NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Dua Raja di Kerajaan Berbeda

​Satu bulan penuh telah terhapus dari kalender sejak malam kelam di ruang rawat VVIP BIMC Hospital. Tiga puluh hari yang bagi sebagian besar umat manusia mungkin dilalui dengan rutinitas yang wajar, namun bagi Kanaya Larasati, setiap perputaran jarum jam terasa seperti ia sedang diseret melintasi padang gurun yang dipenuhi pecahan kaca. Waktu tidak lagi berfungsi sebagai penyembuh luka; waktu telah bertransformasi menjadi seorang pemahat kejam yang memahat ulang setiap inci dari kepribadiannya, menghilangkan setiap lekuk kelembutan dan menyisakan sudut-sudut tajam yang membeku.

​Matahari tengah hari di Kabupaten Gianyar memanggang atap seng pabrik fabrikasi Pak Nyoman dengan suhu yang nyaris tidak manusiawi. Udara bergetar karena panas, menciptakan fatamorgana di atas aspal jalanan. Namun, di dalam hanggar raksasa tempat pemotongan marmer Calacatta Gold itu dilakukan, atmosfernya terasa sedingin ruang penyimpanan daging. Kedinginan itu tidak berasal dari unit pendingin ruangan industri yang menderu di sudut pabrik, melainkan memancar langsung dari sosok wanita mungil yang berdiri di tengah lautan debu pualam.

​Naya berdiri dengan postur yang begitu tegak hingga terlihat menyakitkan. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap berlengan panjang yang dikancingkan hingga ke leher, menyembunyikan shoulder brace (penyangga bahu) medis yang masih membebat bahu kanannya secara ketat di balik kain tersebut. Rambutnya diikat rapi tanpa sehelai pun yang dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Kacamata pelindung bening menutupi matanya, namun tidak mampu menyembunyikan sorot mata cokelat yang kini sepenuhnya mati, kosong, dan tidak tertembus oleh emosi apa pun.

​"Potongan di kuadran utara ini meleset nol koma dua milimeter dari cetak biru!" suara Naya membelah kebisingan pabrik. Nada suaranya tidak tinggi, ia tidak berteriak, namun frekuensi kedinginan dan ketegasannya membuat tiga orang teknisi senior di depannya seketika menundukkan kepala dengan tubuh bergetar.

​"M-Maafkan kami, Nona Kanaya," ucap salah satu kepala teknisi, menyeka keringat dingin di dahinya. "Mata pisau lasernya mengalami sedikit fluktuasi tekanan karena lonjakan listrik sesaat. Tapi nol koma dua milimeter... itu masih berada jauh di dalam batas toleransi aman untuk pemasangan lapisan matriks honeycomb—"

​"Siapa yang memberi Anda otoritas untuk menentukan batas toleransi di proyek saya, Pak Darma?" potong Naya dengan kejam, suaranya sedatar dan sedingin mata pisau bedah. "Apakah nama Anda yang akan diukir di plakat peresmian Grand Azure? Apakah Anda yang akan bertanggung jawab jika pilar ini mengalami deviasi struktural sepuluh tahun dari sekarang?"

​Teknisi itu menelan ludah, tidak berani mengangkat wajahnya. "T-Tidak, Nona."

​"Kalau begitu, hancurkan blok seharga tiga ratus juta ini dan potong ulang dari blok mentah yang baru. Saya ingin presisi absolut, bukan alasan operasional," perintah Naya tanpa berkedip. Ia membalikkan badannya dengan gerakan mekanis. "Dan jika saya melihat kesalahan pengukuran yang sama pada sif malam nanti, saya akan meminta vendor penyedia tenaga kerja untuk mengganti seluruh tim Anda besok pagi. Silakan kembali bekerja."

​Naya melangkah menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di belakangnya. Di sudut pabrik, Pak Nyoman dan Bastian sedang mengawasi adegan itu dengan tatapan yang sarat akan kepedihan.

​"Dia bukan lagi Nona Naya yang kita kenal sebulan yang lalu," gumam Pak Nyoman, menggelengkan kepalanya yang beruban. "Dulu dia selalu tersenyum saat mengajari para teknisi. Sekarang... dia bahkan tidak pernah melepas kacamata pelindungnya. Para pekerja di sini mulai memanggilnya 'Ratu Es dari Jakarta'. Dia bekerja seolah-olah dia tidak butuh makan, tidur, atau bernapas."

​Bastian mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana kargonya. Matanya yang penuh penyesalan mengikuti sosok Naya yang berjalan menuju ruang kontrol kaca di lantai dua.

​'Dia membunuh dirinya sendiri dari dalam, Pak Nyoman,' batin Bastian miris. 'Bajingan bernama Arjuna Dirgantara itu tidak hanya menghancurkan hatinya, tapi dia juga berhasil menginfeksi jiwa Naya dengan penyakit sosiopatnya. Naya telah bermetamorfosis menjadi versi wanita dari pria yang paling ia benci, hanya untuk memastikan ia tidak akan pernah bisa terluka lagi.'

​Bastian melangkah menuju tangga besi dan menyusul Naya ke ruang kontrol. Ruangan kaca itu kedap suara, mengisolasi mereka dari bisingnya mesin pemotong. Naya sedang berdiri membelakangi pintu, menatap layar monitor yang menampilkan ribuan baris kode program untuk sistem pencahayaan LED 'Breathing Stone'.

​"Kau belum menyentuh makan siangmu sejak kemarin, Naya," ucap Bastian perlahan, meletakkan sebuah kotak makan di atas meja kerja Naya. "Bahu kananmu butuh nutrisi protein untuk pembentukan jaringan otot yang robek. Dokter bilang kau tidak boleh mengabaikan asupan kalori."

​Naya tidak memutar tubuhnya. Jemari tangan kirinya terus menari di atas keyboard dengan kecepatan yang statis. "Saya tidak lapar, Kak Bastian. Target pengiriman kapal kargo untuk batch pertama pilar ini adalah lusa. Sistem kelistrikan marmernya masih memiliki delay sepersekian milidetik saat sinkronisasi cahaya. Saya tidak akan makan sampai kode ini sempurna."

​"Sempurna untuk siapa?!" Bastian tiba-tiba meninggikan suaranya, memutar kursi Naya secara paksa hingga gadis itu harus berhadapan dengannya. "Untuk pria yang saat ini sedang sibuk melakukan fitting jas pernikahan di Milan?! Kau menyiksa dirimu sendiri untuk proyek yang pada akhirnya hanya akan menjadi monumen kebanggaan bagi orang yang membuangmu!"

​Naya menatap Bastian tanpa ekspresi. Tidak ada kilatan amarah. Tidak ada air mata yang menggenang. Benar-benar kosong.

​Dengan tangan kirinya yang dingin, Naya mengambil sebuah majalah bisnis high-end yang tergeletak di sudut mejanya dan melemparkannya ke pangkuan Bastian. Sampul depan majalah itu menampilkan foto eksklusif: “Arjuna Dirgantara & Aline Wijaya: Persiapan Pernikahan Mewah di Tengah Mega-Akuisisi Properti Asia”. Di foto itu, Juna terlihat sangat aristokratis, menatap lurus ke kamera dengan kekosongan yang sangat identik dengan milik Naya saat ini.

​"Saya sudah melihatnya pagi ini saat sarapan," ucap Naya dengan suara yang sangat stabil, tidak bergetar sedikit pun. "Gaun Haute Couture seharga dua miliar rupiah, resepsi tiga hari tiga malam yang akan menutup setengah jalan raya Singapura. Saya tahu semuanya, Kak."

​Bastian tertegun melihat reaksi Naya yang begitu mati rasa. "Lalu kenapa kau masih memaksakan diri bekerja sampai pingsan untuk proyeknya?!"

​"Karena proyek ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dia kendalikan dari Jakarta!" jawab Naya, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan mengintimidasi. Matanya memancarkan sebuah resolusi gelap yang membuat nyali Bastian menciut. "Batu-batu pualam ini adalah mahakaryaku. Ini adalah legasiku. Saat hotel itu berdiri nanti, dunia tidak akan melihat wajah Aline Wijaya di lobi itu. Dunia akan melihat jiwaku yang tertanam di setiap inci cahaya pilar tersebut. Pak Arjuna mungkin membuang saya ke pulau ini, tapi saya yang akan memastikan bahwa nama Kanaya Larasati akan menghantui setiap langkahnya di gedung itu seumur hidupnya."

​Naya mengambil kembali kotak makan siangnya dan memindahkannya ke keranjang sampah di bawah meja dengan gerakan yang sangat kasual. "Saya bekerja untuk diri saya sendiri sekarang, Kak Bastian. Bukan untuknya. Jika Kakak tidak tahan melihat cara kerja saya yang baru, Kakak bebas untuk tidak mengunjungi ruang kontrol ini lagi. Selamat sore."

​Naya memutar kursinya kembali menghadap monitor.

​Bastian berdiri terpaku, merasa seolah-olah ia sedang berhadapan dengan sebuah robot Artificial Intelligence yang baru saja memprogram ulang sistem emosinya. Pria itu menyadari dengan keputusasaan yang absolut bahwa Kanaya yang dulu ia kenal telah tiada. Gadis itu telah membakar sisa-sisa hatinya sendiri agar tidak ada satu orang pun yang bisa mematahkannya lagi. Bastian berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, meninggalkan Ratu Es itu sendirian di dalam istana kacanya.

​Begitu pintu ruang kontrol tertutup rapat, jemari Naya di atas keyboard berhenti bergerak. Ia menundukkan kepalanya, memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakit yang luar biasa menusuk dadanya, menembus tulang rusuknya layaknya tombak berkarat. Ia meremas kemejanya di bagian dada kiri.

​'Aku tidak bekerja untuk menghantuimu, Juna,' batin Naya menjerit dalam kesunyian yang membunuh. 'Aku bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan pualam ini secepat mungkin, agar aku bisa segera menghilang dari radar ayahmu. Agar kau tidak perlu lagi berakting menjadi pria brengsek di depan media hanya untuk memastikanku tetap hidup. Aku sedang membangun jalan keluar untuk kita berdua. Bersabarlah... sebentar lagi.'

​Dua ribu kilometer jauhnya, di pusat gravitasi ekonomi ibu kota Jakarta.

​Ruang rapat Penthouse Eksekutif di puncak Gedung Dirgantara tidak lagi menyerupai tempat pertemuan bisnis. Ruangan itu kini lebih mirip dengan ruang eksekusi berdarah dingin bagi para jenderal yang kalah perang. Suhu pendingin ruangan sengaja diatur pada tingkat paling rendah, namun para direktur yang duduk mengelilingi meja oval berbahan eboni itu terus menyeka keringat dingin yang mengucur dari dahi mereka.

​Di kepala meja, Arjuna Dirgantara duduk dengan postur yang memancarkan teror absolut. Ia mengenakan setelan jas Three-Piece berwarna hitam kelam, dasi sutra berwarna merah darah yang diikat dengan presisi militer, dan rambut yang ditata sedemikian rupa hingga ia terlihat seperti dewa kematian yang sedang mengaudit nyawa manusia. Wajahnya adalah mahakarya dari sebuah kekosongan emosional; tidak ada amarah, tidak ada senyum, tidak ada belas kasihan.

​Tiga minggu terakhir telah menjadi periode paling berdarah dalam sejarah korporasi Dirgantara Group. Arjuna tidak lagi bermain bertahan. Sang Kaisar telah melepaskan anjing-anjing pemburunya.

​"Laporan akuisisi logistik jalur laut," ucap Juna memecah kesunyian, suaranya terdengar seperti denting dua bilah pedang bermata dua.

​Seorang direktur akuisisi berdiri dengan lutut bergetar. "P-Pak Arjuna, sesuai instruksi Anda, kami telah memutus seluruh kontrak pengiriman dengan perusahaan pelayaran milik Tuan Wijaya secara sepihak. Kami menggunakan pasal 'Klausul Keadaan Kahar' yang Anda susun untuk menghindari penalti. Sebagai gantinya, jaringan logistik anonim dari Singapura yang terafiliasi dengan rekening pribadi Anda telah mengambil alih seluruh jalur distribusi material dari Bali ke Jakarta."

​Di ujung meja yang berlawanan, Tuan Wijaya—ayah dari Aline dan calon mertua Juna—menggebrak meja dengan kepalan tangannya yang gemuk. Wajah pria paruh baya itu merah padam karena amarah dan rasa terhina yang luar biasa. Sang Chairman Dirgantara, ayah Juna, duduk di sebelahnya dengan ekspresi waspada yang tidak bisa disembunyikan.

​"Apa maksud dari semua kegilaan ini, Arjuna?!" teriak Tuan Wijaya, mengabaikan hierarki kesopanan. "Kau memutus rantai pasokanku secara sepihak! Perusahaan pelayaranku kehilangan kontrak bernilai ratusan miliar! Kau bilang kita akan melakukan merger! Tindakanmu ini adalah sebuah sabotase dari dalam!"

​Juna perlahan memutar bola matanya yang kelam ke arah Tuan Wijaya. Ia tidak berkedip. Ia tidak meninggikan suaranya. Ia menatap Tuan Wijaya seolah-olah pria itu adalah serangga menjijikkan yang tidak sengaja merangkak masuk ke ruangannya.

​"Saya sarankan Anda membaca kembali draf perjanjian pra-nikah dan Memorandum of Understanding merger yang kita tandatangani tiga minggu lalu, Tuan Wijaya," jawab Juna dengan bariton yang sangat pelan, sangat santai, namun sarat akan racun arsenik. "Di halaman empat puluh dua, ayat tujuh, disebutkan dengan sangat jelas bahwa pihak Dirgantara Group, di bawah otoritas tunggal CEO, memiliki hak absolut untuk menonaktifkan vendor pihak ketiga mana pun yang terindikasi melakukan, atau memiliki rekam jejak, 'Praktik Sabotase Industri' yang mengancam nyawa karyawan kami."

​Tuan Wijaya seketika mematung. Darahnya seolah tersedot habis dari wajahnya hingga menjadi sepucat kertas HVS. Napasnya tertahan di tenggorokan.

​Sang Chairman mengerutkan kening, menatap Juna dengan curiga. "Sabotase industri? Apa yang sedang kau bicarakan, Arjuna? Apakah ini soal pilar di Bali yang kau sebutkan sebelumnya?"

​Juna menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya, melipat kedua tangannya di atas perut dengan postur superior. Ia memberikan isyarat kecil pada Riko yang berdiri di sudut ruangan.

​Riko, dengan tangan yang berkeringat, menekan remote control. Layar proyektor raksasa di dinding menyala, menampilkan salinan dokumen transfer bank bawah tanah dan rekaman CCTV kabur yang menampilkan dua pria berpakaian preman di sekitar pabrik Gianyar, Bali—tepat di malam terjadinya ledakan pilar marmer yang hampir membunuh Kanaya.

​"Tim intelijen bayangan saya telah menelusuri aliran dana gelap yang digunakan untuk menyewa preman lokal guna memotong kabel penahan pompa vakum epoksi di pabrik Bali malam itu," jelas Juna, setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah eksekusi mati. Matanya tidak pernah lepas dari wajah pucat Tuan Wijaya. "Dana itu berasal dari sebuah perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman. Perusahaan cangkang yang, kebetulan sekali, direktur utamanya adalah keponakan kandung Anda sendiri, Tuan Wijaya."

​Ruang rapat itu mendadak kehilangan pasokan oksigennya. Para direktur lain saling berpandangan dengan teror yang nyata. Sang Chairman menatap Tuan Wijaya dengan rahang mengeras.

​"Kau mencoba membunuh salah satu staf teknis di proyekku, Wijaya?" geram Sang Chairman, memegang erat tongkat kayunya. Meskipun Sang Chairman sendiri membenci Naya, ia jauh lebih membenci jika ada pihak luar yang berani menyentuh aset perusahaannya tanpa izin. "Kau mencoba melakukan sabotase di dalam wilayah Dirgantara?"

​"I-Itu fitnah! Bukti itu pasti direkayasa!" Tuan Wijaya tergagap, mencoba membela diri, keringat membasahi kerah kemejanya. Ia menatap Juna dengan kepanikan. "Arjuna, kau tidak bisa membuktikan ini di pengadilan! Anakku akan menikah denganmu! Kita akan menjadi satu keluarga!"

​Juna tersenyum—sebuah senyuman miring yang begitu kejam, begitu psikopat, hingga membuat bulu kuduk Riko merinding.

​"Anda benar, Tuan Wijaya. Saya mungkin akan menghabiskan waktu bertahun-tahun jika membawa bukti sekunder ini ke pengadilan sipil. Dan jujur saja, saya tidak punya waktu untuk birokrasi murahan seperti itu," ucap Juna dengan nada santai yang mengerikan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan siku di atas meja eboni.

​"Karena itulah, saya tidak menuntut Anda secara hukum," lanjut Juna, matanya berkilat memancarkan kegelapan yang absolut. "Saya menghukum Anda secara finansial. Pemutusan jalur logistik ini baru langkah pertama. Mulai besok pagi, saya akan melakukan Hostile Takeover (Pengambilalihan Paksa) secara masif terhadap tiga anak perusahaan properti Anda di Surabaya melalui firma proksi saya di Hong Kong. Saya akan mencekik aliran cash-flow Anda hingga Anda tidak bisa membayar gaji karyawan Anda sendiri bulan depan."

​"Kau tidak bisa melakukan itu!" teriak Tuan Wijaya histeris, membanting kedua tangannya di atas meja. "Merger ini didukung oleh ayahmu sendiri! Aline adalah calon istrimu! Jika kau menghancurkan perusahaanku, kau akan mempermalukan ayahmu sendiri!"

​Juna melirik ayahnya dengan ekor matanya, memastikan pria tua itu melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali atas ruang rapat ini sekarang. Sang Chairman terdiam dengan wajah tegang, menyadari bahwa monster yang ia ciptakan ternyata jauh lebih buas dari yang ia perkirakan. Putranya sedang menggunakan otoritas CEO yang baru saja diperluas melalui merger ini untuk menelan keluarga Wijaya hidup-hidup dari dalam.

​"Pertunangan dengan putri Anda adalah sebuah transaksi bisnis Public Relations, Tuan Wijaya. Sebuah seremonial kosong yang akan saya jalankan sesuai kontrak. Aline akan mendapatkan gaun dua miliarnya, dan saya akan berdiri di altar sambil tersenyum ke arah kamera reporter," ucap Juna dengan kedinginan yang membuat mual. "Tapi nyawa staf saya... adalah yurisdiksi absolut saya. Jika Anda mencoba menyentuh atau melukai apa yang menjadi milik saya lagi, saya tidak hanya akan mengambil perusahaan Anda. Saya akan memastikan seluruh keluarga Wijaya mengemis di jalanan Sudirman."

​Juna berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat lambat, merapikan kancing jasnya dengan anggun. Ia menatap ke sekeliling meja oval tersebut, menanamkan rasa takut yang permanen pada setiap jiwa yang hadir.

​"Rapat selesai," vonis Juna. "Tuan Wijaya, Anda dipersilakan mencari transportasi alternatif untuk pulang. Seluruh fasilitas VIP Anda di gedung ini telah dicabut. Selamat siang."

​Juna memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang Penthouse itu, meninggalkan keributan dan kepanikan yang meledak di belakang punggungnya. Ia melangkah menyusuri lorong eksklusif menuju lift pribadinya.

​Begitu pintu lift yang terbuat dari baja itu tertutup, mengisolasinya dari dunia luar, topeng kaisar yang kejam itu seketika runtuh. Juna menyandarkan punggung lebarnya ke dinding lift yang dingin, memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar hebat, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan ritme yang menyiksa.

​'Aku melakukannya, Naya,' batin Juna, air mata frustrasi menggenang di pelupuk matanya namun menolak untuk jatuh. 'Aku mematahkan kaki mereka yang mencoba melukaimu. Aku memastikan tidak ada lagi pembunuh bayaran yang berani mendekati pabrik itu. Tapi sebagai bayarannya... aku harus menjadi iblis di dunia ini. Aku harus mengenakan cincin pertunangan wanita lain di jariku.'

​Juna merogoh saku bagian dalam jasnya. Di sana, di dekat detak jantungnya yang sepi, ia menyimpan sebuah foto polaroid berukuran kecil. Itu adalah foto yang diambil secara rahasia oleh tim keamanannya di Bali tiga hari yang lalu. Foto Kanaya yang sedang berdiri sendirian di tengah pabrik pualam, wajahnya tertutup debu putih, matanya menatap kosong ke arah deretan batu-batu mati.

​Juna menyentuh wajah Naya di foto itu dengan ibu jarinya yang bergetar. "Tataplah aku dengan benci, Kanayaku. Teruslah membenciku. Karena jika kau tahu betapa aku sangat mencintaimu dan merindukanmu... kau akan melihat bahwa jiwaku sudah hancur berkeping-keping di dalam gedung ini."

​Senja di Pelabuhan Benoa, Bali, menawarkan pemandangan siluet matahari terbenam yang berwarna jingga keunguan, memantul di atas perairan yang tenang. Burung-burung camar terbang rendah, mencari sisa-sisa ikan dari perahu nelayan yang kembali ke dermaga.

​Di area terminal kargo komersial yang sibuk, sebuah kapal kargo berbendera internasional sedang melakukan proses pemuatan barang (loading). Derek-derek pelabuhan raksasa bergerak secara ritmis, memindahkan kontainer-kontainer baja berat dari atas truk trailer ke lambung kapal.

​Kanaya Larasati berdiri sendirian di tepi dermaga, tidak jauh dari area pembatasan keamanan. Angin laut yang membawa aroma garam dan solar meniup rambutnya yang hari ini dibiarkan tergerai bebas. Ia mengenakan jaket denim tebal untuk menahan angin senja, tangannya dimasukkan ke dalam saku.

​Matanya yang cokelat dan kosong menatap tajam ke arah dua buah kontainer khusus berukuran empat puluh feet yang bertuliskan: FRAGILE - GRAND AZURE MAIN PILLARS - BATCH 01.

​Itu adalah bongkahan pertama dari pilar 'Breathing Stone' yang telah selesai difabrikasi. Potongan-potongan jiwa Naya yang telah ia pahat bersama rasa sakit, keringat, dan air mata selama sebulan terakhir. Batu-batu itu kini sedang diangkat melayang di udara, bersiap untuk menyeberangi lautan menuju ibu kota Jakarta yang kejam.

​'Pergilah,' bisik Naya di dalam hatinya, menatap kontainer itu hingga perlahan-lahan menghilang ditelan lambung kapal kargo. 'Bawalah seluruh memori tentangnya pergi dari pulau ini. Berdirilah tegak di gedung miliknya. Jadilah saksi bisu dari pernikahan agungnya nanti. Karena tugasku di sini sudah hampir selesai.'

​Naya menarik napas dalam-dalam, menghirup udara laut yang asin. Tanpa ia sadari, sebutir air mata pengkhianat lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi pipinya yang pucat, dan mengering terbawa angin pelabuhan. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari dermaga, bersiap untuk kembali ke penjara debunya di Gianyar.

​Pada saat yang tepat bersamaan, ribuan kilometer di barat.

​Arjuna Dirgantara berdiri sendirian di balkon apartemen mewahnya di kawasan SCBD. Malam telah turun menyelimuti Jakarta, menggantikan langit terik dengan lautan lampu neon yang berkelap-kelip bagai rasi bintang artifisial di bumi.

​Di tangannya, ia memegang sebuah tablet militer yang memancarkan pendaran cahaya kebiruan ke wajahnya yang lelah. Layar tablet itu menampilkan peta digital rute maritim dengan sebuah titik GPS berwarna merah yang berkedip lambat. Titik merah itu baru saja bergerak meninggalkan titik koordinat Pelabuhan Benoa, Bali, memulai perjalanannya melintasi Selat Bali menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

​Juna mencengkeram besi pagar balkonnya dengan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara matanya tidak bisa lepas dari titik merah yang berkedip di layar tersebut.

​'Mereka sedang dalam perjalanan,' batin Juna, dadanya terasa sesak oleh kombinasi antara kelegaan yang luar biasa dan rasa rindu yang merobek-robek kewarasannya. 'Potongan-potongan dari mahakaryamu... potongan-potongan dari jiwamu yang kau ukir di dalam batu itu. Setidaknya, jika aku tidak bisa menyentuhmu, Naya, aku bisa menyentuh batu-batu yang pernah berada di dalam pelukanmu.'

​Di malam yang sama, di bawah hamparan langit yang sama namun terpisahkan oleh lautan yang luas, dua sosok pemimpin yang telah bermetamorfosis menjadi tiran yang membekukan hati mereka sendiri, berdiri dalam kesunyian mutlak. Mereka sedang mengirimkan dan menunggu bagian dari jiwa mereka melintasi perairan yang gelap, tanpa saling menyapa, tanpa saling bertukar kabar, hanya dihubungkan oleh seutas benang tak kasat mata yang terbuat dari debu pualam dan rasa sakit yang abadi.

​Paradoks mereka telah mencapai titik keseimbangannya yang paling menyedihkan: mereka harus menjadi orang paling kuat di dunia agar bisa saling melindungi, namun kekuatan itu jugalah yang memastikan mereka tidak akan pernah bisa saling memiliki.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak dengan teknik handheld yang sedikit berguncang, menciptakan efek voyeuristic, menyusuri bagian samping sebuah rumah sederhana bercat kusam di pinggiran Bekasi. Hujan rintik-rintik turun, menciptakan suasana melankolis di sore hari.

​Dua belas tahun yang lalu.

​Kanaya kecil, yang saat itu berusia tiga belas tahun dengan rambut dikepang dua, sedang duduk berjongkok di teras belakang rumahnya yang beratap asbes. Di depannya, ayahnya sedang duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Wajah ayah Naya terlihat sangat hancur, matanya merah dan kosong, rambutnya berantakan. Bengkel mebel kebanggaan keluarganya baru saja ditutup paksa oleh bank dan juru sita dari pengembang properti besar siang tadi.

​Ayah Naya memegang sebuah miniatur kursi ukir kayu jati yang sangat indah—salah satu karya masterpiece terakhirnya yang tidak ikut disita. Dengan tangan yang gemetar karena keputusasaan dan rasa marah yang tak tertahankan pada ketidakadilan dunia, ayahnya tiba-tiba membanting miniatur kursi kayu itu ke lantai semen dengan sekuat tenaga.

​Prak!

​Kayu jati itu patah, ukirannya hancur berantakan menjadi puing-puing kecil.

​"Ayah! Jangan!" jerit Naya kecil, air matanya langsung tumpah. Ia menerjang maju, memunguti serpihan kayu ukir yang patah itu dengan tangan kecilnya, mencoba merangkainya kembali seperti puzzle. "Kenapa Ayah menghancurkannya? Ini sangat indah! Kita masih bisa memperbaikinya pakai lem!"

​Ayahnya menatap Naya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kekalahan absolut seorang pria yang gagal melindungi keluarganya. Ia menyentuh pipi putrinya dengan tangannya yang kasar.

​"Kelembutan tidak akan pernah bisa melawan raksasa, Naya," ucap ayahnya dengan suara parau yang bergetar, penuh dengan racun kepahitan dunia. "Mereka merampas rumah kita, mereka menghancurkan hidup kita dengan sangat mudah, karena kita ini hanya terbuat dari kayu. Kita terlalu jujur. Kita mudah dipatahkan. Kita bisa terbakar menjadi abu hanya karena setitik api dari kekuasaan mereka."

​Naya kecil menatap serpihan kayu di tangannya, air matanya membasahi telapak tangannya. Ia kemudian menoleh ke sudut halaman, di mana terdapat sebuah bongkahan batu kali besar yang keras dan bersudut tajam, sisa pondasi pagar rumah.

​Naya berdiri perlahan, membuang serpihan kayu yang hancur itu ke tanah. Ia berjalan menghampiri batu kali tersebut, lalu mengangkatnya dengan kedua tangannya yang kurus.

​"Kalau begitu, mulai sekarang aku tidak akan menjadi kayu lagi, Ayah," ucap Naya kecil dengan suara yang mendadak berhenti bergetar. Wajah polosnya mengeras, memancarkan sebuah resolusi gelap yang lahir terlalu cepat untuk anak seusianya. "Aku akan membangun rumah kita kembali dari batu, Ayah. Rumah yang sangat keras, yang sangat dingin, yang tidak akan pernah bisa mereka bakar dan mereka patahkan lagi."

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada mata Naya kecil yang menatap tajam ke depan, tidak lagi meneteskan air mata. Sebuah pelajaran traumatis tentang bagaimana mengubah kelembutan menjadi kedinginan batu demi bertahan hidup.

​Kamera secara sinematik beralih (fade out), kembali ke masa depan. Wajah Kanaya dewasa yang dingin, kaku, dan tanpa ekspresi berdiri di dermaga Pelabuhan Benoa, Bali. Ia telah mewujudkan janji masa kecilnya secara literal dan metaforis. Ia telah sepenuhnya menjadi pualam yang tidak bisa dihancurkan, meskipun sebagai bayarannya, ia harus membekukan hatinya sendiri di dalam batu tersebut.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!