NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 hari berikutnya

Hari kedelapan.

Matahari pagi menembus celah-celah dedaunan, menghangatkan gua kecil tempat Jinyu bernaung. Ia membuka mata, merasakan tubuh yang masih pegal setelah pertarungan dengan harimau kemarin. Di sampingnya, Xiao Hu bayi harimau itu masih terlelap dalam gendongan kain, napasnya teratur. Yoyo melingkar di dekatnya, ikut tidur.

Jinyu menghela napas. Masih tujuh hari tersisa. Ia bangkit, meregangkan tubuh. Luka-luka cakaran di lengannya sudah mulai mengering, berkat ramuan sederhana dan fisik iblisnya di kehidupan sebelumnya yang ikut terbawa.

["Selamat pagi, Jinyu. Masih hidup ternyata."]

Kau kira aku mati?

["Cuma nanya doang. Lagipula kau tidak akan bisa mati dengan fisik iblismu. Tapi berhati-hati, sekarang kamu sudah menjadi manusia, tidak mungkin fisik iblismu akan terus bersamamu."]

Jinyu tidak menjawab. Ia mengeluarkan daging harimau asap dari dimensi, memotong kecil, lalu membakarnya di atas bara api. Aroma gurih memenuhi gua. Xiao Hu terbangun, mengendus-endus, lalu merangkak mendekat.

"Kau juga lapar?" Jinyu memberi sedikit daging yang sudah disobek kecil. Xiao Hu melahapnya dengan lahap, ekor kecilnya bergoyang-goyang.

Hahaha, anak harimau tidak tahu itu daging induknya sendiri. (༼;´༎ຶ ۝ ༎ຶ༽)

Yoyo ikut mendekat. Shshsss~ "Jatah dagingku mana?"

Jinyu melempar potongan daging. Yoyo menangkap dengan mulut, menelannya cepat.

Shshsss~ "Enak. Tapi besok harus lebih banyak."

Dasar ular rakus.

Setelah sarapan, Jinyu memutuskan untuk menjelajah lebih dalam. Peta dalam kepalanya yang diberikan sistem menunjukkan ada lembah tersembunyi di balik bukit besar. Mungkin ada sumber daya baru di sana.

Ia menggendong Xiao Hu, memasukkannya ke dalam bawaannya. Bayi harimau itu tampak nyaman, terus terlelap. Yoyo melingkar di bahu, ikut serta.

Perjalanan melewati hutan semakin sulit. Pepohonan semakin rapat, semak semakin lebat. Jinyu harus memotong jalur dengan pisau. Keringat mulai membasahi kening meski udara dingin.

Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Bau asap. Bukan asap kayu biasa tapi asap rokok atau cerutu. Jinyu menghentikan langkah, menajamkan indra.

Ada orang.

["Di tengah hutan terpencil? Mencurigakan."]

Jinyu mengendap-endap mendekati sumber bau. Ia memanjat pohon besar, bersembunyi di balik dedaunan. Dari ketinggian, ia melihat sebuah gua tersembunyi di balik air terjun kecil. Di depan gua, dua pria berjaga. Pakaian mereka bukan seragam militer China lebih seperti pakaian sipil, tapi dengan postur tegap seperti tentara. Di pinggang mereka, pistol terlihat jelas.

Mata-mata?

["Kemungkinan besar. Di era ini, banyak agen asing menyusup."]

Jinyu mengamati lebih jauh. Dari dalam gua, terdengar suara percakapan. Bahasa asing bahasa Jepang, kalau tidak salah. Ia tidak paham, tapi sistem bisa.

["Mereka bicara bahasa Jepang. Diskusi tentang pengiriman dokumen dan peta wilayah militer. Jumlah mereka lima orang. Dua di luar, tiga di dalam."]

Jantung Jinyu berdetak lebih cepat. Ini bukan main-main. Mata-mata asing di hutan terlarang, dekat kamp pelatihan militer.

["Mau kau apakan?"]

Jinyu berpikir. Ia bisa kembali ke kamp, melapor. Tapi butuh waktu setengah hari perjalanan. Sementara itu, mata-mata ini bisa kabur. Atau...

Atau aku tangkap sendiri.

["GILA! Mereka lima orang! Dewasa! Bersenjata api dan senjata tajam!"]

Aku punya Yoyo.

["YOYO BUKAN MESIN PERANG!"]

Shshsss~ "Aku bisa bantu. Tapi harus strategi."

Kau meragukanku? Sejak kapan kau meragukan gelar ratu iblisku?

["......baiklah, terserah padamu."]

Jinyu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat. Matanya yang keemasan mulai bersinar—bukan karena cahaya, tapi karena sesuatu yang lebih gelap. Yoyo yang melihat dari bahu langsung merinding. Ia sudah lama tidak melihat ekspresi itu.

Shshsss~ "Jinyu... kau jangan—"

Tenang. Aku hanya akan bermain sedikit.

Sore menjelang malam. Mata-mata itu mulai lengah. Dua penjaga bergantian masuk gua untuk makan. Jinyu memanfaatkan momen itu.

Ia turun dari pohon, merayap seperti bayangan. Tubuh kecilnya bergerak tanpa suara, memanfaatkan setiap semak dan batu untuk bersembunyi. Yoyo melesat lebih dulu, menyusup ke dalam gua melalui celah batu. Ular perak itu bisa bergerak tanpa suara, mata merahnya mengamati situasi.

Di dalam gua, lima pria sekarang berkumpul. Dua penjaga baru saja masuk, bergabung dengan tiga lainnya. Mereka duduk melingkar, menerawangi peta dan dokumen di atas meja batu. Lilin-lilin kecil menerangi wajah mereka. Senjata api tergeletak di dekat masing-masing, siap diambil.

Mereka asyik berdiskusi, tidak menyadari bahaya mengintai dari atas. Yoyo bersembunyi di balik stalaktit, mengamati.

Jinyu tiba di mulut gua. Ia mengintip, menghitung posisi. Dua di kiri, dua di kanan, satu di tengah. Senjata api di pinggang atau di lantai. Jarak antar mereka cukup berjauhan.

Strategi: bunuh yang paling cepat dulu. Yang di tengah, pemimpinnya.

Ia mengeluarkan pisau dari pinggang. Belati hitam mengilap—pemberian sistem, lebih tajam dari pisau biasa. Yoyo sudah siap.

Jinyu melesat.

Bayangan hitam meluncur ke dalam gua. Penjaga paling kiri baru sempat menoleh duk! pisau Jinyu sudah menghunjam tepat di lehernya. Darah muncrat, pria itu jatuh tanpa suara.

Dua detik.

Penjaga kedua di kiri meraih pistol tapi Yoyo sudah melilit lengannya, menggigit pergelangan tangannya hingga ia menjerit dan pistol jatuh. Jinyu berputar, pisau meluncur ke arah pria di kanan yang baru bangkit. Pisau itu tepat mengenai dadanya, menembus jantung.

Empat detik.

Pria di tengah merupakan pemimpinnya sudah berdiri, pistol di tangan. Ia membidik Jinyu. Jinyu melompat ke samping, peluru mendesis di dekat telinganya. Ia berguling, mengambil pisau dari tubuh korban, lalu melemparnya dengan cepat. Pisau itu mengenai lengan pemimpin, membuat pistolnya jatuh.

Enam detik.

Pria terakhir di kanan sudah mencabut pedang pendek sebuah katana dan menyerang Jinyu. Jinyu menghindar, tubuhnya berputar, tendangan rendah menyapu kaki lawan. Pria itu jatuh, tapi cepat bangkit. Katana berayun lagi.

Jinyu mundur, mengambil pisau lain dari pinggang korban. Ia menangkis kring benturan logam. Kekuatan pria itu besar, tapi Jinyu lebih lincah. Ia memanfaatkan tubuh kecilnya, masuk ke dalam jarak dekat, pisau di tangan kirinya menusuk perut lawan.

Pria itu terhuyung, katana jatuh. Jinyu menarik pisau, darah menyembur.

Delapan detik.

Pemimpin yang terluka di lengan mencoba meraih pistol dengan tangan kiri. Jinyu melompat, mendarat di atas meja, lalu menendang wajahnya hingga ia jatuh ke belakang. Ia mendarat di atas tubuh pria itu, pisau di lehernya.

"Jangan bergerak."

Pria itu mematung. Matanya membelalak melihat anak kecil di depannya—rambut cokelat berantakan, mata keemasan yang menyala, dan senyum tipis yang mengerikan.

Jinyu menatap darah di pisaunya. Darah segar, hangat, merah. Ia mengangkat pisau itu ke wajah, menatapnya sebentar. Lalu, perlahan, ia menjilat darah di mata pisau.

Senyumnya melebar lalu berubah menjadi ekspresi jijik.

"Ugh. Menjijikkan." Ia meludah. "Darah mata-mata kampungan rasanya amatir. Tidak ada gairah, tidak ada ketakutan yang cukup. Datar saja."

Pria di bawahnya menggigil. Bukan karena luka, tapi karena tatapan anak ini. Itu bukan tatapan manusia. Itu tatapan iblis.

["Jinyu... kau kembali."] suara sistem bergetar.

Shshsss~ "Ya ampun..." Yoyo ikut merinding, meski ia sudah terbiasa. Tapi setiap kali melihat sisi ini, bulu ularnya tetap berdiri.

Jinyu mengabaikan mereka. Ia menikmati momen ini, sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Tapi kali ini, ia tidak bisa terlalu lama bermain. Masih ada satu pria hidup selain pemimpin ini.

Ia menoleh. Pria terakhir yang ditusuk perutnya masih merintih kesakitan, tapi belum mati. Jinyu turun dari tubuh pemimpin, berjalan mendekat. Pria itu menatapnya dengan ngeri.

"Tolong... jangan..."

Jinyu berjongkok di sampingnya. "Kau mau hidup?"

Pria itu mengangguk lemah.

"Katakan di mana markas kalian. Siapa yang mengirim. Untuk apa."

Pria itu terisak, mulai bicara. Jinyu mendengarkan dengan seksama. Sistem merekam semua. Setelah selesai, Jinyu mengangguk.

"Terima kasih." Lalu pisau di tangannya menebas leher pria itu. Sekali, cepat, bersih.

Ia berdiri, kembali ke pemimpin yang masih tergeletak. Pria itu sudah pucat pasi, melihat semua anak buahnya mati dalam hitungan detik.

"Kau... kau setan..."

Jinyu tersenyum. "Setan? Aku lebih dari itu."

Ia menghabiskan sepuluh menit berikutnya untuk "bermain" dengan pemimpin itu. Bukan membunuh tapi menyiksa. Dengan presisi, ia menusuk titik-titik saraf yang diajarkan Tabib Zhang. Sakit luar biasa, tapi tidak mematikan. Pemimpin itu menjerit, menangis, mengaku semua.

Yoyo memalingkan wajah. Sistem mati sinyal sementara atau mungkin disengaja.

Setelah selesai, Jinyu mengikat dua orang yang tersisa pemimpin dan satu penjaga yang sempat pingsan dengan tali rotan. Lalu ia membuka pintu dimensi, memasukkan mereka ke ruang kosong. "Nanti dibawa ke kamp."

Ia lalu membersihkan belatinya dengan sapu tangan sutra pemberian Ibu Liu. Setiap noda darah dielap hingga kinclong. Belati itu lalu disimpan kembali di pinggang.

Kini giliran menjelajahi gua. Di sudut gua, ia menemukan tumpukan peti kayu. Ia membukanya satu per satu.

Peti pertama: emas batangan. Puluhan kilogram.

Peti kedua: giok ukiran naga dan phoenix.

Peti ketiga: vas porselen kuno dari Dinasti Ming.

Peti keempat: gulungan kaligrafi kuno, lukisan pemandangan China.

Peti kelima: dokumen-dokumen. Peta militer China dengan tanda-tanda rahasia. Foto-foto instalasi militer. Surat-surat berbahasa Jepang.

Mata Jinyu menyipit dingin. Mereka mencuri harta negara. Dan merencanakan sesuatu.

Ia mengambil semua emas, giok, dan barang berharga lainnya dimasukan dimensi. Tapi dokumen dan peta ia sisihkan, untuk dilaporkan. Juga beberapa vas dan lukisan ia biarkan di tempat, sebagai bukti.

Selesai, ia berdiri di mulut gua, menatap air terjun kecil. Tubuhnya penuh darah—darah musuh. Tapi ia merasa hidup.

["Jinyu... kau baik-baik saja?"] sistem kembali, hati-hati.

Sangat baik.

Shshsss~ "Kau menikmati itu, ya?"

Sedikit. Tapi darah mereka hambar. Tidak seperti di dunia kiamat dulu, darah monster punya rasa. Jinyu menjilat bibir. Mungkin karena mereka pengecut.

Yoyo menggeleng. Shshsss~ "Kau benar-benar psikopat."

Terima kasih.

Malam harinya, Jinyu kembali ke gua persembunyiannya. Ia menyalakan api unggun, duduk bersandar. Xiao Hu merangkak ke pangkuannya, tidur dengan nyaman. Yoyo melingkar di bahu.

["Besok kau bawa dua mata-mata itu ke kamp?"]

Iya. Perjalanan setengah hari. Masih ada enam hari tersisa.

["Kau yakin bisa?"]

Aku ratu iblis dan kekuatan iblis ku sudah mulai mengalir kedalam tubuh mu. Tentu saja bisa.

Tapi matanya memandang api dengan lamunan. Ia memikirkan keluarga Su. Ibu Liu, Ayah Su, kakak-kakak. Mereka pasti menunggu kabar.

Seminggu lagi.

Seminggu lagi aku pulang.

Api unggun berderak. Xiao Hu mendengkur pelan. Jinyu tersenyum kecil—senyum yang hangat, bukan senyum psikopatnya.

Shshsss~ "Kau berubah, Jinyu."

Berubah? kau dan sistem sama-sama aneh, masa aku berubah. Aku bahkan tidak berubah menjadi apapun

Shshsss~ "Bukan berubah seperti itu tapi berubah dari yang dulu kau hanya ingin kekuatan. Sekarang kau juga memiliki keinginan untuk pulang."

Jinyu diam. Lalu ia mengelus kepala Xiao Hu.

Mungkin... itu yang disebut rumah.

Malam kedelapan berlalu. Masih enam hari tersisa. Tapi Jinyu tidak takut. Ia punya misi: bertahan, dan membawa dua mata-mata itu ke kamp.

Dan yang terpenting: dia ingin pulang.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!