Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit Yang Sebenarnya
Gedung tempat mereka bertemu tidak mencolok dari luar. Bangunan tua berfasad batu gelap berdiri di antara deretan kantor yang sudah tutup sejak sore. Hanya lampu kecil di dekat pintu masuk yang menyala, cukup untuk menunjukkan bahwa tempat itu masih hidup ketika kota lain mulai tidur.
Cassie sempat ragu di depan pintu kaca. Dari luar, tidak terlihat seperti restoran populer. Tidak ada papan nama besar, tidak ada antrean. Hanya seorang resepsionis dengan setelan hitam yang langsung mengenali nama Ethan saat Cassie menyebutkannya, lalu mempersilahkannya naik menggunakan lift kecil yang bergerak lambat.
Begitu pintu lift terbuka, suasananya berubah.
Restoran itu berada di lantai paling atas. Langit-langit tinggi, lampu kuning redup menggantung rendah di atas meja-meja yang berjauhan satu sama lain. Musik jazz mengalun pelan, cukup untuk mengisi keheningan tanpa mengganggu percakapan.
Jendela besar memperlihatkan lampu kota Verovska yang berkilau di kejauhan, membuat tempat itu terasa seperti dunia yang terpisah dari kenyataan di bawah sana.
Privat. Terlalu privat.
Ethan sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Ia terlihat sangat rapi, jas gelapnya pas di tubuh, rambutnya tersisir sempurna. Saat melihat Cassie datang, ia langsung berdiri dan menarikkan kursi dengan sikap sopan yang sudah sangat familiar.
“Terima kasih sudah datang,” katanya lembut.
Cassie duduk, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas.
Beberapa menit pertama diisi percakapan ringan. Ethan menanyakan kuliah, menanyakan apakah Cassie baik-baik saja. Nada suaranya tetap hangat, menenangkan. Sampai akhirnya ia menghela napas pelan, seolah masuk ke bagian yang lebih serius.
“Aku akan langsung jujur saja, Cassie,” katanya.
Cassie menegang sedikit.
“Hanya ada satu cara yang benar-benar bisa membantu Liam keluar dari situasi ini dengan cepat.”
Cassie menatapnya, harapan kecil muncul di dadanya. “Apa?”
Ethan menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Aku butuh informasi lebih detail tentang bisnis rokok ilegalnya. Jalur distribusi, siapa saja yang terlibat, bagaimana sistem pengirimannya.”
Cassie langsung menggeleng. “Aku tidak tahu apa-apa soal itu. Liam tidak pernah membicarakan pekerjaannya secara detail.”
Ethan menunduk sebentar, lalu menghela napas panjang. Ekspresi penyesalan muncul di wajahnya, begitu meyakinkan.
“Sayang sekali,” gumamnya pelan. “Karena itu satu-satunya cara untuk mempercepat prosesnya. Tanpa itu… semuanya harus berjalan sesuai prosedur.”
Cassie merasa dadanya kembali berat.
Ethan mendorong gelas minuman ke arahnya. “Minum dulu. Kau terlihat tegang.”
Cassie menurut. Cairan itu terasa dingin di tenggorokannya.
“Kau harus percaya padaku,” lanjut Ethan lembut.
“Aku akan mencoba mencari cara lain. Tapi kau juga harus mulai memikirkan dirimu sendiri.”
Cassie mengerutkan dahi.
“Kalau Liam dinyatakan bersalah,” suara Ethan merendah, seolah membicarakan sesuatu yang sensitif, “orang-orang di sekitarnya juga akan ikut diperiksa. Termasuk kau.”
Cassie membeku.
“Kau mahasiswa asing, Cassie. Jika dianggap mengetahui atau membantu aktivitas ilegal…” Ethan berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung. “Kampus bisa mengeluarkanmu. Bahkan deportasi bukan hal yang mustahil.”
Suara musik jazz masih mengalun, tapi entah kenapa terdengar jauh sekali.
Cassie mencoba fokus, tapi kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya sedikit kabur. Suara Ethan terdengar semakin pelan, seolah datang dari ujung ruangan.
“…aku hanya tidak ingin kau ikut tenggelam karena kesalahan orang lain…”
Cassie memegang pelipisnya. Denyut sakit mulai muncul, perlahan tapi tajam.
“Aku… aku tidak enak badan,” bisiknya. “Aku ingin pulang.”
Ethan langsung berdiri. “Tentu. Aku antar.”
Cassie ingin menolak. Tapi kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya terasa ringan dan sulit dikendalikan. Ia hanya mengangguk kecil.
Saat mereka berjalan keluar restoran, Cassie sempat melihat Ethan tersenyum.
Bukan senyum hangat yang biasa ia kenal.
Senyum itu tipis dan terasa asing.
Cassie tidak sepenuhnya pingsan. Ia merasakan tubuhnya diangkat, merasakan hawa dingin malam, dan mendengar suara pintu mobil yang tertutup.
Namun, tubuhnya terasa seperti lumpuh. Ketika kesadarannya mulai terkumpul di tengah rasa sakit kepala yang hebat, ia menyadari dirinya tidak berada di rumah Liam.
Ethan menggendongnya keluar dari mobil dengan mudah, tanpa perlawanan berarti dari Cassie yang masih terkulai lemas. Ia membawa Cassie masuk ke dalam sebuah bangunan yang asing, lalu meletakkannya di tengah sebuah ruangan yang luas.
Begitu penglihatannya mulai fokus, napas Cassie tercekat. Ia terpaku menatap dinding ruangan itu.
Dinding itu penuh dengan foto dirinya.
Cassie di halte bus Raven’s Gate. Cassie berjalan menuju kafe tempatnya bekerja. Cassie duduk di perpustakaan. Bahkan foto saat ia pertama kali menyeret koper memasuki apartemen tua itu.
"Kau... kau menguntitku?" suara Cassie serak.
Ethan berdiri di depan pintu, perlahan melepas lencana kepolisiannya dan meletakkannya di meja dengan kasar.
"Aku menjagamu, Cassie. Sejak hari pertama kau datang, aku yang memastikan kau aman. Dan sekarang, kau malah memilih penjahat itu daripada aku?"
Ketakutan memicu adrenalin di tubuh Cassie.
Dengan sisa tenaganya, ia mencoba merangkak dan berlari menuju pintu, namun Ethan jauh lebih cepat. Pria itu menyambar lengan Cassie dan dengan satu gerakan bertenaga, ia menampar wajah Cassie dengan sangat keras.
PLAK!
Tubuh kecil Cassie terpelanting ke lantai kayu yang dingin. Kepalanya berdentum, dan ia merasakan cairan hangat mengalir di sudut bibirnya yang pecah. Darah.
"Jangan coba-pagi kabur, Cassie," Ethan berbisik sambil berlutut di sampingnya, menjambak rambut Cassie agar gadis itu menatapnya.
"Kau aman di sini. Jauh dari Liam, jauh dari dunia kotornya. Kau hanya milikku sekarang."
Air mata langsung menggenang, bukan hanya karena sakit, tapi karena kesadaran yang menghantamnya.
Selama ini… Ethan bukan penyelamat.
Ia adalah bayangan yang selalu mengawasi.
Ethan berdiri di atasnya, napasnya masih tenang, matanya kini kosong dari kehangatan yang dulu Cassie percaya.
“Aku sudah sangat sabar, Cassie,” katanya pelan. “Tapi kau selalu kembali ke dia.”
Cassie mencoba mundur, tangannya gemetar di lantai.
"Kumohon, Ethan... hentikan," isak Cassie dengan tubuh gemetar hebat.
Ethan tidak menjawab. Ia justru menyalakan sebuah layar besar di dinding. Di sana, tampak rekaman ruang interogasi yang remang. Liam terlihat hancur, kepalanya tertunduk, wajahnya penuh memar biru dan bercak darah segar yang mengering di kemejanya. Tangannya terbelenggu erat di kursi besi.
"Lihat dia, Cassie," bisik Ethan tepat di telinga Cassie, suaranya sangat tenang namun mematikan.
"Satu kata dariku, maka penjaga di sana akan mematahkan jarinya satu per satu sampai dia mengakui semua kejahatan yang tidak pernah dia lakukan. Malam ini, nyawa Liam ada di tanganmu. Apa kau akan membiarkannya mati hanya karena ego kecilmu?"
Cassie merasa dunianya runtuh. Ia sangat menyesal karena mengabaikan peringatan Jino. Dengan sisa tenaganya, Cassie berusaha bangkit, mencoba merangkak menuju pintu meski kepalanya masih berputar akibat obat yang dicampurkan Ethan ke minumannya tadi.
"Aku... harus pergi!"
SRAK!
Ethan menjambak rambut Cassie dengan kasar, menarik kepalanya ke belakang hingga Cassie memekik kesakitan. Ethan mendorongnya kembali ke lantai dengan kekuatan penuh.
"Jangan meremehkanku, Cassie!"
Di layar, dua petugas mulai menghujamkan pukulan ke perut Liam. Cassie berteriak histeris melihat Liam yang terbatuk darah. Ethan kemudian berdiri tegak, menatap Cassie dengan sorot mata lapar yang mengerikan.
"Lepaskan pakaianmu. Semuanya. Sekarang," perintah Ethan dingin.
"Ethan, tidak... kumohon," Cassie mencoba bicara di sela tangisnya, mencoba menyentuh sisi kemanusiaan pria itu.
"Kau orang baik... kau yang membantuku belajar, kau yang selalu menolongku. Tolong, jangan lakukan ini."
Ethan justru tertawa, sebuah tawa kering yang tidak sampai ke mata.
"Buka pakaianmu, atau aku pastikan Liam tidak akan melihat matahari besok."
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Cassie perlahan membuka kancing pakaian atasnya. Air matanya menetes mengenai kulitnya yang dingin. Rasa bersalah pada Liam dan hancurnya harga dirinya membuat napasnya sesak.
Saat jemarinya yang pucat mulai menyentuh kaitan bra di punggungnya, Ethan tersenyum puas, menikmati setiap inci penderitaan di wajah Cassie.
"Cepat, Cassie! Aku tidak punya waktu seharian!" bentak Ethan.
Tepat saat kaitan itu hampir terlepas—
BRAKKKK!!!
Pintu ruangan itu jebol seketika, terlempar dari engselnya akibat tendangan yang luar biasa keras.
Ethan tersentak kaget dan langsung berbalik, tangannya secara insting meraih senjata di pinggangnya.
Namun, sebuah peluru lebih dulu melesat, menyerempet bahu Ethan hingga senjatanya terpental.
Di ambang pintu, berdiri sosok yang baru saja ditonton Cassie di layar. Liam berdiri di sana dengan kemeja hitam yang berantakan, wajahnya penuh luka, matanya menyala dengan kemarahan yang bisa membakar seluruh gedung itu.
Di belakangnya, Marco dan Jino berdiri dengan wajah mereka dingin tak tersentuh.
Rekaman di layar itu hanyalah tipuan. Liam sudah bebas sejak dua jam yang lalu.
"Berani kau menyentuhnya satu inci lagi, Ethan..." suara Liam terdengar seperti geraman iblis dari neraka. "Maka aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini dalam keadaan bernapas."
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit untuk menampung semua emosi yang meledak di dalamnya.
Liam berdiri di ambang pintu beberapa detik tanpa bergerak. Napasnya berat, dadanya naik turun cepat. Matanya tidak langsung tertuju pada Ethan. Ia melihat sekeliling lebih dulu.
Dinding penuh foto.
Cassie di halte bus. Cassie di depan kafe. Cassie tertawa di perpustakaan. Cassie menyeret koper di Raven’s Gate.
Setiap foto seperti tamparan.
Sesuatu di dalam dada Liam retak. Bukan hanya marah. Lebih dalam dari itu. Rasa gagal yang menyesakkan.
Ia terlambat.
Tatapannya akhirnya jatuh pada Cassie.
Gadis itu terduduk di lantai, tubuh gemetar, pakaian berantakan, darah tipis di sudut bibirnya.
Cassie yang melihat tatapan Liam hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia menutupi wajahnya dengan tangan, merasa sangat kotor dan bodoh.
"Maaf... Liam, maaf..." isaknya hampir tak terdengar.
Ethan, meski bahunya bersimbah darah dan terpojok, justru tertawa menyeringai. Ia merasa menang karena telah merusak kepercayaan di antara mereka.
"Lihat dia, Liam," ejek Ethan dengan suara parau yang memprovokasi.
"Dia bahkan tidak butuh banyak rayuan untuk mulai melepas pakaiannya di depanku. Dia sangat putus asa, atau mungkin... dia memang menikmatinya? Kau pikir kau punya kekasih yang setia? Dia hanya mahasiswi yang mudah goyah."
"TUTUP MULUTMU, BAJINGAN!" raung Liam.
Liam menerjang Ethan seperti singa yang lepas dari kandang. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah dan perut Ethan tanpa ampun. Suara hantaman daging dan tulang beradu memenuhi ruangan. Liam tidak lagi menggunakan logika, dia ingin menghancurkan pria yang telah berani menyentuh miliknya.
Sementara itu, Marco dengan cepat mendekati Cassie. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas jaket hitamnya yang lebar dan menyelimuti tubuh Cassie yang gemetar hebat, menutupi pakaiannya yang sudah terbuka.
Marco memalingkan wajah, memberi sedikit ruang privasi bagi Cassie untuk merapatkan jaketnya.
Di sudut lain, Ethan sudah hampir tidak berbentuk. Wajahnya bersimbah darah, kesadarannya mulai hilang, namun Liam masih terus menghajarnya seperti orang kesurupan.
"Liam! Cukup! Dia bisa mati!" teriak Jino sambil mencoba menarik bahu Liam.
Marco berdiri dan ikut menahan lengan Liam yang sudah bersiap melayangkan pukulan maut terakhir.
"Liam, hentikan! Jangan kotori tanganmu lebih jauh di sini. Pikirkan Cassie! Dia membutuhkanmu sekarang, bukan mayat pria ini!"
Liam terengah-engah, napasnya memburu dengan mata yang masih merah padam. Ia menoleh ke arah Cassie yang masih meringkuk ketakutan di bawah jaket Marco. Melihat kondisi Cassie yang hancur secara mental, Liam akhirnya tersadar.
"Bawa dia pergi dari sini," perintah Marco tegas pada Liam. "Biar aku dan Jino yang membereskan sisanya."
Liam berdiri dengan kaku, ia mendekati Cassie perlahan. Meskipun hatinya masih terluka dan kecewa, rasa protektifnya jauh lebih besar.
Ia mengangkat tubuh Cassie ke dalam pelukannya dengan sangat erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan harga diri gadis itu yang baru saja diinjak-hidup oleh Ethan.
Cassie menyembunyikan wajahnya di dada Liam, membasahi kemeja Liam dengan air matanya. Liam tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya membawa Cassie keluar dari ruangan terkutuk itu, meninggalkan Ethan yang sekarat di tangan dua sahabatnya.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭