NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: UJIAN DARAH DI ISTANA

Fajar menyingsing di atas Istana Kekaisaran, menerangi atap-atap emas dengan cahaya keemasan. Tapi bagi Namgung Jin, pagi ini terasa berbeda—udaranya lebih berat, penuh ketegangan yang tidak terlihat.

Hari ini ujian pertamanya dimulai.

Ia duduk di kamarnya, menyempurnakan aliran energi di tubuhnya. Dua belas meridian telah terbuka, memberinya kekuatan setara dua belas tahun kultivasi normal. Masih kecil untuk ukuran Iblis Murim, tapi cukup untuk bertahan di istana—setidaknya untuk sementara.

Pintu diketuk. Nyonya Hwa Ryun masuk dengan nampan sarapan.

"Kau tidak tidur semalaman?"

"Tidak perlu." Ia mengambil secangkir teh, menyesapnya pelan. "Ada kabar dari luar?"

"Para dayang bergosip. Ujianmu hari ini akan dipimpin langsung oleh Kepala Pengawal Istana—Jenderal Baek Woong. Ia terkenal kejam."

"Jenderal Baek Woong..." Namgung Jin mengingat nama itu dari laporan Pemburu Kwon. "Dia anak buah Janda Permaisuri?"

"Bukan anak buah, tapi sekutu. Ia berutang budi padanya."

"Berarti ujian ini tidak akan adil."

"Tentu tidak. Tapi kau sudah terbiasa, kan?"

Namgung Jin tersenyum tipis. "Ketidakadilan adalah bumbu kehidupan."

---

Setelah sarapan, seorang kasim datang menjemput.

Pria tua tanpa jenggot itu membungkuk dalam. "Tuan Namgung, mohon ikut dengan saya. Ujian akan segera dimulai."

Namgung Jin mengikuti, meninggalkan Nyonya Hwa Ryun dengan pesan singkat: "Awasi Putri Sohwa."

Mereka berjalan melewati koridor panjang, melintasi beberapa halaman, hingga tiba di sebuah lapangan luas di belakang istana. Di sana, puluhan prajurit berbaris rapi. Di tengah, sebuah panggung tinggi tempat para pejabat duduk.

Di kursi utama, Jenderal Baek Woong duduk dengan postur tegap. Pria itu berusia lima puluhan, dengan tubuh kekar dan wajah keras penuh bekas luka. Matanya tajam, seperti elang mengawasi mangsa.

Di sampingnya, duduk beberapa pejabat lain. Janda Permaisuri tidak hadir, tapi Namgung Jin yakin ia mengawasi dari suatu tempat.

"Namgung Jin." Suara Jenderal Baek Woong menggelegar. "Maju."

Ia melangkah ke tengah lapangan, berdiri di hadapan jenderal itu.

"Kau tahu, aku tidak suka anak muda yang diangkat karena koneksi." Jenderal itu menatapnya dengan hina. "Tapi perintah Kaisar adalah perintah. Jadi, kau harus diuji."

· "Aku siap, Jenderal."*

"Bagus." Jenderal Baek Woong memberi isyarat. Dari barisan prajurit, tiga orang maju. Mereka semua pria dewasa, dengan postur tegap dan aura kuat—setidaknya level menengah.

"Ini adalah tiga pengawal terbaikku. Kau harus bertarung melawan mereka bertiga sekaligus."

Para pejabat di panggung terkejut. Bertarung melawan tiga lawan sekaligus? Itu tidak masuk akal untuk anak seusianya.

Tapi Namgung Jin hanya tersenyum. "Ada aturan?"

"Tidak ada aturan. Bertarung sampai salah satu menyerah atau mati."

"Dimengerti."

---

Tiga prajurit itu mengepungnya. Mereka besar, kuat, dan percaya diri. Bagi mereka, ini adalah tugas mudah—menghajar bocah kemarin sore.

Namgung Jin berdiri diam, tangannya di samping. Tidak mengambil posisi bertarung. Matanya bergerak, membaca gerak-gerik mereka.

"Serang!"

Prajurit pertama melesat, pedangnya menyambar ke arah leher. Cepat. Tepat. Mematikan.

Namgung Jin tidak menghindar. Ia membiarkan pedang itu datang, dan pada detik terakhir, ia memiringkan tubuh—hanya sedikit. Pedang itu lewat, hampir menyentuh kulit.

Sebelum prajurit itu bisa bereaksi, tangan Namgung Jin sudah menyentuh pergelangannya.

"Samgyeolhyeol."

Prajurit itu menjerit, pedangnya jatuh. Ia memegangi pergelangan tangan, wajahnya pucat.

Dua prajurit lain terkejut, tapi segera menyerang bersama.

Namgung Jin bergerak—bukan lari, tapi seperti menari di antara serangan. Tubuhnya yang ringkih ternyata lincah, berkat aliran energi yang mulai terbiasa. Ia menghindari tebasan pertama, menukik rendah menghindari tebasan kedua, lalu melompat kecil—lompatan aneh yang membawanya keluar dari jangkauan.

"Dasar bocah sialan!"

Prajurit kedua mengamuk, menyerang lebih ganas. Tapi amarah membuatnya ceroboh. Namgung Jin melihat celah—sedikit, tapi cukup.

Ia melesat maju, bukan mundur. Tangan kirinya menepis serangan, tangan kanannya menusuk ke titik di bawah ketiak.

"Ack!"

Prajurit kedua jatuh, lengannya lumpuh sementara.

Tinggal satu.

Prajurit ketiga—yang paling besar—mundur selangkah. Ia takut. Ia tidak pernah melihat bocah bertarung seperti ini. Bukan dengan kekuatan, tapi dengan presisi mematikan.

"Apa kau menyerah?" tanya Namgung Jin tenang.

Prajurit itu menelan ludah. Lalu—dengan sisa harga diri—ia berteriak dan menyerang.

Namgung Jin menghela napas. Ia menunggu sampai prajurit itu berada tepat di depannya, lalu ia melompat—bukan tinggi, tapi ke samping, memanfaatkan momentum lawan. Saat prajurit itu oleng karena serangannya melesat, Namgung Jin sudah di belakangnya.

Satu sentuhan di leher.

Prajurit itu jatuh pingsan.

Keheningan menyelimuti lapangan.

---

Di panggung, Jenderal Baek Woong terkesiap. Para pejabat lain ternganga. Beberapa tepuk tangan mulai terdengar—dari prajurit muda yang tidak bisa menahan kekaguman.

Namgung Jin berdiri di tengah tiga lawan yang tak berdaya, wajahnya tenang, tidak berkeringat.

"Apakah aku lulus, Jenderal?"

Jenderal Baek Woong menggertakkan gigi. Tapi di depan umum, ia tidak bisa berbuat banyak.

"Kau... lulus."

"Terima kasih, Jenderal."

---

Sore harinya, kabar tentang kemenangan Namgung Jin menyebar ke seluruh istana.

Para dayang berbisik-bisik, para pejabat bergosip, dan para prajurit muda mulai memandangnya dengan rasa hormat. Bahkan beberapa kasim yang sinis terlihat terkesan.

Di paviliunnya, Nyonya Hwa Ryun menyambutnya dengan senyum puas.

"Kau membuat mereka tercengang."

"Itu tujuan."

"Tapi kau juga membuat musuh. Jenderal Baek Woong pasti dendam."

"Biarkan. Orang seperti dia mudah diprediksi."

Ia duduk, menikmati teh yang disajikan. Tapi ketenangannya tidak berlangsung lama.

Seorang dayang datang membawa pesan. "Tuan Namgung, Janda Permaisuri memanggil. Malam ini, di kediamannya."

Nyonya Hwa Ryun mengerutkan kening. "Perangkap."

"Mungkin. Tapi aku harus pergi."

---

Malam itu, Namgung Jin berjalan menuju kediaman Janda Permaisuri.

Bangunan itu besar, dijaga ketat oleh dayang-dayang bersenjata. Mereka semua wanita, tapi dari postur dan cara berdiri, jelas mereka adalah prajurit terlatih.

Di dalam, ruangan itu hangat oleh lilin. Aroma dupa menguar lembut. Di kursi utamanya, Janda Permaisuri duduk dengan anggun, ditemani seorang wanita paruh baya di sampingnya—Nyonya Go, kepala dayang.

"Duduklah, Namgung Jin."

Ia duduk di kursi yang disediakan.

"Kau tampil mengesankan hari ini." Janda Permaisuri tersenyum. "Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan tiga prajurit sekaligus."

"Aku hanya beruntung, Paduka."

"Jangan merendah. Aku tahu itu bukan keberuntungan." Ia mencondongkan tubuh. "Aku tahu kau istimewa."

Namgung Jin diam.

"Aku ingin bertanya langsung. Apa hubunganmu dengan Iblis Murim?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Langsung. Tanpa basa-basi.

"Aku tidak mengerti maksud Paduka."

"Tentu kau mengerti." Janda Permaisuri tersenyum. "Aku tahu tentang ramalan itu. Aku tahu tentang utusan iblis. Dan aku tahu..." Matanya menyipit. "...bahwa kau bukan anak biasa."

Keheningan.

Nyonya Go menambahkan, "Kami punya informan di mana-mana. Di Delapan Sekte, di Magyo, bahkan di Klan Namgung. Kami tahu kau bertemu dengan Cheon Wu-gun. Kami tahu kau membantu mereka."

Namgung Jin tetap tenang. "Jika Paduka sudah tahu, kenapa tidak menangkapku?"

"Karena aku tidak ingin menangkapmu." Janda Permaisuri berdiri, berjalan mendekat. "Aku ingin menggunakanmu."

"Menggunakan?"

"Aku ingin kekuatan Iblis Murim. Bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk..." Ia berhenti, seolah memilih kata. "...untuk tujuan yang lebih besar."

"Tujuan apa?"

"Menghidupkan kembali seseorang."

Udara di ruangan itu terasa dingin.

"Aku punya putra. Putra sulungku, Putra Mahkota Go Won. Ia mati sepuluh tahun lalu, dibunuh dalam konspirasi istana." Mata Janda Permaisuri berkaca-kaca. "Aku ingin ia hidup kembali."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Menghidupkan orang mati? Itu mustahil."

"Tidak mustahil. Iblis Murim punya teknik Hwasin—pemisahan jiwa dari raga. Jika jiwa bisa dipisahkan, berarti jiwa juga bisa dipindahkan."

Ia berhenti tepat di depan Namgung Jin, menatapnya dari atas.

"Aku butuh teknik itu. Dan aku yakin kau tahu cara mendapatkannya."

Namgung Jin diam. Ini gila. Tapi juga... masuk akal. Hwasin memang bisa digunakan untuk memindahkan jiwa ke tubuh lain. Ia sendiri melakukannya saat bereinkarnasi.

Tapi itu butuh persiapan bertahun-tahun, ritual rumit, dan... pengorbanan.

"Apa yang akan Paduka berikan sebagai imbalan?"

"Apa pun yang kau minta. Kekayaan, kekuasaan, wanita. Atau..." Ia tersenyum. "...perlindungan untuk Klan Namgung dan ibumu."

Simma di dada Namgung Jin berdenyut.

"Aku perlu waktu berpikir."

"Kau punya waktu tiga hari." Janda Permaisuri kembali ke kursinya. "Setelah itu, aku ingin jawaban."

---

Kembali di paviliunnya, Namgung Jin menceritakan semuanya pada Nyonya Hwa Ryun.

Wanita itu terkejut. "Menghidupkan orang mati? Itu gila!"

"Atau jenius."

"Kau tidak serius?"

"Aku selalu serius." Ia duduk, merenung. "Ini bisa jadi peluang. Jika aku bisa mengendalikan Janda Permaisuri, aku akan punya akses ke seluruh istana."

*"Tapi risikonya—"

"Risiko selalu ada. Tapi tanpa risiko, tidak ada kemenangan."

Pintu diketuk—ketukan kode yang berbeda.

Namgung Jin membuka pintu. Di luar, berdiri Putri Sohwa, dengan jubah sederhana dan wajah waspada.

"Aku tahu Janda Permaisuri memanggilmu." Ia masuk tanpa permisi. "Apa yang ia minta?"

"Kau tahu?"

"Aku punya informan sendiri." Ia duduk, menatap Namgung Jin serius. "Ia minta teknik Hwasin, kan? Untuk menghidupkan kembali kakakku."

"Kau tahu tentang itu?"

"Aku tahu lebih dari yang kau kira." Putri Sohwa menghela napas. "Tapi ada yang tidak ia katakan."

"Apa?"

"Kakakku—Putra Mahkota Go Won—bukan korban konspirasi biasa. Ia dibunuh oleh... Janda Permaisuri sendiri."

Keheningan.

Nyonya Hwa Ryun terkesiap. "Apa?!"

"Ia punya hubungan gelap dengan salah satu selir. Ketika ketahuan, Kaisar marah. Janda Permaisuri takut posisinya terancam. Jadi ia membunuh putranya sendiri dan menyalahkan orang lain."

Namgung Jin diam, memproses informasi itu.

"Kenapa ia ingin menghidupkannya kembali?"

"Karena ia menyesal? Atau karena ia butuh ahli waris yang bisa dikendalikan? Aku tidak tahu." Putri Sohwa menatapnya tajam. "Tapi satu hal yang pasti: jangan percaya padanya. Ia ular berbisa."

"Kenapa kau memberitahuku ini?"

"Karena aku butuh sekutu. Dan kau satu-satunya yang mungkin bisa melawannya."

Namgung Jin menatap Putri Sohwa lama. Gadis ini—putri selir yang dianggap tak penting—ternyata menyimpan banyak rahasia.

"Baik. Aku akan bekerja sama denganmu."

Putri Sohwa tersenyum lega. "Terima kasih."

"Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus jujur padaku. Tentang apa pun."

"Setuju."

---

Setelah Putri Sohwa pergi, Nyonya Hwa Ryun menghela napas.

"Kau cepat membuat aliansi."

"Di istana ini, tanpa aliansi, kau mati."

"Tapi kau percaya padanya?"

"Tidak. Tapi aku bisa mengawasinya."

Ia berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, bulan bersinar terang.

"Tiga hari. Aku punya tiga hari untuk memutuskan."

"Apa yang akan kau putuskan?"

"Aku akan setuju. Tapi dengan syaratku sendiri."

Ia tersenyum—senyum yang tidak pernah dilihat Nyonya Hwa Ryun sebelumnya.

"Saatnya mengubah papan catur."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!