NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip di sela-sela ventilasi rumah kontrakan Lintang.

Baginya, pagi adalah waktu paling berharga untuk mengurus dirinya sendiri sebelum disibukkan dengan urusan orang lain.

Lintang segera bergegas ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumahnya.

Di sela-sela keriuhan pasar, jemarinya dengan cekatan memilih ikan pindang yang masih segar.

Ia teringat stok lauk di rumahnya sudah menipis. Setelah mendapatkan bumbu dapur, ia segera pulang untuk menyiapkan bekal.

Di dapur kecilnya yang bersih, Lintang mulai meracik bumbu. Irisan bawang merah, bawang putih, dan cabai menari di atas wajan, menebarkan aroma harum yang menggugah selera.

Ia memasak pindang kecap kesukaannya—menu sederhana yang selalu berhasil memberinya tenaga ekstra.

Kecap manis yang melumuri ikan pindang itu berkilat terkena cahaya lampu dapur.

Setelah matang, ia menyisihkan sebagian ke dalam kotak bekal berwarna hijau pudar.

"Cukup untuk makan siang nanti," gumamnya pelan.

Selesai urusan dapur, Lintang bergegas mandi dan bersiap.

Ia mengenakan seragam biru kebanggaannya yang sudah disetrika rapi.

Meski lukanya di kening masih sedikit terlihat, ia menutupinya dengan sedikit polesan bedak tipis.

Ia merapikan tas selempang yang berisi minyak urut, handuk, dan botol minumnya.

Lintang kemudian duduk di teras kecilnya, menatap ke arah jalanan depan rumah.

Perasaannya campur aduk. Ada rasa canggung karena harus dijemput oleh orang suruhan pria yang kemarin baru saja melemparinya dengan batu. Namun, ia mencoba bersikap profesional sebagai seorang penyedia jasa pijat.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja rapi turun dan menghampirinya.

"Mbak Lintang?" tanya pria itu dengan sopan.

Lintang mengangguk sambil mengunci pintu rumahnya.

"Iya, saya."

"Saya diutus Pak Jati untuk menjemput Mbak. Silakan, mobilnya sudah siap," ucap pria itu sembari membukakan pintu mobil untuk Lintang.

Lintang sempat ragu sejenak melihat kemewahan di depannya, namun ia menarik napas panjang dan masuk ke dalam mobil.

Dalam hati ia bertanya-tanya, kehidupan seperti apa yang dijalani oleh pria bernama Jati itu, hingga sebuah sesi pijat saja memerlukan prosedur seformal ini.

Lima belas menit perjalanan yang sunyi itu berakhir di sebuah lobi apartemen yang sangat megah.

Lintang hanya bisa mengekor di belakang asisten Jati, melewati lorong-lorong berlantai marmer yang begitu bersih hingga ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri.

Ceklek!

Pintu unit apartemen itu terbuka setelah sang asisten menekan kode akses.

Jati sudah berdiri di sana, menunggu di ruang tengah yang luas dengan pemandangan kota dari balik dinding kaca.

Wajahnya tampak sedikit lebih tenang dibanding kemarin, meski guratan lelah di matanya tak bisa disembunyikan.

"Silakan masuk, Lintang," ucap Jati pelan, mempersilakan tamunya.

Lintang mengangguk sopan dan segera bekerja dengan profesional.

Ia tidak ingin terlalu lama mengagumi kemewahan tempat itu.

Dari tasnya, ia mengeluarkan selembar kain batik lebar yang biasa ia gunakan sebagai alas pijat, membeberkannya dengan rapi di atas karpet tebal.

"Ini, Mas. Silakan pakai kimono ini agar lebih mudah saat dipijat nanti," ucap Lintang sambil menyerahkan sebuah kimono berbahan katun lembut yang selalu ia bawa untuk pelanggan pria.

Jati menerima kain itu.

"Tunggu sebentar."

Ia melangkah menuju kamar mandi di dalam kamar utamanya.

Di depan cermin besar, Jati melepas kemejanya. Ia tertegun sejenak, menatap pantulan dirinya. Di dadanya, tepat di atas jantung, terdapat sebuah tato kecil bermotif geometris yang ia buat bertahun-tahun lalu—simbol kekuatan yang kini terasa ironis baginya.

Tato itu seolah menjadi saksi bisu masa-masanya sebelum kecelakaan itu merenggut rasa percaya dirinya sebagai lelaki.

Dengan helaan napas berat, Jati segera mengenakan kimono tersebut, mengikat talinya dengan kencang, lalu keluar dari kamar mandi.

Saat ia kembali ke ruang tengah, Lintang sudah siap dengan botol minyak urut dan handuk kecilnya.

Suasana apartemen yang sunyi itu mendadak terasa berbeda; ada kehadiran orang lain yang membawa ketenangan sederhana, jauh dari kegaduhan dan makian yang biasa ia terima dari Mila.

"Sudah siap, Mas? Mari kita mulai dari bagian punggung dulu," ujar Lintang lembut.

Jati merebahkan dirinya di atas kain yang telah dibeberkan Lintang.

Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan, berharap tangan wanita ini bisa mengurai bukan hanya ototnya yang kaku, tapi juga benang kusut di kepalanya.

Lintang menuangkan minyak urut ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai menekan otot-otot di sepanjang tulang belikat Jati.

Ia tersentak kecil; punggung pria itu terasa sekeras papan, penuh dengan simpul-simpul saraf yang menegang akibat tekanan batin yang luar biasa.

"Mas Jati, napasnya diatur ya. Jangan ditahan," ucap Lintang lembut sambil terus melakukan gerakan melingkar.

"Badan Mas ini bukan cuma capek fisik, tapi pikirannya juga lari ke mana-mana. Kalau Mas nggak rileks, pijatan saya nggak akan bisa masuk."

Jati membenamkan wajahnya di atas bantal kecil, merasakan kehangatan tangan Lintang yang kontras dengan dinginnya AC apartemen. Entah karena suasana yang sunyi atau sentuhan Lintang yang terasa tulus, benteng pertahanan Jati perlahan runtuh.

"Apa yang harus aku lakukan, Lintang. Jika kamu menjadi aku, dan pasanganmu berselingkuh terang-terangan di hadapanmu?" tanya Jati dengan suara yang terdengar parau, teredam bantal.

Gerakan tangan Lintang sempat terhenti sesaat, namun ia segera melanjutkannya dengan tekanan yang lebih mantap.

Ia tidak menyahut, memberi ruang bagi Jati untuk bicara.

"Aku mengalami kecelakaan hebat dulu. Sampai 'senjataku' tidak bisa berfungsi lagi, Lintang. Aku bukan laki-laki normal," Jati mengakui rahasia paling kelamnya dengan nada penuh penghinaan pada diri sendiri.

"Mila itu cantik, sangat cantik. Tapi dia sudah menyakiti aku terlalu dalam. Dia membawa laki-laki itu ke rumah kami."

Lintang menarik napas panjang, lalu ia berpindah ke arah pundak Jati, menekan titik lelah di sana dengan jempolnya.

"Mas Jati, dengar saya ya," Lintang mulai bicara dengan nada tenang yang menyejukkan.

"Dunia ini memang aneh. Kita seringkali mengejar apa yang terlihat indah di mata, sampai lupa bertanya apakah itu baik untuk hati. Mas bilang Mbak Mila itu cantik?"

Lintang terkekeh sedikit, sebuah tawa kecil yang tidak mengejek, melainkan terdengar seperti seorang kawan lama yang sedang bercanda.

"Buat apa cantik kalau menyakitkan, Mas? Itu namanya bukan istri, tapi cabe rawit. Kecil, cantik warnanya, tapi kalau kena mata ya bikin nangis, kalau masuk hati ya bikin perih," ucap Lintang dengan sedikit lelucon ringan untuk mencairkan suasana.

Jati sedikit tersenyum tipis mendengar perumpamaan itu, meski wajahnya masih tersembunyi.

"Mas Jati, menjadi laki-laki itu bukan cuma soal apa yang ada di antara kaki, tapi soal apa yang ada di dalam dada. Kesetiaan Mas, kesabaran Mas, itu jauh lebih 'perkasa' daripada laki-laki yang cuma bisa merebut milik orang lain," lanjut Lintang dengan bijak.

"Kalau Mas tanya saya harus apa? Kalau baju sudah penuh lumpur dan bikin gatal, ya dilepas Mas. Dicuci kalau masih bisa, tapi kalau sudah robek dan kotor sekali, ya ganti baju baru. Mas layak untuk bahagia, bukan cuma untuk bertahan di tengah luka."

Jati terdiam lama. Kalimat Lintang tentang "cabe rawit" dan "baju baru" terasa jauh lebih masuk akal daripada semua nasihat medis atau motivasi yang pernah ia dengar.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi dihakimi atas kekurangannya.

Lintang beralih ke area pangkal paha, tempat otot-otot besar bertemu.

Ia sempat terdiam sejenak, lalu berbisik dengan nada yang sangat sopan dan penuh kehati-hatian.

"Mohon maaf ya, Mas. Saya perlu menekan area sekitar sini. Saraf-saraf yang menuju ke bawah biasanya berkumpul di area ini. Saya akan melakukannya dengan sangat hati-hati," ucap Lintang.

Jati hanya mengangguk pelan, memejamkan mata rapat-rapat.

Lintang mulai memijat dengan gerakan yang sangat lembut namun bertujuan pasti.

Di dalam hatinya, Lintang menyisipkan doa yang tulus.

Sebagai seorang pemijat tradisional yang percaya pada keajaiban sentuhan, ia berharap aliran darah yang ia arahkan bisa membangunkan saraf-saraf yang telah lama tertidur itu.

Ia ingin pria baik ini kembali merasa utuh sebagai seorang lelaki.

Hampir dua jam berlalu. Suasana tenang di apartemen itu membuat waktu seolah berhenti.

Setelah selesai, Lintang dengan cekatan membersihkan sisa-sisa minyak di punggung Jati menggunakan handuk hangat.

"Sudah selesai, Mas. Silakan bangun perlahan, jangan langsung berdiri cepat-cepat," ujar Lintang sambil mulai merapikan kain batiknya.

Kemudian Jati bangkit, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

Ia melepaskan kimono katun itu dan kembali mengenakan pakaiannya.

Rasa nyaman yang ia rasakan bukan hanya karena ototnya yang lentur, tapi juga karena jiwanya yang merasa dimengerti.

"Lampu ruangannya sudah saya nyalakan ya, Mas," kata Lintang sambil mengemas tasnya.

"Ayo, kita makan siang dulu," ajak Jati, suaranya kini terdengar lebih berwibawa namun ramah.

Ia memberi isyarat agar Lintang mengikutinya ke ruang makan yang mewah.

Lintang sedikit tersentak. "Eh, tidak usah repot-repot, Mas. Saya sudah bawa bekal sendiri dari rumah. Tadi pagi saya sudah masak."

Jati berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah Lintang.

Tatapannya tertuju pada kotak bekal hijau pudar yang menyembul dari tas Lintang.

"Bawa apa?"

"Cuma ikan pindang kecap, Mas. Makanan orang kampung," jawab Lintang rendah hati.

Jati justru mendekat dan mengulurkan tangannya.

"Berikan padaku. Aku ingin mencobanya."

"Tapi, Mas..."

Tanpa menunggu persetujuan, Jati mengambil kotak bekal itu.

Di meja makan, sudah tersaji makanan mewah dari restoran berbintang yang dipesan oleh pengawalnya—steak wagyu dan sup jamur yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, Jati justru membuka kotak bekal Lintang.

Aroma pindang kecap yang gurih dan sedikit pedas langsung menyeruak, mengalahkan aroma makanan mahal di atas meja.

"Sebagai gantinya, kamu makan makanan yang sudah disiapkan pengawalku. Aku ingin makan ini," ucap Jati tegas namun ada binar di matanya.

"Sudah lama aku tidak makan masakan yang dibuat dengan perasaan."

Lintang hanya bisa tertegun melihat pria pemilik apartemen mewah itu dengan lahap menyuap pindang kecap buatannya, sementara ia sendiri duduk di depan piring porselen berisi makanan yang bahkan ia tidak tahu cara menyebut namanya.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!