikirimkan Wira sebagai jaminan, aku bersumpah bahwa aku tidak akan membiarkan mawar kecil dari keluarga Volskaya ini layu di tangan pria serakah seperti dia. Aku membelimu untuk menyelamatkanmu. Aku ingin kau berada di tempat di mana kau bisa tumbuh tanpa rasa takut, meskipun tempat itu adalah sangkar yang kubangun sendiri."

​Alana terdiam. Kalimat itu meresap ke dalam hatinya seperti racun yang manis. Ia merasa dicintai, meskipun cinta itu datang dalam bentuk yang posesif dan berdarah. Ia menyelesaikan balutannya, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada Alexei yang tidak terluka.

​"Aku membuang DNA itu, Alexei. Aku menghancurkan satu-satunya jalan Wira untuk mendapatkan aset ibuku," ucap Alana dengan nada bangga sekaligus sedih.

​"Kau melakukan hal yang benar, Moya Lyubov (Cintaku)," Alexei mengelus rambut Alana dengan lembut. "Sekarang, Wira tidak punya apa-apa lagi untuk mengejarmu. Dia akan hancur oleh hutang-hutangnya sendiri. Dan kau... kau aman bersamaku."

​Malam itu, Alexei tertidur lelap setelah meminum obat pereda nyeri yang kuat. Alana duduk di samping tempat tidur, menatap wajah pria itu di bawah cahaya rembulan yang masuk lewat jendela besar. Perasaan cintanya mulai tumbuh subur di atas tanah kebohongan yang telah dipupuk Alexei dengan sangat rapi. Alana merasa ia akhirnya menemukan rumah.

​Namun, ketenangan itu terusik saat ia melihat jaket Alexei yang tersampir di kursi dekat tempat tidur. Sesuatu yang berwarna perak menyembul dari saku dalamnya. Karena rasa penasaran, Alana mendekat dan menarik benda itu.

​Itu adalah telepon satelit milik Alexei.

​Tiba-tiba, layar telepon itu menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak yang hanya berinisial "V.S.". Alana ragu sejenak, namun jarinya seolah memiliki kemauannya sendiri untuk menyentuh layar tersebut. Pesan itu pendek, namun mampu membuat dunia Alana yang baru saja tenang kembali hancur berkeping-keping.

​"Akses DNA palsu telah berhasil dihancurkan Alana di gereja. Skenario berjalan sempurna. Wira sekarang menjadi target utama dewan Bratva karena dianggap menipu dewan dengan DNA yang hilang. Alana sekarang sepenuhnya berada dalam kendalimu. Ingat janji kita, Dragunov, Berikan dia padaku setelah semua aset Volskaya benar-benar cair."

​Darah Alana serasa berhenti mengalir. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​DNA palsu? Skenario?

​Alana menoleh ke arah Alexei yang masih tertidur dengan wajah yang tampak begitu damai. Pria ini... pria yang baru saja ia rawat lukanya dengan penuh cinta, pria yang ia anggap sebagai penyelamatnya... ternyata adalah sutradara dari seluruh drama berdarah di gereja itu. Alexei tidak pernah berniat menghancurkan DNA itu, dia hanya ingin Alana yang menghancurkannya agar Alana merasa bersalah dan terikat selamanya padanya.

​Dan siapa "V.S." ini? Mengapa Alexei berjanji akan memberikan Aku padanya setelah asetnya cair?

​Alana meremas telepon satelit itu hingga tangannya memutih. Rasa cinta yang tadi mekar seketika layu dan berubah menjadi duri yang menusuk jantungnya.

​Tiba-tiba, tangan Alexei bergerak. Alana dengan cepat memasukkan kembali telepon itu ke saku jaket dan kembali duduk di samping tempat tidur, berpura-pura tenang meskipun jantungnya berdegup seperti genderang perang.

​Alexei membuka matanya, menatap Alana dengan senyum tipis yang kini terlihat seperti seringai iblis di mata gadis itu.

​"Kau belum tidur, Alana?" tanya Alexei lembut, tangannya meraih tangan Alana dan menciumnya.

​Alana terpaksa tersenyum, sebuah senyuman yang paling sulit yang pernah ia buat dalam hidupnya. "Aku hanya... aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, Alexei."

​"Aku akan selalu baik-baik saja, selama kau ada di sisiku," jawab Alexei, lalu menarik Alana untuk tidur di pelukannya.

​Alana memejamkan mata, namun pikirannya bekerja dengan liar. Di dalam pelukan hangat pria yang telah "membelinya" ini, Alana berfikir ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam skenario hidupnya, Ia harus mulai menulis alur hidupnya sendiri. Ia harus mencari tahu siapa "V.S." dan apa yang sebenarnya disembunyikan ibunya.

​Ia akan tetap menjadi "Alana yang patuh" di depan Alexei, tapi di balik itu, ia akan mulai menyusun rencana pelariannya yang sesungguhnya. Kali ini, ia tidak akan lari menuju gereja tua, tapi ia akan lari menuju pusat kekuasaan yang telah mempermainkan takdirnya.

​Di luar, badai salju Inari mulai mengamuk kembali, menutupi vila itu dengan lapisan es yang tebal, seolah ingin menyembunyikan pengkhianatan yang baru saja terungkap di dalamnya.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!