Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Pengakuan
Happy reading
Hawa menemukan tenang seusai menangis dalam peluk sajadah.
Sesak yang tadi memenuhi rongga dada perlahan meredam, berganti udara yang terasa lebih lapang di setiap hela napasnya.
Segala tanya yang semula berisik dan saling berteriak di dalam benak pun kini telah bungkam, kalah oleh sunyi yang merangkulnya erat.
Ia menyeka pelan jejak air mata, lalu menanamkan keyakinan di palung hati: La Tahzan, Innallaha ma’ana.
Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.
Kalimat yang pernah dituturkan Rama itu kini bukan sekadar kata, melainkan penguat diri agar tak mudah runtuh.
"Semua akan baik-baik saja, Hawa," bisik batinnya, memeluk diri sendiri dengan lembut.
"Jangan bersedih. Masih banyak cinta yang menunggumu di luar sana. Biarkan benci mereka luruh bersama air mata yang mengering, karena kamu terlalu berharga untuk menjadi rapuh."
Hening.
Rama menatap sekilas pahatan indah yang terduduk di hadapannya. Ia sengaja tak menyela, membiarkan Hawa puas memeluk dirinya sendiri dan menuntaskan beban yang baru saja ia titipkan pada Sang Pemilik Semesta.
"Rama, makasih," ucap Hawa lirih, nyaris tertelan sunyi yang menyelimuti ruangan. Memecah keheningan di antara mereka berdua.
Rama mengejapkan mata, perlahan menerbitkan senyum lembut yang meneduhkan.
"Bagaimana, udah lebih ringan?" tanyanya pelan.
Hawa mengangguk. Ia mengangkat wajah, membiarkan sepasang mata indahnya menangkap jelas paras lelaki yang selalu ada setiap kali jiwanya nyaris runtuh itu.
"Masih ada waktu?"
"Tentu. Ada yang ingin dibagi lagi?"
Hawa kembali mengangguk. "Ada."
"Kita berbincang di sini, atau... di tempat lain?"
"Di taman," jawab Hawa, matanya kini mulai menampakkan binar yang sempat padam.
Bayu bertiup pelan, menyapu lembut wajah Hawa yang masih menyisakan jejak basah. Jemari angin itu seolah ikut memainkan anak rambutnya, menebar aroma khas alam yang mencipta rasa damai.
Di sisinya, Rama mengambil jarak yang sopan--cukup jauh untuk menjaga kehormatan, namun cukup dekat untuk memberi rasa aman.
Pohon Tabebuya di atas mereka merunduk memberi teduh, kelopak bunganya yang sesekali gugur seolah ingin ikut menjadi saksi bisu atas rangkaian kata yang akan terucap.
Siang ini, bukan soal beban kuliah atau carut-marut masalah yang melilit Tanah Pertiwi yang mereka bicarakan.
Fokus Rama hanya satu: semesta kecil bernama Hawa.
Rama memilih bungkam; mendengar, menyimak, dan mengunci setiap perkataan Hawa ke dalam memorinya yang paling dalam.
Ia tidak memotong dengan logika, pun tidak menggurui dengan petuah. Ia hanya membiarkan Hawa menumpahkan seluruh beban yang selama ini menyesakkan dada, hingga tak ada lagi ganjalan yang tersisa.
Sinar matahari siang ini seolah tertahan di balik dahan Tabebuya, menyisakan keremangan yang tenang di antara mereka.
Setelah hela napas panjang, Hawa akhirnya melepaskan duri paling tajam dalam hatinya.
"Dia memilih kakakku..."
Suara itu retak, lalu hening kembali turun dengan berat. Hanya alunan napas mereka yang terdengar saling berkejaran di bawah langit yang mendadak terasa sunyi.
Rama terdiam. Namun, hanya sejenak. Ia mengumpulkan keberanian, menata degup jantungnya, lalu mengutarakan kata yang selama ini terkunci rapat di dalam benak dan hanya ia bagi pada Sang Maha Cinta.
"Dan aku memilihmu," kalimat itu jatuh pelan dari bibir Rama, mendarat dengan pasti di pendengaran Hawa.
Rama menatap lurus, tak ada keraguan yang tersirat dari ucap maupun tatapan matanya. "Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau."
Hawa bergeming. Ia menundukkan wajah, seolah tak sanggup menatap binar ketulusan yang baru saja diletakkan Rama di hadapannya.
Ada kehangatan asing yang perlahan menyentuh relung rasa--sesuatu yang menjalar pelan, mencairkan beku sisa luka yang tadi sempat ia ratapi.
Di bawah naungan Tabebuya siang ini, dunianya yang baru saja runtuh seakan dibangun kembali oleh satu pengakuan sederhana.
Ia merasa dipilih, bukan diabaikan. Ia tak lagi harus lelah meraba makna di balik perhatian yang samar.
Di saat sebagian orang menjatuhkan harga dirinya dengan sebuah penolakan atas nama kebencian, ada jiwa yang justru mengangkatnya tinggi-tinggi dengan sebuah penerimaan yang utuh, bahkan tanpa syarat.
"Hawa, aku nggak menuntut kamu untuk memilih atau menerimaku sekarang. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu; gadis yang selalu aku pinta di sepertiga malam itu... adalah kamu."
Hawa masih setia dalam diamnya. Bibirnya terasa kelu, seolah seluruh kosakata yang ia miliki telah terbang terbawa bayu.
Ia tak mampu berkata-kata, namun hatinya justru sedang berseru dalam haru yang luar biasa.
Di balik tunduknya, ada rasa syukur yang tak bisa dijabarkan dengan lisan. Ada semburat merah yang ia sembunyikan.
Ia merasa begitu berharga karena dicintai oleh insan yang hatinya terpaut dekat dengan Tuhan.
Rama--lelaki yang rela menolak ratusan proposal cinta dan mengabaikan pinangan seorang Ning yang terhormat--justru memilih berhenti dan menetap pada dirinya yang merasa penuh kekurangan.
Di detik ini, Hawa sadar, bahwa doa-doanya di atas sajadah tadi pagi telah dijawab Allah dengan cara yang paling tidak terduga: melalui kejujuran seorang Rama.
.
.
Seusai menunaikan ibadah sholat Dzuhur bersama Rama, Hawa membawa langkahnya bergegas menuju ruang sekretariat BEM.
Wajah yang semula berselimut mendung, kini terbingkai binar yang tak sanggup ia sembunyikan.
Kata-kata Rama tadi laksana oase di padang gersang; membasuh luka yang perih dan meyakinkan dirinya bahwa ia memang patut dicinta.
Di dalam ruangan yang riuh itu, seluruh jajaran pengurus BEM sudah berkumpul.
Tatapan Damar Aksara--Sang Wakil Sekretaris Jenderal, langsung terkunci pada sosok Hawa yang baru saja memasuki ruang.
Ada tanya yang terselip di benak saat melihat cahaya yang mendadak terbit di wajah gadis bermata bulat itu.
Hawa yang beberapa jam lalu terlihat sangat hancur, kini kembali dengan tawa yang menghiasi paras cantiknya.
Damar tertegun. Seolah tak percaya bahwa Hawa bisa kembali utuh secepat itu.
Dalam diamnya yang gelisah, Damar terus mencuri pandang. Benaknya sulit menerima kenyataan bahwa kehadiran Rama mampu menghapus air mata yang ia sebabkan, dan membuat Hawa kembali bersinar hanya dengan membawanya bersujud di masjid tadi pagi.
Rahangnya mengeras, sementara tangannya terkepal kuat di bawah meja. Otaknya mendadak gaduh, menulikan pendengarannya dari riuh pembahasan rapat yang dipimpin oleh Tiyo--Sang Ketua BEM.
Ada ego yang terbakar hebat di dadanya; ia tidak rela jika posisinya digantikan oleh Rama.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen