Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
Raka mengganti perban Alya dengan hati-hati, setelah wanita itu selesai mandi. wanita cantik itu masih menginap di apartemen Raka.
pria itu sudah datang pagi-pagi sekali, karena ingin membantu Alya.
Raka sangat menghormati Alya, karena itu ia memilih pulang dan beristirahat dirumah setelah memastikan Alya telah beristirahat. meskipun terdapat dua kamar dalam apartemen itu.
Hari ini Alya meminta izin pada Raka untuk pergi ke Perusahaan, karena sebentar lagi Alya harus pergi keluar kota untuk menyelesaikan proyeknya.
dan Raka mengizinkannya, tapi tentunya setelah melewati perdebatan yang sedikit panjang.
"selesai" ucap Raka, setelah menempelkan pelester bening pada kening Alya. Alya sengaja menggunakan pelester bening agar bu Rany tak curiga padanya.
"thanks,," balas Alya.
"aku akan mengantarmu" ucap Raka lagi dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Alya.
Alya tak mungkin menolak, karena Raka akan tetap memaksa.
walaupun apartemen pria itu dekat dengan perusahaan, Raka tetap mengantar Alya dengan mobil.
"hati-hati, dan jangan terlalu kecapaian " pesan Raka pada Alya.
"iyaa,,siap laksanakan " jawab Alya, sambil mengangkat tangannya di kening, memberi hormat pada Raka.
pria tampan itu tersenyum, melihat tingkah Alya. tanpa memberi aba-aba, Raka memegang kepala Alya lembut, sedikit menarik ke arahnya, dan dengan lembut, mencium kening Alya yang terluka itu.
"semoga cepat sembuh" ucap Raka lagi.
Alya menahan nafasnya, jantungnya benar-benar tak aman. Alya buru-buru turun dari mobil, ia takut Raka akan menyadari wajahnya yang sudah tampak memerah, seperti tomat masak.
wanita cantik itu bahkan lupa mengucapkan salam pada Raka.
"oh my god,,bernapaslah Alya" gumam Alya dan dengan cepat berlari ke ruangannya.
Alya tiba di ruangannya, wanita itu cantik itu menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan.
"dia akan menjadi suamimu, Aal. kau harus terbiasa" gumam Alya lagi.
tanpa membuang waktu, Alya langsung mengaktifkan komputernya, dan mulai bekerja.
tak terasa, waktu telah menunjukkan jam makan siang, namun Alya masih berkonsentrasi di depan komputernya, karena bu Rany, telah mengirim beberapa berkas untuk ia periksa.
"kenapa melewatkan makan siang mu?" suara serak seorang pria yang sangat Alya kenali terdengar. dengan cepat Alya mengangkat wajahnya.
"Raka" gumam Alya. wanita cantik itu kembali mengangkat sudut bibirnya, "bagaimana kau bisa ada disini?"
"aku mengunjungi kekasih ku yang terlalu sibuk, dan mengabaikan pesan dan panggilan dariku" sindir Raka.
mendengar itu, membuat Alya refleks mengambil ponselnya, dan memeriksanya.
"oh my,,," ucap Alya tertahan, saat melihat delapan pesan dan lima panggilan dari pria itu.
"entah mengapa, aku sedikit cemburu dengan komputermu" ucap Raka lagi.
lagi dan lagi, Alya melihat sisi lain pria itu. Raka memajukan bibirnya, seperti seorang anak kecil yang sedang marah, membuat Alya menahan senyumnya.
"maafkan aku, aku sedikit sibuk" ucap Alya.
"hmm,,aku akan memaafkan mu, asal kau mau makan siang denganku" ucap Raka. Alya menatap Raka, yang juga sedang menunggu jawaban darinya.
"hmm, baiklah ayo,," ucap Alya pada akhirnya.
Raka masih menunggu Alya membereskan mejanya, membuat Alya sedikit kebingungan.
"kita akan turun bersama?" tanya Alya.
"yaaa,,kenapa enggak?" jawab Raka santai.
Alya tampak menggigit bibir bawahnya, menandakan wanita itu sedang gugup.
"ada apa? apa ada masalah?" Raka balik bertanya.
"enggak sih,,tapi apa nggak masalah jika dilihat orang nanti?" jelas Alya.
"yaa nggak papa, aku juga pengen semua orang tahu hubungan kita." ucap Raka. pria itu kembali mengangkat sudut bibirnya, "tapi,,kalau kamu belum siap, yaa nggak papa, aku ngerti kok"
"hmm,,aku belum siap" jujur Alya.
"ok, baiklah aku tunggu di bawah jika begitu" ucap Raka pada akhirnya.
pria itu hanya tak ingin membuat Alya merasa tak nyaman dengan dirinya.
"ka,," panggil Alya.
"yaa?"
"maafin aku" ucap Alya lagi
"it's ok, nggak masalah" ucap Raka sambil tersenyum, membuat Alya merasa tenang.
Raka kemudian meninggalkan Alya, dan akan menunggu wanita itu di parkiran.
penyabar, sifat itulah yang membuat Alya merasa nyaman dan betah bersama Raka. ia berharap sifat pria itu akan tetap sama, walaupun mereka sudah menikah nanti.
^^^^
kali ini, Raka dan Alya makan siang di sebuah restoran yang cukup jauh dari perusahaan. alasannya sudah pasti, Pria itu tak ingin diganggu oleh sang asisten.
Raka memesan banyak makanan untuk Alya, membuat Alya menatapnya kesal.
"bagaimana jika nggak aku habisin, ka? buang-buang uang aja tahu" ucap Alya.
"yaa,,kalau nggak mau uangnya dibuang-buang yaa,,, harus kamu habisin" ucap Raka Santai.
"yaa,, tapi makanan sebanyak ini. gimana caranya, aku habisin?" ucap Alya kesal.
Raka hanya terkekeh mendengar ucapan Alya. ia tak membalas, karena akan membuat Alya semakin kesal.
pada akhirnya, Raka'lah yang menghabiskan semua makannnya sedangkan Alya hanya memakan sebisanya. pria itu terpaksa menghabiskannya karena Alya terus menatapnya tajam.
"makanya Ka, nggak usah banyak-banyak pesannya" tegur Alya, setelah Raka membayar bil.
Raka yang sudah sangat kekenyangan itu, hanya tersenyum lembut pada Alya.
mereka kemudian menuju mobil, untuk kembali ke perusahaan.
Raka belum kembali keluar kota, karena ia sedang mengerjakan beberapa proyek barunya di kota Deo. setelah itu, mungkin ia akan kembali.
pria itu hanya mengerjakannya sementara, karena ayahnya'lah yang akan meneruskan proyek itu, sedangkan Raka akan pergi keluar negeri. namun, setelah ia menikah tentunya.
"nak Raka,,,!!" suara seorang wanita membuat langkah Alya dan Raka terhenti.
keduanya kompak menoleh ke sumber suara.
"bu Melny,?" ucap Raka dan Alya hampir bersamaan.
"Alyaaa,,Alya ibu mohon tolong maafin Clara.." ucap bu Melny sambil mendekati Alya. wanita itu mencoba untuk memegang tangan Alya, namun dengan cepat di cegat oleh Raka.
Pria itu takut jika Alya disakiti oleh wanita itu.
"maafkan saya nak Raka. tapi, apa boleh saya berbicara dengan Alya?" pinta bu Melny.
nada bicara bu Melny, sangat berbeda saat pertama kali mereka bertemu dan dengan sekarang.
Raka menarik nafas panjang, niat hati ingin menghindar dari Dave, mereka justru bertemu bu Melny yang sangat ingin di hindari Alya.
"maaf bu, tapi saya nggak ngijinin ibu, dan Alya bicara sendiri" tegas Raka.
"kalau gitu, boleh saya bicara dengan kalian?" tawar wanita itu lagi.
Raka dan Alya saling berpandangan dan akhirnya, Raka menganggukan kepalanya.
"baiklah, mari kita bicara." ucap Raka.
mereka memilih berbicara di sebuah taman yang berada di seberang restoran yang Alya dan Raka kunjungi.
"Alya, ibu minta maaf untuk semuanya, ibu juga minta maaf atas nama Clara. maaf karena Clara telah mencoba untuk mencelakai mu. dia hanya sedang stres karena diputusi oleh kekasihnya" jelas bu Melny panjang lebar.
"ibu minta maaf, tolong maafkan ibu" ucap bu Melny lagi.
Alya hanya terdiam mendengar ucapan Wanita itu, entah mengapa ia masih kesal jika mengingat setiap ucapan bu Melny dan Clara padanya.
"yaa, aku udah maafin Clara,," suara Alya terdengar, membuat bu Melny tampak tersenyum.
"tapi, proses hukum akan tetap berjalan" tambah Alya, membuat senyum bu Melny, yang awalnya mulai terlihat kembali meredup.
"tapi, bagaimana pun dia adalah saudaramu, dia kakak mu, apa kamu nggak mikirin itu?" tanya bu Melny yang sudah mulai kesal itu.
"yaaa,,jika Clara tau kalau aku juga adik dan saudaranya, mengapa ia harus melakukan hal itu?" Alya balik bertanya membuat bu Melny tampak kebingungan.
"yaa ibu tahu,,tapi tolong maafkan Clara..ibu mohon" ucap bu Melny sedikit memelas.
Alya terdiam, tak seperti biasanya bu Melny akan memohon seperti ini. sepertinya wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan Alya harus mencaritahu itu.
"maaf bu, tapi aku nggak bisa" ucap Alya. wanita cantik itu menggandeng tangan Raka agar mereka pergi dari sana, namun suara bu Melny menghentikan langkah Alya.
"Clara sedang mengandung. karena itu ibu mohon, tolong bebaskan dia."
"hamil?" gumam Alya. kaki Alya melemas saat mendengar kata-kata itu. ia akhirnya tahu, mengapa bu Melny, sangat memohon padanya.
"are you ok,?" tanya Raka, yang dengan sigap memegang tangan Alya.
"hmm,,aku baik" ucap Alya.
Alya tak menyangka saat ia menyerang Clara malam itu, ternyata wanita itu sedang hamil. tapi, mengapa Clara tak mengatakan hal itu, padanya dan membiarkan Alya terus menyerangnya?
"bagaimana keadaan bayinya?" tanya Alya tiba-tiba.
"Clara dan bayinya baik-baik aja. Clara juga nggak tahu jika ia hamil, ia baru tahu saat ke rumah sakit malam itu" jelas bu Melny.
"jadi, dia nggak tahu jika ia sedang mengandung?" tanya Alya memastikan.
"iyaa,,dia nggak tahu" jawab bu Melny cepat.
Alya terdiam sejenak mendengar ucapan bu Melny.
"hmm,,aku akan membebaskannya, tapi dengan satu syarat" ucap Alya.
"apa syaratnya?" tanya Bu Melny cepat.
"jangan menuntut mahar apapun pada Raka" jawab Alya, membuat Raka langsung menatapnya.
bu Melny tampak terdiam dan akhirnya mengangguk pasrah.
"baiklah, ibu nggak akan menuntut apapun dari nak Raka" ucap bu Melny pada akhirnya.
"baiklah, kalau gitu aku dan Raka pergi. aku akan segera membebaskan Clara" ucap Alya.
Alya dan Raka kemudian meninggalkan bu Melny sendirian. wanita itu menghapus kasar air matanya dan menatap tajam ke arah Alya.
"awas kamu Alya" gumamnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗