Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: INGATAN YANG UTUH
Pelukan itu hangat, begitu nyata, dan penuh dengan emosi yang meluap-luap. Di dalam dekapan Elyndra, Lira merasa seolah-olah ia telah kembali ke rumahnya sendiri setelah berjalan jauh melintasi waktu dan ruang.
Namun, saat aroma khas bunga surgawi yang menyelimuti tubuh Elyndra masuk ke dalam hidungnya, sesuatu yang dahsyat mulai terjadi di dalam benak Lira.
Seperti bendungan yang jebol, atau seperti kabut tebal yang tiba-tiba ditiup angin kencang hingga bersih sepenuhnya.
Krak!
Gema itu terdengar jelas di dalam kepalanya. Bukan suara benda pecah, tapi suara gembok besar yang akhirnya terbuka.
Dalam sekejap mata, segalanya berubah.
Gambar-gambar, suara-suara, perasaan, dan pengetahuan yang selama ini terkunci mati, kini mengalir deras masuk ke dalam kesadarannya. Tidak lagi berupa potongan-potongan mimpi yang samar, melainkan utuh, jelas, dan hidup.
Lira melihat dirinya berdiri di Aula Cahaya, duduk bersama delapan sosok lainnya di meja bundar yang megah. Ia mendengar suara tawa mereka, suara diskusi mereka, dan suara nyanyian mereka saat menciptakan bintang-bintang baru.
Ia ingat namanya. Bukan Lira. Tapi Myrrha.
Ia ingat jubah emasnya yang megah. Ia ingat sayap-sayapnya yang membentang luas, lembut namun kuat. Ia ingat tanggung jawabnya sebagai penjaga kehidupan dan kasih sayang di antara para Seraph.
Dan kemudian, ingatan itu beralih ke hari yang paling gelap.
Ia melihat langit yang retak. Ia melihat ketakutan di mata saudara-saudaranya. Ia melihat kegelapan Nihilum yang menelan segalanya. Dan yang paling jelas, ia ingat keputusannya sendiri. Keputusan untuk melangkah maju, untuk melepaskan segalanya, dan untuk memeluk kematian demi menyelamatkan kehidupan.
Rasa sakit itu kembali. Rasa perih saat melepaskan eksistensi diri itu terasa begitu nyata hingga Lira tersentak hebat di dalam pelukan Elyndra.
“Aaaah…” rintihnya pelan, namun bukan karena marah atau takut. Ini adalah rintihan karena beban ingatan yang begitu besar kini menampung sempurna di dalam otak kecilnya.
“Lira? Myrrha?!” Elyndra melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah anak itu dengan cemas. “Ada apa? Apakah kau sakit?”
Lira tidak menjawab segera. Ia memejamkan mata, membiarkan banjir kenangan itu menyapu bersih semua pertanyaan yang selama ini menghantuinya.
Ia mengingat segalanya.
Ia ingat bagaimana Altharion memimpin dengan bijak namun tegas. Ia ingat bagaimana Kaelthar selalu melindunginya di medan perang. Ia ingat bagaimana Seraphel selalu punya cerita menarik. Dan ia ingat… Nyxarion.
Ia ingat bagaimana saudaranya yang satu ini dulu begitu dingin, begitu logis, namun di dalam hatinya terselip kerinduan akan pengakuan yang tak terucapkan.
Perlahan namun pasti, Lira membuka matanya kembali.
Perubahan itu terjadi seketika.
Mata cokelat keemasan yang tadinya berisi kepolosan seorang anak kecil, kini berubah total. Di sana kini terpancar kedalaman, kebijaksanaan, dan ketenangan seorang makhluk abadi yang telah melihat kelahiran dan kematian dunia. Tatapannya lembut, namun memiliki wibawa yang membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa tunduk dengan sendirinya.
Tubuh kecilnya mulai bersinar. Cahaya emas murni memancar keluar dari pori-pori kulitnya, tidak lagi terkendali atau berbahaya, melainkan teratur dan anggun. Cahaya itu membungkusnya seperti kepompong yang indah.
“Dia… dia sedang kembali ke wujud aslinya!” seru seseorang di antara kerumunan para Seraph dengan suara takjub.
Benar saja.
Di balik punggung Lira, cahaya itu mulai membentuk pola. Dua struktur besar yang megah mulai merekah. Sayap-sayap emas itu tumbuh kembali. Bulu-bulu kemilau itu terurai indah, berkilauan di bawah cahaya bintang Istana Celestia. Sayap itu berdenyut hidup, lalu dengan gerakan perlahan namun gagah, sayap itu terbentang lebar-lebar.
Luasnya menutupi bayangan di bawahnya, memancarkan aura damai yang menenangkan seluruh penjuru istana.
Pakaian sederhana yang dikenakan Lira perlahan berubah bentuk, berubah menjadi jubah putih yang diselimuti kain keemasan yang mengalir anggun. Rambut merah mudanya yang panjang bersinar terang, menjadi mahkota alami yang paling indah.
Dan saat cahaya itu meredup sedikit, berdiri di hadapan mereka bukan lagi gadis kecil desa bernama Lira.
Itu adalah Myrrha.
Sempurna, utuh, dan bersinar lebih terang daripada sebelumnya.
Tingginya kini kembali normal, setara dengan para Seraph lainnya, namun kehadirannya terasa begitu memancar. Ia menatap satu per satu wajah saudara-saudaranya yang berdiri mematung di hadapannya.
“Altharion…” bisiknya, suaranya kini tidak lagi serak atau kecil. Suaranya jernih, bergema seperti lonceng perak yang indah. “Kau terlihat lebih tua dari yang kuingat.”
Pemimpin para Seraph itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, matanya basah. Ia tidak sanggup menatap wajah Myrrha langsung karena rasa haru yang luar biasa.
“Selamat datang kembali, Saudari Kami,” ucap Altharion dengan suara bergetar. “Langit ini telah kehilangan warnanya sejak kepergianmu. Kini, warnanya kembali utuh.”
Myrrha tersenyum. Senyum itu teduh, penuh dengan cinta yang tak terbatas.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” jawabnya lembut. “Aku hanya berjalan-jalan sebentar di dunia bawah sana untuk belajar kembali arti menjadi sederhana.”
Ia menoleh ke arah Elyndra yang masih berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka, tak percaya dengan keindahan sahabatnya yang kini telah pulih sepenuhnya.
“Elyndra,” panggil Myrrha lembut.
“Myrrha…” isak Elyndra, dan sekali lagi mereka berpelukan. Namun kali ini, pelukan itu adalah pelukan antara dua saudara yang setara, penuh sukacita tanpa rasa kehilangan lagi. “Kau begitu cantik. Kau kembali sempurna.”
“Berkat perjuangan Lira,” jawab Myrrha dalam hati. “Karena gadis kecil itu, aku bisa berdiri di sini lagi.”
Kini, ia ingat segalanya. Ia tahu siapa dirinya. Ia tahu tujuannya. Dan ia tahu bahwa bahaya yang pernah datang itu mungkin belum selesai sepenuhnya, terutama menyangkut jalan pikiran Nyxarion yang masih menjadi misteri.
Namun untuk saat ini, di momen yang indah ini, Myrrha hanya ingin menikmati kebersamaan ini. Ia telah pulang. Ingatannya telah utuh. Kekuatannya telah kembali.
Dan langit yang pernah retak itu, kini tidak hanya utuh, tapi juga bersinar jauh lebih indah dari sebelumnya.