"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: ILUSI CAHAYA DAN JEBAKAN MEMORI
Suasana di depan gerbang Mansion Ryker pagi itu tidak lagi tenang. Puluhan mobil van stasiun televisi parkir sembarangan, kabel-kabel melintang di aspal, dan kerumunan wartawan berebut posisi paling depan. Kilatan lampu kamera tak henti-hentinya menyambar ke arah balkon yang hancur, mencoba menangkap sisa-sisa fenomena aneh semalam.
"Tuan Nael! Berikan penjelasan mengenai fenomena pilar cahaya semalam!" teriak seorang wartawan pria dengan mikrofon di tangan.
"Apakah Ryker Group sedang menguji teknologi senjata rahasia? Apakah ini penyebab ledakan di kediaman Anda?" sahut yang lain, suaranya bersahutan dengan deru mesin mobil polisi.
Di dalam kamar, Nael berdiri di balik gorden yang tersisa, menatap horor ke arah kerumunan itu. Wajahnya pucat pasi. Ia mengetik dengan tangan gemetar di ponselnya, lalu menyodorkannya ke arah Alurra:
"POLISI SUDAH DI DEPAN GERBANG. MEREKA MEMINTA IZIN MASUK UNTUK INVESTIGASI KERUSAKAN. KITA TERPOJOK."
Alurra, yang baru saja selesai "mandi cahaya" dan kini tampak sangat segar dengan kulit yang bercahaya transparan, justru sedang asyik memakan apel dengan santai di atas sofa. Tidak ada sedikit pun gurat kecemasan di wajah cantiknya.
"Nael, kenapa manusia-manusia di luar itu berteriak seperti monyet kelaparan?" tanya Alurra polos. "Apa mereka juga mau mandi di air terjun suciku?"
Nael menghampiri Alurra, langkahnya terburu-buru. Wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Ia kembali mengetik dengan cepat, jarinya seolah berpacu dengan waktu:
"MEREKA MELIHAT CAHAYA ANDA! JIKA MEREKA MASUK DAN MELIHAT AIR TERJUN ITU, ANDA AKAN DIANGGAP MONSTER! KITA AKAN DIPISAHKAN!"
Alurra berhenti mengunyah. Matanya yang ungu menyipit, menatap Nael dengan dalam. "Dipisahkan? Hanya karena air terjun kecil itu?"
"IYA! DUNIA MANUSIA TIDAK PUNYA SIHIR!" Nael mengetik cepat, dadanya sesak hingga ia harus memegang dadanya sendiri. "MEREKA AKAN MEMBAWA ANDA KE TEMPAT GELAP UNTUK DITELITI SEBAGAI ANOMALI!"
Alurra bangkit berdiri perlahan. Ia berjalan menuju balkon yang hancur, menatap kerumunan manusia di bawah sana dengan tatapan meremehkan. "Kasihan sekali. Hidup di dunia yang kaku sampai-sampai cahaya indah saja dianggap ancaman."
Nael segera menyambar pergelangan tangan Alurra, menariknya menjauh dari tepi balkon. Matanya membelalak, mencoba berkomunikasi lewat tatapan tajam yang seolah berteriak. Ia menunjukkan ponselnya lagi:
"ALURRA, MASUK! JANGAN SAMPAI MEREKA MEMOTRET WAJAHMU!"
Namun bidadari itu menahannya. Tenaga Alurra jauh lebih kuat dari kelihatannya. Ia membalikkan telapak tangan Nael, menggenggamnya erat.
"Nael, pangeranku yang penakut... tenanglah," bisik Alurra lembut. Ia mengusap pipi Nael dengan tangan satunya. "Ingat kan? Aku ini bidadari. Menghadapi dewa-dewa kemarin saja aku bisa, apalagi cuma manusia-manusia berisik yang memegang kotak hitam pemotret itu."
Alurra menjentikkan jarinya ke udara. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar pelan. Sebuah gelombang transparan berwarna ungu lembut memancar keluar dari tubuh Alurra, menyebar seperti riak air ke seluruh halaman mansion hingga mencapai kerumunan di luar gerbang.
Nael hanya bisa menatap bingung. Ia meraih ponselnya: "APA YANG ANDA LAKUKAN?"
"Hanya sedikit 'bubuk mimpi' lewat udara," Alurra tersenyum licik. "Sekarang, beri isyarat pada penjagamu. Buka gerbangnya. Biarkan mereka masuk."
Nael ragu, jantungnya berdegup kencang. Namun, melihat keyakinan di mata Alurra, ia memilih percaya. Ia menekan tombol interkom di dinding dan memberikan isyarat pada Pak Satrio untuk membuka gerbang utama.
Sekelompok polisi dan wartawan merangsek masuk ke halaman. Namun, langkah mereka mendadak melambat. Pemandangan yang mereka lihat sungguh aneh. Air terjun kristal yang memancar dari langit itu, di mata mereka kini hanya terlihat seperti instalasi air mancur taman biasa yang sedikit rusak pipanya. Cahaya biru yang mistis berubah menjadi pendar lampu LED dekorasi murahan yang berkedip-kedip tak beraturan.
"Selamat pagi, semuanya!" Alurra berteriak dari balkon dengan gaya bar-bar-nya yang biasa, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. "Terima kasih sudah datang ke uji coba Grand Launching teknologi 'Ryker Laser Light Projector' terbaru kami! Bagaimana? Keren kan lampunya sampai ke langit?"
Seorang detektif polisi mengerutkan kening, ia menatap ke arah atap yang jebol dengan bingung. "Lalu... lubang di atap ini? Dan suara ledakan semalam yang dilaporkan warga?"
"Oh, itu!" Alurra tertawa nyaring, suaranya memenuhi halaman. "Itu kembang api yang salah arah! Maklum, teknisi kami agak kurang minum kopi kemarin, jadi kembang apinya meledak di dalam kamar Tuan Nael. Makanya dia memasang muka masam sekarang karena kamarnya bolong!"
Nael hanya bisa berdiri mematung di samping Alurra. Ia memasang wajah sedingin es, khas seorang CEO yang sedang tidak ingin diganggu, meski di dalam hati ia sangat takjub.
"Tapi... pilar cahaya itu... di video warga terlihat sangat nyata dan sangat tinggi," gumam seorang wartawan yang mulai merasa kepalanya sedikit pening dan linglung.
"Itu teknologi hologram, Bodoh!" Alurra melompat duduk di pagar balkon yang rusak, menggoyang-goyangkan kakinya dengan santai. "Zaman sekarang kan semua bisa dipalsukan dengan editing. Kalian ini kurang piknik ya? Makanya, sering-sering main ke mansion ini kalau mau lihat instalasi lampu cantik!"
Alurra kemudian menatap detektif polisi itu dengan mata ungu yang berkilat samar, memancarkan pesona hipnotis. "Pak Polisi, tidak ada monster di sini. Yang ada cuma pria bisu yang sedang stres karena kamarnya bolong. Jadi, silakan pulang dan tulis di koran kalian: 'Ryker Group akan segera menguasai dunia dengan teknologi lampu tercanggih!'"
Ajaibnya, para wartawan dan polisi itu mulai mengangguk-angguk seperti terhipnotis. Keinginan mereka untuk melakukan investigasi mendalam menguap begitu saja.
"Benar juga ya... cuma lampu laser canggih," bisik salah satu wartawan sambil menggaruk kepala. "Kenapa tadi aku sampai lari-lari ketakutan dan mengira ada alien ya?"
Begitu kerumunan itu membubarkan diri dengan wajah bingung, gerbang kembali ditutup rapat. Nael menghela napas yang sangat panjang, seolah seluruh beban dunia baru saja diangkat dari pundaknya. Ia terduduk di lantai balkon yang retak, merasa seluruh tenaganya terkuras hanya karena panik.
Alurra mendekat, ia berjongkok di depan Nael dan mencubit hidung pria itu dengan gemas. "Lihat? Masalah selesai! Manusia itu lucu ya, Nael. Ingatan mereka sangat mudah dimanipulasi hanya dengan sedikit aroma bunga surga."
Nael mengambil ponselnya, jarinya mengetik pelan:
"ANDA LUAR BIASA. TAPI TOLONG, JANGAN PERNAH MENAKUTI SAYA SEPERTI ITU LAGI. SAYA BENAR-BENAR PIKIR SAYA AKAN KEHILANGAN ANDA PAGI INI."
"Selama sauhku masih di sini," Alurra menunjuk tepat ke arah jantung Nael, "aku tidak akan ke mana-mana. Tapi Nael... sihir manipulasi massal tadi menguras tenagaku. Aku lapar lagi! Kali ini aku mau sate ayam, yang banyak kecapnya!"
Nael tersenyum kecil—sebuah senyum tulus yang sangat langka. Ia bangkit dan menarik Alurra ke dalam pelukannya, mendekap bidadari itu erat-erat di tengah kehancuran kamar mereka. Nael menyadari satu hal: hidup dengan bidadari bar-bar berarti ia harus siap menghadapi kiamat kecil setiap harinya, dan ia sama sekali tidak keberatan asalkan Alurra tetap di sisinya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....