Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Langit Jakarta pagi itu tertutup awan mendung kelabu, seakan mencerminkan atmosfer di lantai 60 Menara Alexander.
Ketegangan di kantor pusat itu sangat pekat. Staf eksekutif berbicara dengan suara berbisik, sementara Marco sibuk mondar-mandir di depan meja sekretaris dengan ponsel menempel di telinga.
Yvone tidak disuruh pulang oleh Dylan. Sebagai gantinya, pria itu menempatkannya di ruang private lounge miliknya sebuah ruangan istirahat mewah yang tersembunyi tepat di balik ruang kerja utama sang CEO, dipisahkan oleh dinding kaca cerdas yang bisa diatur tingkat transparansinya.
"Tetap di sini," perintah Dylan sepuluh menit yang lalu sebelum tamu VIP itu tiba. "Apa pun yang kau dengar, jangan keluar."
Sekarang, Yvone duduk mematung di atas sofa kulit di dalam lounge, menatap dinding kaca yang kini disetel sedikit buram (frosted). Ia tidak bisa melihat wajah dengan jelas, namun ia bisa melihat siluet dan mendengar percakapan mereka melalui celah pintu geser yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Dylan.
Pintu utama ruang kerja terbuka. Terdengar ketukan hak sepatu yang ritmis, tajam, dan penuh percaya diri.
"Selamat pagi, Dylan. Ruanganmu masih sedingin biasanya."
Suara wanita itu mengalun merdu, sangat elegan, namun memiliki lapisan arogansi yang kental. Itu bukan suara Sinta Wijaya yang reaktif dan emosional. Suara ini jauh lebih tenang, lebih terukur, dan lebih berbahaya.
Siluet wanita itu terlihat berjalan melewati meja kerja Dylan, tidak mengambil kursi tamu yang disediakan, melainkan bersandar santai di tepi meja kerja sang CEO, menginvasi ruang pribadi pria itu dengan sengaja.
Itulah Nadia Pramudya. Putri tunggal Menteri Dalam Negeri. Wanita yang memegang kunci untuk membuka blokir proyek triliunan Alexander Group.
"Nadia," sapa Dylan dengan suaranya yang datar dan tanpa basa-basi. "Kupikir ayahmu akan mengirimkan dirjennya. Ternyata dia mengirimkan putri mahkotanya langsung. Silakan duduk di kursi, bukan di mejaku."
Terdengar tawa kecil dari Nadia. Siluetnya bergerak, akhirnya menurut dan duduk. "Kau selalu kaku, Dylan. Tapi itu yang membuatmu menarik. Langsung saja. Ayahku menghentikan analisis AMDAL di Uluwatu karena Menteri Hadi memberikan tekanan. Hadi memiliki bukti bahwa kau menggunakan proyek ini untuk mengumpulkan dana politik demi melawan faksinya."
"Itu fitnah murahan," balas Dylan dingin.
"Tentu saja itu fitnah. Tapi di dunia kita, fitnah yang diulang seratus kali akan menjadi kebenaran jika tidak ada yang membantahnya," ucap Nadia santai. "Ayahku bersedia berdiri di pihakmu. Dia bersedia menandatangani dekrit khusus yang akan menyingkirkan wewenang Hadi dari proyek Bali."
Hening sejenak. Yvone menahan napasnya di balik kaca.
"Tidak ada makan siang gratis di Senayan, Nadia," suara Dylan terdengar merendah. "Apa harga untuk tanda tangan ayahmu?"
Siluet Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja. "Harga yang sangat sederhana, Dylan. Aliansi yang permanen. Pernikahan politik."
Darah Yvone seketika membeku. Ia mencengkeram bantal sofa erat-erat.
"Aku sudah menikah," jawab Dylan.
"Oh, tolonglah," Nadia mendecak meremehkan. "Kau menyebut sirkus perlindungan saksi itu sebagai pernikahan? Semua orang di ring satu tahu kau menikahi anak koruptor itu hanya untuk mengamankan ayahnya dari Hadi dan memperbaiki citra publikmu di mata Bu Rina. Itu langkah taktis yang brilian, aku mengakuinya. Tapi itu bukan fondasi masa depan."
Nadia berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di belakang kursi Dylan. "Gadis Larasati itu tidak bisa memberimu kekuasaan, Dylan. Dia hanya beban. Dia tidak memiliki koneksi, tidak mengerti permainan kita, dan suatu saat nanti, kasus ayahnya akan kembali menggigitmu. Ceraikan dia."
Di dalam lounge, napas Yvone tersengal. Rasa tidak aman yang selama ini ia tekan dalam-dalam kini membesar seperti monster. Nadia benar. Secara logika dan bisnis, Yvone sama sekali tidak berguna dibandingkan apa yang bisa ditawarkan oleh dinasti Pramudya. Jika Dylan adalah pria pragmatis yang hanya peduli pada keuntungan, pilihan ini sangatlah mudah.
Apakah dia akan membuangku? batin Yvone ngeri. Jika Dylan menceraikannya sekarang, perlindungan terhadap ayahnya akan lenyap. Ayahnya akan kembali masuk ke kandang singa Menteri Hadi.
"Kau memintaku menceraikan istriku satu minggu setelah pernikahanku?" Suara Dylan memecah lamunan Yvone. Nada pria itu penuh dengan sarkasme yang mematikan. "Itu akan menghancurkan citra publik yang baru saja kubangun, Nadia. Sahamku akan anjlok."
"Kita bisa membuatnya terlihat seperti kesalahan dari pihak gadis itu," bisik Nadia manipulatif. "Skandal kecil. Ketidakcocokan. Ayahku akan memastikan media menanganinya dengan rapi. Setelah semuanya reda, kita bertunangan. Dengan Alexander Group sebagai mesin finansial dan Pramudya sebagai tameng politik, tidak akan ada satu orang pun di negeri ini yang bisa menjatuhkan kita. Bahkan Hadi sekalipun."
Jeda panjang terjadi. Detik demi detik terasa seperti siksaan bagi Yvone. Kenapa Dylan tidak langsung menolak? Kenapa pria itu mempertimbangkannya?
"Kau menawarkan kerajaan padaku, Nadia," ucap Dylan akhirnya. Terdengar suara kursi yang ditarik, pria itu berdiri berhadapan dengan sang putri politik. "Tapi ada satu hal yang kau lupakan tentangku."
"Apa itu?"
"Aku tidak suka barang bekas," desis Dylan kejam. "Ayahmu adalah sekutu Hadi selama lima tahun terakhir. Sekarang, ketika kapal Hadi mulai oleng, ayahmu melompat dan mencoba bersekutu denganku. Pengkhianat akan selalu menjadi pengkhianat. Jika aku menikahimu, aku mengundang ular ke ranjangku."
Yvone membuang napas lega hingga nyaris terisak.
"Kau terlalu sombong, Dylan!" Nada suara Nadia meninggi, topeng keanggunannya retak. "Tanpa bantuan ayahku, proyek Bali-mu akan membusuk di meja kementerian! Kau akan kehilangan triliunan! Apakah kau benar-benar mau mengorbankan mahkotamu demi mempertahankan gadis miskin itu?!"
"Gadis miskin itu menyandang namaku sekarang," geram Dylan, suaranya menggelegar, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat udara di ruangan itu terasa berat. "Dan apa yang sudah menjadi milik Dylan Alexander Hartono, tidak akan pernah kulepaskan. Kembalilah pada ayahmu, Nadia. Katakan padanya, aku akan merobohkan pintunya sendiri jika dia tidak menandatangani perizinan itu."
"Kau akan menyesali ini, Dylan," ancam Nadia, suaranya bergetar karena amarah dan ego yang terluka. Terdengar langkah kaki cepat menjauhi meja. "Lihat saja seberapa lama kau bisa melindungi boneka kecilmu itu!"
Pintu utama ruang kerja dibanting hingga tertutup.
Keheningan total menyelimuti ruangan. Di dalam lounge, Yvone menyandarkan kepalanya ke belakang, tubuhnya berkeringat dingin. Dylan telah memilihnya. Dylan menolak aliansi terbesar di negeri ini demi mempertahankan kontrak mereka.
Tiba-tiba, pintu kaca geser yang memisahkan lounge dan ruang kerja terbuka sepenuhnya.
Dylan berdiri di ambang pintu. Jasnya tampak sedikit kusut, rahangnya mengeras layaknya baja yang dipanaskan. Napas pria itu naik turun menahan amarah yang belum sepenuhnya tersalurkan. Ia menatap Yvone yang masih terduduk pucat di sofa.
Pria itu melangkah masuk dengan cepat. Alih-alih duduk di seberang Yvone, Dylan mendudukkan dirinya di tepi meja kopi, tepat di hadapan lutut Yvone. Jarak mereka begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan.
"Kau mendengarnya," ucap Dylan datar, matanya menyelidik wajah Yvone yang masih shock.
Yvone mengangguk pelan. "Dia... dia menawarkan segalanya padamu. Kenapa kau menolaknya? Jika kau menerima Nadia, kau bahkan tidak perlu repot-repot menyusun skenario palsu untuk mengamankan perusahaanku."
"Karena aku bukan pelacur politik, Yvone," balas Dylan tajam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangannya terangkat, jari-jarinya yang panjang menyusup ke rambut di tengkuk Yvone, memberikan sedikit tekanan yang memaksa Yvone menatap lurus ke dalam mata kelam pria itu. "Dan karena aku benci jika ada orang lain yang mendikte apa yang harus kulakukan terhadap milikku."
Garis tipis antara kepemilikan bisnis dan kepemilikan personal mengabur dalam tatapan posesif itu.
"Dia tidak akan berhenti, Dylan," bisik Yvone, matanya memancarkan ketakutan yang nyata. "Ayahku ada di tangan orang-orang pemerintahan. Jika Nadia bergabung dengan Hadi..."
"Mereka tidak akan bisa menyentuh ayahmu," potong Dylan tegas. Ibu jarinya membelai pelan rahang Yvone, sebuah kontras yang gila dari ketegangan otot-otot di wajahnya. "Kau pikir aku bermain tanpa kartu cadangan? Aku sudah memprediksi pengkhianatan Menteri Dalam Negeri."
Dylan melepaskan tangannya dari leher Yvone dan berdiri, mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu tampak sangat lelah, memikul beban kerajaan di pundaknya sendirian.
"Yvone," panggil Dylan pelan, memunggunginya, menatap ke arah jendela kota Jakarta yang mulai diguyur hujan. "Dalam beberapa hari ke depan, serangan media akan dimulai. Nadia tidak akan menyerangku secara langsung. Dia akan menyerangmu. Dia akan mencoba mencari segala cara untuk membuktikan bahwa kau tidak pantas berada di sisiku, untuk membuatmu terlihat hina di mata publik dan Bu Rina."
Yvone menelan ludah. "Apa yang harus aku lakukan?"
Dylan berbalik menatapnya. Sorot matanya kini tidak memiliki setitik pun es, melainkan sebuah bara api kewaspadaan.
"Kau harus menjadi Nyonya Hartono yang tak tersentuh," perintah Dylan. "Dan untuk melakukannya, kau butuh sesuatu yang bisa membuat namamu berdiri sejajar dengan mereka tanpa harus mengandalkan nama belakangku."
"Maksudmu?"
"Tawaran proyek dari biro arsitektur milik Rangga Susilo," ucap Dylan, menyebutkan nama pria yang dua hari lalu membuatnya nyaris meledak karena cemburu. "Ambil proyek itu."
Yvone terbelalak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau bercanda. Dua hari lalu kau mengancam akan menghancurkan bironya jika aku bekerja sama dengannya!"
"Itu sebelum Nadia secara resmi mendeklarasikan perang," Dylan menekan pangkal hidungnya, tampak benci harus mengatakan hal ini. "Rangga Susilo bukan sekadar arsitek biasa. Dia adalah keponakan dari pemilik saham mayoritas di konsorsium perbankan yang selama ini netral dari politik Hadi. Jika kau menjadi desainer utama di proyek butik hotelnya dan berhasil, profil profesionalmu akan meroket. Kau akan memiliki pelindung dan nilai sosialmu sendiri di mata elit Jakarta. Mereka tidak akan bisa menyebutmu 'gadis miskin yang menumpang hidup' lagi."
Yvone berdiri perlahan, memproses logika kejam namun brilian dari suaminya. Dylan mempertaruhkan egonya dan kecemburuannya demi menciptakan perisai sosial untuk Yvone.
"Kau membiarkanku dekat dengannya... sebagai alat politik?" tanya Yvone, nada suaranya campur aduk antara kagum dan kesal.
Dylan melangkah mendekat, kembali memangkas jarak di antara mereka. Ia menunduk menatap Yvone. Aroma vetiver dan hujan menguar dari tubuhnya.
"Aku membiarkanmu bekerja dengannya agar kau memiliki cakar yang lebih panjang, Yvone," bisik Dylan tepat di depan wajah Yvone. "Tapi jangan pernah salah mengartikan izinku. Jika Rangga menyentuhmu lebih dari sekadar rekan kerja..."
Mata kelam pria itu berkilat mematikan. Tangan kanannya terangkat, menyentuh pinggang Yvone dengan cengkeraman yang posesif.
"...aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri."
Bulu kuduk Yvone meremang. Bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar dari titik di mana tangan Dylan menyentuh pinggangnya. Ketegangan seksual dan emosional di antara mereka semakin pekat, bercampur dengan intrik politik yang kotor.
"Bersiaplah," ucap Dylan, melepaskan cengkeramannya namun matanya tetap mengunci Yvone. "Mulai besok, kau bukan lagi sekadar istri di atas kertas. Kau adalah pion penyerangku."
Yvone menegakkan dagunya, membalas tatapan sang miliarder tanpa berkedip. "Kalau begitu, pastikan kau menggerakkanku dengan benar, Tuan Hartono. Karena aku menolak untuk dikorbankan."
Sementara itu, di basement VIP Menara Alexander, Nadia Pramudya berjalan menuju mobil Mercedes-Benz S-Class miliknya dengan langkah menghentak. Wajah cantiknya ditekuk oleh amarah yang membara.
Seorang pria berjas rapi yang menunggunya di dekat mobil segera membukakan pintu. "Bagaimana pertemuannya, Nona Nadia?"
"Dylan Alexander memang brengsek yang sombong," desis Nadia saat ia masuk ke dalam mobil. Ia menatap tajam asisten kepercayaannya itu. "Dia memilih untuk melindungi jalang kecilnya itu daripada menerimaku."
Nadia mengambil ponselnya dari dalam tas Hermès-nya. Matanya berkilat licik. Ia tidak pernah menerima kekalahan. Jika pintu depan terkunci, ia akan membakar rumah itu dari belakang.
"Hubungi orang-orang kita di kejaksaan," perintah Nadia dingin. "Budi Larasati terlalu nyaman di sel VIP-nya. Sudah saatnya kita memberikan sedikit tekanan fisik padanya. Mari kita lihat seberapa jauh Dylan bisa melindungi mertua kesayangannya saat mertuanya itu mulai batuk darah."
Nadia tersenyum miring. "Dan cari tahu segala hal tentang Yvone Larasati. Mantan pacar, musuh, utang, apa saja. Aku ingin gadis itu memohon padaku untuk menceraikan Dylan sebelum akhir bulan ini."