"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Menemui Deana
Jordi melihat Reno datang dengan lebam di kedua pipinya langsung berdiri dan menyambut kedatangannya dengan sopan.
"Selamat pagi, Tuan." Jordi mengikuti langkah kemana Reno pergi.
"Tuan, ada apa dengan Tuan? Apa ada seseorang yang berusaha untuk mencelakai Tuan di jalan?" sambung Jordi bertanya karena penasaran. Jordi berhak mengetahui siapa yang ingin mencelakai bos besarnya.
Reno membuka ruang pribadinya dan mendudukkan dirinya di atas kursi kebesarannya, sementara Jordi berdiri di hadapan Reno.
"Ada masalah dengan Daddy." balas Reno lalu mengambil tisu dan menempelkannya di atas pipinya yang masih terasa panas dan sakit.
Jordi tidak bisa ikut dalam permasalahannya karena ternyata Tuannya sedikit cekcok dengan Tuan Samuel, yang berarti Tuannya juga.
"Tolong panggilkan OB untuk membawa air hangat kemari, Jo." ujar Reno. Padahal ia sudah menahannya untuk tidak dikompres dan membiarkannya saja sampai sembuh, tapi setelah dirasa, ternyata cukup membuatnya tersiksa.
"Baik Tuan." balas Reno mengangguk lalu keluar dari ruangan itu dan mencari para pelayan.
***
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan perempuan masuk ke dalam ruangan Reno membawakan air hangat dan kain kecilnya. Tak hanya itu, ia juga membawa segelas air dingin yang dimintai oleh Reno.
"Boleh keluar." usir Reno. Ia malas berhadapan dengan para wanita. Sangat menguras tenaganya.
"Baik Tuan, jam berapa aku perlu kembali?" tanya pelayan perempuan itu menatap lekat mata Reno.
"Tidak ada yang menyuruhmu. Saya ingin Anda keluar." tegas Reno menatap nyalang mata yang sedang menatapnya lekat itu.
"Ba... Baik Tuan, maafkan saya, saya sudah lancang." ucap pelayan itu gemetar menahan takut. Dengan langkah kecilnya, ia keluar dengan cepat.
Jordi yang baru datang itu terkekeh melihat seorang OB seperti ketakutan pada Reno, "Ada apa?" tanyanya.
"Dia membuatku darah tinggi. Bagaimana bisa dia lolos seleksi untuk bagian pelayan?" geram Reno lalu mulai mencelupkan kain kecil yang masih kering itu hingga basah dan memerasnya, kemudian ia meletakkannya di atas pipinya yang lebam.
"Maafkan saya Tuan, nanti saya coba menghubungi pihak pelayan agar mereka bisa lebih mentaati aturan yang berlaku di perusahaan." sahut Jordi. Tidak ada kata selain kata maaf yang bisa Jordi katakan untuk saat ini.
Reno mengangguk, "Jo, hari ini saya akan pergi ke rumah Deana. Kau tahu, Daddy menyuruhku untuk menikahi Fiona demi perusahaan, Daddy tidak tahu bagaimana kelakuan Fiona, Fiona pasti tidak akan bisa menyayangi Lena, dia pasti selalu memarahi Lena dan memisahkan Lena denganku."
Jordi mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Tuannya itu, "Apa perlu saya ikut dengan Tuan?" tanya Jordi.
"Tidak. Saya bisa sendiri, saya titip perusahaan saja padamu. Sabtu besok, saya akan mengadakan pernikahan dengan Deana, mau Daddy atau Mommy tidak suka, saya tidak akan mempermasalahkannya."
Jordi duduk di samping Reno dan mengamati lebam di pipi kanan dan kiri Reno, "Tuan, apa ini perlu diobati? Apa saya perlu memanggilkan Dokter Andrew untuk memeriksanya?"
Dokter Andrew adalah Dokter kepercayaan keluarga Mahesa.
"Tidak. Sekarang juga saya harus bergegas menemui Deana, Jo."
Jordi mendesah pelan, "Apa Tuan yakin untuk menikahi Nona Deana? Secara Nona Deana... Maaf, dari keluarga kalangan bawah. Sangat berbanding sekali dengan Tuan. Saya takut, Tuan besar dan Nyonya besar akan mengucilkan Nona Deana." ujar Jordi memperjelas.
"Kalau Tuan ingin, Tuan bisa memberinya kompensasi dan perjanjian saja pada Nona Deana." lanjut Jordi memberikan pilihan solusi pada Tuannya.
Reno menghela napasnya berat, "Saya tidak akan menganggap dia sebagai istri Jo, saya hanya menikahinya. Setelah satu tahun dia tidak hamil, saya akan menceraikannya."
Jordi menelan ludahnya kasar, "Maksud Tuan...??"
"Ya, saya sudah membuat kontrak pernikahan dengan Deana. Kau tidak perlu menyuruhku macam-macam, saya sudah berpikir panjang untuk ini. Bagaimana mungkin saya menyukai gadis kumuh itu. Sangat menurunkan harga diriku." balas Reno. Reno hanya memuji Deana di depan kedua orang tuanya saja.
Jordi terdiam, ia belum pernah sekalipun melihat bagaimana seorang Deana berdiri langsung di depannya, ia baru melihat dari foto saja.
***
"Astaga kenapa rumahnya mesti masuk ke dalam gang kecil seperti ini! Bagaimana mungkin aku harus berjalan ke sana. Lalu di mana aku harus memarkirkan mobilku?" Reno memukul stir mobilnya pelan saat mendapat rute jalan menuju rumah Deana.
Saat ini, Reno sudah berada di desa yang Deana tinggali. Masih asri dengan sawah dan pepohonan yang rindang, sungainya pun masih sangat jernih.
Mau tidak mau, Reno meninggalkan mobil mewahnya yang terparkir di taman desa itu. Reno juga menitipkannya pada orang yang sedang mengopi di warung kecil dekat dengan tamannya.
Tin... Tin...!!
"Si*alan!" pekik Reno terlonjak kaget karena diklakson motor dari belakang.
"Hey kalau jalan ke pinggir dong!" ucap pengendara motor itu sedikit berteriak.
Reno hanya bisa bersabar karena ia tidak mau terpancing emosi hanya gara-gara kejadian kecil itu.
Reno merogoh kantong jasnya dan mengambil kacamata hitam untuk dipakainya. Tubuh gagah dan tinggi itu berjalan tegap menyusuri jalanan kecil ke arah rumah Deana.
Hampir 100 meter berjalan, akhirnya titik rumah Deana ditemukan. Rumah kecil dan sederhana itu terletak di dekat sungai dan perkebunan. Sangat menyejukkan mata dan mengademkan pikirannya.
"Ini?" Reno mengernyit. Ia melangkahkan kakinya mendekati rumahnya.
"Cari siapa ya Pak?" ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja turun menaiki sepedanya itu menghampiri Reno, "Mencari siapa?" tanyanya heran.
"Ini rumah Dea... na?" tanya Reno sambil menurunkan kacamatanya. Melihat penampilan seorang perempuan tua memakai daster berlengan panjang itu.
"Iya, saya Ibunya. Apa ini bosnya Deana?" tanya Ibu Hesti.
Reno memejamkan matanya sekilas sambil menghela napasnya panjang, "Deana kan kerja, kenapa harus seceroboh ini." batin Reno kesal.
"Saya calon suaminya." balas Reno lalu menjabat tangan Ibu Hesti sambil tersenyum, "Di mana Deana? Apa jam segini masih kerja?" tanya Reno.
"Hah? Calon suami? Maksudnya?" Ibu Hesti kebingungan, tapi ia tak mau ambil pusing.
"Deana! Deana!" seru Ibu Hesti memanggil putrinya sambil memasuki rumahnya.
Reno tersenyum puas.
"Mari... Masuk saja kemari." ajak Ibu Hesti pada Reno yang masih berdiri di halaman rumahnya itu.
Reno mengangguk, "Terima kasih Bu, kalau begitu saya izin masuk ke dalam." balas Reno lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.