NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Kegelapan menyelimuti apartemen nomor 404, hanya menyisakan dengung halus dari kulkas dan detak jam dinding yang menunjuk ke angka 01.45 pagi. Aku baru saja akan memasuki fase tidur terdalam setelah seharian bertarung dengan manifes logistik di kantor, saat aku merasakan sebuah tarikan kuat di ujung selimut ku. Bukan tarikan biasa, melainkan lilitan ekor yang terasa dingin dan... menuntut.

"Dimas... bangun," bisik sebuah suara yang terdengar seperti melodi siren yang berbahaya.

Aku mengerang, mencoba membenamkan wajah ku ke bantal. "Linda, Sayang... ini jam dua pagi. Elkan butuh tidur, dan ayahnya butuh kewarasan."

"Elkan tidak butuh tidur. Elkan butuh ayam goreng," jawabnya datar.

Aku membuka satu mata. Linda duduk tegak di samping ku, rambut hitamnya terurai berantakan, dan telinga rubahnya bergerak-gerak dengan ritme yang tidak stabil. Matanya yang hijau berkilat dalam kegelapan, menatap ku dengan intensitas seorang predator yang sedang kelaparan.

“Ini dia,” Keluh ku dalam hati sambil menghela napas panjang. “Fase yang paling ditakuti oleh setiap suami di muka bumi, apalagi suami dari seorang siluman rubah. Ngidam. Dan jika Linda yang ngidam, ini bukan sekadar keinginan, ini adalah perintah alam yang jika tidak dituruti bisa menyebabkan badai petir di dalam ruang tamu.”

"Oke, ada ayam goreng sisa di kulkas, aku panaskan sebentar—"

"Bukan ayam itu!" potongnya cepat, ekornya memukul kasur dengan keras. "Aku ingin ayam goreng dari warung 'Mbah Joyo' di Gunung Kidul. Yang digoreng dengan kayu bakar, yang bumbunya meresap sampai ke sumsum, dan yang sambalnya dibuat dari cabai yang dipetik saat fajar."

Aku langsung terduduk tegak. Kantuk ku hilang seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang murni. "Gunung Kidul? Linda, itu di Yogyakarta! Kita di Jakarta! Jaraknya ratusan kilometer, dan sekarang jam dua pagi!"

"Aku tahu," katanya dengan nada yang mendadak melankolis, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Elkan bilang dia sangat ingin itu. Dia bilang jika dia tidak mendapatkan ayam itu, dia akan terus menendang sihir ku sampai aku meledak. Kau tidak mau istri mu meledak, kan, Dimas?"

“Manipulasi emosional tingkat tinggi,” pikir ku. “Dia menggunakan kartu bayi campuran kita untuk mendapatkan ayam goreng lintas provinsi. Tapi melihat air matanya yang mulai jatuh, aku tahu logika ku tidak akan menang malam ini.”

"Linda, sayang, dengarkan aku. Kita bisa cari ayam goreng paling enak di Jakarta Selatan sekarang juga. Ada yang buka 24 jam di daerah Blok M—"

"Tidak mau! Baunya beda! Ayam Jakarta bau polusi dan keputusasaan!" Linda mulai terisak, ekornya melingkar di leher ku, tidak mencekik, tapi cukup erat untuk membuat ku tahu bahwa tidak ada jalan keluar. "Kau tidak sayang kami lagi? Kau sudah bosan dengan istri siluman mu yang merepotkan ini?"

"Astaga, tidak... bukan begitu," aku menyerah. Aku berdiri, mencari celana jins dan jaket bomber- ku di kegelapan. "Baiklah. Gunung Kidul. Aku akan cari cara."

"Benarkah?" Wajahnya langsung cerah seketika. Air matanya hilang seolah-olah hanya akting, meskipun aku tahu itu adalah efek hormon. "Aku ikut!"

"Tidak! Kau di sini saja. Di luar dingin, dan perjalanan jauh akan membuat mu makin mual," aku mencoba tegas.

"Aku akan menggunakan sihir percepatan pada mobil mu, Dimas. Kita bisa sampai ke sana sebelum subuh," Linda tersenyum manis, senyum yang mengandung janji akan petualangan gila.

“Sihir percepatan pada mobil Avanza ku?” Keluh ku sambil memakai sepatu. “Mobil itu sudah tua, Linda. Jika kau memberinya sihir, mesinnya mungkin akan tertinggal di aspal sementara kita melesat ke Jawa Tengah. Tapi, siapa aku berani membantah?”

Sepuluh menit kemudian, kami sudah berada di dalam mobil. Jalanan Jakarta yang sepi menjadi saksi bisu saat Linda mulai menggumamkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat bulu kuduk ku berdiri. Tiba-tiba, lampu depan mobil ku berubah menjadi hijau neon, dan suara mesinnya bukan lagi suara piston, melainkan suara auman serigala hutan.

"Pegang kemudi yang kuat, suami ku," bisik Linda dengan seringai jahil.

Wush!

Mobil itu melesat. Aku bersumpah aku melihat jarum speedometer ku berputar melampaui angka 180 dan terus berputar hingga patah. Pemandangan di luar jendela hanya berupa garis-garis cahaya yang kabur. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu delapan jam, terasa seperti sebuah perjalanan di dalam terowongan waktu.

"Linda! Pelankan sedikit! Ada polisi tidur di depan!" teriak ku, tangan ku mencengkeram kemudi sampai memutih.

"Lompati saja!" sahutnya riang.

“Aku akan mati,” Keluh ku saat mobil itu benar-benar melayang melewati perempatan jalan. “Aku akan menjadi manusia pertama yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas lintas dimensi hanya demi sepotong paha ayam goreng.”

Ajaibnya, tepat saat azan subuh berkumandang, kami sudah memasuki udara dingin khas perbukitan Gunung Kidul. Bau tanah basah dan kayu bakar mulai tercium. Kami berhenti di depan sebuah warung bambu kecil yang baru saja menyalakan lampunya. Seorang nenek tua, Mbah Joyo, sedang sibuk di depan kuali besar.

"Mbah, ayam gorengnya dua porsi. Paha semua. Bumbunya yang meresap sampai ke tulang," kata ku dengan napas terengah-engah, masih tidak percaya aku masih hidup.

Mbah Joyo menatap kami dengan heran. "Lho, Mas, kok pagi-pagi sekali? Dari mana?"

"Dari... dekat sini saja, Mbah," bohong ku, sementara Linda di belakang ku sedang sibuk menyembunyikan telinganya di balik kupluk jaket, namun ekornya yang gelisah terus bergerak-gerak di balik rok panjangnya.

Begitu ayam goreng itu tersaji, aroma rempah yang kuat langsung memenuhi ruangan. Linda mengambil satu potong dengan tangan gemetar. Ia menggigitnya, menutup matanya, dan sebuah desahan nikmat keluar dari bibirnya.

"Ini dia... ini yang diinginkan Elkan," gumamnya dengan wajah yang sangat puas.

Aku hanya bisa menatapnya. Rasa lelah, kantuk, dan stres karena melaju dengan kecepatan cahaya tadi mendadak menguap saat melihat kebahagiaannya. Linda makan dengan lahap, sesekali menyuapi ku dengan sambal bawang yang sangat pedas hingga mata ku berair.

"Enak, kan?" tanya Linda, pipinya menggembung karena nasi.

"Sangat pedas, Linda. Tapi ya... lumayan enak," jawab ku sambil mengusap keringat di dahi.

“Lumayan?” Keluh ku. “Ini adalah ayam goreng paling mahal dalam sejarah hidup ku jika dihitung dari biaya bensin spiritual dan risiko nyawa yang aku pertaruhkan. Tapi melihatnya kembali ceria setelah berminggu-minggu mual pagi hari... rasanya aku bersedia pergi ke kutub utara jika dia mendadak ngidam es serut salju abadi.”

Setelah kenyang, Linda tampak jauh lebih tenang. Sisi agresif dan emosionalnya mereda, digantikan oleh rasa kantuk yang berat akibat perut kenyang. Ia bersandar di bahu ku saat kami duduk di lincak kayu di depan warung, menatap matahari terbit yang muncul dari balik bukit-bukit kapur.

"Terima kasih, Dimas," bisiknya. "Kau suami yang hebat. Meskipun kau hanya manusia yang sering panik saat mobilnya melayang."

"Aku manusia yang logis, Linda. Mobil tidak seharusnya melayang," aku mencium keningnya.

"Tapi kau melakukannya untuk ku. Kau melanggar logika manusia mu demi keinginan siluman mu," ia meraih tangan ku, menempelkannya ke perutnya. "Elkan bilang terima kasih. Dia sudah tenang sekarang."

Aku merasakan tendangan kecil di sana. Kali ini tidak menyakitkan, hanya sebuah getaran hangat yang membuat hati ku bergetar.

"Sama-sama, Elkan. Tapi tolong, besok-besok ngidamnya yang ada di Go-Food saja, ya?" kata ku pada perutnya.

Linda tertawa kecil. "Kita tidak bisa pulang sekarang, Dimas. Aku terlalu mengantuk untuk menggunakan sihir percepatan lagi. Dan mobil mu... sepertinya mesinnya butuh istirahat."

Aku melihat ke arah Avanza ku. Asap tipis berwarna hijau keluar dari kap mesinnya. Sepertinya mobil itu benar-benar trauma karena dipaksa melaju dengan kecepatan supersonik.

"Jadi kita terjebak di Gunung Kidul?" tanya ku.

"Kita anggap saja ini kencan mendadak," Linda menguap lebar, kepalanya merosot ke pangkuan ku. "Carikan penginapan kecil yang ada pemandangan pantainya. Aku ingin tidur sambil mendengarkan suara ombak."

Aku menghela napas, namun senyum tidak bisa lepas dari wajah ku. Aku merogoh ponsel, mencari penginapan terdekat melalui aplikasi. Di saku jaket, aku masih bisa mencium aroma ayam goreng yang tertinggal.

“Hari ini benar-benar tidak terduga,” Keluh terakhir ku sebelum menggendong Linda ke dalam mobil. “Aku beralih dari pemasangan CCTV ke penyelundupan lintas provinsi dalam waktu semalam. Hidup dengan istri protektif yang sedang hamil ternyata bukan hanya soal romansa dan slice of life biasa, ini adalah ujian ketahanan fisik dan mental tingkat dewa. Tapi asalkan dia tetap di samping ku, membawa aroma melati dan bau sambal bawang ini, aku rasa aku bisa menghadapi apa pun yang klan rubah lemparkan pada ku nanti.”

Aku menyalakan mesin mobil, kali ini dengan kecepatan normal, dan perlahan berkendara menuju pantai Selatan. Di samping ku, Linda mendengkur halus dengan satu ekor yang mencuat keluar dari balik selimut, melilit lengan ku seolah takut aku akan lari meninggalkannya di tengah perbukitan Yogyakarta.

"Tidur yang nyenyak, Nyonya Rubah," bisik ku. "Besok kita cari sarapan yang lebih normal... kalau Elkan setuju."

Perjalanan pulang mungkin akan memakan waktu sepuluh jam tanpa sihir, tapi aku tidak keberatan. Karena di dalam mobil yang bau ayam goreng ini, aku membawa seluruh dunia dan masa depan ku.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!